Ternyata Mahapati dan Ramapati berbeda. Dalam sandiwara populer di sebut sebagai Ramapati. Yang semestinya Mahapati. Karena sangat sesuai dengan catatan yang ada di Pararaton. Namun menggunakan nama Ramapati. Padahal tokoh Ramapati hidup di masa raja Kertanegara. Sementara Mahapati pada masa Jayanegara. Karena berkaitan dengan Ranggalawe, Sora dan Tambi. Di situlah dia berperan, dengan melenyapkan nama-nama tersebut. Namun anehnya dia berkawan dengan Dharmaputera. Misalkan Wedeng, Pangsa dan Ra Yuyu. Namun demikian, ada naskah kuno yang tidak melibatkan dirinya, serta di beberapa dokumen namanya tidak di sebut, serta berlainan nama. Untuk itulah beberapa di antaranya menganggap dia hanya tokoh fiktif, yang di buat hanya supaya ada peran yang menyambungkan kisah tadi. Namun begitu, kalau dalam Pararaton, selalu ada nama tokoh asli dalam sejarah, maka di mungkinkan nama itu juga mewakili tokoh nyata. Mahapati di kira sebagai Raden Wijaya sendiri. Dengan pendapat bahwa maha itu besar dan pati itu raja. Jadi dia di gambarkan sebagai orang yang ingin menggabungkan Lamajang Tiga Juru menjadi satu kembali dengan Majapahit. Namun begitu, sulit di perkirakan juga. Siapa yang di candikan pada tahun 1309 M di Antahpura dan Simping sebagai Harihara. Siapa yang meninggal dunia, kemudian di gantikan oleh Jayanagara. Walau menurut perkiraan Ranggalawe dan Lembu Sora memberontak di masa pemerintahannya. Ranggalawe pada tahun 1295 dan Lembu Sora 1300 m. Semuanya pada masa pemerintahan Raden Wijaya. Setelah di temukan prasasti Adan-adan, maka masih ada Pu Wahana yang menjadi patih, dan menggantikan Nambi. Jadi semakin membingungkan saja siapa yang menjadi tokoh Mahapati tersebut. Dengan patokan, bahwa nama tersebut menjadi pembesar setelah menyingkirkan Nambi. Karena Nambi seorang patih, maka kiranya yang di gantikan adalah jabatan patih. Sementara setelahnya, masih ada banyak nama. Wahana, Halayudha, Arya Tadah, Pu Krewes. Yang di yakini beberapa nama itu hanya mewakili satu tokoh saja. Namun demikian, tidak yakin jika nama itu semua hanya satu orang. Karena berbagai kejadian menunjukkan bila ada kisah yang berbeda dan jika di runut, akan saling melengkapi. Tapi kalau di hubungkan dengan dongeng Damarwulan, rupanya sedikit berbeda. Karena kisah dalam Damarwulan yang juga banyak tersisip di Serat Kandha, kisahnya beda jauh dengan logika sejarah. Misal ada nama Ranggalawe, yang sirna oleh Minak Jinggo. Lalu Logender yang anak Gajah Mada. Sementara Layang Seto dan Layang Kumitir, keturunannya. Itulah yang sedikit beda. Serta banyak yang menyebut satu fiksi tapi merangkai nama-nama dalam sejarah nyata. Sebab kalaupun di sebut kisah fiktif, karena tokoh tersebut tak banyak sumber yang menyebutkannya, hanya di Pararaton, dan Kidung Sorandaka, tak banyak sumber lain yang menyebut nama itu, bahkan kitab Negarakrtagama juga tidak menyebutkannya. Sementara kitab ini mendekati sumber primer, jika memperhatikan masa di mana dia mengabdi pada sang raja. Jika saja Mahapati sama dengan Mahapatih, maka hal demikian bisa di hubungkan. Mengingat kinerjanya juga sangat mirip. Di gambarkan dua jabatan ini sama, dengan menjadi orang nomor dua dalam kerajaan. Misalkan Gajahmada juga sangat sesuai dengan penggambaran ini. Walau dalam berbagai prasasti dia di sebut sebagai Mahamantri. Yang secara modern biasanya di sebut mahapatih. Tentu tak bisa di hubungkan dengan Mahapati. Karena jarak waktu yang sedikit berlainan. Kalau tokoh Mahapati di awal pemerintahan Jayanegara, sedangkan Gajah Mada muncul di akhir pemerintahannya. Walau sama-sama berjasa buat