Aku sebenarnya bosan dengan dia, sosok pacarku yang terlalu lugu dan sangat membosankan, wajahnya tak begitu tampan dan setiap kata-katanya entah mengapa sekarang membuat diriku mual, tak jarang aku kesal hingga marah tanpa sebab kepadanya, aku juga bingung, ada apa dengan diriku?
"Kamu baik-baik saja?" Tanyanya yang spontan mengelus punggungku saat aku rasakan pusing pada kepalaku.
Tetapi, bukannya menerima tindakannya dengan lembut aku lebih memilih menepis tangannya kemudian menjauh.
Dahinya mengerut bingung, "kamu kenapa?"
Aku hanya memutar bola mataku malas kemudian berdiri dan pergi dari hadapannya, mungkin sekarang ia sedang terpaku kebingungan akan tingkahnya, jujur aku juga bingung.
Hari demi hari aku mencoba menghindari dirinya, mencari jalan agar tak dapat berkomunikasi dengannya. Ia juga terkadang mampir ke rumahku, namun tak pernah aku hiraukan.
Hingga suatu hari, aku memberikannya sebuah pesan singkat.
'Dav, ayo ketemu.'
Bukan main senangnya dia sehingga membalas pesanku dengan secepat kilat, dan kini di sini aku bersama dengan dia yang masih sumringah sejak tadi sedangkan aku hanya tersenyum kikuk.
"Kamu mau pesan apa?" Tanyanya begitu girang.
"Es teh aja."
Setelah selesai memesan, suasana menjadi begitu sunyi, aku bingung harus memulai percakapan darimana.
"Kamu kemana saja? Kok kayaknya ngehindar gitu dari aku?" Tatapan matanya terfokus padaku dan aku hanya mengulum bibirku dengan gugup.
"Kamu... Mau gak? Perbaiki hubungan kita?"
Dahinya semakin mengerut akan kata-kata yang aku lontarkan, ia terbingung.
"Maksud kamu? Emang hubungan kita kenapa?"
Aku menghela nafas panjang, aku harus berani jujur kali ini.
"Aku minta maaf banget tapi akhir-akhir kemarin aku ngerasa bosan sama kamu, kayak semua yang kamu lakuin ke aku gak berkesan dan monoton bagi aku bahkan aku sempat berpikir buat mutusin hubungan kita."
Aku menatapnya, ada rasa takut di dalam tatapanku lalu bagaimana dengan reaksinya?
Dia? Dia hanya tersenyum sembari mengelus kepalaku, "terima kasih udah mau ngasih tahu aku ya."
Kini suasana terbanding terbalik karena aku yang kebingungan serta tak percaya akan reaksinya, hei! Bukankah seharusnya dia memasang reaksi kecewa atau tidak marah? Mengapa malah berterimakasih, memang aku superwoman gitu dimatanya?
"Gak usah gitu amat kali wajahnya, lucu deh." Dia terkekeh, mencubit pipiku gemas.
"Gak kenapa-kenapa, sayang. Di dalam hubungan pasti ada fase bosannya tersendiri kok, aku terima kasih banget sama kamu soalnya mau jujur dan perbaiki hubungan kita supaya gak terlalu monoton."
Aku tersenyum senang, sepertinya aku adalah wanita beruntung diantara milyaran manusia karena mendapati lelaki yang mau memahami ku. Davi, aku mencintaimu.
. . .
~ Mungkinkah, mungkinkah, mungkinkah. Kau mampir hari ini? Bila tidak mirip kau, jadilah bunga matahari. ~
Lantunan lagu terdengar dari balik kamar berpintu kayu tersebut, sudah lebih dari tujuh tahun sejak sang kekasihnya memilih untuk meninggalkannya menuju surga, kini ia sendirian.
Kekasihnya itu adalah gadis manis dan periang, gampang bosan dan juga pemarah. Ia merindukan kekasihnya.
Orang-orang sekitar mungkin muak karena mendengar dirinya terus memutar lagu yang sama dan mengenang segala kenangan indah bersama kekasihnya, ia pandangi lekat sebuah album foto yang tersusun begitu rapi kemudian kembali menangis dan mengutuki diri.
Setelah pernyataan yang kekasihnya bilang, bahwa kekasihnya pernah bosan pada dirinya, ia sedikit kecewa dalam benaknya.
Mungkin, ia lebih memilih kecewa karena kekasihnya bosan padanya daripada harus menghadiri upacara pemakamannya.
"Lia, aku merindukanmu."
Sebuah foto begitu erat dalam dekapannya, seakan foto tersebut tak boleh hilang dan pergi meninggalkannya.
Tetapi, ia sangat bangga pada kekasihnya karena mampu melawan penyakit kanker dan menyembunyikan, bukan hanya dia saja yang tak tahu awalnya, keluarga kekasihnya pula tak tahu mengenai hal tersebut.
Kekasihnya itu sempat berjuang keras untuk melawan kankernya tetapi sangat disayangkan karena ia harus kalah dan memilih untuk menyerah.
"Lia sayangku, tenang disana ya, cantik. Aku disini mendoakan mu selalu."
Tamat.