Malam itu gelap, diselimuti kabut tebal yang menutupi jalanan kecil di desa terpencil. Angin berhembus dingin, menciptakan suasana mencekam yang membuat siapa pun merinding. Di sebuah rumah tua yang tampak tak terawat, seorang pria berdiri di depan cermin, memeriksa dirinya sendiri. Dia adalah Arman, seorang detektif yang terkenal dengan kemampuannya memecahkan kasus-kasus misterius.
Arman menerima sebuah surat tanpa nama beberapa hari lalu, berisi pesan singkat namun menakutkan: "Jejak berdarah telah dimulai, temukan sebelum terlambat." Pesan itu diikuti dengan alamat rumah tua ini. Dengan rasa penasaran dan kewaspadaan, Arman memutuskan untuk datang dan mencari tahu apa yang terjadi.
Saat dia melangkah masuk, lantai kayu yang berderak di bawah kakinya menambah kesan angker. Lampu-lampu redup yang berkelap-kelip membuat bayangan tampak hidup di dinding. Arman menyisir setiap sudut rumah, mencoba mencari petunjuk. Di ruang tamu, dia menemukan sebuah foto tua yang tergantung di dinding. Foto itu menggambarkan sebuah keluarga: seorang pria, wanita, dan dua anak kecil. Wajah-wajah mereka terlihat bahagia, namun ada sesuatu yang aneh. Mata mereka tampak kosong, seolah menyimpan rahasia kelam.
Arman melanjutkan pencariannya ke lantai atas. Di salah satu kamar, dia menemukan sebuah buku harian yang sudah usang. Halaman-halamannya berisi catatan tentang kehidupan keluarga itu, namun tulisan terakhir membuat darah Arman berdesir: "Dia datang lagi malam ini. Aku bisa merasakannya, jejak berdarah akan segera berakhir."
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. Arman segera menoleh, namun tidak ada siapa pun di sana. Suara itu semakin mendekat, membuat jantungnya berdetak kencang. Dalam kegelapan, dia bisa merasakan ada sesuatu yang mengawasi.
Arman memutuskan untuk mengikuti suara itu. Dia berjalan perlahan menuruni tangga, mencoba tetap tenang meski bulu kuduknya berdiri. Suara langkah kaki berhenti di depan pintu ruang bawah tanah. Dengan tangan gemetar, Arman membuka pintu itu. Bau apek dan udara dingin segera menyambutnya.
Dia menuruni tangga dengan hati-hati, dan di ujung tangga, dia melihat sebuah cahaya redup. Arman mendekat dan menemukan sebuah ruangan kecil yang dipenuhi dengan peralatan penyiksaan. Di dinding, terdapat coretan-coretan merah yang menyerupai darah. Di tengah ruangan, ada sebuah meja dengan foto keluarga yang sama seperti di ruang tamu, namun kali ini, wajah-wajah mereka diwarnai dengan darah.
Arman merasa ada yang tidak beres. Dia merasa kehadiran yang mengancam di belakangnya. Ketika dia berbalik, dia melihat seorang pria dengan wajah menyeramkan, penuh luka dan darah. Pria itu tersenyum lebar, menunjukkan gigi-giginya yang menguning.
"Selamat datang, Arman," kata pria itu dengan suara serak. "Aku sudah menunggumu."
Arman mundur, mencoba mencari jalan keluar. Namun, pria itu mendekat dengan langkah lambat namun pasti. "Kau datang untuk mengungkap rahasiaku, bukan? Aku adalah jejak berdarah yang kau cari."
Pria itu mengangkat tangannya, menunjukkan sebuah pisau berlumuran darah. Arman tahu bahwa dia harus bertindak cepat. Dia meraih pistolnya dan mengarahkan ke pria itu. Namun, sebelum dia sempat menembak, pria itu menghilang begitu saja, meninggalkan jejak darah di lantai.
Arman tertegun. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ini hanya permainan pikiran atau ada sesuatu yang lebih mengerikan? Dia memutuskan untuk keluar dari rumah itu dan melaporkan apa yang dia temukan kepada pihak berwenang. Namun, saat dia melangkah keluar, dia melihat jejak darah yang mengarah ke hutan di belakang rumah.
Rasa penasaran dan tanggung jawab sebagai detektif membuat Arman mengikuti jejak itu. Dia berjalan masuk ke dalam hutan yang gelap, hanya ditemani oleh cahaya bulan yang redup. Semakin dalam dia masuk, semakin jelas jejak darah itu.
Di tengah hutan, Arman menemukan sebuah gubuk kecil. Pintu gubuk itu terbuka, dan di dalamnya, dia melihat seorang wanita dengan pakaian compang-camping, terikat di kursi. Wanita itu menangis, wajahnya penuh dengan luka dan darah.
"Tolong aku," kata wanita itu dengan suara lirih. "Dia akan datang kembali."
Arman segera mendekat dan mencoba melepaskan ikatan wanita itu. Namun, sebelum dia berhasil, suara langkah kaki terdengar dari luar gubuk. Pria dengan wajah menyeramkan itu kembali, kali ini dengan tawa mengerikan.
"Kau tidak bisa menyelamatkannya, Arman," kata pria itu. "Jejak berdarah ini tidak akan pernah berakhir."
Arman menembak pria itu, namun pelurunya hanya menembus udara kosong. Pria itu tertawa dan menghilang kembali. Arman merasa putus asa, namun dia tidak akan menyerah. Dia berhasil melepaskan ikatan wanita itu dan membawanya keluar dari gubuk.
Namun, jejak darah terus mengikuti mereka. Setiap langkah yang mereka ambil, jejak itu semakin jelas. Arman tahu bahwa mereka tidak akan bisa lari dari bayang-bayang mengerikan ini. Mereka harus menghadapinya.
Di ujung hutan, mereka menemukan sebuah makam tua. Di atas makam itu tertulis nama keluarga yang ada di foto. Arman menyadari bahwa roh pria itu adalah bagian dari keluarga yang tragis ini. Dia harus menemukan cara untuk menghentikan kutukan ini.
Arman menggali makam itu dan menemukan sebuah peti mati. Di dalamnya, dia menemukan tulang-belulang keluarga tersebut. Dengan penuh kehati-hatian, dia mengumpulkan tulang-belulang itu dan menguburnya kembali dengan layak, mengucapkan doa untuk kedamaian mereka.
Setelah itu, jejak darah mulai memudar. Arman dan wanita itu berhasil keluar dari hutan dengan selamat. Namun, di dalam hati Arman, dia tahu bahwa kutukan itu belum sepenuhnya berakhir. Jejak berdarah mungkin akan kembali suatu hari nanti, mencari korban baru.