Langit sore itu tampak cerah dengan semburat jingga yang menghiasi ufuk barat. Angin semilir bertiup lembut, menggoyangkan dedaunan di taman kota tempat mereka biasa menghabiskan waktu bersama. Amelia duduk di bangku taman yang kini terasa begitu sepi tanpa kehadiran Raka di sampingnya. Di tangannya tergenggam sebuah buku kenangan yang mereka buat bersama, sebuah buku yang penuh dengan foto dan tulisan tangan yang menceritakan kisah cinta mereka.
Amelia membuka halaman pertama buku itu. Di sana tertulis tanggal pertama kali mereka bertemu: 15 Maret 2018. Ia tersenyum pahit mengingat hari itu. Mereka bertemu secara tidak sengaja di sebuah perpustakaan. Raka yang ramah dan ceria berhasil mencuri perhatian Amelia yang pendiam. Percakapan ringan mereka tentang buku favorit berkembang menjadi pertemanan yang hangat, dan akhirnya menjadi kisah cinta yang manis.
Halaman berikutnya berisi foto-foto kebersamaan mereka: piknik di tepi danau, menonton konser band favorit, dan perjalanan singkat ke pantai. Setiap momen terasa begitu indah, penuh dengan tawa dan kebahagiaan. Amelia merasakan kehangatan di dadanya, namun tak bisa menahan air mata yang mulai mengalir. Kenangan-kenangan itu kini terasa begitu jauh, seperti mimpi yang perlahan memudar.
Amelia berhenti di halaman yang menampilkan foto mereka saat merayakan ulang tahun Raka yang ke-25. Di foto itu, Raka tampak bahagia dengan senyum lebar, sementara Amelia memeluknya dari samping. Hari itu mereka menghabiskan waktu di kafe favorit mereka, berbicara tentang masa depan dan impian yang ingin dicapai bersama.
Namun, semua berubah pada suatu malam di bulan November. Tanpa peringatan, Raka mengirim pesan singkat yang mengakhiri segalanya. "Maafkan aku, Amelia. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi. Selamat tinggal." Amelia tertegun, tak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya. Hatinya hancur berkeping-keping. Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi pikirannya, mencari alasan di balik keputusan Raka.
Malam itu, Amelia mencoba menghubungi Raka berkali-kali, namun tak ada jawaban. Keesokan harinya, Raka telah menghilang. Ia meninggalkan kota tanpa jejak, tanpa penjelasan. Amelia merasa kehilangan arah, tenggelam dalam kesedihan yang mendalam. Dunia yang dulu penuh warna kini terasa suram dan hampa.
Waktu berlalu, namun luka di hati Amelia belum juga sembuh. Setiap kali ia membuka buku kenangan itu, ia merasakan perih yang sama seperti saat Raka meninggalkannya. Teman-temannya mencoba menghibur dan memberinya semangat, namun hanya waktu yang bisa benar-benar menyembuhkan luka hatinya.
Suatu hari, di penghujung musim semi, Amelia memutuskan untuk mengunjungi kembali tempat-tempat yang penuh kenangan bersama Raka. Ia berharap bisa menemukan kedamaian dan menerima kenyataan. Langkah pertamanya adalah ke perpustakaan tempat mereka bertemu. Ia berjalan menyusuri rak-rak buku, mengingat pertemuan pertama mereka. Di sana, ia menemukan sebuah buku yang dulu mereka baca bersama. Di dalamnya, terselip secarik kertas dengan tulisan tangan Raka.
"Amelia, jika suatu hari kamu menemukan ini, ketahuilah bahwa meninggalkanmu adalah keputusan yang paling sulit dalam hidupku. Aku memiliki alasan yang tak bisa kukatakan, namun ketahuilah bahwa aku selalu mencintaimu. Maafkan aku. - Raka."
Air mata Amelia kembali mengalir. Meski tak sepenuhnya mengerti alasan di balik kepergian Raka, ia merasa sedikit lega. Setidaknya, ia tahu bahwa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Dengan hati yang masih terluka, ia melanjutkan perjalanannya ke taman kota, tempat mereka sering menghabiskan waktu bersama.
Di taman, Amelia duduk di bangku yang sama, membuka kembali buku kenangan itu. Kali ini, ia tidak merasakan kesedihan yang mendalam, melainkan perasaan damai. Ia sadar bahwa kenangan-kenangan itu adalah bagian dari hidupnya yang tak bisa dihapus. Meski Raka telah pergi, cinta mereka akan selalu hidup dalam hatinya.
Amelia menutup buku kenangan itu dengan senyuman kecil di wajahnya. Ia tahu bahwa hidup harus terus berjalan. Kenangan bersama Raka akan selalu menjadi bagian dari dirinya....