Lily: Bu, kenapa aku hanya diam di kastil ini? Kenapa tidak ajak aku keluar ke sana?
Ibu: Lily... dunia di luar terlalu keras untuk mu. Jangan pergi ke sana. Di sana ada monster yang memangsa di kegelapan!
Lily: ...
Ibu dan ayah juga sama.
Ayah: Tidak... kau tidak boleh kesana sendirian. Kalau mau, kita akan kesana dan piknik.
Kenapa mereka melarang ku sendirian kesana. Lihatlah di sana, setiap malam aku melihat lentera melintas di hutan itu.
Kenapa mereka melarang ku? Ada apa dengan hutan di sana?
Nenek: Hutan di sana berbahaya, nak! Duduklah kemari. Akan nenek ceritakan sebuah cerita kepadamu!
Nenek akan bercerita. Ceritanya selalu penuh misteri.
Nenek: Dahulu kala. Ada seorang Raja yang pernah memiliki seorang pengeran. Di sebuah malam hari, pangeran pergi ke dalam hutan untuk berburu. Karena itu adalah hobi pangeran. Malam itu, tiba-tiba terjadi badai... sang raja mengutus beberapa prajuritnya untuk mencari pangeran. Tapi... ketika di temukan, sang pangeran tewas tanpa kepalanya... Konon, itu ulah monster di dalam hutan itu.
Lily: Apa pangeran itu pergi tanpa membawa lentera?
Nenek: Lentera kuning, selalu ia bawa saat dia berburu di malam hari.
Aku mengira, mungkin saja pangeran itu gentayangan di hutan itu. Ini semakin membuat ku penasaran.
Kebetulan juga, besok ayah dan ibu membawa ku pergi berkunjung ke istana tetangga.
Tapi... Aku tidak dapat tidur memikirkan sesuatu yang itu.
Kemana dia? Kenapa lentera itu tidak melintas malam ini? Apa dia tahu kalau aku tahu. Ya ampun... Apa sebenarnya di sana?
Lagi-lagi ayah mencambuk orang.
Kenapa ayah melakukan itu?
Orang itu jelas kesakitan. Kenapa ayah ini?
Ibu: Memberikan pelajaran pada pemalas, nak!
Hatiku berkata lain. Aku merasa kasihan!
Besok...
Ya... aku dan keluarga ku bepergian ke istana kerajaan sahabat ayah ku. Kami berangkat menggunakan sebuah kereta kuda.
Oh... Kebetulan, melintas ke hutan itu. Di usia ku yang ke 13 mereka mengijinkan ku melihat ke luar.
Hutan ini tampak angker. Apa ada banyak hewan buas? Hutan ini sangat panjang. Sampai 4 jam perjalanan, baru kami menemukan jembatan.
Aku ketiduran, dan tidak tahu bagaimana kami tiba-tiba sudah sampai saja.
Aku tidak suka dengan orang-orang di sana. Orang tua ku ingin. Menjodohkan aku dengan pangeran di sana. Ih... kenapa aku membenci pangeran itu. Usianya dua tahun lebih tua dari ku.
Lily: Ayah... mari pulang!
Menjengkelkan... Ayah malah minta bermalam satu hari.
Pangeran itu setiap malam menjenguk ku. Aku rasanya ingin membunuhnya. Sialan!
Di sekitar istana itu, tidak ada hutan seperti istana tempat kami. Rasanya... kurang indah.
Lily: Ibu... Bisa ibu mengunci pintunya?
Pria sialan itu terus menjenguk ku. Sialan!
Setelah melewati malam itu. Akhirnya kami berangkat, yeah... sampai jumpa lelaki brengsek!
Huhh... melihat hutan itu, rasanya aku mau tahu bagaimana luasnya hutan itu. Aku mau tahu apa yang membuat pangeran itu tiada di hutan itu.
Sekarang usia ku 16 tahun. Lelaki itu datang lagi. Dan mereka merencanakan resepsi pernikahan ku. Serius? Mereka bahkan ingin segera menikahkan aku dengannya.