raja ini. Dan penggambaran Pararaton sering berbeda dengan isi sumber primer. Misalkan Pranaraja di anggap penghasut untuk kematian Ranggawuni, sedangkan pada prasasti di gambarkan sebagai orang yang berbakti untuk enam raja, termasuk Ranggawuni, Wisnuwardana yang memerintah Bhumi Kadiri. Kertanegara di anggap raja kejam, sedangkan di sumber primer dia merupakan orang yang berbakti pada agamanya. Itulah makanya sangat sulit menghubungkan antara mahapati ini dengan tokoh mahamantri yang nyata dan tertera pada prasasti. Karena hampir sebagian ahli yang menghubungkan dirinya dengan Dyah Halayuda. Sesuai dengan teori Prof. Slamet Muljana. Karena terpengaruh pada penggambaran siapa pengganti Tambi di prasasti yang tertera mengikuti tokoh Jayanegara. Hanya kematiannya yang cineleng-celeng tentu tak tergambarkan pada prasasti tersebut. Semua di anggap karena di buat masa dia masih hdup, atau memang menuliskan apa yang terbaik buat para pemimpin yang tengah memimpin kerajaan. Beda dengan pararaton yang di tulis jauh-jauh hari setelahnya, sehingga sedikit bebas, yang tak jarang sesuai dengan kenyataan. Lihat saja Ken Arok yang justru di tulis paling panjang dalam kisah ini, juga sebagai awal cerita, namun pada saat kematiannya juga di kisahkan secara gamblang. Sebagai bagian dari karma yang dia dapatkan semasa dia hidup dan menjangkau puncak kekuasaan dengan cara-cara yang terkadang tidak benar. Atau Pranaraja yang buruk, nyatanya dia mengabdi pada negara dan lebih dari enam raja yang berkuasa. Dan kisah ini justru yang mirip dengan awal di tulis Pararaton, dimana di situ di gambarkan akan ada tujuh raja yang akan mati di kutuk oleh keris Empu Gandring, sedangkan Pranaraja justru mengabdi pada enam raja. Dan yang di tulis berdasar kutukan tak terbukti, namun kisah Pranaraja ini sesuai dengan logika sejarah. Tapi sosok Pranaraja dalam kisah Pararaton, hanya di tulis singkat, serta tidak mempengaruhi sejarah, maka kisah yang mirip tadi banyak yang mengabaikan. Walau begitu sosok Mahapati ini juga di gambarkan licik, sebab telah melenyapkan banyak tokoh, namun dia sangat dekat dengan orang pertama yang memerintah, Jayanegara, yang di duga juga kalau dia keturunan Jayakatyeng, yang berdasar kemiripan bunyi. Serta sedikit logika, kalau Ardharaja menikahi Tribuwaneswari, serta dalam kondisi sudah mengandung. Serta keinginannya hendak menikahi dua saudarinya. Dyah Wiyat dan Dyah Gitarja. Karena ada larangan untuk menikahi saudara kandung, maka jika seorang raja yang ingin menikahi saudarinya tentu karena sebenarnya dia bukan saudara kandung. Satu ayah satu ibu. Akan tetapi karena beda ayah, Ardharaja, dan Raden Wijaya. Sehingga dia berani mengutarakan keinginannya untuk melakukan hal tabu tadi. Hal ini tentu mendapat dukungan dari Mahapati. Yang akhirnya justru menjadi bencana. Karena para ksatria yang ada hendak di musnahkan. Namun semua ini masih bersifat dugaan, karena sumber-sumber tak ada yang menyebutkannya. Serta logikanya bila seorang raja tentu merupakan keturunan dari ayah yang juga raja sebelumnya. Memang sejak Majapahit berdiri, kisah teman lawan teman sudah biasa. Mengingat Raden Wijaya juga melenyapkan Ranggalawe dan Ken Sora, termasuk Gajah Biru dan Juru Demung. Yang merupakan teman kecil nya. Serta ikut serta mengusir bala tentara Tartar yang menggempur Jayakatyeng.
Kepustakaan:
• Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara.
• Slamet Muljana. 2005. Menuju Puncak Kemegahan (terbitan ulang 1965). Yogyakarta: LKIS.
• NJ Krom, JL Andries Brandes, FDK Bosch, WF Stutterheim.
• Romo Zoet.
• Den Bei Purbocaroko.