VARA
Borobudur dari biara budara. Yang justru di kenal oleh lingkungan sebagai budur. Suatu pohon Bodi, yang dibiarkan tumbuh di perbukitan. Juga merupakan kota Budha. Jika saja pura gangga lwah, ada sungai yang mengalir di tepi kota Budha. Maka sungai Progo dan Elo sepertinya sangat berpengaruh pada situasi di lingkungan kota Budha itu. Mengingat sungai sangat penting untuk sebuah bangunan keagamaan. Maka tidak heran, jika banyak bangunan suci letaknya di tepi sebuah sungai. Mungkin tidak hanya di Indonesia, namun juga di seluruh dunia. Air menjadi bagian penting dari suatu ritual keagamaan. Sebab air sangat berpengaruh dalam kehidupan dan hidup. Tidak memandang itu suatu aliran apa, namun sebagai manusia tentu membutuhkan air dalam kehidupannya. Utamanya untuk minum, maka air juga berguna dalam berbagai hal, tidak menutup kemungkinan pada kehidupan keagamaan. Di mana untuk masuk atau mulai melakukan ritual keagamaan tak jarang menggunakan media air dalam memulainya. Jadi dahulu, danau purba itu mengelilingi suatu gundukan bukit. Dan alirannya menuju ke sungai di dekatnya, Progo dan Elo. Dan dengan di buatnya bangunan itu menjadikan sebuah teratai di tengah danau. Dan memang bila di lihat dari kejauhan nampak seperti teratai di tengah danau. Namun danau itu telah mengering. Membentuk daratan yang luas. Dimana ada bukit yang akhirnya di timbun dengan batu yang banyak, sehingga membentuk suatu bangunan indah. Vara-budu-r. Vara-buddha-rupa. Yang berarti arca Budha istimewa. Dari bahasa Singhala. Sedikit aneh memang, karena kata-kata yang ada pakai bahasa Sanskerta. Misalkan saja pada kata virupa, yang pada panel tersebut biasanya berhubungan dengan kata tadi. Atau ada kata Boro, sebagai nama dusun. Yang mungkin berasal dari kata biaro. Salah satu yang merujuk pada bangunan tersebut. Serta pada lokasi tempat monumen tersebut bernama bumi segoro. Dari kata bumi sambhara, timbunan tanah. Sebab pada beberapa bangunan tersebut mesti di timbun. Mungkin yang agak mirip justru vira vairi vara vimardhana. Pembunuh musuh-musuh yang gagah perkasa. Dan mengacu pada Sanggrama Dhananjaya. Serta arca yang di maksud adalah Candi Sewu. Dimana pada ruangan itu semestinya berdiri arca setinggi empat meter. Berdasar ruangan yang ada dan di temukannya ikal rambut dari perunggu yang di lebur. Atau justru semestinya pada candi Pawon. Pa-awuan. Sebagai sebuah bangunan candi yang di peruntukkan buat arca yang mempunyai wajra. Yang bersinar, karena dari perunggu. Seperti nama dusun yang ada di candi tersebut brojonalan. Wajra nala. Di perkirakan sebagai bentuk dari tokoh yang di perabukan di situ. Yang oleh para ahli di sebut sebagai Indra. Nama dari Sanggrama Dananjaya. Tapi karena nama Indra di situ tidak ada, Dharanindra semestinya di baca dharanindarena, mungkin untuk yang bergelar Sanggrama Dananjaya itu. Dengan begitu vara yang di maksud sebagai arca tentunya pada arca yang sesungguhnya. Dan ini ada pada candi sewu, arca manjusri sesuai dengan prasasti dan ruang besar yang memang semestinya untuk menempatkan arca budha besar itu. Dengan demikian apa yang di ungkap sebagai arca besar tentu sangat sesuai dengan kondisi tempat ibadah itu pada jaman dulunya. Hal ini sedikit beda dengan kondisi Borobudur. Dimana merupakan monumen besar. Dimana ada yang mengatakan itu semacam stupa raksasa, bila dipandang secara keseluruhan. Dan kini juga masih terlihat jika memperhatikan stupa di kemuncak candi. Walau juga terdapat 504 arca. Apakah ini yang dipandang sebagai arca keseluruhan karena jumlahnya yang