18.37
Tak terasa, sudah 20 menit berlalu. Kusandarkan bahuku pada sudut ruang. Tubuhku pun terduduk dengan mata berurai. Dengan kepala sedikit menengadah, aku mengudarakan kekecewaan. Berharap ada angin yg membawanya pergi dan menghilang. Tidak, bagaimana mungkin angin akan masuk? Sedangkan aku sengaja mengasingkan diriku disini.
Bibirku kelu. Jiwaku letih. Raga pun tak sanggup untuk bergerak. Namun, semua itu bertolak belakang dengan isi pikiranku yg terus mendesak.
Akhirnya, kuputuskan untuk memindah ragaku, mencari sebuat alat tulis dan selembar kertas. Bibirku mulai merangkai kata demi kata yang tertuang dalam goresan tinta. Setidaknya, ini akan menjadi jawaban atas apa yang menjadi pilihanku.
...
3 hari kemudian.
Aku berdiri di balik kekayuan hidup nan rindang. Aku sedikit mengintip aktivitas beberapa orang yg sedang berkerumun di kamar 221. Kamar yg kutempati beberapa waktu lalu.
Aku tidak berani mendekat. Namun rasa penasaran membuatku mengingkari ketakutan ini. Dengan berjalan tanpa suara, aku mendekati kerumunan. Disana terlihat sejumlah petugas bermasker, beberapa orang yang kukenal, dan seseorang yang amat kusayangi, Jigs.
Jigs tengah menangis dan ditenangkan oleh beberapa orang. Dia juga memegang sepucuk surat yang kutulis tempo hari. Ia terduduk persis di tempatku menuliskan kalimat itu. Kalimat tentang aku yang akan mengakhiri hidup. Ya..aku, telah mati! Tepatnya 3 hari lalu.
Aku menghampirinya sesaat setelah jasadku yg mulai membusuk telah di pindahkan. Kubelai pelan pundaknya. Kuserukan kalimat maaf di telinga Jigs, walaupun ia tak akan mendengar.
"Jigs, aku mengakhiri hidupku karena bersalah telah berselingkuh darimu, dan aku hamil."
Jigs terus menangis. Ia tak beranjak meski satu persatu orang mulai meninggalkan kamar kos-ku di lantai 3. Tinggal Jigs sendiri di sini. Oh, tidak! Tapi berdua denganku yang tak kasat mata ini.
Jigs masih menyandarkan bahunya. Sekarang isaknya mulai terhenti. Matanya lalu terpejam, mungkin ia tengah memikirkan sesuatu.
"Hah, syukurlah wanita itu telah tewas. Aku tidak perlu mengotori tanganku sendiri untuk menghabisinya. Setidaknya tidak ada lagi dia diantara aku dan Stevia."
Mataku membelalak mendengar kalimat yang keluar dari mulut Jigs. Jadi tangisnya yang kulihat tadi hanyalah kesedihan palsu. Jadi, kematianku ini justru keadaan yang sangat dinantikannya?
Oh, Tuhan! Aku menyesal melakukan ini.
Kuangkat sebelah tanganku hendak menyerangnya. Namun, tubuhku menembus tubuhnya. Beberapa kali kulakukan tetap tidak berhasil.
Kemarahanku semakin menjadi ketika melihat Jigs menyeringai ke arahku.
Apakah dia bisa melihatku?
"Aku menang," sarkasnya menatap tepat ke arahku.
Ya, Jigs bisa melihatku. dari sorot matanya yang menancap tepat dimataku, aku bisa yakin dia melihatku.
Jigs memundurkan langkahnya sembari menggerakkan bibir entah apa yang sedang ia ucapkan. Jigs hendak menutup pintu kamar ini. Bersamaan dengan itu muncul cahaya hitam yg menjalar dari balik daun pintu memasuki kamarku. Cahaya itu seolah menghadangku mendekati Jigs.
BRAK!
Pintu tertutup dengan keras. Namun kini seluruh ruangan ini dipenuhi cahaya hitam yang menahanku. Jigs sialan itu ternyata sudah membacakan mantra untuk mengurungku.
"Iblis kau Jigs! Tunggu aku. Tunggu aku. Aku akan membalaskan dendam ini. Jika dendamku tak sampai padamu, anak cucu mu pun yang akan merasakannya. Hah.. Hah. Haaaa haaaa haaaa,"
"dan, kau Stevia, kau pun tak akan luput dari dendamku, adik kurang ajar! Camkan itu! Haaaa haaaa haaaa."