Kisah bermula
Sebuah keluarga kecil di desa, keluarga cemara.
Ayah ibu dan seorang anak.
Ayah bekerja sebagai seorang petani biasa, ia bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya, menjadi sarjana dan sukses bekerja dikota besar.
Ibu membuka kedai makanan ringan seperti sosis dan pop ice di rumah untuk membantu perekonomian keluarga.
Suatu hari, ibu renata terjatuh tersiram minyak panas dari wajan. Api menjalar di warung kecil itu. Ranata yang kala itu berusia 17 tahun berteriak histeris. Warga tidak berani mendekat. Mereka berupaya memadamkan api dan memanggil ayah ranata di sawah yang lokasinya cukup jauh. Tak ada warga yang memiliki kendaraan besar didesa itu. Melihat lokasi desa yang jauh dan sulit dijangkau.
Api berhasil padam, ibu renata mengalami kejang-kejang, kepalanya berdarah karena terbentur pojok meja. Hingga beliau meninggal. Sepeda onthel bekas yang digunakan ayah rena di sawah mengalami kerusakan, dengan kondisi panik, ayah rena berlari melewati jalanan desa yang masih makadam tanpa alas kaki.
Melihat istrinya yang sudah tergeletak tak bernyawa, ia berulang kali menyalahkan dirinya.
"Ayah membunuh ibu!" Ucap Rena
Siapa sangka gadis kecil yang selalu dekat dan menempel dengan ayahnya itu akan berkata seperti itu.
"Maaf nak, seharusnya ayah lebih cepat"
"Seandainya ayah lebih cepat, lalu kita bawa ibu ke rumah sakit, mungkin ibu selamat"
"Ayah kemana saja, ayah bohong akan selalu melindungi aku dan ibu"
Isak tangis terdengar.
Inilah awal renggangnya hubungan ayah dan anak itu. Renata berhenti berbicara dengan ayahnya, memilih mengurung diri di kamar. Ayahnya hanya termenung, merenung dan menangis menyalahkan dirinya.
Satu minggu berlalu, bibi el membujuk renata untuk bersekolah dan menguatkan ayah rena. Renata pergike sekolah dan ayahnya kembali ke sawah. Siang hari, ayah rena pergi membeli bakso kesukaan renata.
'ini untuk renata, ayah minta maaf, ayah tidak ingin kamu menangis'
Sepucuk surat tertulis untuk rena. Sepulang sekolah renata menemukan bakso itu beserta suratnya, renata tidak memakannya dan memberikannya pada tetangga.
Ayah renata sempat merasa hancur saat tau putri kecilnya itu tidak akan lanjut kuliah. Ia merasa perjuangannya sia sia.
Hal itu berulang sampai 6 bulan, tanpa jeda. Semangkuk bakso, sepucuk surat permintaan maaf dari ayah rena selalu ada di depan pintu kamar renata. Hingga satu hari itu, tidak ada bakso ataupun surat.
Tentangga Renata berlari menghampirinya.
"Ren, ayah mu kecelakaan, ayo ikut saya"
Renata sangat terkejut, perasaannya campur aduk. Di rumah sakit renata melihat bibi el dengan sebungkus bakso ditangannya.
"Ini bakso kesukaan rena, kata ayahmu" sambil menyerahkan bungkusan bakso yang sudah penuh pasir. Renata menangis sejadi-jadinya.
"Ayahmu tidak pernah membunuh atau ingin ibumu pergi dari kehidupan kalian ren"
"Sepedanya rusak, ia berlari tanpa alas kaki hingga kakinya bersimbah darah untuk melihat kondisi anak dan istrinya"
"Ayahmu selalu mencoba menepati janjinya renata"
Rena menangis, ia sangat menyayangi ayahnya. Ia hanya kecewa dan sudah terlanjur terbiasa dengan rasa kecewa itu. Gadis 17 tahun yang masih dalam proses mencari jati diri itu sangat bingung.
Ayah rena koma selama 7 hari. Renata setiap hari menangis.
"Ayah aku mau bakso, ayah bilang akan membelikan aku bakso"
"Ayah aku mohon, aku mau bakso yang besar dan isinya banyak"
Setelah dirawat satu minggu, kondisi ayah Renata terus menurun, dan akhirnya tak bisa bertahan.
Ayahnya sempat sadar dihari ke-enam, namun Rena sedang diluar. Ia sempat berkata pada perawat yang sedang mengunjunginya untuk membelikan anaknya semangkuk bakso. Setelah mengatakan itu, ayah Renata tak sadarkan diri lagi hingga keesokan harinya ia meninggal.
Rena terkejut, ia benar-benar tidak menyangka akan kehilangan 2 malaikat pelindungnya dalam waktu dekat. Ia menangis sambil membawa sebungkus bakso yang diberikan seorang perawat.
"Ayah, kenapa ayah jahat, ayah membuatku kehilangan ibu, sekarang ayah justru meninggalkanku"
"Ayah, maaf..."
"Bangunlah ayah, Rena mohon"
"Rena mohon..."
"Maaf ayah, terimakasih"