Suara rintikan hujan terdengar nyaring dan merdu di telinga udara dingin dan menyejukkan tubuh terasa hangat bila di rasa dengan secangkir teh.
Aku memandangnya dari pojokan cafe, seperti biasa di setiap harinya, wajah tampan meski tanpa senyuman ketelatenannya dalam menyiapkan pesanan pelanggan.
"Woi! Halu aja terus, katanya suka tapi gak berani deketin, katanya cinta tapi cuma di liatin," ucap Riva yang tiba-tiba datang membubarkan lamunan ku. "Nih ya, cinta tuh tidak harus memiliki," kataku mulai mengalihkan pandangan menuju saudara kembarku satu itu. "Nanti kalau di tikung nangis."
Namaku Areva Adinata, aku mahasiswa semester tiga jurusan fotografi dan yang tadi itu Ariva Adinata adik kembar yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan ku dan yang ku pandang tadi Arfaniel dirgantara, kakak tingkat yang ku kagumi sejak awal masuk kampus.
Namun kebiasaan ku dalam jatuh cinta aku selalu mencintai dalam diam tak seperti adikku yang bisa mencintai seseorang secara terang-terangan.
....
"Udah dapet berapa foto Rev?" Tanya Tania teman satu jurusan ku. "Masih sedikit Tan, Gue juga bingung pakai foto yang mana buat pameran." Jawabku seraya melihat satu persatu foto yang ku potret.
"Minta saran aja sama kak Arfa," kata Tania seraya menunjuk kearah kak Arfa yang tengah fokus memotret objek. "Gak ah! Gue gak berani yang ada kamera gue jatuh saking gemetaran nya tangan Gue." Katakanlah Aku penakut, nyatanya memang begitu.
Beberapa jam kemudian, kami semua selesai melakukan praktek, aku bertugas membawa barang-barang properti yang telah selesai di pakai ke kantor jurusan fotografi.
Baru saja aku ingin membuka pintu namun tiba-tiba pintu kantor dibuka oleh seseorang hal itu sontak membuat ku terkejut, Alhasil membuat properti yang ku pegang jatuh dan berserakan di lantai.
"Ketawain dosa gak sih?" Tunggu-tunggu! Suara ini aku mengenal nya, aku menenggak dan menemukan kak Arfa yang menatap ku seraya terkekeh pelan. Ini pertama kalinya aku melihat wajah tampan bak lukisan itu tersenyum.
Rasanya seperti mimpi, bukan! Ini pasti mimpi, tidak mungkin seorang Arfaniel Dirgantara yang dingin tertawa seperti itu. "Kenapa Lo mau menghindar lagi?" Lagi? Apa kak Arfa menyadari aku yang selalu menghindar.
"Areva Adinata, mahasiswa semester tiga yang pakai foto gue buat pameran tahun lalu," ucap kak Arfa itu sontak membuat ku kaget, padahal aku tidak memakai nama asli saat menyerahkan karya foto itu.
...
Setelah beberapa bulan pameran tahunan jurusan kami pun berlangsung dan semenjak kejadian itu entah kenapa kak Arfa semakin sering menyapaku, bukannya aku tidak senang namun hal itu hanya membuat ku sedikit canggung.
"Reva, bisa ikut gue check galeri lima gak?" Tanya kak Arfa yang tiba-tiba menghampiri ku. "Eh, iya kak." Dengan sedikit gugup aku mengikuti kak Arfa. Aku memperhatikan satu persatu foto yang diambil oleh kakak tingkat jurusan ku.
"Meskipun objek itu beku dalam foto tapi mereka kekal dan jadi memori yang selalu bisa kita kenang." Aku menoleh kearah kak Arfa. Wajahnya terlihat berseri ketika tengah berhadapan dengan foto seperti ini.
...
Istirahat siang untuk para staff pun berlangsung kami semua mampir ke cafe dekat kampus. Beberapa teman memilih secangkir coffe latte namun aku tentu saja makan dessert favorite ku 'blue berry Parfait' baru saja aku bahagia karna bisa memakan dessert favorite ku namun tiba-tiba Tania memakan blue berry diatas ice cream yang menjadi bagian favoriteku.
"Tania ih! Itu kan kesukaan Gue!" Kesal ku pada Tania. "Ih pelit banget sih Lo! Kan masih ada Parfait sama selai blueberry nya." Kata Tania enggan di salahkan.
