Nama yang terdengar tidak asing lagi bagi banyak orang di seluruh penjuru dunia. Ia menyandang status sebagai seorang assassin yang bekerja untuk kepuasan dirinya sendiri. Mempunyai kehidupan super mewah dari hasil bayaran membunuh target sasaran yang jumlahnya tentu tidak sedikit. Memiliki akses kejahatan di seluruh dunia adalah sebuah keuntungan baginya, entah itu akses dalam pasar gelap ataupun melarikan diri dari penjara saat dirinya berhas
Chapter 1
Opening
Prolog
Action story with the cast of Sean Xavon & Erica Vresila. Enjoy, let's get the story, guys!
________________________
Di gedung tua yang auranya memang tenang dan damai, namun sepertinya itu tak lagi berlaku dengan situasi yang saat ini telah berbeda.
Keadaan pun seperti panas, tatapan tajam saling terlontarkan, enggan menolehkan kepala ke arah lainnya. Mereka berdua adalah sosok yang mirip, bedanya terkadang si gadis lebih bisa mengatur emosi daripada si laki-laki yang memang sudah terkenal dalam kasus pembunuhan —dalam artian memiliki emosi yang sangat tidak stabil—.
Sean mulai mengepulkan asap rokok dari dalam mulutnya ke udara, ia benar-benar menikmati. "Kamu gadis yang pintar, bagaimana jika kamu menjadi partner membunuhku?" tanyanya dengan tenang, seolah-olah pertanyaannya mengajak seseorang dihadapannya ke karnaval.
"Tidak, aku sama sekali tidak tertarik dengan apa yang kamu tawarkan." Jawab gadis tersebut. Lagipula, gadis waras seperti apa yang menyetujui ajakan pembunuhan? Tidak ada. "Seperti ini saja, bagaimana jika kamu menjadi sekretaris di perusahaan ternama Luis Company bersamaku? Lagipula pemikiran kamu lumayan bekerja, siapa tau banyak perusahaan yang akan menanamkan saham nantinya berkat dirimu." Ucap Erica yang belum mengurungkan niatnya untuk menurunkan pistol yang mengarah pada tubuh laki-laki itu.
Ya, Erica. Seperti di cerita sebelumnya 'My Coldest CEO', sekarang ia-lah yang menjadi pemeran utama bersama dengan Sean.
Sean menimang-nimang apa yang dikatakan oleh Erica, ia berdehem kecil. "Cukup menarik sih, tapi tidak ada aksi pembunuhan yang menantang. Sangat tidak menguntungkan bagi diriku." ucapnya yang menatap Erica dengan mata tajam sambil memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana, ia terlihat tampan dan cool di waktu yang bersamaan.
"Kamu pikir memangnya cara bersenang-senang hanya dengan membunuh orang saja?" Erica menghampiri Sean sambil melempar asal pistol ke sembarang tempat, ia sudah kesal dengan laki-laki yang seenaknya.
Sean tidak takut, lalu langsung saja menganggukkan kepala dengan penuh keyakinan. "Iya, kira-kira seperti itu." balasnya, mengangkat senyuman miring.
Erica mengambil batang rokok yang berada di sela jemari Sean dengan gerakan cepat sehingga laki-laki tersebut tidak dapat mencegahnya, lalu membuang batang rokok ke lantai dan langsung ia injak sampai hancur lebur. "Aku tidak suka dengan laki-laki yang merokok, apalagi saat sedang berbicara kepada ku." ucapnya, nada dingin pun terdengar.
"Bukan urusan kamu." balas Sean. Ia tidak menyayangkan rokoknya yang hancur terinjak oleh Erica, ia masih memiliki batang rokok lainnya di saki celana.
"Tentu saja urusanku, karena kamu mencemari udara yang aku hirup saat ini. Mungkin kamu adalah laki-laki yang tak ramah lingkungan, pantas saja wajah mu seperti itu." Sekali Erica berbicara panjang, pasti ada saja kalimat yang menyakiti hati dan membuat lawan bicaranya langsung terkena mental.
Tunggu sebentar, kenapa Erica berubah menjadi gadis yang sedikit cerewet dari biasanya? Tapi sepertinya ia memiliki rencana yang matang dan sudah diperhitungkan.
Namun Sean kebal dengan gadis seperti Erica. "Tau apa kamu tentang udara yang tercemar? Dan ada apa dengan wajah ku? Tampan? Seharusnya katakan saja dengan jujur dan to the point." ucapnya sambil tersenyum miring, juga berniat menggoda. Ia mendorong pelan bahu Erica dengan jari telunjuknya, seolah-olah meremehkan gadis itu.
Erica berhenti tepat di hadapan Sean, ia benar-benar mengikis jarak di antara keduanya karena juga merasa geram. "Tidak keren jika teknologi kamu di gunakan hanya untuk mengecoh target sasaran, hanya membuang-buang waktu untuk merenggut nyawa. Lebih baik gunakan untuk hal yang bermanfaat dan dapatkan pekerjaan yang lebih baik dari pada ini." balasnya sambil membersihkan noda kotor yang terlihat di rahang kokoh Sean. "Oh… dan ya, wajah mu mirip sekali dengan sampah yang sudah hancur lebur, aku tidak melihat ketampanan mu." Ia balik mengejek dan meremehkan.
"Bagiku tidak ada hal yang lebih keren daripada membunuh orang." Kali ini Sean membalas tanpa menanggapi ejekan Erica mengenai wajahnya.
Tersinggung? Tidak, Sean sama sekali tidak merasa sakit hati dengan perkataan Erica. Justru, ia menjadi penasaran dengan gadis yang saat ini berada di hadapannya.
"Tapi kamu serius tidak ingin memberi tempat untuk cinta di hidup kamu? Cobalah, jika kamu tidak suka, kamu boleh pergi." ucap Erica dengan bahu yang sedikit terangkat, ia menatap Sean, tatapannya menurun ke arah bibir laki-laki tersebut lalu kembali menatap mata Sean.
Sean gang melihat itu menjadi ikutan tidak fokus, namun ia adalah pengendali emosi yang handal. "Maksud kamu?" tanyanya, ia bukan pura-pura tidak mengerti, namun memang tidak paham dengan urusan percintaan yang seperti dikatakan oleh Erica.
"Aku akan memberitahu mu cara untuk menebarkan kasih sayang, bagaimana?" ucap Erica dengan pelan, suaranya begitu halus dan menggoda. Ia mengelus rahang Sean, lalu mengecupnya dengan singkat.
Sean menelusuri sangat dalam kedua bola mata Erica seperti mencari kewarasan serta keseriusan di dalamnya, lalu menatap gadis itu sambil tersenyum miring yang selalu menjadi andalannya di kala apapun. "Jika kamu tidak berhasil membuat hati ku luluh, aku memiliki hak untuk membunuhmu sebagai gantinya, bagaimana?" Ia menjawab dan menantang, namun tentu saja menginginkan keuntungan.
Erica menganggukkan kepalanya tanpa ragu sedikitpun, ia bukan tipe gadis yang takut dengan ancaman yang sekalipun membawa nyawanya. "Kalau aku berhasil, tinggalkan pekerjaan ini dan carilah pekerjaan yang lebih berbobot atau aku juga memiliki hak untuk membunuhmu. Bagaimana, setuju juga dengan perjanjian ku?" ucapnya dengan nada datar, ia tidak mau kalah dan tidak ingin ditindas oleh laki-laki tersebut.
