Hiruk pikuk menyelimuti dunia yang begitu sibuk,kendaraan selalu ramai memadati jalanan. Sarah yang selalu merasa "Apakah dunia selalu seperti ini?",enggan menikmati dunia yang penuh dengan kesemuan. Kecewa,patah hati,sengsara,dan hampa itulah yang kini dirasakan oleh Sarah setelah cintanya kandas dengan mantan kekasihnya.
Gadis manis dengan perawakan tubuh tidak terlalu tinggi ini merasa dunianya telah tenggelam di dalam jurang. Ketika ia kira hubungannya berjalan lancar namun semua itu hancur ketika sang kekasih memutuskan hubungan mereka.
"Ma'afkan aku Sarah,hubungan ini tidak bisa di lanjutkan lagi," kata Marco tanpa rasa bersalah.
"Aku akan berangkat besok pagi ke Amerika dan tidak akan pernah kembali,aku harap kau bisa bertemu orang yang tulus mencintaimu. Selamat tinggal!" ujar Marco seraya beranjak dari tempat duduk.
Sarah mencoba untuk tidak meneteskan air mata,namun ternyata hati Sarah tidak sekuat baja untuk bisa menahan dentuman yang begitu luar biasa menyakitkan hatinya. Sarah hanya bisa terdiam sendiri di tengah keramaian kafe yang saat itu penuh dengan pengunjung.
"Apa selama ini dia terpaksa menjalin hubungan denganku?" gumam Sarah dengan ekpresi wajah sendu.
"Ternyata selama ini aku bodoh sekali,hanya aku yang tulus mencintaimu tapi kau ternyata..hiks..hiks!?" kata Sarah seraya menangis.
Saat Sarah mulai tak dapat membendung luapan air mata yang keluar dari pelupuk matanya,Sarah mulai menangis tanpa henti hingga membuat para pengunjung mulai memperhatikan Sarah. Saat salah satu karyawan kafe mencoba menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi,Sarah tidak memperdulikan karyawan tersebut dan hanya terus menangis.
Kemudian seorang pria tak di kenal menghampiri Sarah dan langsung menutupi kepala Sarah dengan jaket hitam miliknya lalu membawa Sarah pergi dari kafe tersebut. Pria itu membawa Sarah ke dalam mobil dan membawa Sarah ke sebuah tempat yang berada tidak jauh dari kafe. Setelah tiba di tempat itu Sarah langsung berteriak mencaci maki sang mantan.
"Dasar pria brengsek,pria sampah! Aku akan membalas perbuatanmu,lihat saja aku akan mendapatkan pria yang 1000 kali lebih baik dari pada kamu,haaaaahhhhhhhh!" teriak Sarah kesal.
"Pfft! Ma'af aku tidak bermaksud mentertawakanmu,tapi-"
"Hiks..hiks..sroot! Terima kasih!" kata Sarah seraya mengelap hidungnya dengan lengan baju miliknya.
"Saya memang pantas di tertawakan," ujar Sarah sedih.
"Damian!" balas Damian seraya mengulurkan tangannya pada Sarah.
"Terima kasih Tuan Damian,saya tidak akan melupakan kebaikan Anda malam ini," kata Sarah.
"Tolong jangan terlalu formal,sudah merasa tenang sekarang?" tanya Damian.
"Hmm,berkat Anda saya merasa lebih baik sekarang,ma'af saya jadi merepotkan Anda," kata Sarah.
"Saya hanya tidak tahan melihat wanita menangis!" kata Damian.
"Anda orang yang aneh,kalau begitu jangan menolong saya!" ujar Sarah.
Kring..kring..kring!
"Ma'af sebentar!" kata Damian seraya mengangkat panggilan diponselnya yang berbunyi.
Damian mendapat panggilan darurat dari kantornya maka ia harus segera pergi meninggalkan Sarah.
"Apa kau akan tetap di sini?" tanya Damian memastikan.
"Iya saya akan menata ulang fikiran dan perasaan saya di sini,Anda boleh pergi sepertinya Anda mendapat panggilan darurat tadi," kata Sarah.
"Benar! Kau yakin tidak apa-apa,jika sendirian di sini?" ujar Damian khawatir.
