Kulitnya putih,garis rahang tegas,hidung mancung,tinggi,rambut ikal,jakun menonjol,dada bidang,bibir merah muda dan sebuah mata elang.
Bagaimana? Bukankah beliau insan yang sempurna?.
Sangat indah namun juga sangat jauh, bagaikan nabastala yang hanya mampu dipandang dari bentala.
Bahkan, lembayung yang bersinar dengan eloknya bersembunyi saat cahayanya mengenai dirinya.
Perasaan kagum yang menjadi lebih dalam tanpa disadari, perlahan menjadi menakutkan.
kita semua tahu bahwa beberapa hal di dunia ini ada yang tidak bisa kita miliki dan hanya bisa sebatas untuk dikagumi saja.
Itulah yang semesta takdirkan pada nona dan tuan.
Nona itu berdiri diujung tebing yang curam demi melihat dengan jelas pemandangan didepannya.
Ketika kebetulan seorang pengembara melihatnya, ia mendekati nona dan bertanya.
"Wahai nona yang dahayu, hal apakah yang sedang anda lakukan ditempat seperti ini?"
Nona itu membisu, menatap nabastala dengan mata kosong kemudian membuka mulutnya.
"Sudah banyak senja yang kulalui, namun belum pernah kulewati senja yang membawanya kembali.
Seakan mengerti dengannya, pengembara meninggalkan nona dan melanjutkan perjalanan.
Sudah beberapa kali bentala mengitari bagaskara namun nona itu masih tetap berdiri disana menunggu lembayung datang menyapa dirinya.
Hingga terdengar kabar bahwa seorang tuan putri yang anindya telah memikat hati tuan.
Tuan putri yang anindya mampu membuat gelak tawa tuan terdengar sampai ribuan kilometer jauhnya.
Nona yang masih menunggu sinar lembayung hangat dengan setia, pada akhirnya ia hanya dapat melihat mega redum diikuti derai hujan yang memunculkan petrikor.
Seorang pengembara yang bahkan telah usai mengelilingi bentala dan melewati kembali tempat nona berdiri, bertanya pada nona:
"Mengapa tak menyalahkan senja?"
Nona tersenyum kembali dan berkata untuk terakhir kalinya :
"Karena senja tak pernah memintamu menunggu".