Karena Erica pada dasarnya bukan gadis yang menerima kenyataan dan merasa gentar jika dihadapkan dengan sesuatu yang berbahaya. Nyali dan tekadnya sangat kuat, tidak ada yang bisa menandingi sejauh ini. Bahkan, saat ini berhadapan dengan seorang pembunuh bayaran pun ia tidak takut dan merasa setara kedudukannya.
Dan Sean, kenapa ia tahan dengan Erica yang justru malah berbasa-basi dengannya? Padahal bisa saja saat ini ia menembak gadis tersebut karena menjadi ancaman baginya, namun sama sekali tidak ia lakukan.
"Buktikan saja jika kamu bisa, ku setujui apa yang menjadi perjanjian kita, deal." balas Sean, ia tidak sabar menunggu apa yang terjadi selanjutnya.
...
Disini kita memulai kisah baru setelah adanya Damian & Klarisa, Vrans & Xena, lalu kini giliran Sean & Erica yang memainkan peran mereka.
Dari segala aspek kehidupan yang Sean jalani selama ini, kenapa ia baru dipertemukan oleh gadis seperti Erica yang terlihat sempurna seperti kriteria unik yang sesuai dengan keinginannya?
Jawabannya, ada disini.
Masih bersama dengan kisah mereka yang saling berkaitan, tidak lupa juga dengan tokoh yang sama —namun tentu saja ada tambahan beberapa tokoh—.
Selamat menikmati, selamat membaca.
webnovel
My Weird Assassin
Author: zakiasyafira
Urban
Ongoing · 22.1K Views
156 Chs
CONTENT
RATINGS
NO.200+
SUPPORT
Synopsis
Sean Xavon
Nama yang terdengar tidak asing lagi bagi banyak orang di seluruh penjuru dunia. Ia menyandang status sebagai seorang assassin yang bekerja untuk kepuasan dirinya sendiri. Mempunyai kehidupan super mewah dari hasil bayaran membunuh target sasaran yang jumlahnya tentu tidak sedikit. Memiliki akses kejahatan di seluruh dunia adalah sebuah keuntungan baginya, entah itu akses dalam pasar gelap ataupun melarikan diri dari penjara saat dirinya berhasil tertangkap oleh pihak FBI.
Seorang gadis bernama Erica Vresila, berhasil masuk ke dalam hidupnya yang di penuhi bahaya. Menawarkan sebuah perjanjian gila, yang mana jika salah satu dari mereka kalah maka dialah yang akan di tembak mati.
Penasaran dengan perjanjian itu?
Bagaimana akhir dari kisah mereka?
Kalian bisa langsung membacanya dengan tentang. Welcome & happy reading, thank you!
Chapter 1
Opening
Prolog
Action story with the cast of Sean Xavon & Erica Vresila. Enjoy, let's get the story, guys!
________________________
Di gedung tua yang auranya memang tenang dan damai, namun sepertinya itu tak lagi berlaku dengan situasi yang saat ini telah berbeda.
Keadaan pun seperti panas, tatapan tajam saling terlontarkan, enggan menolehkan kepala ke arah lainnya. Mereka berdua adalah sosok yang mirip, bedanya terkadang si gadis lebih bisa mengatur emosi daripada si laki-laki yang memang sudah terkenal dalam kasus pembunuhan —dalam artian memiliki emosi yang sangat tidak stabil—.
Sean mulai mengepulkan asap rokok dari dalam mulutnya ke udara, ia benar-benar menikmati. "Kamu gadis yang pintar, bagaimana jika kamu menjadi partner membunuhku?" tanyanya dengan tenang, seolah-olah pertanyaannya mengajak seseorang dihadapannya ke karnaval.
"Tidak, aku sama sekali tidak tertarik dengan apa yang kamu tawarkan." Jawab gadis tersebut. Lagipula, gadis waras seperti apa yang menyetujui ajakan pembunuhan? Tidak ada. "Seperti ini saja, bagaimana jika kamu menjadi sekretaris di perusahaan ternama Luis Company bersamaku? Lagipula pemikiran kamu lumayan bekerja, siapa tau banyak perusahaan yang akan menanamkan saham nantinya berkat dirimu." Ucap Erica yang belum mengurungkan niatnya untuk menurunkan pistol yang mengarah pada tubuh laki-laki itu.
Ya, Erica. Seperti di cerita sebelumnya 'My Coldest CEO', sekarang ia-lah yang menjadi pemeran utama bersama dengan Sean.
Sean menimang-nimang apa yang dikatakan oleh Erica, ia berdehem kecil. "Cukup menarik sih, tapi tidak ada aksi pembunuhan yang menantang. Sangat tidak menguntungkan bagi diriku." ucapnya yang menatap Erica dengan mata tajam sambil memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana, ia terlihat tampan dan cool di waktu yang bersamaan.
"Kamu pikir memangnya cara bersenang-senang hanya dengan membunuh orang saja?" Erica menghampiri Sean sambil melempar asal pistol ke sembarang tempat, ia sudah kesal dengan laki-laki yang seenaknya.
Sean tidak takut, lalu langsung saja menganggukkan kepala dengan penuh keyakinan. "Iya, kira-kira seperti itu." balasnya, mengangkat senyuman miring.
Erica mengambil batang rokok yang berada di sela jemari Sean dengan gerakan cepat sehingga laki-laki tersebut tidak dapat mencegahnya, lalu membuang batang rokok ke lantai dan langsung ia injak sampai hancur lebur. "Aku tidak suka dengan laki-laki yang merokok, apalagi saat sedang berbicara kepada ku." ucapnya, nada dingin pun terdengar.
"Bukan urusan kamu." balas Sean. Ia tidak menyayangkan rokoknya yang hancur terinjak oleh Erica, ia masih memiliki batang rokok lainnya di saki celana.
"Tentu saja urusanku, karena kamu mencemari udara yang aku hirup saat ini. Mungkin kamu adalah laki-laki yang tak ramah lingkungan, pantas saja wajah mu seperti itu." Sekali Erica berbicara panjang, pasti ada saja kalimat yang menyakiti hati dan membuat lawan bicaranya langsung terkena mental.
Tunggu sebentar, kenapa Erica berubah menjadi gadis yang sedikit cerewet dari biasanya? Tapi sepertinya ia memiliki rencana yang matang dan sudah diperhitungkan.
Namun Sean kebal dengan gadis seperti Erica. "Tau apa kamu tentang udara yang tercemar? Dan ada apa dengan wajah ku? Tampan? Seharusnya katakan saja dengan jujur dan to the point." ucapnya sambil tersenyum miring, juga berniat menggoda. Ia mendorong pelan bahu Erica dengan jari telunjuknya, seolah-olah meremehkan gadis itu.
Erica berhenti tepat di hadapan Sean, ia benar-benar mengikis jarak di antara keduanya karena juga merasa geram. "Tidak keren jika teknologi kamu di gunakan hanya untuk mengecoh target sasaran, hanya membuang-buang waktu untuk merenggut nyawa. Lebih baik gunakan untuk hal yang bermanfaat dan dapatkan pekerjaan yang lebih baik dari pada ini." balasnya sambil membersihkan noda kotor yang terlihat di rahang kokoh Sean. "Oh… dan ya, wajah mu mirip sekali dengan sampah yang sudah hancur lebur, aku tidak melihat ketampanan mu." Ia balik mengejek dan meremehkan.