Lily: Hentikan... aku tidak mau menikah dengan pria itu!
Ayah: Lily! Ini demi masa depan mu!
Lily: Aku bahkan tidak mencintai dia! Aku membencinya!
Ibu: Lily! Jangan bicara mu!
Lily: 16 tahun aku hidup... kalian tidak pernah mengijinkan aku keluar melihat dunia ini. Dunia kecil hanya di dalam kastil ini yang kalian berikan. Kalian terus mengontrol hidup ku, biarkan aku yang memilih!
Ayah: Maaf kan aku... tuan putri kelihatannya perlu beberapa saat!
Sahabat ayah: Tidak apa-apa. Ini wajar terjadi. Kami akan menginap di sini. Kita buat tuan putri lebih dekat dengan pangeran selama 3 bulan ini.
Ayah: Baik... yang mulia.
Sialan...
Kenapa?
Kenapa?
Kenapa mereka tidak mengerti?
Kenapa mereka membuat ku begini?
Kenapa?
Orang tua menyebalkan!
Kenapa...
Kenapa mereka mengunci ku bersama pria itu.
Lily: Menjauh dari ku!
Pengeran itu... Berani-beraninya dia menelanjangi aku. Beraninya dia!... dia... dia... Dia... Kenapa... dia menyakiti ku....
Dia... Merusak ku... pria itu... dasar bajingan...
3bulan berlalu...
Aku... Tidak tahu jalan hidup seperti apalagi. Besok... Mereka meresmikan pernikahan ku. Andainya aku bisa lari. Kenapa demi citra, aku harus jadi wanita seperti ini.
Nenek meninggal satu bulan yang lalu. Aku padahal masih mau tahu lebih banyak.. cerita apa lagi yang ia ceritakan.... Nenek... Juga adalah korban... nenek.... kau pernah punya cucu pria, bukan?...nenek...!! Kau dengar suara ku, ya?!
Aku baru ingat ... Kerjaan ayah. Ini sangat jahat... Kenapa aku baru tahu?
Dia bahkan tidak memperdulikan rakyatnya. Dia hanya ingin bersaing dengan kerjaan lain. Dia hanya ingin uang.
Pangeran sialan: Jangan khawatir... Bersama ku, kita akan melihat betapa besarnya dunia ini.
Kenapa...
aku tidak bisa berhenti lagi.
Kenapa...
Malam ini...
Apa boleh buat... ibarat nasi sudah jadi bubur. Aku tidak bisa kabur.
Berdiri di jendela ini. Angin ini... sejuk juga, ya. Aku rasanya tidak takut dengan ketinggian ini.
Rasanya...
Tapi...
Pengeran sialan: Apa yang nona lakukan?
Lily: Lepaskan!! Lepaskan!! biarkan aku terjun!! Lepaskan!! Lepaskan!!!!
Pangeran sialan: Tenang tuan putri, tenang! Aku tahu kau merasa sedih. Tolong!!
Besok...
Tidak bisa...
Aku tidak bisa...
Aku tidak bisa kabur!
Terjadilah... Mereka...
Membuat ku melakukannya.
Menikahkan ku di ulang tahun ku. Di sore ini.
Aku tidak sanggup.
Tolong... Aku.
Kenapa mereka melihat ku menangis, mereka kira aku bahagia? Kenapa semua orang buta?
Di sana... Seekor kuda... Ya!
Apa aku bisa?
Aku bisa, kan?
Hei kuda... bawa aku ke hutan.
Ya... Hutan... aku ingin mati saja!
Sampai jumpa semuanya!
Ayah: Kejar tuan putri!! Kejar!!
Aku putuskan melarikan diri saja. Kehutan ini. Lebih baik aku pergi. Semua orang di sana... Mereka... Mementingkan citra, hanya citra... Mereka mengendalikan ku seenaknya.
Tapi terlalu gelap...
Kuda ku... Dia meninggalkan ku di dalam kegelapan. Ini gelap sekali.
Cahaya bulan... di tutupi awan.
Sial...
