Cendana bergerak gelisah dalam duduknya. Keringat mengucur di sepanjang pelipisnya meski ia berada di ruangan ber-AC.
Menghadapi Dosen pembimbing skripsi memang menguras tenaga. Pun harus menyiapkan mental untuk menghadapi kritikan pedas dari beliau.
Berada di semester akhir perkuliahan memang membuat Cendana bahagia karena akan segera lulus. Tetapi di sisi lain juga membawa penderitaan dalam menyelesaikan skripsi.
Cendana hanya berharap agar Dosen pembimbing nya berbaik hati mempercepat sidang skripsi untuknya.
"Bimbingan lagi lo?"
Cendana mendongak, menatap seseorang berpawakan tegap yang berdiri di hadapannya.
"Iya Bang,"
"Santai aja dulu Na. Kayak gue nih, dari jaman baheula skripsi belum kelar-kelar." Kakak tingkat nya itu tertawa yang di balas Cendana dengan senyuman tipis.
Tidak bisa. Cendana tidak bisa lebih santai dari ini. Ia ingin menyelesaikan kuliahnya dengan cepat agar biaya yang dikeluarkan orangtuanya tidak semakin banyak.
Cendana ingin segera bekerja dan meringankan beban kedua orangtuanya. Syukur-syukur jika ia bisa membantu membiayai sekolah adiknya.
"Bang Arka juga mau bimbingan?" Cendana bertanya agar ruangan ini tidak terlalu hening.
"Nggak."
"Terus ngapain ke sini?"
Arka tertawa kencang. Membuat Cendana khawatir kalau-kalau Dosennya yang berada di dalam ruangan lain terganggu mendengar suara tawa Arka.
"Mau ketemu Nyokap."
Cendana mengernyit. Ingin bertemu Ibu nya kenapa malah datang kemari?
"Nyokap, Bang?"
"Iya. Lo nggak tau ya, Dosen pembimbing lo itu Nyokap gue."
Jika maksud Arka mengatakan itu untuk menyombongkan diri kepadanya, maka mohon maaf karena Cendana tidak menganggap ucapan Arka sebagai perilaku sombong.
"Oh, Bu Mutia itu Nyokap lo Bang?"
Pintu ruangan Bu Mutia terbuka. Salah seorang teman bimbingan Cendana keluar dari dalam.
"Badmood beliau," temannya itu mengatakannya tanpa suara.
Cendana mengangguk paham dan berterimakasih karena sudah memberitahunya.
"Gue masuk dulu deh Bang,"
"Yoi."
30 menit berada di dalam ruangan monokrom itu hanya bersama Bu Mutia membuat Cendana merasa sakit kepala. Ketika ia keluar dari sana setelah mendapati kertasnya penuh tinta merah, Arka sudah tidak lagi berada di ruang tunggu. Kemana perginya Kakak tingkatnya itu?
Sudahlah. Cendana tidak ingin tahu. Toh mereka juga tidak dekat.
1 bulan berlalu dengan sangat cepat sejak terakhir kali Cendana melakukan bimbingan skripsi. Hari ini dia datang lagi karena sebelumnya Bu Mutia memberinya batas waktu 1 bulan untuk merevisi skripsi Bab V miliknya.
"Hai Na."
Arka lagi-lagi berada di sana. Seorang diri duduk membawa sebuah buku. Mungkin novel, mungkin juga bukan.
Sadar jika Cendana memperhatikan buku di tangannya, Arka memperlihatkannya.
Oh. Buku tentang self-improvement.
Ini pertama kalinya Cendana bertemu seorang laki-laki yang membaca buku bertema seperti itu. Mendadak ia merasa kagum dengan Kakak tingkatnya itu.
"Bu Mutia udah nunggu tuh Na." ucapan Arka berhasil menarik kesadarannya.
"Oh, iya Bang."
Buru-buru Cendana memasuki ruangan Bu Mutia.
Kali ini hanya membutuhkan waktu 20 menit.
Cendana keluar dengan wajah berseri-seri. Akhirnya ia mengalami kemajuan. Bu Mutia akan menjadwalkan sidang skripsi untuknya. Itu adalah suatu hal yang sangat membahagiakan untuknya yang telah lama menunggu untuk sidang skripsi.
"Balik bareng yuk Na."
Arka lagi.
Mau tidak mau Cendana jadi memikirkan ucapan Bu Mutia tadi sebelum kakinya melangkah keluar ruangan beliau.
"Jadi menantu saya Cendana, kamu tidak perlu mengkhawatirkan masa depan mu."
🫧
end ♡
bubayy!