"Bagiku tidak ada hal yang lebih keren daripada membunuh orang." Kali ini Sean membalas tanpa menanggapi ejekan Erica mengenai wajahnya.
Tersinggung? Tidak, Sean sama sekali tidak merasa sakit hati dengan perkataan Erica. Justru, ia menjadi penasaran dengan gadis yang saat ini berada di hadapannya.
"Tapi kamu serius tidak ingin memberi tempat untuk cinta di hidup kamu? Cobalah, jika kamu tidak suka, kamu boleh pergi." ucap Erica dengan bahu yang sedikit terangkat, ia menatap Sean, tatapannya menurun ke arah bibir laki-laki tersebut lalu kembali menatap mata Sean.
Sean gang melihat itu menjadi ikutan tidak fokus, namun ia adalah pengendali emosi yang handal. "Maksud kamu?" tanyanya, ia bukan pura-pura tidak mengerti, namun memang tidak paham dengan urusan percintaan yang seperti dikatakan oleh Erica.
"Aku akan memberitahu mu cara untuk menebarkan kasih sayang, bagaimana?" ucap Erica dengan pelan, suaranya begitu halus dan menggoda. Ia mengelus rahang Sean, lalu mengecupnya dengan singkat.
Sean menelusuri sangat dalam kedua bola mata Erica seperti mencari kewarasan serta keseriusan di dalamnya, lalu menatap gadis itu sambil tersenyum miring yang selalu menjadi andalannya di kala apapun. "Jika kamu tidak berhasil membuat hati ku luluh, aku memiliki hak untuk membunuhmu sebagai gantinya, bagaimana?" Ia menjawab dan menantang, namun tentu saja menginginkan keuntungan.
Erica menganggukkan kepalanya tanpa ragu sedikitpun, ia bukan tipe gadis yang takut dengan ancaman yang sekalipun membawa nyawanya. "Kalau aku berhasil, tinggalkan pekerjaan ini dan carilah pekerjaan yang lebih berbobot atau aku juga memiliki hak untuk membunuhmu. Bagaimana, setuju juga dengan perjanjian ku?" ucapnya dengan nada datar, ia tidak mau kalah dan tidak ingin ditindas oleh laki-laki tersebut.
Karena Erica pada dasarnya bukan gadis yang menerima kenyataan dan merasa gentar jika dihadapkan dengan sesuatu yang berbahaya. Nyali dan tekadnya sangat kuat, tidak ada yang bisa menandingi sejauh ini. Bahkan, saat ini berhadapan dengan seorang pembunuh bayaran pun ia tidak takut dan merasa setara kedudukannya.
Dan Sean, kenapa ia tahan dengan Erica yang justru malah berbasa-basi dengannya? Padahal bisa saja saat ini ia menembak gadis tersebut karena menjadi ancaman baginya, namun sama sekali tidak ia lakukan.
"Buktikan saja jika kamu bisa, ku setujui apa yang menjadi perjanjian kita, deal." balas Sean, ia tidak sabar menunggu apa yang terjadi selanjutnya.
...
Disini kita memulai kisah baru setelah adanya Damian & Klarisa, Vrans & Xena, lalu kini giliran Sean & Erica yang memainkan peran mereka.
Dari segala aspek kehidupan yang Sean jalani selama ini, kenapa ia baru dipertemukan oleh gadis seperti Erica yang terlihat sempurna seperti kriteria unik yang sesuai dengan keinginannya?
Jawabannya, ada disini.
Masih bersama dengan kisah mereka yang saling berkaitan, tidak lupa juga dengan tokoh yang sama —namun tentu saja ada tambahan beberapa tokoh—.
Selamat menikmati, selamat membaca.
Chapter 2
Profession
CHAPTER 1
Be careful because you would be my next target.
________________________
4:30 PM in Chicago, United States.
Sebuah simbol tengkorak dengan kedua belah pedang menyilang beserta setangkai mawar hitam sudah tergeletak di atas meja seorang laki-laki yang kini tengah menatap benda tersebut dengan cemas. Memangnya siapa yang tidak mengenali simbol tersebut?
Simbol yang ditakuti oleh para kolega besar yang merasa dirinya sudah melakukan kesalahan terbesar, tentu saja.
Semakin was-was ia menyipitkan kedua bola matanya, namun tidak berniat untuk beranjak dari kursi kerja ataupun menghubungi seseorang untuk meminta bantuan. Entah apa kesalahan yang telah ia perbuat sampai seseorang mengirimi dirinya seorang assassin yang terkenal di seluruh penjuru dunia, bergerak pun sepertinya sudah menjadi langkah yang salah.
Satu yang ia tau, ia sudah berbuat curang dengan mengorbankan salah satu orang temannya untuk ditendang keluar perusahaan. Ia tidak bermaksud untuk melakukan hal tersebut, itu hanya sebuah ketidaksengajaan yang berujung fatal. Awalnya ia hanya merasa jika presentasi kerja yang ia buat akan kalah jauh dengan orang itu, dan akhirnya ia menukarnya.
Baiklah, dia memang laki-laki yang bodoh, sepertinya.
Tapi, apa hal ini setimpal dengan perbuatannya?
Suara detik jarum jam di dinding terus memenuhi setiap sudut ruangan. Ia tidak mengharapkan apapun kecuali keselamatan nyawanya. Hei, ia memiliki seorang anak dan istri yang perlu ia nafkahi.
"Feeling scared of me? Even though before I had warned you with a symbol of my death."
Laki-laki itu membulatkan kedua matanya. Lalu menatap ke arah Sean yang kini sudah berdiri menyandarkan tubuhnya di sudut ruang kerja miliknya. Sangat disayangkan karena setiap ruang kerja di kantor ini terakses kedap suara, mendukung kinerja Sean untuk berbuat kejahatan dengan lebih leluasa.
"No, please. Leave me alone right now."
Dengan keringat yang sudah membasahi pelipisnya, laki-laki itu segera menggenggam erat ponselnya. Kenapa baru sekarang ia berpikiran ingin menghubungi seseorang? Sepertinya tidak akan bekerja mengingat Sean yang terus menerus menatap ke arahnya.
"I want to do show my skills to you."
Sean menatap laki-laki itu dengan tatapan tenangnya sambil mengeluarkan sebuah pistol Raging Bull 454 dari saku celananya. Lalu mengarahkan pistol tersebut ke arah tepat pada kepala laki-laki itu, dengan gaya santainya sambil mengintai targetnya yang kini hendak mengetikan nomor darurat di ponselnya.
//Fyi; pistol asli buatan perusahaan Taurus yang berlokasi di Brasil ini mampu melakaukan tembakan sampai kecepatan 580 meter per detik. Energi yang dilontarkan pistol mencapai hingga 2700 joule.//
"Goodbye, greedy man."
DOR!
