Desa Kembang Sari terkenal dengan keindahan alamnya yang menawan dan penduduknya yang ramah. Namun, sejak beberapa bulan terakhir, desa ini menjadi sorotan karena serangkaian kasus orang hilang yang tak kunjung terpecahkan. Rasa cemas dan takut menyelimuti setiap sudut desa, membuat para penduduknya enggan keluar rumah saat malam tiba.
Hari itu, Fajar, seorang detektif muda yang baru pindah ke desa ini, mendapatkan tugas untuk menyelidiki kasus hilangnya Siska, seorang gadis SMA yang dikenal ceria dan aktif dalam berbagai kegiatan desa. Siska adalah korban keempat yang hilang dalam kurun waktu enam bulan terakhir.
Fajar memutuskan untuk memulai penyelidikannya dari rumah Siska. Di sana, ia disambut oleh orang tua Siska yang tampak pucat dan khawatir. Mereka memberitahu Fajar bahwa Siska terakhir terlihat di hutan kecil di pinggiran desa, tempat yang biasa ia kunjungi untuk mencari ketenangan.
Dengan berbekal informasi itu, Fajar menuju hutan kecil tersebut. Hutan itu tampak sunyi dan menyeramkan, seolah menyimpan rahasia kelam. Di tengah hutan, Fajar menemukan sebuah pondok tua yang tampak sudah lama tak terawat. Pintu pondok itu terbuka sedikit, memancarkan aura misterius yang membuat bulu kuduk Fajar berdiri.
Fajar memutuskan untuk masuk ke dalam pondok. Di dalam, ia menemukan berbagai benda aneh, termasuk foto-foto Siska dan ketiga korban lainnya yang hilang. Hati Fajar berdebar kencang saat ia melihat sebuah buku catatan yang tergeletak di meja. Buku itu berisi catatan tentang ritual kuno yang dilakukan untuk memanggil roh jahat. Fajar semakin yakin bahwa ada sesuatu yang janggal di desa ini.
Ketika Fajar keluar dari pondok, hari sudah mulai gelap. Ia memutuskan untuk kembali ke desa dan melaporkan temuannya. Namun, di tengah perjalanan, ia merasa ada yang mengikutinya. Suara langkah kaki yang tak terlihat membuat Fajar semakin waspada. Ia berusaha tenang dan mempercepat langkahnya, berharap bisa segera keluar dari hutan.
Sesampainya di desa, Fajar langsung menuju kantor kepala desa untuk melaporkan temuannya. Kepala desa, Pak Joko, tampak terkejut mendengar cerita Fajar. Ia mengingatkan Fajar bahwa hutan itu dikenal sebagai tempat angker dan banyak cerita mistis yang beredar di kalangan penduduk.
Fajar memutuskan untuk tidak menyerah. Ia mengajak beberapa warga desa yang pemberani untuk membantunya menyelidiki lebih dalam tentang pondok dan ritual kuno yang ada di buku catatan. Mereka kembali ke hutan keesokan harinya, dengan persiapan yang lebih matang.
Di dalam pondok, Fajar menemukan pintu rahasia yang tersembunyi di bawah lantai. Pintu itu mengarah ke ruang bawah tanah yang gelap dan lembab. Di sana, mereka menemukan berbagai peralatan ritual dan sisa-sisa pakaian yang diduga milik para korban. Namun, tak ada tanda-tanda keberadaan Siska maupun korban lainnya.
Fajar merasa frustasi. Ia tahu bahwa waktu semakin menipis dan setiap detik sangat berharga. Ia kembali memeriksa buku catatan yang ditemukan sebelumnya dan menemukan petunjuk tentang tempat tersembunyi di hutan yang disebut sebagai “Kawah Setan”. Tempat ini dipercaya sebagai pusat dari segala ritual jahat yang dilakukan.
Dengan tekad yang kuat, Fajar dan timnya berangkat menuju Kawah Setan. Perjalanan menuju kawah itu sangat sulit dan berbahaya, dengan medan yang terjal dan penuh dengan jebakan alami. Namun, mereka tidak menyerah. Ketika mereka sampai di Kawah Setan, mereka menemukan sebuah altar besar dengan simbol-simbol aneh yang terukir di sekitarnya.
Di altar itu, mereka menemukan Siska dalam keadaan tidak sadarkan diri. Fajar segera memeriksa kondisi Siska dan bersyukur karena ia masih hidup. Mereka membawanya kembali ke desa dan memberikan pertolongan pertama. Siska akhirnya sadar dan menceritakan kejadian mengerikan yang dialaminya.
Siska menceritakan bahwa ia diculik oleh seseorang yang mengenakan jubah hitam. Orang itu membawanya ke pondok tua dan melakukan berbagai ritual aneh untuk memanggil roh jahat. Siska mendengar suara-suara aneh dan melihat bayangan menyeramkan selama berada di sana. Ia sangat ketakutan dan berusaha melarikan diri, namun selalu gagal.
Fajar semakin yakin bahwa ada seseorang di desa yang terlibat dalam ritual jahat ini. Ia kembali memeriksa bukti-bukti yang ada dan menemukan bahwa semua korban memiliki kesamaan: mereka semua memiliki hubungan dekat dengan kepala desa, Pak Joko. Fajar mulai curiga dan memutuskan untuk mengawasi gerak-gerik Pak Joko.
Beberapa hari kemudian, Fajar berhasil mengumpulkan cukup bukti untuk menahan Pak Joko. Dalam interogasi, Pak Joko akhirnya mengakui bahwa ia adalah pelaku di balik semua kasus orang hilang. Ia mengaku melakukan ritual-ritual tersebut untuk mendapatkan kekuatan dan kekayaan. Pak Joko ditangkap dan dihukum sesuai dengan perbuatannya.
Desa Kembang Sari akhirnya bisa kembali tenang setelah terungkapnya kasus mengerikan ini. Fajar mendapat pujian dari seluruh warga desa atas keberaniannya mengungkap misteri yang telah menghantui mereka. Meskipun demikian, bayangan kelam dari ritual jahat yang pernah dilakukan masih menyisakan trauma bagi para korban dan penduduk desa.