Saat aku membuka mataku, langit mendung menyapa penglihatanku. Aku masih menatap langit mendung itu, bersembunyi dibalik kardus bekas. Ibu masih belum kembali. Aku lapar.
Titik- titik air mulai jatuh. Aku semakin meringkuk ke sudut kardus yang tidak terkena air. Aku takut air itu membasahi tubuhku. Perutku kembali berbunyi. Ibu... Aku lapar.
Hujan semakin deras. Kardus yang melindungiku sudah tidak mampu melawan derasnya air. Tubuhku basah kuyup, namun ibu belum kembali juga. Aku berteriak memanggil ibu. Tapi apalah daya,suaraku teredam oleh derasnya hujan. Teriakanku melemah karena aku menggigil. Ibu,aku kedinginan... Aku sangat lapar, dimana ibu?
Hujan tidak berlangsung lama. Tapi masih menyisakan rintik-rintik yang menemani rasa senduku. Aku melihat beberapa orang yang berlalu lalang. Mereka menggunakan pelindung hujan. Hingga seorang anak manusia memakai jas hujan warna kuning menatapku iba. Wajah bulatnya mendekat padaku. Aku sedikit takut. Kukira dia akan melukaiku, namun tidak. Dia hanya mengangkatku didekapannya yang hangat. Aku sedikit merasa lega. Namun itu tidak berlangsung lama.
Seorang manusia yang lebih besar memanggilnya. Diapun melepaskanku kembali. Namun sebelumnya,dia membuka kotak yang dia ambil dari tasnya. Apakah dia akan memberiku makan? Aku berharap sangat.
Dia mengambil benda kuning kecoklatan dari kotak itu. Ya, sepertinya makanan! Aku mencium baunya,kelihatannya enak. Dia memberiku sepotong barang itu. Ya cukup besar. Aku memakannya dengan senang. Anak itu pergi dengan riang. Disela kesibukan makanku,aku tiba-tiba teringat ibu. Bisakah aku menyisakan untuknya?
***
3 hari berlalu. Namun ibu belum kembali. Aku sangat kelaparan. Makanan dari anak itupun sudah kuhabiskan tempo hari. Beruntung ada beberapa orang baik yang sesekali memberiku makan. Tapi dimana ibu? Apa ibu meninggalkan aku?
Aku mendongak melihat manusia yang berhenti didepanku. Mata jernihnya menatapku. Anak ini lagi. Aku mengeong, berharap dia memberiku makan lagi. Namun dia hanya menatap,kemudian pergi ke manusia dewasa di ujung jalan.
Aku menunduk kecewa. Apakah anak itu sudah tidak menyukaiku lagi? Aku meringkuk sedih. Aku kedingingan. Aku lapar. Aku ingin ibu. Dimana ibu?
Suara langkah kaki terdengar kembali. Saat aku lihat,anak itu kembali dengan senyum diwajahnya. Apa dia akan memberiku makan?
Tidak. Dia mengangkatku dan membawa pergi. Oh tidak! Akan dibawa kemana aku?
Dia berbicara padaku. Namun aku tidak mengerti apa yang dikatakannya. Aku hanya tau dia sangat senang. Dia mengelus-elus buluku dengan sayang. Aku sedikit merasakan kehangatan. Dia membawaku pergi jauh dari tempat itu.
Aku khawatir. Bagaimana jika ibu kembali dan tidak menemukanku disana? Ibu pasti akan sangat sedih. Tapi aku tidak bisa melawan anak ini.
Ibu... Maafkan aku, aku dibawa oleh manusia.
***
"Nana,kau harus berjanji akan merawat kucing itu dengan baik. Ibu sudah mengizinkanmu membawanya."
"Iya ibu,aku kasihan dengan kucing ini, sendirian 3 hari disana. Pasti dia sedih ibunya tertabrak mobil kemarin."
Wanita itu tersenyum melihat gadis kecilnya yang memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi.
"Tapi Nana janji ya, jangan lalai dengan dia."
Nana mengangguk mantap, "tentu ibu, Nana akan merawatnya dengan sepenuh hati!"
Kucing kecil itu memang tidak mengerti apa yang manusia katakan. Jadi dia memilih tidur dipangkuan si gadis kecil.
***