"Saya sudah baik-baik saja sekarang,jadi Anda tidak perlu khawatir dan pergi saja!" kata Sarah mulai kesal.
"Oke..oke! Jangan melakukan hal yang tidak-tidak,mengerti!" Kata Damian seraya berjalan menuju ke mobil.
"Tenang saja! Saya tidak sebodoh itu sampai harus mengorbankan nyawa saya demi sampah gila itu," kata Sarah penuh dendam.
"Nice!" balas Damian seraya mengacungkan kedua ibu jarinya dan masuk ke dalam mobil.
Selepas Damian pergi,Sarah mulai membuang semua kenangannya dengan sang mantan yang masih melekat pada dirinya. Ia tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan dan menyia-nyiakan hidup hanya untuk meratapi seorang pria yang sudah meninggalkannya.
"Ngomong-ngomong kenapa pria itu membawaku ke sini,tapi baguslah aku jadi lebih baik!" ujar Sarah heran.
"Oke waktunya untuk pulang!" kata Sarah girang.
Beberapa bulan kemudian,di sebuah kafe Sarah sedang memesan sebuah minuman kesukaannya yaitu stroberi milkshake. Namun hari itu kafe tersebut cukup ramai,hingga Sarah tidak dapat menemukan tempat duduk. Setelah terus mencari akhirnya ia menemukan satu tempat duduk yang masih kosong,ia pun langsung menghampiri kursi tersebut.
"Permisi! Apa saya boleh duduk di sini?" tanya Sarah sopan.
"Silahkan saja!" balas pria itu.
"Baiklah,terima kasih!" balas Sarah.
"Bukankah Anda kemari untuk beristirahat,kenapa masih sibuk bekerja?" tanya Sarah heran.
"Saya sudah terbiasa seperti ini,jadi abaikan saja saya dan nikmati minuman Anda," balas pria itu dengan cuek.
"Oke,,saya akan diam saja!" ujar Sarah.
Setelah beberapa menit berlalu Sarah harus kembali ke kantor karena jam istirahat sudah berakhir,saat ingin beranjak dari tempat duduk tanpa sengaja tas milik Sarah menyenggol cangkir yang berisi kopi milik pria di hadapannya dan mengenai lengan pria tersebut. Sontak Sarah langsung menyeka tumpahan kopi tersebut dan betapa terkejutnya saat pandangan mereka bertemu.
"Ah! Anda!" Kata keduanya bersamaan.
Karena dapat bertemu kembali mereka akhirnya bertukar nomor telepon. Setelah hari itu Sarah berniat ingin mengajak Damian untuk makan siang bersama sebagai tanda terima kasih atas pertolongan di malam itu.
"Aduh! Kenapa jadi kesiangan sih,aku harus cepat,jaket..jaket..mana,oh ini!" kata Carina seraya mencari jaket di lemari pakaian.
"Jaket siapa ini,sepertinya aku tidak pernah membelinya. Gak tahu ah,pakai aja!" gumam Carina seraya memakai jaket lalu bergegas berangkat ke kantor.
Waktu terus berlalu,tanpa sadar sudah tiba waktunya untuk istirahat. Dia berusaha menghubungi Damian untuk makan siang bersama,akhirnya mereka bertemu di sebuah kafe yang berada tidak jauh dari kantor.Sarah senang karena akhirnya bisa membalas kebaikan Damian,setelah menunggu akhirnya Damian tiba di kafe tersebut. Kehadiran Damian yang notabene pria berbadan tinggi membuat dirinya terlihat mencolok dengan penampilan yang rapi sehingga dapat memukau siapa saja yang melihatnya.
"Wah..memang dia terlihat seperti ini ya di malam itu,aku sampai tidak ingat karena diriku saat itu sangat kacau!" Gumam Sarah.
"Permisi! Apa boleh saya duduk di sini?" tanya Damian seraya tersenyum.
"Te..tentu saja,silahkan!" kata Sarah terbata-bata.
"Apa tidak panas memakai jaket di siang hari?" tanya Damian.
"Eh...saya lupa melepasnya!" balas Sarah seraya mepas jaket miliknya.
"Saya pikir Anda tidak mau datang karena langsung menutup panggilan saya tadi!" ujar Sarah.