Sean tersenyum miring kala melihat tubuh laki-laki itu yang sudah tidak berdaya akibat tembakannya. Walaupun ruangan ini kedap suara, namun kemungkinan 50:50 suara pistolnya terdengar sampai luar. Dengan cepat, ia mengambil jas dan sepatu kulit yang di pakai laki-laki yang sudah tewas itu untuk ia pakai —beruntung belum ternodai oleh darah karena ia mengambil langkah cepat—. Lalu ia juga mengambil kartu ID akses identitasnya di perusahaan ini. Oh ya, tidak lupa juga ia menempelkan kumis tipis palsu di bawah hidungnya. Sempurna, sekarang dia sudah berpenampilan seperti Tuan Aeron Aldrich aka laki-laki yang baru saja ia bunuh.
Ia dengan santainya keluar ruangan, lalu dengan gaya yang sudah seperti konglomerat besar, ia membenahi kerah bajunya dengan gerakan keren.
"Good evening, Mr. Ron."
Sean tersenyum manis. Lalu mengangguk saja untuk menanggapi sapaan dari seorang gadis yang menatapnya dengan menggoda. Ia segera berjalan dan mempercepat langkah kakinya kala melihat seorang barista yang ingin memasuki ruangan yang tadi ia tempati bersama sasaran targetnya.
"BEWARE, SEAN XAVON IS HERE. MR. RON IS GIVEN AND HE'S USING HIS ID!"
Bersamaan dengan suara teriakan itu, alarm keamanan menggema memenuhi seluruh sudut ruangan. Beberapa orang mulai panik dan cemas, terlebih lagi seorang gadis yang sempat menyapa Sean sebagai Mr. Ron tadi. Ia berteriak histeris karena mungkin mengetahui kalau yang barusan di sapanya adalah seorang pembunuh.
Sean dengan cepat memasuki sebuah ruangan yang di depan pintunya bertuliskan 'only cleaners'.
Ruangan yang mengarah langsung ke pembuangan sampah pintu belakang perusahaan. Ia dengan cepat melepas seluruh barang yang ia curi dari Aeron sebagai penyamaran, lalu membuangnya asal di salah satu kotak besar sampah daur ulang. Dengan segera, ia keluar dari sana dan langsung saja menemui D. Krack yang ternyata sudah menunggu dirinya disana bersama dengan sebuah mobil Bugatti La Voiture Noire.
//Fyi; Dengan harga USD 18,7 juta termasuk pajak (Rp 278,3 miliar), Bugatti La Voiture Noire dinobatkan sebagai mobil termahal di dunia saat ini. Dibanding produksi Bugatti lainnya, La Voiture Noire bisa dibilang tampil sangat berbeda, itu terlihat pada ban dan body mobil secara menyeluruh.//
"Bagaimana di dalam? Sepertinya terjadi kerusuhan akibat dirimu." ucap D. Krack sambil melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata supaya tidak ada yang bisa menangkap keberadaan mereka. Sudah dapat di pastikan kemungkinan besar pihak akses keamanan akan segera diperketat.
Sean menyandarkan tubuhnya dengan rileks ke jok mobil. "Biasa saja, aku tidak merasakan ketakutan apapun."
D. Krack tersenyum miring kala berlawanan arah dengan beberapa mobil petugas FBI. Mereka lolos dengan sangat mulus. Semua ini berkat mobil mahal milik Sean yang membuat orang lain mengira jika di dalam mobil ini tidak mungkin di kendarai oleh seorang Sean Xavon, dan ya pendapat mereka telah di kecoh.
"Sudah memiliki beribu-ribu kasus dan catatan kepolisian, tapi masih bisa setenang ini, huh?" tanya D. Krack dengan heran.
"You know me better than myself, D. Krack."
D. Krack adalah salah satu nama penjahat terkenal yang ada di Amerika Serikat. Memiliki seluruh akses kejahatan yang ada di dunia, sama seperti Sean. Memiliki catatan kepolisian di beberapa negara tapi paling banyak di Amerika. Salah satu orang yang dapat di percaya ketika para FBI berhasil menangkap Sean untuk mengeluarkannya dari penjara tanpa gerakan mencurigakan sedikitpun.
"Bagaimana dengan sebuah pesta untuk merayakan keberhasilan ini?"
"Memangnya kapan seorang Sean Xavon gagal?" tanya Sean sambil menyeringai miring, sambil memutar lagu Eye of the Tiger - Survivor seperti merayakan sebuah kemenangan yang sangat memuaskan bagi dirinya untuk keberhasilannya yang kesekian kali. Hei, siapa yang tidak senang di beri imbalan sebesar US$ 71.000 sebagai bayaran hasil membunuh satu orang saja?
"Because you are a sniper, right?"
Sean mengangguk, menembak itu adalah keahliannya. Tapi untuk membunuh, itu adalah hobinya.
Ia mengambil ponsel yang berada di saku celananya, berniat untuk menghubungi seseorang yang selama beberapa bulan ini telah menemani hidupnya.
Panggilan tersambung.
"Ada apa? Aku sedang sibuk." jawab seseorang di seberang telepon.
Sean terkekeh kecil, ah nada datar itu mampu membuat dirinya merasa kehangatan. "Get ready for tomorrow baby, I wanna throw a party at the bar. And you have to come with me, see you!"
Ia sempat mendengar pekikan sebal tertahan dari gadis di seberang telpon. Selalu saja seperti itu, ia bersikap seenaknya, dan kekasihnya itu tidak bisa menolak apapun yang ia katakan.
Mengendalikan target sasaran memang mudah, tapi tidak untuk mengendalikan satu gadis seperti Erica Vresila. Dia gadis dengan satu ekspresi datar yang paling menonjol di hidupnya.
"Besok, jam 10 malam di Employees Only Bar, New York." gumam Sean sambil memakai kacamata hitam, menambah poin ketampanan yang meningkat drastis.
Mereka tidak mungkin mengendarai mobil untuk pergi ke New York City karena akan menghabiskan waktu 12 jam lamanya. Maka dari itu mereka harus pergi ke bandara untuk menggunakan jet pribadi milik D. Krack yang hanya memakan waktu singkat selama 2 jam. Perjalanan menuju Bandar Udara Internasional O'Hare tidak terlalu lama.
Mereka telah sampai di bandara, dengan D. Krack yang langsung menyuruh Sean supaya terbang tanpa dirinya. Karena D. Krack lebih memilih untuk memakai mobil Sean, jet pribadi sudah terlalu biasa untuknya.
Sekarang disinilah Sean, yang sudah di sapa ramah oleh dua pelayan yang di pekerjaan oleh D. Krack. Menuju New York City ditemani red wine Penfolds Ampoule.
...
Next chapter
webnovel
My Weird Assassin
Author: zakiasyafira
Urban
Ongoing · 22.1K Views
156 Chs
CONTENT
RATINGS
NO.200+
SUPPORT
Synopsis
Sean Xavon
Nama yang terdengar tidak asing lagi bagi banyak orang di seluruh penjuru dunia. Ia menyandang status sebagai seorang assassin yang bekerja untuk kepuasan dirinya sendiri. Mempunyai kehidupan super mewah dari hasil bayaran membunuh target sasaran yang jumlahnya tentu tidak sedikit. Memiliki akses kejahatan di seluruh dunia adalah sebuah keuntungan baginya, entah itu akses dalam pasar gelap ataupun melarikan diri dari penjara saat dirinya berhasil tertangkap oleh pihak FBI.