Biarlah...
Lebih baik aku mati bukan?
Kenapa harus takut...
Bulu tangan ini... Kenapa pula merinding.
Tidak perlu di takutkan.
Kenapa aku harus takut!
Apa... yang bersinar di sana?
Apa para pengawal?
Mereka tidak boleh menemukan aku!
Lari...
Lari...
Lari...
Sialan...
Gaun ini..
Berat...
Aku tidak mau kembali.
Aku tidak mau!
Aku tidak mau!!
Raghhh...
Entah apa... Terlalu gelap.
Apa aku terjatuh?
Kepalaku... Sakit sekali... Apa ini akhir?
Aku tidak boleh di tangkap mereka.
Aku harus mati secepatnya.
Siapa...
Siapa di sana...
Cahaya kuning...
Siapa...
Apa monster...
Tolong... Bunuh aku!
Ayo...
Tiba-tiba... Aku ada di mana?
Ughh...
mata ku masih... buram.
Di sini agak terang.
Kepalaku... Di balut. Bahkan kakiku juga.
Siapa yang melakukannya?
Siapa...
Kenapa masih hidup?
Kenapa aku masih hidup?
Aku harus melihat keluar.
Masa bodoh soal kaki ini...
Siapa orang yang menolong ku?
Dimana dia? Apa ini... Goa?
Hei... di luar sana seseorang.
Dia memotong kayu dengan... Kapak.
Seseorang...
Harinya... pagi.
Lily: Selamat pagi!
Mungkin menyapanya, dia akan menoleh.
...
Dia menoleh. Tapi... Hei... Sepertinya seorang pria. Badanya sangat besar. Pria dewasa?
Hei... Kenapa aku merasa. Dia... Sepertinya.
Dia mendekat...
Dia menyentuh kepala ku.
Apa yang pria ini coba katakan?
Mungkin keadaan ku?
Lily: Aku baik-baik saja!...
Dia tampaknya bukan manusia. Tangannya buktinya, seperti... Cakar... Apa dia monster?
Lily: Kenapa kau selamat kan aku?
Aku menanyai monster itu. Tapi dia... Tidak menghiraukannya. Dia malah memberikan ku air. Apa dia tidak mengerti?
Tidak...
Dia mengerti...
Rasanya...
Aku tidak takut pada dia.
...
Aku masih di hutan, ya...
Untungnya dia...
Lily: Kau tidak akan menyerahkan ku pada pengawal bukan?
Lagi-lagi monster itu sibuk memotong kayu saja.
Lily: Kau boleh melakukan apa saja pada ku, asal jangan buat aku kembali ke istana itu. Aku mohon! Aku memohon... Yang sebesar-besarnya.
Aku mohon...
aku mohon...
ayo...
Monster itu menjawab. Tapi dia hanya memberikan ku sebuah isyarat.
Dia bicara apa... Apa maksudnya. Aku tidak mengerti.
Lily: Kau tidak akan menyerahkan aku, bukan?
Monster itu mengangguk-angguk. Sepertinya dia setuju.
Apa boleh buat...
Biarlah...
Entah apa yang akan dilakukan padaku.
Terserah padanya. Aku hanya ingin bebas.
Malam ini...
Hei... Monster itu memasak. Tapi... Makanan apa ini? Aku... Bahkan tidak tahu. Ah... Makan saja.
Uhh... Rasanya... Jangan sampai muntah.
Uh... Aku tidak tahan.
Aku berbalik dan muntah.
Apa monster itu akan marah?
Monster itu sangat perhatian. Dia mengelap wajah ku. Monster ini sangat baik.
Mari kita lihat. Apa dia akan sama seperti pria itu. Dia datang mendekati ku. Dia kelihatannya memberikan isyarat lagi. Monster ini tidak bisa bicara.
Aku coba-coba untuk memahaminya.
Lily: kau... mau... keluar?
Monster itu mengangguk. Oh ternyata dia mau keluar.
Aku baru sadar. Lentera kuning itu adalah cahaya dari lengannya.