sangat banyak itu. Serta arca dalam stupa tertutup yang tak nampak dari luar sebuah arca unik karena unfinish yang tersembunyi di dalamnya. Walau juga sekarang tak bisa di perbandingkan, akibat di temukan beberapa lagi yang serupa di sekitar candi tersebut. Jika melihat arca pradnya paramita di gambarkan sebagai Ken Dedes. Juga arca Siwa sebagai Ken Arok, maka bisa saja arca cacat itu juga mewakili satu tokoh raja yang kala itu berkuasa namun bentukannya demikian. Dengan tangan besar satu muka tak indah serta bentuk badan yang demikian, menggambarkan bila sang raja juga bentuknya demikian. Ini kalau membandingkan dengan kebanyakan candi yang merupakan penggambaran dari sang raja yang di candikan tersebut. Bahkan arca dari tanah liat di gambarkan sebagai Gajah Mada. Membuat ada kemungkinan itu. Seperti gambaran raja Jayanegara juga kakinya di sebut pincang akibat terjatuh di gapura Bajang Ratu, sebuah pintu gerbang paduraksa yang biasanya masuk sebuah bangunan. Baik itu candi atau justru istana. Mengingat daerah Trowulan di anggap sebagai pusat kerajaan Majapahit. Atau kota Majapahit ada di sekitar situ. Namun berdasarkan kesesuaian letak, dan membaca catatan kuno, mungkin saja sedikit menyimpang. Jadi bukan itu yang utama. Tapi semua hanya sekedar praduga. Mengingat arca rusak juga banyak di temukan di sekitar candi. Juga dalam kisah perjalanan seorang raja di situ di gambarkan tentang kehidupan masa lampau yang penuh gemerlapan. Terlukis indah sebagai Karmawibangga di bagian bawah dari candi itu. Serta menjelaskan tentang hubungan sebab akibat dari sebuah kehidupan. Bila orang sering berburu, maka akan di bakar sesuai dengan kejahatannya membunuh hewan liar. Bagian ini di tutup dengan berbagai versi. Ada yang mengatakan jika semua karena merusak bangunan. Ada lagi yang mengagap lukisan-lukisan itu tabu untuk di lihat. Namun bila tabu, mengapa tetap di lukis. Juga kalaupun wajib di lukis, mengapa sekarang bagian luar tetap di biarkan kosong, tidak seperti di deretan atas yang melukiskan lalitavistara dan gandawyuha. Juga dengan tidak selesai di beberapa panel, rasanya memang ada masalah kala proses pembangunan candi hendak selesai. Karena terjadi keretakan pada bagian bawah akibat tekanan dari berat bahan bangunan di atasnya membuat tanah melesak. Untuk mengurangi kerusakan lebih lanjut, maka di tutup dengan batu-batu yang sangat banyak, tapi mudah di temukan dari pegunungan menoreh. Sehingga mampu menutup kerusakan, tapi juga masih indah di lihat. Walau resikonya mesti menutup lukisan indah yang sebagian besar telah purna di kerjakan. Bahkan ada teori kalau sebenarnya pada bagian atas hendak di buat stupa yang sangat besar. Namun dengan adanya insiden tadi, membuat stupanya menjadi lebih kecil dengan di hiasi banyak stupa kecil lain dengan bentuk yang sama-sama indah, namun sedikit merubah susunan dan bentuk dari rancangan awal. Jadi candi ini memang menggambarkan satu stupa yang besar, jika di pandang secara keseluruhan. Jadi sesuai dengan pandangan tentang bangunan itu, juga tak menyalahi ajaran tentang di buatnya suatu bangunan pemujaan yang pada dasarnya berbentuk seperti itu.
Kepustakaan:
• Dr. Soekmono, Candi Borobudur - Pusaka Budaya Umat Manusia, Jakarta: Pustaka Jaya (1978)
• Nastiti, Titi Surti (2018-09-30). "Re-interpretasi Nama Borobudur". AMERTA. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 36 (1): 16. doi:10.24832/amt.v36i1.326.
• NJ Krom; JL Andries Brandes; FDK Bosch; WF Stutterheim.
• Romo Zoet.
• Den Bei Purbocaroko.
• Prof. Slamet Mulyono.