Seorang gadis bernama Erica Vresila, berhasil masuk ke dalam hidupnya yang di penuhi bahaya. Menawarkan sebuah perjanjian gila, yang mana jika salah satu dari mereka kalah maka dialah yang akan di tembak mati.
Penasaran dengan perjanjian itu?
Bagaimana akhir dari kisah mereka?
Kalian bisa langsung membacanya dengan tentang. Welcome & happy reading, thank you!
Chapter 1
Opening
Prolog
Action story with the cast of Sean Xavon & Erica Vresila. Enjoy, let's get the story, guys!
________________________
Di gedung tua yang auranya memang tenang dan damai, namun sepertinya itu tak lagi berlaku dengan situasi yang saat ini telah berbeda.
Keadaan pun seperti panas, tatapan tajam saling terlontarkan, enggan menolehkan kepala ke arah lainnya. Mereka berdua adalah sosok yang mirip, bedanya terkadang si gadis lebih bisa mengatur emosi daripada si laki-laki yang memang sudah terkenal dalam kasus pembunuhan —dalam artian memiliki emosi yang sangat tidak stabil—.
Sean mulai mengepulkan asap rokok dari dalam mulutnya ke udara, ia benar-benar menikmati. "Kamu gadis yang pintar, bagaimana jika kamu menjadi partner membunuhku?" tanyanya dengan tenang, seolah-olah pertanyaannya mengajak seseorang dihadapannya ke karnaval.
"Tidak, aku sama sekali tidak tertarik dengan apa yang kamu tawarkan." Jawab gadis tersebut. Lagipula, gadis waras seperti apa yang menyetujui ajakan pembunuhan? Tidak ada. "Seperti ini saja, bagaimana jika kamu menjadi sekretaris di perusahaan ternama Luis Company bersamaku? Lagipula pemikiran kamu lumayan bekerja, siapa tau banyak perusahaan yang akan menanamkan saham nantinya berkat dirimu." Ucap Erica yang belum mengurungkan niatnya untuk menurunkan pistol yang mengarah pada tubuh laki-laki itu.
Ya, Erica. Seperti di cerita sebelumnya 'My Coldest CEO', sekarang ia-lah yang menjadi pemeran utama bersama dengan Sean.
Sean menimang-nimang apa yang dikatakan oleh Erica, ia berdehem kecil. "Cukup menarik sih, tapi tidak ada aksi pembunuhan yang menantang. Sangat tidak menguntungkan bagi diriku." ucapnya yang menatap Erica dengan mata tajam sambil memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana, ia terlihat tampan dan cool di waktu yang bersamaan.
"Kamu pikir memangnya cara bersenang-senang hanya dengan membunuh orang saja?" Erica menghampiri Sean sambil melempar asal pistol ke sembarang tempat, ia sudah kesal dengan laki-laki yang seenaknya.
Sean tidak takut, lalu langsung saja menganggukkan kepala dengan penuh keyakinan. "Iya, kira-kira seperti itu." balasnya, mengangkat senyuman miring.
Erica mengambil batang rokok yang berada di sela jemari Sean dengan gerakan cepat sehingga laki-laki tersebut tidak dapat mencegahnya, lalu membuang batang rokok ke lantai dan langsung ia injak sampai hancur lebur. "Aku tidak suka dengan laki-laki yang merokok, apalagi saat sedang berbicara kepada ku." ucapnya, nada dingin pun terdengar.
"Bukan urusan kamu." balas Sean. Ia tidak menyayangkan rokoknya yang hancur terinjak oleh Erica, ia masih memiliki batang rokok lainnya di saki celana.
"Tentu saja urusanku, karena kamu mencemari udara yang aku hirup saat ini. Mungkin kamu adalah laki-laki yang tak ramah lingkungan, pantas saja wajah mu seperti itu." Sekali Erica berbicara panjang, pasti ada saja kalimat yang menyakiti hati dan membuat lawan bicaranya langsung terkena mental.
Tunggu sebentar, kenapa Erica berubah menjadi gadis yang sedikit cerewet dari biasanya? Tapi sepertinya ia memiliki rencana yang matang dan sudah diperhitungkan.
Namun Sean kebal dengan gadis seperti Erica. "Tau apa kamu tentang udara yang tercemar? Dan ada apa dengan wajah ku? Tampan? Seharusnya katakan saja dengan jujur dan to the point." ucapnya sambil tersenyum miring, juga berniat menggoda. Ia mendorong pelan bahu Erica dengan jari telunjuknya, seolah-olah meremehkan gadis itu.
Erica berhenti tepat di hadapan Sean, ia benar-benar mengikis jarak di antara keduanya karena juga merasa geram. "Tidak keren jika teknologi kamu di gunakan hanya untuk mengecoh target sasaran, hanya membuang-buang waktu untuk merenggut nyawa. Lebih baik gunakan untuk hal yang bermanfaat dan dapatkan pekerjaan yang lebih baik dari pada ini." balasnya sambil membersihkan noda kotor yang terlihat di rahang kokoh Sean. "Oh… dan ya, wajah mu mirip sekali dengan sampah yang sudah hancur lebur, aku tidak melihat ketampanan mu." Ia balik mengejek dan meremehkan.
"Bagiku tidak ada hal yang lebih keren daripada membunuh orang." Kali ini Sean membalas tanpa menanggapi ejekan Erica mengenai wajahnya.
Tersinggung? Tidak, Sean sama sekali tidak merasa sakit hati dengan perkataan Erica. Justru, ia menjadi penasaran dengan gadis yang saat ini berada di hadapannya.
"Tapi kamu serius tidak ingin memberi tempat untuk cinta di hidup kamu? Cobalah, jika kamu tidak suka, kamu boleh pergi." ucap Erica dengan bahu yang sedikit terangkat, ia menatap Sean, tatapannya menurun ke arah bibir laki-laki tersebut lalu kembali menatap mata Sean.
Sean gang melihat itu menjadi ikutan tidak fokus, namun ia adalah pengendali emosi yang handal. "Maksud kamu?" tanyanya, ia bukan pura-pura tidak mengerti, namun memang tidak paham dengan urusan percintaan yang seperti dikatakan oleh Erica.
"Aku akan memberitahu mu cara untuk menebarkan kasih sayang, bagaimana?" ucap Erica dengan pelan, suaranya begitu halus dan menggoda. Ia mengelus rahang Sean, lalu mengecupnya dengan singkat.
Sean menelusuri sangat dalam kedua bola mata Erica seperti mencari kewarasan serta keseriusan di dalamnya, lalu menatap gadis itu sambil tersenyum miring yang selalu menjadi andalannya di kala apapun. "Jika kamu tidak berhasil membuat hati ku luluh, aku memiliki hak untuk membunuhmu sebagai gantinya, bagaimana?" Ia menjawab dan menantang, namun tentu saja menginginkan keuntungan.
Erica menganggukkan kepalanya tanpa ragu sedikitpun, ia bukan tipe gadis yang takut dengan ancaman yang sekalipun membawa nyawanya. "Kalau aku berhasil, tinggalkan pekerjaan ini dan carilah pekerjaan yang lebih berbobot atau aku juga memiliki hak untuk membunuhmu. Bagaimana, setuju juga dengan perjanjian ku?" ucapnya dengan nada datar, ia tidak mau kalah dan tidak ingin ditindas oleh laki-laki tersebut.