"Oh itu,aku terkejut karena kau mengajakku makan siang jadi ponselku terjatuh!" kata Damian seraya tertawa.
"Astaga sekaget itu ya?" kata Sarah bingung.
"Oh iya anda mau makan apa?" tanya Sarah.
"Samakan saja denganmu,"jawab Damian santai.
"Baiklah," kata Sarah seraya menyerahkan buku menu kepada pelayan yang sudah menunggu sedari tadi.
Setelah menunggu,pesanan mereka berdua akhirnya telah siap dan mereka pun makan bersama seraya berbincang-bincang.
"Anda cepat sampai juga ya?" kata Sarah heran.
"Kantor saya ada di seberang kafe ini," kata Damian seraya menunjuk gedung kantor di seberang kafe.
"Oh,pantas saja! Tunggu berarti kita satu kantor dong!" ujar Sarah terbelalak.
"Benarkah! Baguslah kalau begitu!" kata Damian seraya meminum kopi panas miliknya.
Setelah berbincang dan Sarah mengetahui bahwa mereka berada di kantor yang sama. Sarah merasa sangat konyol karena sampai tidak tahu bahwa Damian juga bekerja dikantor yang sama.
"Ternyata kami bekerja di satu gedung yang sama? Tapi kenapa aku tidak pernah bertemu dengannya!" gumam Sarah seraya terus berfikir.
Setelah jam istirahat selesai mereka akhirnya kembali ke kantor dan kembali bekerja. Keesokan harinya Sarah langsung memeriksa dibagian apa Damian bekerja,kenapa ia tidak pernah melihatnya dikantor.
"Yohan! Apa kau tahu semua orang yang bekerja di kantor ini?" tanya Sarah memastikan.
"Tentu saja,apalagi karyawan perempuan hampir semuanya aku kenal!" kata Yohan dengan bangga.
"Dasar buaya lumpur! Apa kau kenal dengan pria bernama Damian?" tanya Sarah serius.
"Emm...Maksudmu Pak Damian dari divisi perencanaan itu?" jawab Yohan santai.
"Jadi dia benar-benar bekerja disini,kenapa aku bisa tidak tahu!" gumam Sarah seraya meninggalkan Yohan.
"Hei Sarah! Kau mendatangiku hanya untuk bertanya itu!" teriak Yohan.
Seiring waktu berlalu mereka lebih sering menikmati waktu bersama dan semakin dekat,Sarah mulai merasa kagum dengan Damian karena ia merasa bahwa selama ini dia benar-benar tidak beruntung harus menyia-nyiakan waktunya untuk mencintai pria gila seperti Marco.
"Wah! Udaranya segar sekali,tempat ini terus mengingatkan saya dengan Anda!" kata Sarah seraya tersenyum.
"Mengapa begitu?" balas Damian penasaran.
"Apa Anda ingat malam itu saya benar-benar seperti orang yang tidak tahu harus berbuat apa,namun berkat Anda saya menjadi lebih baik sampai sekarang," kata Sarah.
"Baguslah kalau kau merasa lebih baik,karena kau juga pantas untuk dicintai," ujar Damian seraya menatap pemandangan kota yang gemerlap.
"Anda benar,setiap orang berhak dicintai dan mencintai,semoga suatu hari nanti saya bisa bertemu dengan pria yang saya cintai dan juga mencintai saya dengan tulus!" ujar Sarah dengan lambaian rambut panjangnya yang tertiup angin malam.
"Berapa lama?" tanya Damian serius.
"Apa maksudnya,saya tidak mengerti!"kata Sarah bingung.
"Berapa lama aku harus menunggu suatu hari itu," ucap Damian dengan menatap Sarah.
"A..apa maksud Anda!" kata Sarah mulai kebingungan.
"Aku menyukaimu Sarah!" ujar Damian dengan tatapan serius.
Karena Sarah merasa sudah menyukai Damian beberapa waktu yang lalu,dengan spontan Sarah langsung memeluk Damian karena merasa senang dengan pernyataan Damian,akhirnya keinginannya terwujud. Akhirnya Sarah juga menyatakan perasaannya dan mereka akhirnya menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih yang berbahagia.
***Tamat***