Langit kota Jakarta yang cerah tiba-tiba berubah menjadi kelabu. Awan hitam berkumpul di ufuk barat, tanda bahwa hujan deras akan segera turun. Sari memandang keluar jendela kantornya dengan mata penuh kekhawatiran. Ia tidak membawa payung hari ini. Di tengah kesibukannya sebagai seorang editor, ia lupa melihat ramalan cuaca pagi tadi.
"Pasti bakal basah kuyup nih," gumamnya pada dirinya sendiri. Ia memutuskan untuk segera pulang sebelum hujan turun lebih deras. Dengan cepat, Sari mengemasi barang-barangnya dan berjalan keluar dari gedung perkantoran.
Di luar, angin mulai berhembus kencang, mengangkat rambut panjangnya yang dibiarkan terurai. Sari berjalan dengan cepat menuju halte bus terdekat. Namun, sebelum ia sampai, hujan mulai turun dengan deras. Ia terpaksa berteduh di bawah pohon besar di pinggir jalan.
"Sial," Sari mengutuk dalam hati. Ia merasa tubuhnya mulai basah oleh tetesan hujan yang berhasil menembus celah dedaunan.
Tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya. Sari menoleh dan melihat seorang pria berdiri di sampingnya dengan senyum ramah. Pria itu mengenakan jas hujan berwarna biru tua dan memegang payung besar yang terbuka.
"Kamu nggak bawa payung?" tanya pria itu.
Sari menggeleng pelan, merasa sedikit malu. "Iya, aku lupa bawa."
Pria itu tersenyum lebih lebar. "Aku bisa antar kamu ke tempat yang lebih aman. Halte bus ada di dekat sini. Namaku Bimo, by the way."
Sari ragu sejenak, namun akhirnya ia mengangguk. "Terima kasih, Bimo. Aku Sari."
Mereka berdua berjalan bersama di bawah payung Bimo, menuju halte bus yang tak jauh dari tempat mereka berteduh. Hujan semakin deras, membuat suara gemuruh yang menenangkan di telinga Sari. Ia merasa nyaman berada di dekat Bimo, meskipun baru saja mengenalnya.
Sesampainya di halte bus, mereka berdua duduk bersebelahan. Payung besar Bimo kini menutup sebagian besar tubuh mereka dari hujan yang menerpa. Sari merasa sedikit canggung, namun Bimo tampak sangat santai.
"Terima kasih sekali lagi, Bimo. Kalau nggak ada kamu, aku pasti sudah basah kuyup sekarang," kata Sari dengan senyum tulus.
"Jangan khawatir, Sari. Senang bisa membantu. Kamu kerja di mana?" tanya Bimo, mencoba memulai percakapan.
"Aku kerja di penerbitan buku, di gedung perkantoran di sana," jawab Sari sambil menunjuk gedung di kejauhan. "Kamu sendiri?"
"Aku arsitek, kantorku di dekat sini juga," jawab Bimo.
Percakapan mereka berlanjut, dari pekerjaan hingga hobi. Sari merasa nyaman berbicara dengan Bimo. Ada sesuatu tentang pria itu yang membuatnya merasa tenang dan terlindungi. Mereka tertawa bersama saat Bimo menceritakan kejadian lucu di tempat kerjanya, dan Sari merasa hari yang tadinya kelabu kini menjadi lebih cerah.
Waktu berlalu, dan hujan tak kunjung reda. Bus yang ditunggu-tunggu Sari pun belum tiba. Bimo melihat jam tangannya dan berkata, "Sepertinya bus-nya terlambat karena hujan deras. Kalau kamu nggak keberatan, aku bisa antar kamu pulang pakai mobilku. Tempat tinggalmu di mana?"
Sari merasa ragu sejenak, namun akhirnya ia setuju. "Baiklah, kalau begitu. Rumahku di daerah Kemang."
Mereka berjalan menuju tempat parkir, di mana mobil Bimo terparkir. Bimo membuka pintu untuk Sari dan memastikan ia duduk dengan nyaman sebelum mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran. Di dalam mobil, mereka kembali berbicara, kali ini tentang keluarga dan masa kecil mereka.
Perjalanan menuju Kemang terasa singkat karena obrolan mereka yang mengalir tanpa henti. Sesampainya di depan rumah Sari, hujan masih belum berhenti. Bimo menatap Sari dengan senyum hangat. "Aku senang bisa kenal kamu, Sari. Semoga kita bisa bertemu lagi."
Sari merasa jantungnya berdegup kencang. Ada perasaan yang tumbuh di hatinya, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. "Aku juga, Bimo. Terima kasih banyak untuk hari ini. Hati-hati di jalan."
Bimo mengangguk dan melambaikan tangan saat Sari keluar dari mobil. Sari berlari kecil menuju pintu rumahnya, dan sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi ke arah mobil Bimo yang perlahan menjauh. Ia tersenyum, merasa ada harapan baru yang muncul di tengah hujan deras.
Hari-hari berikutnya, Sari dan Bimo sering berkomunikasi melalui pesan singkat. Mereka bertukar cerita dan bercanda seperti sahabat lama. Setiap kali hujan turun, Sari selalu teringat akan Bimo dan pertemuan mereka di bawah payung besar itu.
Suatu hari, Bimo mengajak Sari untuk bertemu lagi. Mereka memutuskan untuk makan malam bersama di sebuah restoran yang nyaman. Malam itu, hujan kembali turun dengan deras. Di dalam restoran, suasana hangat dan nyaman. Mereka duduk di dekat jendela, memandang hujan yang turun di luar.
"Sari, aku senang kita bisa ketemu lagi," kata Bimo dengan suara lembut. "Sejak hari itu, aku nggak bisa berhenti mikirin kamu."
Sari merasa pipinya memerah. "Aku juga, Bimo. Kamu orang yang spesial buatku."
Bimo meraih tangan Sari dan menggenggamnya erat. "Aku ingin kita lebih dekat lagi, Sari. Aku ingin ada di sampingmu, melindungi dan membuatmu bahagia."
Sari menatap mata Bimo, merasakan ketulusan di dalamnya. "Aku juga ingin itu, Bimo. Aku merasa tenang saat bersamamu."
Mereka saling tersenyum, dan tanpa sadar, hujan di luar mulai mereda. Namun, cinta yang tumbuh di antara mereka semakin deras, seperti hujan yang menyatukan dua hati yang berbeda.