Karena Erica pada dasarnya bukan gadis yang menerima kenyataan dan merasa gentar jika dihadapkan dengan sesuatu yang berbahaya. Nyali dan tekadnya sangat kuat, tidak ada yang bisa menandingi sejauh ini. Bahkan, saat ini berhadapan dengan seorang pembunuh bayaran pun ia tidak takut dan merasa setara kedudukannya.
Dan Sean, kenapa ia tahan dengan Erica yang justru malah berbasa-basi dengannya? Padahal bisa saja saat ini ia menembak gadis tersebut karena menjadi ancaman baginya, namun sama sekali tidak ia lakukan.
"Buktikan saja jika kamu bisa, ku setujui apa yang menjadi perjanjian kita, deal." balas Sean, ia tidak sabar menunggu apa yang terjadi selanjutnya.
...
Disini kita memulai kisah baru setelah adanya Damian & Klarisa, Vrans & Xena, lalu kini giliran Sean & Erica yang memainkan peran mereka.
Dari segala aspek kehidupan yang Sean jalani selama ini, kenapa ia baru dipertemukan oleh gadis seperti Erica yang terlihat sempurna seperti kriteria unik yang sesuai dengan keinginannya?
Jawabannya, ada disini.
Masih bersama dengan kisah mereka yang saling berkaitan, tidak lupa juga dengan tokoh yang sama —namun tentu saja ada tambahan beberapa tokoh—.
Selamat menikmati, selamat membaca.
Chapter 2
Profession
CHAPTER 1
Be careful because you would be my next target.
________________________
4:30 PM in Chicago, United States.
Sebuah simbol tengkorak dengan kedua belah pedang menyilang beserta setangkai mawar hitam sudah tergeletak di atas meja seorang laki-laki yang kini tengah menatap benda tersebut dengan cemas. Memangnya siapa yang tidak mengenali simbol tersebut?
Simbol yang ditakuti oleh para kolega besar yang merasa dirinya sudah melakukan kesalahan terbesar, tentu saja.
Semakin was-was ia menyipitkan kedua bola matanya, namun tidak berniat untuk beranjak dari kursi kerja ataupun menghubungi seseorang untuk meminta bantuan. Entah apa kesalahan yang telah ia perbuat sampai seseorang mengirimi dirinya seorang assassin yang terkenal di seluruh penjuru dunia, bergerak pun sepertinya sudah menjadi langkah yang salah.
Satu yang ia tau, ia sudah berbuat curang dengan mengorbankan salah satu orang temannya untuk ditendang keluar perusahaan. Ia tidak bermaksud untuk melakukan hal tersebut, itu hanya sebuah ketidaksengajaan yang berujung fatal. Awalnya ia hanya merasa jika presentasi kerja yang ia buat akan kalah jauh dengan orang itu, dan akhirnya ia menukarnya.
Baiklah, dia memang laki-laki yang bodoh, sepertinya.
Tapi, apa hal ini setimpal dengan perbuatannya?
Suara detik jarum jam di dinding terus memenuhi setiap sudut ruangan. Ia tidak mengharapkan apapun kecuali keselamatan nyawanya. Hei, ia memiliki seorang anak dan istri yang perlu ia nafkahi.
"Feeling scared of me? Even though before I had warned you with a symbol of my death."
Laki-laki itu membulatkan kedua matanya. Lalu menatap ke arah Sean yang kini sudah berdiri menyandarkan tubuhnya di sudut ruang kerja miliknya. Sangat disayangkan karena setiap ruang kerja di kantor ini terakses kedap suara, mendukung kinerja Sean untuk berbuat kejahatan dengan lebih leluasa.
"No, please. Leave me alone right now."
Dengan keringat yang sudah membasahi pelipisnya, laki-laki itu segera menggenggam erat ponselnya. Kenapa baru sekarang ia berpikiran ingin menghubungi seseorang? Sepertinya tidak akan bekerja mengingat Sean yang terus menerus menatap ke arahnya.
"I want to do show my skills to you."
Sean menatap laki-laki itu dengan tatapan tenangnya sambil mengeluarkan sebuah pistol Raging Bull 454 dari saku celananya. Lalu mengarahkan pistol tersebut ke arah tepat pada kepala laki-laki itu, dengan gaya santainya sambil mengintai targetnya yang kini hendak mengetikan nomor darurat di ponselnya.
//Fyi; pistol asli buatan perusahaan Taurus yang berlokasi di Brasil ini mampu melakaukan tembakan sampai kecepatan 580 meter per detik. Energi yang dilontarkan pistol mencapai hingga 2700 joule.//
"Goodbye, greedy man."
DOR!
Sean tersenyum miring kala melihat tubuh laki-laki itu yang sudah tidak berdaya akibat tembakannya. Walaupun ruangan ini kedap suara, namun kemungkinan 50:50 suara pistolnya terdengar sampai luar. Dengan cepat, ia mengambil jas dan sepatu kulit yang di pakai laki-laki yang sudah tewas itu untuk ia pakai —beruntung belum ternodai oleh darah karena ia mengambil langkah cepat—. Lalu ia juga mengambil kartu ID akses identitasnya di perusahaan ini. Oh ya, tidak lupa juga ia menempelkan kumis tipis palsu di bawah hidungnya. Sempurna, sekarang dia sudah berpenampilan seperti Tuan Aeron Aldrich aka laki-laki yang baru saja ia bunuh.
Ia dengan santainya keluar ruangan, lalu dengan gaya yang sudah seperti konglomerat besar, ia membenahi kerah bajunya dengan gerakan keren.
"Good evening, Mr. Ron."
Sean tersenyum manis. Lalu mengangguk saja untuk menanggapi sapaan dari seorang gadis yang menatapnya dengan menggoda. Ia segera berjalan dan mempercepat langkah kakinya kala melihat seorang barista yang ingin memasuki ruangan yang tadi ia tempati bersama sasaran targetnya.
"BEWARE, SEAN XAVON IS HERE. MR. RON IS GIVEN AND HE'S USING HIS ID!"
Bersamaan dengan suara teriakan itu, alarm keamanan menggema memenuhi seluruh sudut ruangan. Beberapa orang mulai panik dan cemas, terlebih lagi seorang gadis yang sempat menyapa Sean sebagai Mr. Ron tadi. Ia berteriak histeris karena mungkin mengetahui kalau yang barusan di sapanya adalah seorang pembunuh.
Sean dengan cepat memasuki sebuah ruangan yang di depan pintunya bertuliskan 'only cleaners'.
Ruangan yang mengarah langsung ke pembuangan sampah pintu belakang perusahaan. Ia dengan cepat melepas seluruh barang yang ia curi dari Aeron sebagai penyamaran, lalu membuangnya asal di salah satu kotak besar sampah daur ulang. Dengan segera, ia keluar dari sana dan langsung saja menemui D. Krack yang ternyata sudah menunggu dirinya disana bersama dengan sebuah mobil Bugatti La Voiture Noire.
