Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang ibu bernama Marni. Marni adalah seorang janda yang membesarkan dua orang anaknya, Andi dan Anisa, seorang diri.
Suami Marni meninggal dunia ketika Andi masih berusia 5 tahun dan Anisa masih berusia 3 tahun.
Marni bekerja keras untuk menghidupi kedua anaknya. Ia bekerja sebagai petani dan buruh tani. Setiap hari, Marni harus bangun pagi-pagi untuk berangkat ke sawah. Ia bekerja sampai sore hari, bahkan terkadang sampai malam.
Marni juga harus mengurus rumah tangganya. Ia memasak, mencuci, dan membersihkan rumah. Ia juga harus mengurus kedua anaknya. Marni harus memastikan bahwa Andi dan Anisa makan, mandi, dan belajar dengan baik.
Marni seperti ibu lain di desa-desa kecil, ia adalah seorang ibu yang tangguh.
Ia tidak pernah mengeluh tentang kesulitan yang dihadapinya. Ia selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk kedua anaknya, Andi dan Anisa.
Andi dan Anisa tumbuh menjadi anak yang baik. Mereka selalu menghormati dan menyayangi ibu mereka. Andi dan Anisa tahu bahwa ibu mereka telah berjuang keras untuk mereka.
Suatu hari, Andi dan Anisa sedang bermain di sawah. Mereka melihat ibu mereka sedang bekerja. Andi dan Anisa menghampiri ibu mereka.
“Ibu,” kata Andi. “Ibu sudah bekerja keras. Istirahatlah sebentar.”
“Tidak apa-apa,” kata Marni. “Ibu masih kuat.”
“Tapi ibu sudah tua,” kata Anisa. “Ibu harus istirahat.”
Marni tersenyum. “Ibu tahu,” katanya. “Tapi ibu ingin membuat kalian bahagia. Ibu ingin kalian bisa sekolah dan meraih cita-cita kalian.”
Andi dan Anisa memeluk ibu mereka. Mereka menangis tersedu-sedu.
“Ibu, kami mencintaimu,” kata Andi.
“Kami akan selalu menyayangimu,” kata Anisa.
Marni memeluk kedua anaknya dengan erat. Ia merasa sangat bahagia. Ia tahu bahwa perjuangannya selama ini tidak sia-sia.
Meski di tengah banyak kesulitan, Mari mampu membesarkan kedua anaknya dengan baik.
Selama berpuluh tahun dengan berpeluh keringat dan air mata, Marni berhasil membantu kedua anaknya untuk meraih cita-citanya.
Andi dan Anisa tumbuh dewasa dan sukses. Andi menjadi seorang dokter dan Anisa menjadi seorang guru. Mereka selalu bersyukur kepada ibu mereka atas segala perjuangan yang telah dilakukannya.
Kelak, Andi dan Anisa akan menjadi tulang punggung bagi Marni yang kini mulai berusia senja.