"Besok aja pulangnya, ntar pagi-pagi pakde anter,"
Aku menggaruk tengkuk tak ena sambil memilah alasan yang kuat agar budhe mau mengizinkan ku pulang malam ini.
"Aduh, maaf, budhe, tapi besok Eki sekolah. Ada PR juga, belum dikerjain."
Wajah budhe makin sedih, aku makin tidak enak hati. "Yaudah deh, tapi tunggu padeh pulang ya.. Masa mau jalan kaki? Jauh loh,"
Tanganku sibuk memasukkan baju kotor yang sudah ku kenalan selama menginap dirumah budhe kedalam plastik, untuk kemudian baru dimasukkan dalam tas. Maklum, budhe belum dikaruniai seorang anak semenjak pernikahannya sepuluh tahun terakhir. Kehadiran ku ini jelas amat menghibur, apalagi sedari kecil budhe sudah menyayangiku bak anak sendiri.
"Aduh, padhe masih lama pulangnya. Keburu kemalema." Tanganku meraih tangan beliau, "Eki bisa pulang sendiri kok! Tenang!"
"Hm, sayang banget budhe ngga bisa pake motor," Beliau mengiringi langkahku menuju pintu.
"Gapapa, budhe. Lagian Eki udah ngrepotin dari kemaren, kan?"
Aku tersenyum ketika telapak tangan beliau mengusap surai ku lembut. "Yaudah, Hati-hati. Jangan kapok ya nginep kesini lagi,"
Bibirku kembali tersenyum, lalu mengecup sekilas punggung tangan beliau.
"Siap! Harus masak orek tempe sama sambel teri tapi ya!"
"Oke,"
"Pamit ya, budhe. Assalamu'alaikum,"
Kakiku mulai menjauh dari kediaman budhe. Memang pakdhe ini sering sekali mendapat lemburan. Terkadang aku kasian melihat budhe harus dirumah sendirian hingga malam, sudahlah pakdhe kalau pulang selalu langsung tidur, berangkat pagi pula esoknya.
Duh, harus sering main temenin budhe pastinya.
Pergi semasa habis isya dari rumah budhe, kini aku harus menyesal, karena area sini kebanyakan sudah sepi. Tidak ada pemuda tongkrongan malam-malam, lain komplek rumahku. Pos kamling ramai oleh anak-anak yang numpang wifi. Esok harinya sampah menggunung, entah itu bungkus torpedo atau kuaci rentengan.
Sebenarnya tadi diriku mengucapkan bahwa aku berani untuk pulang sendiri, itu sembilan puluh persen bohong. Aku tak ingin budhe khawatir, alih-alih jujur. Alhasil aku harus menahan takut di setiap langkah.
Rumah-rumah disini masih sangat arang. Satu rumah disini, dua ratus meter lagi baru terlihat rumah lagi, selebihnya kebun tanpa penerangan. Jujur, aku merinding, apalagi sepanjang jalan tak banyak lampu yang dipasang. Hanya beberapa, itupun lampu bohlam kuning yang sangat redup.
Tanganku menggenggam keras ransel. Benar-benar tak ada orang disekitar sini. Motor hanya dua yang lewat, terhitung semenjak aku meninggalkan rumah budhe.
Tahu bakal sesepi ini, mendingan tunggu pakdhe pulang. PR urusan belakangan.
Aku merogoh saku, menyalakan senter di android blue metal milikku. Ku tarik nafas dalam-dalam. Mataku tetap saja gemetar, apalagi saat menyorot plang bertuliskan "TPU Desa Anggarawa".
Kerongkongan rasanya kering. Meski kaki gemetar tak karuan, tetap aku paksakan untuk melangkah.
Peluh sudah menetes kemana-mana. Pandanganku menunduk, langkah kaki ku percepat, mulutku tak henti-hentinya bertakbir. Sungguh, aku benar-benar takut.
Meskipun mati-matian untuk tidak melihat kearah makam, tapi entah kenapa, seperti ada magnet atau semacamnya yang menarik mataku supaya menengok kearah sana.
Namun kalian tahu betapa leganya aku?
Diseberang sana, seorang kakek berbaju coklat berjalan terhyung-huyung. Kami bersebrangan, tapi arah jalan kami sama.
Kakek itu berjalan tepat di sebelah TPU. Aku berlari menghampiri, menuntun sang kakek yang wajahnya menunduk. Si kakek memakai camping tradisional yang agaknya berbahan dasar bambu.
Aku tersenyum lega, "Mau kemana, kek? Malem-malem,"
"Pulang,"
Langkah kakiku mengikuti kakek yang berjalan begitu pelan. Beliau bahkan tak mengenakan sandal atau semacamnya, padahal aspal ini tak rata dan berkerikil.
"Oh, rumah kakek disekitar sini?" Aku bertanya, melihat-lihat, namun belum terlihat ada rumah disekitar kami berjalan.
"Memang disini,"
"Hah?"
Otakku memproses. Bukankah kakek ini mau pulang? Tapi kenapa ngomong rumahnya disini?
Dari bawah camping nya, dapat aku lihat si kakek tersenyum. Jenggot putihnya terangkat sedikit,"Ingin menengok cucu,"
Aku hanya ber-oh ria.
"Ngomong-ngomong, bareng ya, kek! Saya takut sendirian,"
Si kakek tertawa, jujur agak merinding mendengar tawanya. Karena siapapun yang mendengar, aku jamin semua bakal takut. Apalagi kakek tua ini suaranya sangat serak.
Dia merangkul pundakku. Entah mengapa, seluruh buluku dibuat berdiri setelah jarak diantara kami hilang total.
Kakek itu mendekatkan bibirnya, berbisik ditelinga kiriku.
"Dulu, sewaktu kakek hidup, kakek juga takut berjalan sendirian."
Mataku melotot. Langkah ku terhenti. Wajahku tak berani menoleh, karena wajah kakek itu tepat di sebelah pipi kiriku.
"Kenapa berhenti? Ayok kakek temani,"
Entahlah. Pikiranku macet. Aku tak tahu harus bagaimana saat ini. Sampai kebon gelap dan pemakaman sepi ini benar-benar gelap gulita.
Aku tak sadarkan diri.