"Dengar ya Tan, blue berry Parfait tanpa blueberry itu Parfait biasa dan Parfait tanpa blue berry itu gak akan lengkap!" Kelasku pada Tania.
Rintikan hujan mulai membasahi kota, padahal waktu sudah menunjukan pukul delapan malam dan itu artinya sudah waktunya bagiku untuk pulang.
Sedari dulu aku memang tidak bisa membawa kendaraan sendiri alhasil aku hanya bisa bergantung pada adikku Riva dan ojek online tapi sialnya baterai handphone ku habis total.
"Kok belum pulang Rev?" Tanya seseorang dibelakang ku Membuat aku tersentak. "Fiuh.. kak Arfa gue kira siapa, kakak sendiri?" Bukannya menjawab aku malah bertanya balik.
"Gue? Gue nunggu Lo pulang." Tolong siapa pun, katakan mengapa jantungku berdetak sekencang ini? Setelah menjelaskan apa yang terjadi pada kak Arfa aku berakhir di rumah dengan Riva yang mengintrogasi ku bagai polisi.
"Itu Arfa? Seriously? Ciee kakak gue gak menjomblo lagi setelah sekian lama, kenalin dong secara resmi," ucap Riva tanpa hentinya.
Setelah Riva tertidur, aku masih mengerjakan laporan untuk pameran hari ini, sungguh hari ini benar-benar hari ajaib yang sangat-sangat indah, andai satu hari ini bisa ku potret mungkin aku tak hanya membayangkan hari ini.
*Tringgg... Suara notif handphone membubarkan lamunan ku.
Arfaniel dirgantara
Besok luang?
Areva Adinata
Luang kak, kenapa ya?
Arfaniel dirgantara
Dandan yang cantik ya!
Jam delapan gue jemput.
Kupikir pesan tadi malam hanya sekedar mimpi namun kak Arfa benar-benar datang dan menunggu di depan rumahku.
"Riv gue harus gimana? Lo kan tau gue gak bisa dandan." Tanyaku panik pada Riva, adik kembar ku itu menatapku malas. "Lo bisanya apa sih?!" Kesal Riva padaku.
Riva langsung menarik ku duduk di meja rias lalu memberi sedikit bedak, blush on, dan lip balm berwarna bibir . Lalu setelahnya ia memakaikan ku rok biru pastel dibawah lutut dengan aksen renda dibagian bawah, atasannya kaos berwarna putih dan jaket bomber berwarna biru keunguan tak lupa jepitan diujung rambut dan sepatu kets berwarna senada yang menghiasi penampilan ku.
Setelah siap, aku langsung turun ke lantai bawah menghampiri kak Arfa yang sudah setia menunggu di depan mobil mewah miliknya. Kak Arfa memandangku dari atas kebawah aku hanya bisa tersenyum canggung saat menyadari hal itu.
"You became my princess today," kata kak Arfa membuat rona kemerahan muncul di pipiku. Tapi aku tau berharap itu menyakitkan bila yang di harapkan tidak terwujud.
Mobil melaju di ramainya jalanan kota, sedari tadi entah mengapa pandangan ku tidak bisa teralih dari kak Arfa, rasanya hati ini ia benar-benar berbeda dan yang pasti wajah nya selalu berhasil membuatku terpesona.
Beberapa menit kemudian kami telah sampai di salah satu pusat perbelanjaan yang cukup besar di kota ini. Pertama-tama kak Arfa mengajak ku ke sebuah game center, kami memainkan banyak hal basket, tembak-tembakan, foto bersama di photobox dan hal-hal menyenangkan lainnya.
"Hahaha, kak Arfa posenya kenapa gini sih hahaha.." tawaku lepas begitu saja saat bercanda dengannya, ternyata diam tak selalu menjadi jawaban akan cinta.
"Yah jatuh lagi," ucap kak Arfa saat berkali-kali boneka yang ada di dalam mesin jatuh dari capitannya. "Katanya kakak udah pro, sini biar Areva Adinata sang penakluk clawmesin yang mencoba," kataku sombong.