Apa dia orang yang pernah aku lihat sebelumnya?
Aku menunggunya semalam. Dia baru kembali cukup larut.
Tapi dia hanya berbaring di lantai di dekat ku. Dia... kelihatannya tidak seperti itu.
Pagi hari...
hei... Dia melakukan aktivitas yang berbeda. Dia kelihatannya membawa beberapa tumbuhan. Dia merebusnya.
Oh... Dia ingin aku memakannya. Kenapa, ya?
Uhmmm... Rasanya enak!
Sekarang aku mengerti, dia mencoba mencari makanan yang enak untuk ku.
Malam hari...
Malam ini dia pamit pergi keluar lagi. Dia sebenarnya sedang apa pergi keluar malam hari. Bahkan pulang larut malam.
Pagi hari...
Wah... kemana dia. Aku tidak melihatnya. Mungkin nanti dia akan terlihat.
Uhh... Kemana dia... ini sampai siang hari. Mungkin dia sedang mencari sesuatu.
Ini sudah sore. Dia kemana?
Aku makan sisa-sisa sayur dan pergi mencari dia.
Hei... Tidak terlalu jauh dari goa.
Aku melihat cahaya lampu kuning. Itu dari dia.
Oh tidak... apa yang terjadi padanya.
dia... terluka. Dia kritis.
Siapa yang melakukan ini?
Siapa yang melakukannya?
Ayah: Aku... mari pulang Lily! Aku tahu monster ini menyekap mu. Aku akan membunuhnya. Saatnya kau kembali!
Ayah... Dengan beberapa prajuritnya.
Sialan...
Sekarang aku benar-benar marah.
Pangeran sialan: Ayo pulang, nona Lily.
Lily: Cukup!!! Aku sudah muak! Kenapa kalian melukai dia? Kalian!! Bajingan!! Menjauh dari ku!!
Ayah: apa yang terjadi pada mu, nak?
Lily: Ini karena kau! Kau!! kau!!! Karena dirimu aku jadi wanita jalang! Kau telah membuat harga diriku jadi sampah. Kenapa kau tega? Demi citra mu, kau buat aku tersiksa. Ayah macam apa kau ini?... Aku tahu... aku pernah dengar dari nenek. Nenek bilang... ayah... Jadi penyebab kenapa pangeran, anaknya sendiri tiada. Ya... Ya... Kau merahasiakannya dari ku. Tapi aku tahu!... Aku sudah bebas... Kau tidak bisa mengendalikan aku lagi!
Ayah: Lihat apa yang terjadi padamu. Kau sudah jadi hewan liar, nak!
Lily: Kalian yang membuat aku menjadi hewan. Kalian kira aku peduli? Persetan dengan tahtamu!
Lari!
Lebih kencang! Lebih kencang!!
Sial... Mereka mengejar ku! Sial!! Aku tidak bisa menyusul kuda itu.
Aku mendengar... Raungan sesuatu.
Apa itu...
Dari mana?
Dari mana asalnya?
Oh tidak... Prajurit ayah... Di serang. Makhluk yang sama?
Bukan dia... Ini berbeda.
Ya... Oh tidak!
Lily: Ayah!!
Pangeran itu di terkam...
perasaan ku campur aduk.
Ayah...
Lily: AYAH!! LARI!! Pergi!!!
Ayah melawan monster itu dengan pedangnya.
Aku tahu ayah petarung hebat. Tapi itu sudah lama. Dia sudah cukup tua.
Lily: Ayah!!
Cakar monster itu, mengenai Ayah. Ayah terluka parah!
Lily: Lari ayah!!
Ayah: Pergi... Lily!! Gunakan kuda itu dan pergi!!
Lily: Tapi ayah...!!
Tiba-tiba... Monster yang itu kembali.
Dia... menyerang monster itu juga. Mereka bergulat. Mereka bertarung. Tapi... Dia tengah kritis. Oh tidak!!
Lily: Heii!!!
Lily... Ayo kejar mereka!!
Semoga dia selamat. Aku mohon buat dia selamat.
