Senja, gadis populer karena kehidupannya yang misterius. Seperti kastil tua yang terlihat indah nan penuh misteri. Senja melatih kemampuannya dalam menulis puisi.
dia telah menulis beberapa puisi. terdengar anggun tapi menyakitkan, semua puisi yang dia buat dia ambil dari kehidupan pribadinya.
Kedua orang tuanya berpisah ketika dia berumur 12 tahun, kini dia telah berumur 18, dia tinggal bersama kakek dan neneknya.
senja berbicara dengan formal, layaknya bangsawan kuno.
"Senja, dari mana saja kau?,aku mencarimu dari tadi,kau tau itu?" Kata seorang lelaki remaja sembari berlari menuju ke arahku, dia adalah sabiru teman masa kecilku.
"aku...a-aku tidak kemana-mana, dari tadi aku menunggumu di lapangan tapi kau tidak kunjung datang". sering kali aku terbata-bata jika berbicara dengan sosok lelaki yang ada di hadapanku ini.sosok pria yang sangat tampan dan lembut.
kau menyukainya?
Bohong kalau ku bilang tidak
"maaf telah membuatmu menunggu"
" Tidak masalah "
" Aku ingin kau menemui seseorang "
siapa? Pertanyaan yang tak bisa kutanyakan karena jawabannya sudah jelas, pasti orang itu adalah kakak yang pergi ke luar kota,baru-baru ini dia datang untuk menjemputku membawa ku pergi dari tempat ini.
"tidak, hari ini aku tak punya waktu"
" kau sibuk? Aku akan membantumu"
"Aku tak punya waktu untuk menemuinya"
sabiru hanya terdiam mendengar ucapanku sabiru dekat dengan kakak karena dulunya mereka sekelas, kakak pindah ke kota karena mengikuti ibu. Sedangkan aku ikut ayah karena aku perempuan ayah menitipkanku di kakek dan nenek sementara dia pergi Ke luar negeri untuk bekerja . Itu hanya alasannya saja padahal dia memiliki niat lain, padahal disini kakek mempunyai bisnis besar dan terkenal.
"Baiklah jika kau tak mau bertemu dengannya, aku akan mengajakmu ke Gramedia, kau mau?"
" hari ini aku sedang tidak berkeinginan untuk melakukan apapun, aku akan pulang lebih awal "
"aku akan mengantarmu, tunggu aku di sini,aku akan akan pergi mengambil motor"
*di rumah*
"Aku pulang "
Ku lihat Kakek dan nenek sedang melihat sesuatu di layar televisi. Mereka langsung mematikan televisi setelah mendengar suaraku . Entah apa yang mereka lihat.sepertinya mereka tidak ingin aku mengetahuinya .
"Kau sudah pulang. ganti pakaianmu dan ikutlah bersama Kakek, kakek aku membawamu ke sebuah tempat "
"Hari ini aku tidak ingin kemana-mana, kakak datang ke sini untuk membawaku pergi "sambil berjalan menaiki tangga menuju ke kamar.
Terdengar percakapan mereka tentang apa yang mereka lihat tadi.apakah dia melihatnya?
Penasaran aku pun mencari di internet berita hari ini
Mendapatkan sesuatu yang ku cari aku bersemangat membukanya
*beberapa menit kemudian*
Apa ini!?
"Seorang pria dari negeri ini telah sukses di luar negeri,dia telah memiliki segalanya anak , istri yang cantik dan uang " dan orang itu tak lain adalah ayah.
sedih rasanya sepertinya tak sanggup lagi aku menahan air mata ini.
"Air hujan itu telah turun dari langit karena awan sudah tak mampu lagi untuk menahannya"
Pantas saja selama ini ayah jarang mengabariku. Uang bulanan tak kunjung terkirim. Tapi tak ku sangka dia tak mengabariku.
Rasanya tak sanggup lagi diriku untuk hidup di dunia ini ayah dan ibu sama-sama telah berkeluarga
Aku tak ingin terus menjadi beban bagi kakak dan nenek. Tak ingin juga pergi bersama kakak yang telah berkeluarga.
Dalam bahasa Indonesia
"Kesedihan "
Namun Dalam puisi kan kukatakan
"Hujan yang turun terlihat indah nan penuh gemuruh menghancurkan bunga-bunga di taman yang telah kujaga"