"Kalau gitu kita taruhan, kalau Lo berhasil dapetin bonekanya kita nonton bioskop tapi kalau gagal Lo turutin satu permintaan gue," ucap kak Arfa, seolah-olah aku akan kalah. Begini-begini waktu kecil aku sering memainkan claw mesin untuk Riva, aku memang kakak yang baik aku tahu itu dan benar saja sekali coba aku berhasil mendapatkan satu boneka.
"Gue menang! Sekarang kak Arfa traktir gue nonton." Aku menyombongkan kemenangan ku dengan memainkan boneka kelinci yang baru saja ku dapat dari mesin.
Kak Arfa pun menepati janjinya, kami menonton film sesuai dengan pilihan ku, setelah selesai menonton aku pergi ke toilet sebentar sementara kak Arfa ku minta untuk menunggu di depan bioskop.
Beberapa menit kemudian aku keluar dari toilet dan betapa kagetnya aku melihat penampakan yang menyakiti hati ini.
"Kak Arfa.... Riva?" Gumam ku tak percaya dengan apa yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri aku melihat orang yang ku cintai memeluk adikku dengan sangat erat. Riba menoleh sepertinya ia menyadari kehadiran ku.
"Reva!" Padahal aku tidak perlu kabur namun entah kenapa aku berlari, hatiku seakan teriris, jantungku seakan terkoyak, tapi tak ada yang bisa di salahkan di sini. Riva adikku aku hanya perlu mundur untuk kebahagiaan adikku satu-satunya.
....
Satu tahun kemudian, aku tengah berada di semester lima, aku dan Riva sudah berbaikan sehari setelah kejadian itu. Riva menjelaskan semuanya mengapa di sana, mengapa kak Arfa memeluknya. Jika dibilang percaya atau tidak sebagai kakak aku harus percaya perkataan adikku, namun hatiku masih terluka jauh di dalam sana.
Kak Arfa? Entahlah setahun belakangan ini kami kembali seperti semula, jauh dan tidak mungkin tergapai hanya bedanya kini aku tak lagi memandangnya.
Pameran foto tahunan pun kembali berlangsung, aku masih sama menjadi panitia acara hanya saja tahun ini ketua panitia nya bukan lah kak Arfa.
"Rev tolong ambilin frame 004 dong di galeri sepuluh, nih kuncinya," Ucap Nico ketua panitia tahun ini seraya menyerahkan kunci galeri sepuluh padaku.
Aku hanya mengangguk, kemudian berjalan menuju pintu galeri sepuluh, aku membuka kuncinya dan betapa kagetnya aku ketika melihat puluhan frame, berhiaskan diriku sendiri dan puluhan lain nya berhiaskan blueberry Parfait. Aku memperhatikan foto demi foto, siapa dan kapan fotografer ini memotretku?
"Reva." suara berat yang ku kenal, suara yang pemilik nya sudah lama menghilang dari hidupku. "Waktu itu Lo pernah bilang, Parfait tanpa blueberry akan jadi Parfait biasa dan Parfait itu tidak akan pernah lengkap," ucap seseorang bernama lengkap Arfana Aditya, seseorang yang dulu pernah ku cintai.
Aku menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya. "Sama kayak Arfa yang gak akan pernah lengkap tanpa Reva," lanjutnya membuat ekspresi kebingungan tercetak jelas di wajah ku. "Gue mohon maafin gue, setahun ini gue benar-benar merasa tersiksa tanpa Lo, waktu itu gue mau nembak Lo tapi gue malah salah orang, gue gak tau Lo punya kembaran." Wajah nya benar-benar menunjukkan rasa bersalah.
Perlahan air mata jatuh membuat sebuah sungai kecil mengalir di pipiku. "Kalau Lo mau maafin gue, gue mau tanya satu hal lagi Do you want to be my life partner?" Aku tersentak tanpa sadar aku menggenggam tangannya yang terasa bergemetar.
"Cuma satu kesempatan, gak akan ada kesempatan kedua jadi gue mohon jangan sia-siakan kesempatan ini." Kak Arfa memelukku erat.
Aku tau cinta akan datang tanpa kita minta mewarnai hari bagaikan tumpukan parfait yang warnanya berbeda setiap layer nya dan kamu benar seperti blueberry Parfait aku tanpamu hanya Parfait biasa yang tidak lengkap...
-Arreva Adinata
blueberry Parfait
-end-