Oh tidak.. dia terpojok.
Lily: Tidak... !
Beberapa warga datang dan membantu mereka. Bahkan prajurit lainnya juga datang.
Ayah lalu menancapkan pedangnya tepat di kaki monster itu. Membuat dia kehilangan keseimbangan.
Lalu monster baik itu menyerang monster itu dan mereka berhasil menghabisinya.
Senangnya...
Tapi...
Monster baik itu... tergeletak lemas.
Monster itu berubah...
Tunggu...
Dia seorang manusia?!!
Ayah: Tidak mungkin... Charles!! Tidak mungkin!!
Ayah... Mengenal orang ini! Siapa dia? Ayah tampak bersedih... Kenapa?
Charles: ... Yang mulia...
Ayah: Anak ku... Charles... apa ini sungguh kau?
Dia... Anak ayah juga? Jangan-jangan dia si pangeran itu. Bagaimana bisa?
Tapi... Dia sekarat dan... tewas. Ayah sangat bersedih...
Ternyata belum berakhir di sini. Beberapa monster lainnya datang.
Kami dalam bahaya.
Tidak...
Tidak...
Mereka sepertinya...
Kenapa tiba-tiba aku mengerti bahasa mereka.
Charles... dia orang baik.
Aku tidak mau bersama ayah. Dia juga jahat. Bukan hanya terhadap diriku. Dia juga jahat pada anaknya sendiri.
Ayah: Lily... Mari kembali bersama ayah! Lily... Ayah mau kau kembali di pundak ayah. Ayah berjanji, akan menjadi lebih baik. Ayo... bicara kalian!
Warga/semua orang: Ayo Lily... Kembali!
Lily: ... Tidak.... Aku tidak mau!... Mereka butuh aku!... Mengapa aku harus bersama orang-orang di sana? Palingan, lagi-lagi kau akan membuat ku seperti Charles. Kau juga pasti menyogok semua warga untuk menuruti mu. Warga... kalian harus melawan raja ini. Dia bukan raja yang baik.
Semua orang terdiam. Apa mereka menangkap yang aku katakan?
Warga 1: Aku tidak...nona Lily!
Warga 2: Aku juga!
Warga 3: Aku tidak takut mati! Selama ini bukan jalan yang salah.
Warga 4: Ayo pergilah Lily!! Pergi!! pergi!!
Warga bersorak kepada ku untuk pergi. Mereka berubah pikiran. Akhirnya mereka juga berani melawan.
Selamat tinggal ayah.
Maaf ayah... Lebih baik aku pergi. Kau harus belajar.
Kau bukan hanya membuat ku apa. Tapi kau mengubah ku. Sekarang, rasanya manusia adalah hewan itu.
Monster ini, mereka membutuhkan aku.
Mereka ingin aku menjadi pemilik mereka.
Aku mengenggam tangan besar monster itu.
Lily: Dunia luas... aku hanya ingin bersama dengan kalian. Biarkan aku masuk.
***
Lalu Lily di gendong monster itu dan dia pergi meninggalkan mereka. Lily tidak pernah terlihat lagi, kabarnya dia ada di tempat dimana para monster hidup. Lily pergi dan hidup bahagia bersama monster-monster itu. Monster itu sangat baik kepada dirinya.
Sementara itu, ayahnya/raja yang jahat. Kini di hakimi warga, dia di salib di istananya. Warga lalu beramai-ramai meninggalkan wilayah kerjaan itu.
Sementara itu juga, sang ratu/ibunya. Di bawa warga dan di jadikan warga biasa.
Cerita ini terbatas, Karana menceritakan satu sudut pandang. Jadi hanya berfokus pada pandangan Lily saja.
Dari cerita ini kita belajar untuk memutuskan. Memutuskan keinginan dan tidak memaksakannya karena dampaknya bisa berakibat buruk.
Masih ada banyak pesan dan makna tersirat dalam cerita ini. Maka berbijak lah menanggapinya. Terima kasih.
Putri kegelapan, dari AMM Novel.