//Fyi; Dengan harga USD 18,7 juta termasuk pajak (Rp 278,3 miliar), Bugatti La Voiture Noire dinobatkan sebagai mobil termahal di dunia saat ini. Dibanding produksi Bugatti lainnya, La Voiture Noire bisa dibilang tampil sangat berbeda, itu terlihat pada ban dan body mobil secara menyeluruh.//
"Bagaimana di dalam? Sepertinya terjadi kerusuhan akibat dirimu." ucap D. Krack sambil melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata supaya tidak ada yang bisa menangkap keberadaan mereka. Sudah dapat di pastikan kemungkinan besar pihak akses keamanan akan segera diperketat.
Sean menyandarkan tubuhnya dengan rileks ke jok mobil. "Biasa saja, aku tidak merasakan ketakutan apapun."
D. Krack tersenyum miring kala berlawanan arah dengan beberapa mobil petugas FBI. Mereka lolos dengan sangat mulus. Semua ini berkat mobil mahal milik Sean yang membuat orang lain mengira jika di dalam mobil ini tidak mungkin di kendarai oleh seorang Sean Xavon, dan ya pendapat mereka telah di kecoh.
"Sudah memiliki beribu-ribu kasus dan catatan kepolisian, tapi masih bisa setenang ini, huh?" tanya D. Krack dengan heran.
"You know me better than myself, D. Krack."
D. Krack adalah salah satu nama penjahat terkenal yang ada di Amerika Serikat. Memiliki seluruh akses kejahatan yang ada di dunia, sama seperti Sean. Memiliki catatan kepolisian di beberapa negara tapi paling banyak di Amerika. Salah satu orang yang dapat di percaya ketika para FBI berhasil menangkap Sean untuk mengeluarkannya dari penjara tanpa gerakan mencurigakan sedikitpun.
"Bagaimana dengan sebuah pesta untuk merayakan keberhasilan ini?"
"Memangnya kapan seorang Sean Xavon gagal?" tanya Sean sambil menyeringai miring, sambil memutar lagu Eye of the Tiger - Survivor seperti merayakan sebuah kemenangan yang sangat memuaskan bagi dirinya untuk keberhasilannya yang kesekian kali. Hei, siapa yang tidak senang di beri imbalan sebesar US$ 71.000 sebagai bayaran hasil membunuh satu orang saja?
"Because you are a sniper, right?"
Sean mengangguk, menembak itu adalah keahliannya. Tapi untuk membunuh, itu adalah hobinya.
Ia mengambil ponsel yang berada di saku celananya, berniat untuk menghubungi seseorang yang selama beberapa bulan ini telah menemani hidupnya.
Panggilan tersambung.
"Ada apa? Aku sedang sibuk." jawab seseorang di seberang telepon.
Sean terkekeh kecil, ah nada datar itu mampu membuat dirinya merasa kehangatan. "Get ready for tomorrow baby, I wanna throw a party at the bar. And you have to come with me, see you!"
Ia sempat mendengar pekikan sebal tertahan dari gadis di seberang telpon. Selalu saja seperti itu, ia bersikap seenaknya, dan kekasihnya itu tidak bisa menolak apapun yang ia katakan.
Mengendalikan target sasaran memang mudah, tapi tidak untuk mengendalikan satu gadis seperti Erica Vresila. Dia gadis dengan satu ekspresi datar yang paling menonjol di hidupnya.
"Besok, jam 10 malam di Employees Only Bar, New York." gumam Sean sambil memakai kacamata hitam, menambah poin ketampanan yang meningkat drastis.
Mereka tidak mungkin mengendarai mobil untuk pergi ke New York City karena akan menghabiskan waktu 12 jam lamanya. Maka dari itu mereka harus pergi ke bandara untuk menggunakan jet pribadi milik D. Krack yang hanya memakan waktu singkat selama 2 jam. Perjalanan menuju Bandar Udara Internasional O'Hare tidak terlalu lama.
Mereka telah sampai di bandara, dengan D. Krack yang langsung menyuruh Sean supaya terbang tanpa dirinya. Karena D. Krack lebih memilih untuk memakai mobil Sean, jet pribadi sudah terlalu biasa untuknya.
Sekarang disinilah Sean, yang sudah di sapa ramah oleh dua pelayan yang di pekerjaan oleh D. Krack. Menuju New York City ditemani red wine Penfolds Ampoule.
...
Next chapter
Chapter 3
Agreement
CHAPTER 2
You can bring a bullet, bring a sword, bring a morgue, but you can't take me into your arms.
________________________
Erica menyisir rambutnya yang jatuh ke bawah dengan gerakan malas. Kini jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, dan Sean dengan seenaknya menyuruhnya bersiap untuk menghadiri dinner dengan penampilan yang harus jauh lebih feminim daripada pakaiannya sehari-hari. Baiklah, Sean sepertinya harus di beri sedikit pelajaran karena hal ini.
Ia memoles bibir tipisnya dengan lipstik berwarna merah menyala memberikan tampilan menawan sekaligus menggoda yang menyeruak keluar dari dalam dirinya, sangat mempesona. Terlebih ia memakai gaun dengan warna yang senada dengan lipstiknya. Kini Erica terlihat sangat sexy.
Tapi tentu saja ini bukan dirinya secara penuh, ia merasa aneh dengan pakaian feminin wanita dewasa. Memakai kaos polos di padukan dengan celana jeans dan sneakers masih menjadi andalannya.
Drtt...
Drtt...
Erica mengalihkan pandangan pada ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja rias karena mendengar getaran pertanda panggilan telepon masuk. Melirik siapa yang kira-kira menghubunginya di saat seperti ini. Nama Sean tercetak jelas di atas sana, ia sudah tau pasti laki-laki itu sudah sampai di rumahnya. Tidak ingin membuang-buang waktu, ia segera menyambar dompet berwarna hitam miliknya. Memasukkan beberapa barang yang di perlukan, oh jangan lupa dengan ponselnya.
Telapak kakinya sudah di temani oleh sepasang high heels berwarna hitam polos yang mulai meninggalkan kamar tidurnya, dan menuruni tangga secara perlahan karena tidak mungkin berlarian. Kedua manik matanya langsung beradu pada tatapan Sean yang kini melayangkan rasa kagum terhadap dirinya.
"Aku tau jika aku saat ini terlihat sangat cantik, jangan menatap ku seperti itu." ucap Erica sambil berdiri tepat di hadapan Sean yang bahkan masih menatapnya. Ia berjinjit kecil untuk mengecup singkat pipi kanan Sean.
Sean mengerjapkan kedua bola matanya. Astaga jangan sampai jiwa kejam assassin yang dimiliki olehnya pudar begitu saja hanya karena terbuai dengan penampilan Erica pada malam ini, gadis itu sangat mengesankan.
"Tonight you look so perfect, baby." Bisik Sean tepat di telinga Erica. Ia memperhatikan kerah rendah dari dress yang di pakai gadisnya, terlihat sedikit bagian dada. "Kalau seperti ini, akan ada banyak mata yang melihat ke arahmu, terlalu banyak bagian yang terekspos." Sambungnya dengan sebuah decakan kecil saat melihat kerah V yang cukup rendah pada dress yang kini di pakai gadisnya.
Erica memutar kedua bola matanya, merasa tidak peduli dengan hal itu. Lihat, berpenampilan tertutup salah, terbuka apalagi. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh Sean?
