Aku masih ingat hari itu Asmara...
Aku mengingatnya dengan sangat jelas. Aku datang ke rumah mu, tapi rasanya berbeda. Bukan sambutan tawa hangat, tapi isak tangis yang mengiris hati.
Asmara... Aku melihatmu sedang tersenyum, mencoba menenangkan suara tangisan yang ada. Aku masih ingat pula dengan nada suaramu yang lembut.
"Hai, Al. Aku Asmara milik Alfaraz, milik kamu"
Suara lembut, riang gembira itu selalu membuatku bersemangat untuk mengahadapi hari itu.
Aku memasuki rumah mu, aku melihatmu duduk tersenyum melihatku. Aku selalu berkata dalam hati.
"Asma, aku selalu mencintaimu"
Tanpa sadar aku melangkah ke arahmu dan tersenyum menyebut namamu.
"Asmara..."
Sampai, seorang anak kecil memeluk kakiku dengan erat. Dia cantik Asma, sangat mirip dengan mu. Matanya, senyumannya, tatapannya dan riangnya itu adalah Asmara. Aku tersadar bahwa semua hanya ilusi belaka, Kamu Asmara sedang terbaring.
Aku sangat yakin itu bukan kamu, karena aku tidak melihat tatapan hangat dan tawa riang gembira pada tubuh yang terbujur kaku itu. Aku menyangkal setiap orang yang bersikeras berkata bahwa itu kamu Asmara...
Tapi ternyata itu memang kamu. Kamu pergi, meninggalkanku dan segala kenangan kita. Apakah kamu membenciku Asmara?
Dan, gadis kecil yang selalu memanggilmu ibu itu, apakah kamu membencinya juga?
Aku mempercayaimu Asmara, dan aku juga percaya bahwa kamu akan menungguku dan gadis kecil ini untuk menemuimu disana.
Untukmu Asmara, aku sudah menghabiskan seluruh cintaku padamu. Pertemuan yang singkat hari itu, meninggalkan kenangan panjang dengan akhir yang tak kan pernah ku sebut sebagai akhir. Perjalanan kisah kita masih berjalan, namun hari ini kisah itu berhenti sejenak karena kehilanganmu. Aku akan segera menyambung kembali kisah itu, saat aku sudah menemukanmu.
Dariku, Alfaraz yang mencintai Asmara.
Selamat menempuh perjalanan barumu Asmara, tunggulah aku disana...