Bahasa tubuh yang indah.
Barangkali dapat kunamai tubuh dengan pepohonan, Minggu yang cerah ini aku bertemu dengan Akasia.
Pohonnya mungkin tak besar, tapi kuat menopang hiruk pikuk pasar mimpi. Jari-jari rantingnya membelai kerinduan yang kusut. Diuraikan helai demi helai kegusaran. Amat telaten suaranya menenangkan tiap keresahan. Suara gemersik tenang dari sapuan angin sore. Melewati celah-celah daunnya. Menari-nari di ruang penuh renjana.
Ku ajak bersua riang, berteduh di bawah pohonnya. Berselimut dingin, ada genderang panas yang memuncak. Merobek kain warna-warni. Mengeluarkan kepulan memabukkan. Semerbak mengitari sarang burung penenun. Kicau beriringan menjadi bait pelelap tidur.
Dahannya yang hangat meraih mesra lelah tubuhku. Ada perdu melilit erat gelisah di dada. Benalu-benalu dibabat habis, meninggalkan akasia yang indah. Kulihat bunga menguning di pucuk asa. Bunga yang siap ku simpan pada memori paling intim. Mulai berbaris kenangan-kenangan yang terpagari tawa. Tak seorang pun tau, akasia tengah menyerap zat hara di dasar nadiku.
00.31 (07/07/24)
Ruang berbatasku