Ada rindu yang tak selalu terbayarkan rindunya. Ada cinta yang tak selalu terbalaskan rasanya. Ada amarah yang tidak selalu terlampiaskan. Ada rasa sayang yang tak selalu tersampaikan. Aku, selalu berusaha mendakimu. Namun, kau seperti mati suri dan tak berniat untuk melihat perjuangan ku.
.
.
.
.
.
Kutapaki jalan berbatu, tidak curam. Ia datar, namun bergelombang karena tak rata. Banyak diantara mereka yang melalui jalan ini, memilih meninggalkan kendaraannya di depan gang sana. Ku lihat, ada lubang lubang yang terisi air. Baru kuingat, tadi malam hujan turun sedikit lebat hingga meninggalkan jejak jejak air. Apatah lagi yang berlubang, pastilah meninggalkan genangan genangan.
Kucing berwarna hitam seperti biasa duduk diatas batu bundar. Menjilati seluruh tubuh agar bersih dan terjaga kelembapannya. Sesekali matanya awas memandang manusia yang berlalu lalang melewati jalan di depannya.
Tak terkecuali aku. Dan seperti biasa, kuusap ujung kepalanya. Dia mendengkus samar. Tampak tak suka seperti biasanya. Namun kali ini aku hanya menyapa, dan ia melanjutkan pula kegiatannya menjilati seluruh tubuh.
"Ren, baru pulang?". Kulihat Mak Piah sudah berdiri sembari menjemur baju bajunya yang basah setelah di cuci. Rajin sekali ia, padahal masih jam enam pagi.
"Iya Mak, Reno baru pulang shift malam". Begitulah aku, bekerja shift malam mulai jam sepuluh hingga jam lima. Melewati hari hari di sebuah pabrik percetakan yang bekerja dengan dua shift.
Aku, Reno barak. Sekilas mirip dengan nama seseorang pasangan artis ternama. Namun, nasib kami berbanding terbalik. Ya, jika dia kaya, maka aku biasa saja. Aku tak pernah mau menyebutnya miskin atau serba kekurangan. Aku selalu menyebutnya dengan 'cukup'.
Dan ya, nyatanya memang selalu begitu. Tak pernah aku merasakan kekurangan. Petuah orang tuaku yang selalu mengajarkan akan arti bersyukur. Hal itulah yang membuatku selalu menerima sedikit apapun pemberian dari yang maha kuasa.
Aku lanjutkan untuk melangkahkan kaki setelah sedikit berbasa basi dengan Mak Piah. Wanita yang sudah berumur senja itu tampak sangat peduli denganku yang hanya hidup sebatang kara di sebuah rumah di ujung gang.
Siluet rumah peninggalan orang tua ku sudahlah nampak di pelupuk mata. Baru lah kurasakan lelah dan ngantuk menghampiri. Mengapa selalu demikian. Apakah semua orang merasakan hal yang sama dengan yang aku rasakan kala melihat rumah. Nyaman, walaupun tak ada kemewahan di dalamnya.
Langkah yang sedari tadi ku tempuh akhirnya mengantarkan aku kembali menuju rumah. Ku buka resleting saku celana yang kupakai. Kurogoh untuk mengambil kunci yang terdapat di dalamnya.
Cklek....
Assalamualaikum.....
Waalaikumussalam .....
Kulihat, rumah sepi seperti biasanya. Kuletakkan sepatu di rak agar tak berantakan walaupun tubuh ku rasanya sangat lelah.
Tas pun ku sangkut pada sebuah paku yang terdapat di dinding samping jendela. Langkah ku teruskan menuju dapur, dan kuraih gelas serta mengisinya dengan air yang ada di dispenser.
Setelah beberapa tegukan yang menghilangkan dahaga, kuteruskan kembali langkah menuju kamar mandi setelah meraih handuk dengan asal yang terbentang di pintu kamar.
Kulepas satu persatu pakaian yang melekat meninggalkan dalaman sebagai pertahanan akhir.
Kubasahi seluruh tubuh, mulai dari kepala hingga refleks tubuh meminta untuk terpejam.
Samar bayang bayang masa lalu kembali datang kala netra merapat sempurna. Gegas aku kembali membuka mata agar tak ada lagi bayangan yang sekuat tenaga aku hapuskan.
