"Aku pulang, kamu jadi jemput aku gak? "
"Sendiri dulu ya sayang, aku lagi sama Fika. Soalnya dia sakit"
Ca (Misca), meletakkan HP nya pada meja yang ada di depannya dengan lesu. Bagaimanapun ia menyembunyikan perasaannya ia tetap akan kalah dengan suasana hati yang terluka, lalu ia pulang dengan temanya dan perasaan sedih.
Sementara Noe, ia menjaga Fika dirumah nya tanpa ada orang lain selain mereka berdua.
Sebenarnya, Fika adalah masa lalu Noe dan Misca masa depan Noe namun karna kembalinya Fika kasih sayang Noe yang sepenuhnya untuk Misca berkurang drastis. Memang, Noe dan Misca bersama karna perjodohan tapi Misca terlanjur cinta dan sayang pada Noe.
"Ck... "
"Lo kenapa?, dari tadi kaya gak ada gairah hidup"
"Capek gue"
"Cerita Ca... "
"Makasih, gue masuk dulu"
Raya (teman Misca) hanya menggelengkan kepala melihat Misca.
Seminggu sudah berlalu namun,...
Jangan kan Noe menemuinya untuk sekedar basa-basi atau meminta maaf yang ada Noe semangkin tidak memperhatikan Misca.
Misca melupakan sakit hatinya dengan menghabiskan waktu dengan teman-teman nya dan tak jarang juga ia berbohong pada orang tuanya tentang perasaannya.
Yang orang tua mereka tahu adalah mereka baik-baik saja tanpa ada masalah karna Misca selalu menyembunyikan kebenarannya hanya untuk Noe tidak dapat amukan dari orang tuanya sendiri.
Setelah hari yang melelahkan Misca dan teman-temannya singgah ke toko boneka untuk melihat-lihat dan berbelanja. Namun, siapa sangka kalau mereka menemukan Noe memanjakan Fika.
"Ca..., i-itu"
"Bentar, gue udah dapat foto mereka"
"Jadi ini Ca?"
"Gue mundur. Sekarang kita pulang! "
Lalu Misca meninggalkan toko diikuti dengan teman-temannya, mereka pulang ke rumah masing-masing namun ketiga teman Misca tidak tinggal diam karna mereka langsung mengirimkan foto yang mereka dapat saat di toko dan beberapa bukti pada orang tua Noe.
"Ca, mama masuk ya... "
"Ca, ayo keluar kita bicara! "
"Ca, maafkan tante ya sayang"
Suara-suara yang terdengar dari luar pintu tidak Misca hiraukan karna suara dalam kepalanya lebih ramai dari luar kamar.
Antara bertahan atau mundur itu membuat Misca tidak bisa melakukan apapun selain diam memikirkan jalan mana yang harus ia ambil.
"BERTAHAN, jika aku bertahan apakah perlahan dia akan mundur dan memberikan Noe pada ku? " diam tanpa suara beberapa saat "MUNDUR, jika aku mundur akankah aku bisa membuka hati setelah semua yang ku alami?".
Tiga hari kemudian Noe datang dengan tubuh babak belur dan luka di seluruh tubuhnya, saat itu Misca sudah rapi dengan dres putih selutut rambut tergerai panjang dan tak lupa aksesoris rambut yang indah.
Noe memandang Misca lemah. Ia mencoba meraih tangan kiri Misca namun mama Noe menghempaskan dengan kasar lalu membawa Misca keluar tapi sebelum Misca dan mama Noe benar-benar keluar Noe mencegah.
"Ca, kita masih ber setatus tunangan! "
"Ah, aku lupa memberi tahu mu ya? "
"Ca, maaf. Aku akan kembali untuk mu aku janji Ca. "
"Setelah semua yang kamu lakukan?, menurut ku kamu masih mencintai nya dan membutuhkannya bukan? "
"... "
"Sudah selesai tentang kamu dan aku!, kamu bebas tanpa ikatan, tanpa adanya pengganggu dalam cinta kalian. Aku ikhlas, mungkin kamu memang bukan jodohku"
"Tapi aku jodoh mu"
Ucapan Altan lalu dengan santai nya ia menggandeng tangan Misca dengan mesra lalu pergi.
Noe hanya diam dan menyaksikan semua dengan luka yang baru saja tergores karna Misca memilih mundur dan pergi. Sementara itu Noe baru sadar bahwa ia membuat luka dan kecewa pada Misca.
Sementara di antara anak tangga papa Noe melihat dengan puas karna menurutnya Noe pantas mendapatkan penolakan dengan semua yang pernah Noe lakukan pada Misca.