"Jadi dinner atau masih ingin mengomentari penampilan ku?" tanya Erica sambil menaikkan sebelah alisnya, ia juga membutuhkan kepastian. Ia menatap Sean dari atas sampai bawah. Astaga, laki-laki itu terlihat sangat keren sekali.
Sean terkekeh kecil, lalu melingkari tangannya pada pinggang ramping milik Erica. Setelah sampai di New York, ia dengan segera membersihkan diri dan berganti pakaian untuk menemui gadisnya. Ia dengan sangat tampan menggunakan tuxedo hitam dengan kemeja putih sebagai dalamannya.
Mereka mulai memasuki mobil dengan keromantisan Sean yang membukakan pintu untuk kekasihnya, lalu ia melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Erica.
"Penampilan ku sangat aneh, bagaimana menurut mu?"
Setelah berhasil memakai seatbelt di tubuhnya, Erica menatap Sean dengan sebal.
Sean menoleh sekilas ke arah gadis yang kini sedang menekuk senyumnya, lalu kembali memfokuskan pandangannya menatap jalanan. "Tidak, kamu sangat cantik dan tidak ada yang aneh dengan penampilan mu. Kalau seperti ini terus, sepertinya aku tidak sanggup untuk membunuhmu karena terlalu cantik." ucapnya.
Erica memutar bola matanya, ia lebih memilih diam dan mengulurkan tangan untuk memutar sebuah lagu yang saat ini terngiang di kepalanya. Lagu dari Kendrick Lamar - All the Stars (Feat. SZA) menjadi pilihannya saat ini.
"Bagaimana hari mu tanpa melihat wajah tampanku?" tanya Sean sambil mengulum senyumnya, pertanyaan yang ia lontarkan memang sengaja menggoda. Ia sangat suka tatapan datar milik Erica di beberapa waktu.
Erica tersenyum miring, ia tau bagaimana cara menanggapi pertanyaan laki-laki di hadapannya. "Sangat damai, aku terbebas dari laki-laki aneh seperti mu yang dapat berekspresi dalam satu waktu." balasnya, menunjukkan senyuman miring.
"Bilang saja jika kamu merindukan aku." Namun, Sean masih memegang pendiriannya.
Erica mendengus. "Jangan banyak berharap jika aku akan mengatakan itu."
Sean membelokkan mobilnya tepat pada sebuah gedung pencakar langit yang tampak menjadi sorot pandang bagi banyak orang. Laki-laki itu mengeluarkan kartu akses, lalu mulai melajukan mobil kembali ke arah basement.
Erica sudah tidak merasa terkejut lagi mengenai Sean yang selalu membawa dirinya ke tempat yang melenceng dari tujuan awal. Dan firasatnya juga sudah mengatakan jika tidak mungkin Sean bersikap manis dengan mengajaknya makan malam bersama. Astaga tidak ada seorang assassin yang termakan oleh cinta buta, terdengar seperti sebuah kemustahilan. Jika ada, ia pun tidak peduli.
"Aku memiliki sebuah pekerjaan untuk mu." ucap Sean tiba-tiba. "Kamu tarik perhatian orang ini, dan aku akan membiarkan dirimu bebas satu minggu tanpaku." Sean kembali berkata sambil mengulurkan sebuah kartu nama sekaligus kartu identitas yang hanya dimiliki oleh karyawan di gedung ini, biasa dipakai untuk mengakses lift.
"Tidak mau, huh."
"Kenapa? Bukankah itu sebuah keuntungan bagi dirimu, Erica?"
"Apanya yang menguntungkan? Membantu kamu dalam kejahatan--"
"Bilang saja tidak mampu."
Erica menaikkan sebelah alisnya merasa tidak terima dengan apa yang diucapkan Sean pada dirinya. "Ingin pembuktian? Maka kamu akan mendapatkannya." ucapnya sambil mengambil kedua kartu tersebut dari tangan Sean. Ia menatap laki-laki di sampingnya dengan senyum miring. "Apa aba-abanya?"
Dengan cepat karena tidak ingin membuang-buang waktu lagi, Sean membisikkan sesuatu tepat di telinga Erica. Melihat gadis itu yang mengangguk singkat pertanda mengerti, ia segera menjauhkan tubuhnya lalu mengambil sesuatu dari saku tuxedo miliknya.
"Pakai sarung tangan ini supaya sidik jarimu tidak tertinggal."
Erica mengambil sarung tangan tipis, ia langsung memakainya lalu sarung tangan tersebut merekat pada tangannya dengan sempurna. "Wow aku seperti tidak memakai apapun."
Banyak sekali peralatan canggih lain yang Sean dapatkan dari D. Krack. Dalam lelang pasar gelap, dengan mudahnya laki-laki itu mencuri benda-benda keren ini. Tidak seluruhnya hasil curian, ada beberapa yang di lelang dengan harga fantastis dan D. Krack tentu mampu membayar besar demi mendapatkan barang yang paling ia incar.
"Cepat bergerak, kita hampir kehabisan waktu karena pada jam sebelas malam target sasaran ku akan segera pergi ke bandara."
"Baiklah sepertinya makan malam hari ini akan tertunda sebentar, Mr. Assassin?"
Erica membenahi dirinya sebelum keluar dari dalam mobil, pantas saja Sean menyuruhnya untuk berpenampilan cantik ternyata salah satunya untuk alasan lainnya.
"Good girl, I'm waiting for you in his room. Remember, keep teasing him."
"Your sweet attitude is just bad luck for me."
Manis. Satu kata untuk Erica. Ia sama sekali tidak keberatan dengan ucapan gadisnya yang tergolong sarkastik itu. Gadis seperti Erica hanya ada satu bagi dirinya, tidak ada yang bisa menandingi apalagi menyamakannya.
"Tunggu sayang, kamu membutuhkan beberapa barang penting untuk berjaga-jaga."
Sean meraih sebuah spy pen cam yang dilengkapi dengan alat pengintai otomatis, sebuah spy camera sports glasses dengan desain classic yang tidak akan terlihat mencurigakan, dan sebuah lipstick gun atau yang biasa di sebut dengan kiss of death yang dibuat dari bahan metal dan dapat membawa peluru berukuran 4,5 milimeter.
"Dasar assassin aneh, menyimpan lipstik sebagai alat membunuhnya? Sangat manis sekali." ucap Erica dengan nada meremehkan sambil menampilkan smirk andalannya.
"Abaikan saja, aku diberi peralatan ini semua oleh salah satu temanku dan aku sendiri juga tidak berniat untuk memilih lipstik itu, ambil saja jika kamu mau."
"Tidak, terimakasih. Lagipula aku tidak akan memakai semua peralatan konyol ini."
"Dan kamu mungkin akan kalah."
Erica memutar bola matanya. "Oh ya? Jangan berharap jika aku akan kalah, karena ini adalah hal yang mudah bagiku." ucapnya sambil berjalan menjauhi mobil mewah milik Sean. Ia memasuki lift untuk segera menuju tempat yang menjadi sasarannya. Sebelum pintu lift tertutup, ia menyempatkan untuk menatap datar Sean dengan senyum miringnya.
Sean terkekeh kecil begitu tubuh Erica sudah hilang bersamaan dengan pintu lift yang tertutup. "She should be my partner to kill."
...
Next chapter