Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Sudah jelas dia adalah laki-laki brengsek, tapi kenapa kau masih tetap bertahan di sisinya, dan terus mencintai dia yang telah menyakitimu berkali-kali.
Kau akan datang padaku dan mengadu tentang kelakuan si brengsek itu, bahkan kau sampai menangis tersedu-sedu, lalu bertanya 'apa yang harus kulakukan' aku selalu memberimu saran, tinggalkan dia!
Pada akhirnya, kau tidak pernah menerima saranku, selalu kembali padanya, walau dia sudah berulangkali menyakiti.
"Tidak mudah untuk lepas dari orang yang kau cintai, seberengsek apa pun dia, sesering apa pun dia menyakiti. Hati ini masih tidak bisa menghilangkan rasa cinta yang telah mengakar, pada akhirnya kau akan tetap kembali padanya, dan memaafkan semua yang telah dia lakukan."
Itulah hal yang selalu kau ucapkan padaku, ketika aku menyuruhmu untuk meninggalkan kekasihmu itu.
Lalu untuk apa semua keluh kesahmu itu, untuk apa semua tangisan itu. Untuk apa kau curhat padaku, mengadu tentang kelakuan kekasihmu itu.
Seperti sekarang ini, kau datang padaku dengan ekspresi muram dan senyuman sedihmu. Mengajakku untuk makan-makan di warung tenda.
Aku hanya menyaksikan dalam diam saat kau melahap mie ayam spesial yang di pesan. Hidung dan kedua matamu merah, yang kutahu itu bukan karena kebanyakan cabai.
"Apa aku ini wanita bodoh?"
Entah itu sebuah pertanyaan atau sebuah pernyataan. Yang jelas, aku ingin berteriak di depan wajah cantikmu itu. 'Ya! Kau memang wanita bodoh! Sangat bodoh!
Aku memilih untuk diam dan mendengarkan curahan hatimu selanjutnya.
"Sudah tahu Aldi itu laki-laki brengsek! Tukang selingkuh! Tapi, tetap aja aku bertahan di sisinya."
Kau membuang napas kasar, bola matamu bergulir liar untuk menahan genangan airmata agar tidak tumpah. Hidungmu mendengkus, menghisap ingus agar tidak meler.
"Sekarang apa yang harus aku lakuin."
Selalu itu pertanyaan yang kau lontarkan. Kali ini aku memilih diam, tak memberi saran tinggalkan dia! Toh, kau tidak akan menurutinya.
"Lakukan apa yang menurut kamu baik," ujarku. Hanya sebatas itu kata yang keluar dari mulut ini.
Kau menatapku, kedua matamu semakin memerah.
"Aku mergokin Aldi selingkuh, kemarin."
Ini bukan kali pertama si Aldi selingkuh, kenapa reaksimu selalu sama. Nangis.
Aku mendesah. Sudah hapal sekenario yang bakalan terjadi di antara mereka. Kau nangis, marah, bahkan berantem sama pacarmu itu. Lalu si Aldi bakalan merengek, memohon, berlutut minta maaf, lalu hatimu lagi-lagi luluh.
"Aku capek, Rey. Capek ngadepin sikap Aldi." Kau mengusap mata dan hidung dengan tisu.
"Tiara, kalau kamu capek, kenapa nggak istirahat aja, jangan memaksakan diri," kataku.
Lagi-lagi dia membuang napas kasar.
"Kenapa, sih dia nggak pernah berubah, setiap berbuat kesalahan dia selalu mohon maaf, dan janji bakalan berubah. Tapi nyatanya!"
Dirimu juga nggak pernah berubah Tiara, selalu memaafkan dan memaafkan. Sudah jelas si Aldi itu bakalan nyakitin kamu terus.
Sungguh beruntung si Aldi itu, dicintai seorang perempuan baik dan tulus macam Tiara. Entah apa yang kau lihat dari dia. Aku yang benar-benar tulus mencintai, dan telah berjanji dalam hati tidak akan pernah menyakitimu malah tak kau hiraukan.
Bayanganku pun samasekali tidak ada dalam bola mata indahmu itu. Diri ini hanya sebatas teman baik saja bagimu.
Setelah selesai dengan sesi curhat dan nangisnya. Aku mengantar Tiara pulang. Rupanya, di teras depan rumah sudah ada si Aldi yang nangkring.
