Bulan gadis manis berumur 6 tahun yang sedang bahagia karena budannya pulang kerumah yang ia tinggalin dengan nenek kakeknya. Bundanya sudah meninggalkannya selama 4 tahun untuk kerja diluar kota, dengan alasan untuk memperbaiki keuangan mereka karena ayahnnya sudah kencanduan miras dan judi selang beberapa bulan setelah bulan lahir. Di teras rumah bulan namapa tersenyum manis menunggu bundanya datang, namun ada hal yang membuat ia heran karena kedua kakak laki-lakinya sudah pulang padahal baru menunjukkan pukul 9 pagi. Seharusnya kakak pertamanya akan pulang sekitar pukul 3 sore karena pelajar smk, sementara kakak keduanya akan pulang sekitar pukul 1 siang karena pelajar SMP. Tak kunjung disitu saja ia semakin bingung kerena kedua kakaknya itu pulang dengan keadaan nangis dengan sesenggukan, "em kak, dijahati orang ya makanya pulang dari sekolah nangis?" tanya gadis manis itu dengan polosnya. Mendengar pertanyaan sang adik itu membuat kuada anak laki-laki itu memeluk adiknya dengan erat dang nangis semakin kencang. "Lan, kakakmu cuma pulang cepet aja dan mereka sangat antusias nunggu bunda pulang aja" jawab wanita paruh baya yang bulan panggil dengan nenek, "ohh kakak sangat tidak sabar yang nunggu bunda? Bulan juga kak Bulan kangen banget sama bunda!" jawab bulan dengan tersenyum didalam dekapan kedua kakaknya. "Wah bunda udah datang kak, cepet lepasin bulan, bulan mau peluk bunda!" Ucap Bulan dengan antusias, kemudian ia berlari ke pelukan bundanya setelah melepaskan pelukan kakaknya. Bulan dipeluk erat oleh sang bunda dengan badan gemetar, sekuat tenaga bundanya menahan air mata didepan putri bungsunya itu. Kemudian bundanya menarik tangan kedua putranya kedalam pelukan ibu dan putri nya itu, kedua putranya gemetaran dan nangis histeris didekapnya. "Nak sebaiknya kamu kerumah mertua sekarang, sebelum acara pemakaman", ucap sang nenek kala anaknya itu menyalami takzim dang memeluknya setelah acara berpelukan bersama tadi. "Iya buk, aku nitip bulan ya aku cuma bawa kedua kakaknya aja", jawabnya didalam pelukan sang ibu tercintanya. Kemudian ketiganya pergi kerumah kakeknya bulan dari ayahnya untuk acara pemakaman, ya acara pemakaman untuk ayahnya Bulan. Ayah gadis manis itu meninggal gantung diri dipohon samping lapangan dekat rumahnya, karena alasan depresi ditagih hutang untuk ia beli miras dan berjudi dengan teman-temannya. Kakek nenek bulan memeluk gadis manis itu dengan erat sambil menyeka Ari mata yang lolos karena melihat nasib anak polos dengan kenyataan hidup sungguh sangat berat. Ia harus kehilangan seseorang yang sangat penting untuk hidupnya, seorang yang seharusnya membimbingnya dalam kehidupan, seorang yang seharusnya menjadi cahaya untuk anak gadisnya. Entah bagaimana ketika putrinya itu mengetahui kenyataan sepahit itu, seperti apa hidup yang harus dijalaninya. Sungguh gadis kecil manis yang belum mengetahui banyak hal sudah dihadapkan dengan realita yang sangat menyayat hati, seharusnya seusianya bermain dengan gembira bersama teman-temannya.
Kini Bulan tetap harus menghadapi malam dengan sendirian, malam hadir dihidup Bulan bukan hanya memberi kegelapan yang sunyi dan sepi tapi juga membawa bintang yang indah untuk menemani mereka.Hidup tetap berjalan meskipun rintangan tak berhenti datang namun rintangan tersebut akan berlalu seiring berjalannya waktu.