Aku sudah lama meninggalkan daerah kelahiranku. Mungkin, hampir 10 tahun semenjak aku lulus SMP. Sekarang Aku salah seorang mahasiswi di universitas negeri di kota domisiliKu ini. Universitas yang menerima mahasiswa-mahasiswi dari seluruh Indonesia.
"Maria!" panggilKu kepada sahabatKu yang bersamaKu semenjak di bangku SMA. "Sabrina!" Sahutnya sembari berlari ke arahKu . Kami berangkulan bak Teletubbies. "Aku merindukanmu" ucapKu, "Kita kan, baru ketemuan minggu lalu. Oh, iya, aku mendengar salah seorang teman sekelas kita, orangnya tampan banget dan pernah juara catur internasional. Kamu nggak mahu cari tahu yang mana orangnya?" Maria bercerita dengan begitu semangatnya . "Nggak tertarik, tuh. Aku kemari mencari ilmu bukan mencari jodoh. Ayo ke kelas dan cari tempat yang dekat dengan meja dosen," ajakKu sambil menggandeng tangannya. "Yah.., duduk di depan lagi. Ke baris tengah atau belakang saja, ya?. Waktu SMA di depan, aku nggak bisa main-main dan ngobrol " ngeluhnya. "Tapi, kamu bisa mendapatkan nilai pelajaran bagus. Tapi, kalau kamu nggak mahu, nggak apa-apa, aku saja sendiri duduk di depan " ucapKu "Serius?" Mariah meyakinkanKu yang Ku balas dengan anggukkan "Kalau begitu, aku duluan, ya. Aku juga mahu berkenalan dengan teman-teman lainnya "
Maria pergi ke kelas. Aku pergi ke mini market yang di sediakan pihak kampus. Aku memilih dan membeli 2 polpen dan 2 stabilo, yang satu berwarna pink dan satunya hijau. Sedari tadi, semenjak aku masuk, seperti ada yang mengikutiKu dan memperhatikanKu.
Aku mempercepat langkah kakiKu dan...?, "Sabrina!" Ada yang memanggilKu, Aku menengok ke belakang "Syakir!. Kamu kuliah di sini?!. Aku senang melihatmu di sini" "Sesenang apa?" Tanyanya"Hmmm, entah" jawabKu singkat. "Kamu mengambil jurusan apa?" "Bisnis," jawabKu "Sama dong. Kita duduk bersebelahan, ya?. Soalnya di sini aku belum mengenal banyak orang " "Di depan?" Aku memastikan. "Masih seperti dulu. Kamu kan,sudah pakai kacamata sekarang. Masa, masih ingin duduk di depan?" Syakir ternyata masih mengingat penglihatan ku yang minnes. "Aku merasa bisa lebih fokus belajar jika duduk di kursi paling depan" jawabKu PD. "Ok. First lady," Syakir mempersilakanKu berjalan duluan dengan tangan yang digerakkan ke depan membuatKu tertawa kecil dan menggelengkan kepala.
Syakir masih seperti dulu, suka membuatKu tersenyum dan tertawa. "Kamu tinggal dimana?" TanyaKu sambil berjalan bersebelahan menuju kelas. "Tinggal di hatimu" jawabnya bercanda "Aku serius. Kamu tinggal dimana?". "Asrama "
Semua mata menuju padaKu dan Syakir yang memasuki kelas dan duduk di kursi paling depan. Terdengar jelas di telingaKu, bisikan-bisikan obrolan mereka menyebut-nyebut nama Syakir.
"Au!" BahuKu sakit ditepuk oleh Maria "Tega kamu, ya, menikungku dari belakang?" bola mata Maria seakan mahu ke luar menatapKu. "Apa maksudmu?" Aku tidak mengerti sambil ku pijati bahuKu yang sakit. "Tadi aku mengajakmu berkenalan dengannya, tapi kamu bilang nggak tertarik. Sekarang, kalian berjalan bersama masuk ke dalam kelas" jawab Maria tanpa jeda membuat Syakir menoleh ke arahKu. "Yakin, kamu tidak tertarik padaku?" "Kalian..., menempatkanku pada posisi yang sulit. Mana aku tahu yang dimaksudnya adalah kamu?!" Aku meninggikan suaraKu membuat semua orang yang sudah ada di kelas menatapKu aneh. Ini moment hari pertama kuliah yang tidak menyenangkan dan tidak akan Ku lupa.
Syakir bangkit dan mengulurkan tangannya kepada Maria "Perkenalkan aku Syakir, sahabat Sabrina semenjak
kanak-kanak dan semoga bisa lebih dari sekedar sahabat " apa-apaan ini?," batinKu. "Duduklah di sampingku" ajakKu pada Maria. "Nggak usah. Nikmati saja reunian kalian" Maria ngambek dan pergi tapi, dia berbalik lagi dan berbisik ke telingaKu "Terima dia jika dia menyatakan perasaannya padamu" Betapa malunya Aku mendengarnya.