Dia buru-buru menghampiri kami yang baru turun dari motor.
"Tiara, ayo kita bicara sebentar, ya."
Wajah si Aldi tampak memelas. Tiara bersikap cuek padanya. Dia malah menatapku sambil tersenyum.
"Makasih, ya Rey. Untuk hari ini, kamu memang sahabat terbaikku. Selalu bisa diandalkan."
"Kamu itu ngomong apaan, sih. Pake makasih segala, sebagai sahabat baik sudah sepatutnya aku berada di sisimu saat dibutuhkan." Aku membalas senyumnya.
"Tiara, sayang!"
Aldi mencoba menarik perhatian.
Tiara tetap tak peduli, dia malah melenggak menuju pintu masuk.
"Tiara! Aku mohon maafin aku." Aldi merengek. "Aku janji, nggak bakalan ngelakuin hal itu lagi."
"Aldi, hari ini aku capek banget. Sebaiknya kamu pulang." Tiara mendorong pintu dan masuk.
"Tiara! Tiara!"
Aldi mendesah, raut wajahnya kusut. Dia menatapku.
"Rey, tolong jelasin sama Tiara, kalau gue bener-bener menyesal. Gue nggak bakalan selingkuh lagi! Gue janji! Lu tolong bantu gua."
Aldi mulai terisak, duh. Dia ini laki-laki bukan, sih.
Selalu seperti ini, kau selalu berujar menyesal, maaf, janji. Pada akhirnya ngelakuin lagi hal yang sama, nyakitin lagi hati Tiara. Sungguh melodrama!
Ini bukanlah pertama kali ada drama di antara hubungan mereka. Drama ini sudah sering terjadi, dan hasilnya selalu begitu-begitu saja. Si lelaki berbuat salah, minta maaf, janji-janji, menyesal sambil nangis. Lalu, si perempuan luluh dan akhirnya memaafkan.
Aku menatap Aldi sinis.
"Sebenarnya, lu sayang gak, sih sama Tiara?"
"Tentu saja gua sayang sama dia!" Aldi menjawab cepat.
"Kalau lu sayang, kenapa selalu nyakitin dia, kenapa selalu khianatin dia, Aldi!" ujarku.
"Gua emang salah, gua khilaf." Aldi memelas.
Khilaf, kok sering banget. Aku menatapnya malas.
Kurang apa diriku ini, sehingga Tiara samasekali tak bisa melihat ketulusanku. Kenapa selalu Aldi terus yang ada di matanya. Padahal aku selalu berada di sisinya saat dibutuhkan.
"Apa aku putus saja sama Aldi?" Tiba-tiba Tiara berujar.
Aku tak menanggapi omongannya. Saat ini kami tengah duduk di depan teras rumah Tiara. Itu adalah hal yang kuharapkan sejak lama. Mereka putus tus tus!
Ada desah lelah dari bibir itu.
"Sudah berulang kali dia berbuat kesalahan, berulangkali juga aku memaafkan." Tiara memandang lurus ke depan.
Kupandangi wajah cantik itu, yang kini tampak kelelahan.
"Keputusan selalu ada di tanganmu, Tiara." Hanya itu yang bisa kukatakan.
Aku berharap kali ini dia membuat keputusan yang benar. Karena semua itu untuk kebahagiaannya juga.
Tapi harapanku tidak terpenuhi. Tiara kembali memaafkan Aldi, katanya dia ingin memberi kesempatan sekali lagi pada si brengsek itu.
Kenapa di dunia ini ada manusia sebodoh dirimu Tiara! Sudah disakiti dan dikhianati berkali-kali masih tetap memaafkan juga mencintai dia yang tak pantas kau cintai. Entah seberapa besar cintamu padanya?
Apakah ini yang disebut dengan konsep cinta itu buta?
Ngomong-ngomong soal manusia bodoh, ternyata aku sama bodohnya denganmu Tiara. Sudah tahu kau tidak akan pernah melihat ketulusanku, tidak akan pernah mengerti cintaku. Tapi, tetap saja aku masih berharap, dari dulu sampai sekarang.
Hah! Kita berdua sama-sama manusia bodoh. Bodoh karena cinta!
Selesai.