Pagi itu, sinar matahari menembus celah-celah jendela kamar Nadia. Suara kicauan burung terdengar merdu, seolah menyambut hari yang baru. Nadia membuka matanya perlahan, mengerjapkan mata beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk. Ia menarik nafas dalam, menghirup aroma segar embun pagi yang masuk lewat jendela yang terbuka sedikit.
Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke-17, hari yang seharusnya penuh kegembiraan. Namun, Nadia merasa ada yang kurang. Ini adalah ulang tahun pertamanya tanpa Ayah. Ayahnya meninggal dunia setahun yang lalu karena penyakit jantung. Kenangan bersama Ayah selalu membekas di hatinya, terutama hadiah-hadiah yang selalu diberikan Ayah setiap ulang tahunnya. Ayah selalu tahu cara membuat ulang tahunnya menjadi spesial.
Nadia bangun dari tempat tidur dan melihat kalender yang tergantung di dinding. Ada tanda merah besar di tanggal hari ini. Ia tersenyum pahit. "Selamat ulang tahun, Nad," gumamnya pada diri sendiri.
Saat turun ke bawah, ia melihat Ibunya sedang menyiapkan sarapan di dapur. "Selamat ulang tahun, sayang," kata Ibu dengan senyuman hangat, sambil memeluk Nadia.
"Terima kasih, Bu," balas Nadia, mencoba tersenyum meskipun hatinya masih terasa hampa.
Mereka sarapan bersama dengan suasana yang cukup tenang. Ibu memberikan Nadia sebuah kado kecil berwarna biru. "Ini dari Ibu," katanya.
Nadia membuka kado itu dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat sebuah gelang perak dengan liontin berbentuk hati. "Ini cantik sekali, Bu. Terima kasih banyak," ucap Nadia sambil memeluk Ibunya erat.
"Sama-sama, sayang. Ibu tahu ini tidak akan menggantikan Ayah, tapi Ibu berharap kamu tetap merasa bahagia hari ini," jawab Ibu dengan lembut.
Setelah sarapan, Nadia memutuskan untuk pergi ke taman yang sering dikunjungi bersama Ayah. Taman itu penuh dengan kenangan indah. Mereka sering duduk di bangku dekat danau, berbicara tentang banyak hal, dari mimpi-mimpi Nadia hingga cerita-cerita masa kecil Ayah.
Saat tiba di taman, Nadia duduk di bangku favorit mereka. Angin sepoi-sepoi mengelus wajahnya, membawa aroma bunga yang sedang mekar. Nadia menutup mata dan membayangkan Ayah duduk di sampingnya, tersenyum dan berbicara dengan hangat.
"Selamat ulang tahun, Ayah," bisiknya pelan, berharap angin akan membawa pesan itu kepada Ayah di surga.
Saat sedang melamun, Nadia merasakan ada yang aneh di bawah bangku. Ia meraba-raba dan menemukan sebuah kotak kecil yang tersembunyi di sana. Dengan hati-hati, ia membuka kotak itu dan menemukan sebuah surat dan sebuah kunci kecil.
Surat itu tertulis dengan tangan yang sangat dikenalnya. Tangan Ayah.
"Untuk putriku tercinta Nadia, selamat ulang tahun yang ke-17. Ayah selalu ingin kamu bahagia, meski Ayah tidak bisa berada di sampingmu hari ini. Ayah telah menyiapkan sesuatu untukmu. Gunakan kunci ini untuk membuka laci di meja kerja Ayah di rumah. Dengan cinta, Ayah."
Nadia menahan air matanya, merasakan kehangatan dan cinta dari tulisan Ayah. Ia segera berlari pulang ke rumah, membawa kotak kecil itu dengan hati yang berdebar.
Sesampainya di rumah, Nadia langsung menuju meja kerja Ayah di ruang kerja yang jarang ia kunjungi sejak Ayah pergi. Ia menemukan laci yang dimaksud Ayah dan memasukkan kunci kecil itu ke lubangnya. Dengan suara klik lembut, laci terbuka.
Di dalam laci, terdapat sebuah buku harian dengan sampul kulit berwarna coklat tua. Di halaman pertama, terdapat pesan lagi dari Ayah.
"Nadia, ini adalah buku harian Ayah yang mencatat setiap momen berharga kita bersama. Ayah ingin kamu tahu betapa kamu sangat berarti bagi Ayah. Bacalah dan ingatlah bahwa cinta Ayah akan selalu bersamamu."
Dengan tangan gemetar, Nadia mulai membuka halaman demi halaman buku harian itu. Setiap halaman berisi kenangan-kenangan indah, mulai dari saat ia masih kecil hingga momen-momen terakhir bersama Ayah. Ada foto-foto, catatan kecil, dan bahkan gambar-gambar yang Ayah buat khusus untuknya.
Nadia tersenyum di antara tangisnya, merasakan kehadiran Ayah yang begitu nyata melalui setiap kata dan gambar dalam buku itu. Ia merasa seolah Ayah sedang duduk di sampingnya, mengajaknya bernostalgia dan berbagi kebahagiaan.
Hari itu, Nadia menghabiskan waktu membaca buku harian Ayah, meresapi setiap kenangan dan momen berharga yang mereka bagikan. Ia merasa lebih dekat dengan Ayah daripada sebelumnya.
Malam harinya, ketika bulan mulai bersinar terang, Nadia menutup buku harian itu dengan hati yang lebih ringan. Ia menyadari bahwa meskipun Ayah tidak lagi bersamanya secara fisik, cinta dan kenangan mereka akan selalu hidup dalam hatinya.
"Terima kasih, Ayah. Hadiah ini sangat berarti bagiku," bisik Nadia, memandang langit malam yang penuh bintang. "Aku akan selalu mengingatmu dan semua yang telah kita lalui bersama. Selamat ulang tahun untukku dan untuk kenangan kita."
Dengan perasaan yang lebih tenang dan bahagia, Nadia pergi tidur, membawa cinta Ayah dalam setiap mimpi dan harinya yang akan datang.