...
Aku mengerjakan PR di kamar tidurKu di lantai dua, rumahKu. Tok..tok... Suara ketukan pintu terdengar olehKu "Siapa?!" TanyaKu dari dalam kamar "Non, ada teman non di depan " jawab pelayan rumah kami. Tanpa bertanya dan menutup kembali pintu, Aku langsung ke luar dengan mengenakan kaos polos ketat berlengan pendek dan celana panjang joger plant.
"Maria!" 💣BOOM!! Bagai dilempar bom, Aku tidak bisa berkata-kata dan langsung menjadi patung sangking terkejutnya.
"Hi Sabrina" sapa Syakir berdiri di hadapanKu "Darimana kamu tahu rumahku?" "Dari Maria" sudah Ku duga. "Duduklah, mahu minum apa?" Aku menawarkan minuman kepadanya. "Nggak usah, aku kemari ingin mengajakmu kulineran sambil berkeliling kota. Mahu, ya?" Aku melihat ke arah luar, terlihat sepeda motor berwarna hitam "Dia kemari pasti dengan motor itu?," batinKu "Bagaimana?" Tanyanya dan Aku masih diam. "Aku sudah dari dalam dan bertemu dengan papamu, beliau sudah memberiku izin kalau kamu mahu" lanjutnya. Semangatnya memang bisa Ku acungi jempol. "Ok, aku ganti baju dahulu" "Nggak usah. Kamu sudah cantik dengan kaos itu" cegatnya. Aku menoleh ke kaos yang Ku pakai Astaga!, ketat banget. "Benar kan, cocok dan membuatmu cantik " "Diamlah!" Aku berlari masuk ke dalam kamar dan mengambil rompi jins dan menutupi lekuk tubuhKu.
...
"Ayo kita pergi" Aku dan Syakir berkeliling kota dengan mengendarai sepeda motornya. "Aku kangen padamu, Rina" ucapnya dan sudah lama rasanya nama itu tidak Ku dengar. "Sudah 10 tahun kita tidak bertemu. Aku mencari-cari namamu di media sosial tapi, aku tidak menemukan namamu. Syukurlah takdir mengizinkan kita bertemu dengan cara seperti ini" lanjutnya di tengah kami mencicipi kudapan di pinggir jalan. "Aku punya media sosial tapi aku tidak menggunakan nama asliku" ucapKu menatap wajahnya "Ya Tuhan! Betapa tampannya dia" batinKu "Sabrina ingat, kamu harus fokus kuliah, jangan dulu memikirkan pacaran " suara bisikan gaib hinggap di telingaKu membuatKu menggelengkan kepala tanpa sadar. "Kamu memikirkan apa sampai ekspresimu begitu?" "Aku tidak memikirkan apa-apa ", ngelakku "Aku menyukaimu dan ingin menikahimu, nikahlah denganku" Aku tersedak mendengarnya. Syakir memberiKu segelas air dan Aku langsung meminumnya. "Tentu, belum sekarang. Nanti kalau kita sudah semester enam", lanjutnya membuatKu menghitung di dalam hati kira-kira berapa lama lagi?, tiga tahun?, cepat sekali. "Bagaimana?" "Berikan aku waktu untuk berpikir", ucapKu sambil meletakkan gelas kaca kosong ke bangku di depan kami. "Berapa lama?" "Sejam" jawabKu kali ini dia yang tersedak. "Kalau sejam, bukan menunggu namanya. Berarti kamu sudah ada jawabannya " "Iya, aku juga suka sama kamu tapi, aku tidak mahu fokus kuliahku terganggu karena pacaran" jawabKu tegas. "Aku tidak mengajakmu pacaran" Syakir meyakinkan membuatKu menghela napas panjang "Kalau bukan pacaran, apa dong?, nikah?. Itu kan, nanti kalau sudah semester 6 kan?. Terus, sekarang apa kalau bukan pacaran?" Aku jadi emosi. Dia yang menembakKu tapi, sekarang terdengar seperti Aku yang menuntut kepastian. "Lamaran. Bulan depan aku akan datang ke rumahmu untuk melamarmu secara resmi dan agar kamu tetap fokus dengan kuliahmu, di kampus kita akan bersikap layaknya teman sekelas, bagaimana?" Jawabnya "Tanpa teman lawan jenis di sampingku dan di sampingmu, bagaimana?", Aku bertanya balik "Setuju" jawabnya sambil mengulurkan tangannya yang Ku sambut dengan uluran tangan juga dan kami tersenyum bersama