.
.
.
.
.
Di sinilah aku, dikamar berukuran dua kali tiga meter. Di atas dipan kayu leban karya seseorang yang kupanggil ayah, yang polos tanpa ukiran.
Kembali ingatan mengawang jauh pada kenangan sembilan bulan yang lalu. Di mana saat itu adalah pertemuan kami kembali setelah delapan tahun.
Ku lihat, ia sangat berbeda dari ia yang dahulu kukenal dan kudamba.
Matanya menyiratkan segala penyesalan dan luka yang teramat mendalam. Samar kulihat ada memar di ujung bibir indahnya. Walaupun saat itu kulihat cahaya wajahnya tak secerah ia yang terpatri di dalam ingatan.
Mengingat dirinya, aku seperti terlempar kembali ke masa lalu.
.
.
.
.
.
Hari itu, hari pertama memasuki dunia sekolah SMA. Aku adalah salah satu siswa baru. Dengan masih menggunakan seragam SMP dahulu, karena memang belum mendapatkan baju baru. Kami di kumpulkan di tengah lapangan pagi itu. Masa orientasi siswa yang saat itu menjadi hal wajib yang harus kami ikuti sebagai syarat akan kesungguhan kami yang ingin menjadi siswa baru.
Aku yang fokus pada penjelasan kakak-kakak kelas saat itu, tak menyadari adanya siswi yang menatapku dari kejauhan. Tatapan ingin mengenal lebih dekat jika dilihat. Aku yang tak melihat sekeliling hanya fokus dan fokus pada penjelasan di depan.
Rupanya ia yang tadi melihat dari kejauhan datang mendekat. Berpura-pura memperhatikan seluruh siswa baru. Rupanya ia merupakan salah satu dari banyaknya kakak kelas yang membimbing orientasi siswa.
Ia tersenyum, kala netra bersirobok. Cantiknya. Deg deg deg. Perasaan apa ini. Mengapa aku merasakan Dejavu.
Dari situlah awal perkenalan kami. Pertemanan yang di mulai pada saat orientasi siswa oleh kakak kelas dengan aku si siswa baru.
Pertemanan yang menimbulkan gelenyar aneh dan perasaan yang meletup-letup. Pertemanan yang menimbulkan perasaan cemburu kala ia berbicara dengan teman lelaki di kelasnya.
Namun, aku tahu diri agar tak lebih jauh terjerat rasa yang takutnya tak berbalas.
Aku, pada akhirnya salah mengira. Gayung pun bersambut tatkala rupanya ia memiliki rasa yang sama.
Dan pada saat itulah, kami pun tak terlalu menyadari kapan sebuah hubungan yang lebih banyak manusia katakan dengan kata pacaran.
Cinta monyet?
Rupanya bukan. Aku mencintainya hingga saat ini. Hingga aku mati rasa saat rupanya kau memilih untuk menerima pinangan lelaki pilihan orang tuamu.
Aku pun tak tahu, mungkinkah sakit hati akibat pilihanmu yang pada akhirnya membuatku menjauh dan tak lagi ingin mengenal yang namanya wanita baru didalam hidupku.
Aku kecewa padamu.
Setelah engkau membuang paksa rasa yang telah lama kita jaga bersama.
Namun, mengapa pada akhirnya ketika senyuman tulus setelah delapan tahun tak ku lihat itu, aku kembali goyah.
Mengapa?
Padahal ku lihat awalnya dulu kau bahagia. Apalagi saat ini, kulihat perutmu semakin membesar tanda benih cinta tumbuh di dalam rahimmu. Salahkah mataku dalam mengartikan tatapanmu itu.
Kau bahagia bukan?
Namun mengapa ketika ku lihat buah cintamu bersama orang yang menjadi pilihanmu menyiratkan banyak sekali penderitaan yang kalian alami. Apakah lagi lagi aku salah mengartikan akibat rasa cintaku yang masih utuh padamu?
Aku harap kau bahagia agar, pengorbanan ku dalam mematikan rasa tak sia sia. Aku harap kau bahagia, agar mati rasa yang ku alami tak lagi tumbuh subur ketika melihatmu menderita dengannya.
Zahira, aku tetap mencintaimu meski lukaku akibat ulahmu tak pernah sembuh.
Ah, bodohnya aku.