Senja perlahan menyelimuti langit Jogja dengan semburat warna jingga yang indah. Di sebuah kafe kecil di sudut kota, Nina duduk sendirian dengan secangkir kopi yang hampir habis. Matanya menatap kosong ke arah jalan, namun pikirannya melayang jauh ke masa lalu.
"Nina, kamu baik-baik saja?" tanya seorang pelayan yang kebetulan adalah temannya, Rina.
Nina tersenyum tipis. "Iya, Rin. Cuma lagi nostalgia sedikit."
Rina mengangguk memahami. "Kalau kamu butuh teman ngobrol, aku di sini ya."
Nina hanya mengangguk dan kembali tenggelam dalam pikirannya. Kenangan tentang seseorang yang sangat ia rindukan kembali menghantui pikirannya. Dulu, setiap senja seperti ini, mereka selalu duduk bersama di kafe yang sama, berbagi cerita dan tawa. Tapi kini, semuanya hanya tinggal kenangan.
---
Tiga tahun yang lalu, Nina dan Reza adalah sepasang kekasih yang bahagia. Mereka bertemu di kampus dan segera jatuh cinta. Reza adalah pria yang penuh semangat dan selalu tahu cara membuat Nina tertawa. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di kafe favorit mereka, tempat yang kini Nina kunjungi sendirian.
Suatu hari, Reza menerima beasiswa untuk melanjutkan studi di luar negeri. Awalnya, mereka berdua sangat bersemangat dengan kabar baik itu. Mereka berjanji untuk tetap berhubungan dan menjaga cinta mereka, meskipun terpisah oleh jarak ribuan kilometer. Namun, seiring berjalannya waktu, jarak dan kesibukan membuat hubungan mereka semakin renggang.
Pesan-pesan dan panggilan telepon yang dulu rutin kini semakin jarang. Nina merasa kesepian, tetapi ia berusaha keras untuk tetap mendukung Reza. Ia tahu bahwa ini adalah impian Reza dan ia tidak ingin menjadi penghalang. Namun, semakin lama, rindu yang ia rasakan semakin menyakitkan.
Suatu malam, saat Nina sedang duduk di balkon kamarnya, ia menerima pesan dari Reza. Pesan itu singkat, tetapi sangat menggetarkan hatinya.
"Nina, maafkan aku. Aku rasa kita harus berpisah. Aku tidak ingin kamu terus menunggu dan menderita. Aku harap kamu bisa menemukan kebahagiaan meskipun tanpa aku."
Nina merasa dunianya runtuh. Ia menangis sepanjang malam, tidak percaya bahwa semuanya berakhir begitu saja. Namun, ia tahu bahwa Reza benar. Ia harus belajar untuk merelakan dan melanjutkan hidupnya.
---
Kembali ke masa kini, Nina menatap ke luar jendela kafe. Ia menghela napas panjang dan menguatkan dirinya. Ia tahu bahwa hidup harus terus berjalan. Perlahan, ia mulai membuka hatinya untuk orang lain dan mencoba menemukan kebahagiaan kembali.
Suara bel pintu kafe berbunyi, menandakan ada pelanggan baru yang masuk. Nina tidak terlalu memperhatikan, hingga suara yang sangat dikenalnya menyapanya.
"Nina?"
Nina terkejut dan menoleh. Di depan pintu, berdiri Reza dengan senyuman yang sama seperti yang selalu ia ingat. Jantungnya berdegup kencang dan air mata mulai menggenang di matanya.
"Reza? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Nina dengan suara bergetar.
Reza berjalan mendekat dan duduk di hadapan Nina. "Aku kembali, Nina. Aku sadar bahwa aku tidak bisa hidup tanpamu. Setiap hari aku merindukanmu dan aku menyesal telah meninggalkanmu."
Nina tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia menangis, bukan karena kesedihan, tetapi karena kebahagiaan yang meluap. "Aku juga merindukanmu, Reza. Sangat."
Reza menggenggam tangan Nina dengan lembut. "Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Aku ingin kita bersama lagi, seperti dulu."
Nina tersenyum di tengah air matanya. "Aku juga ingin begitu, Reza. Aku ingin kita bersama lagi."
Mereka berdua duduk di sana, berbagi cerita dan tawa, seolah tidak ada waktu yang pernah memisahkan mereka. Senja yang indah menjadi saksi bisu kembalinya dua hati yang saling merindu. Kafe kecil itu kembali dipenuhi oleh cinta dan kebahagiaan, seperti dulu.
Dan kali ini, mereka berdua berjanji untuk tidak pernah membiarkan jarak dan waktu memisahkan mereka lagi. Sebab, cinta sejati selalu menemukan jalannya untuk kembali bersatu, meskipun harus melalui berbagai rintangan.