Warning!
Mengandung pembunuhan yang sadis dan berdarah-darah. Mohon bijak dalam membacanya.
Happy Reading💞
Namaku Rifa Haniyah. Aku akan menceritakan tentang kejadian horor dan sadis yang pernah kualami bersama orang tuaku.
Malam itu, aku bersama papa dan mamaku terpaksa singgah disebuah penginapan yang sepi bernama ‘PENGINAPAN MERAH’ terletak di kota S karena ban mobil papaku bocor pas di depan penginapan itu dan jarak bengkel dari penginapan itu sangat jauh ditambah hujan deras serta angin kencang membuat kami memutuskan untuk singgah ke penginapan yang sepi itu.
Saat kami tiba di lobby penginapan. Seorang resepsionis menyambut dan tersenyum ramah kepada kami. Saat itu suasana masih terlihat normal sehingga aku merasa nyaman saja.
Papaku hanya memesan 1 kamar untuk kami bertiga. Setelah itu, kami menuju kamar yang sudah dipesan dan diantar oleh resepsionis tadi.
Suasana penginapan itu benar-benar sepi. Penginapan itu terdiri atas 2 lantai dan beberapa kamar entah ada yang menempatinya atau tidak karena suasananya benar-benar sunyi dan hanya suara langkah kaki kami yang terdengar dengan jelas.
“Silakan masuk. Jika kalian perlu bantuan, silakan hubungi saya melalui telfon yang tersedia di dalam kamar”ucap resepsionis yang berjenis kelamin perempuan itu sambil tersenyum ramah. Setelah itu dia meminta izin dan pergi meninggalkan kami bertiga yang masih berdiri di ambang pintu kamar.
“Kalian tidur saja duluan. Aku mau menelfon temanku. Siapa tau dia bisa membantu kita menghubungi bengkel terdekat” ucap papaku dengan ekspresi bersalah kepada kami.
Aku dan mamaku hanya mengangguk dan berjalan menuju ranjang yang berukuran king size. Pakaian kami memang tidak basah karena sebelumnya kami memakai payung menuju penginapan.
Beberapa saat kemudian, aku mencoba untuk tidur tetapi rasa ngantukku tak kunjung datang. Kulihat jam dinding yang terdapat di kamar itu. Jam sudah menunjukkan pukul 23:45.
Mamaku sudah tertidur dengan pulas sedangkan papaku sedang berbicara dengan seseorang diseberang telfon.
Aku merasa ingin buang air kecil tetapi aku takut pergi sendiri karena hanya toilet luar yang tersedia di penginapan itu meskipun dekat dari kamar kami.
“Pa. Bisa temenin Rifa keluar buang air kecil nggak?”tanyaku kepada papaku yang baru saja menyelesaikan panggilan telfonnya.
“Tentu bisa, sayang. Ayo papa temani”jawab papaku sambil tersenyum.
Saat aku baru saja selesai buang air kecil. Tiba-tiba aku merasa merinding dan suasana menjadi menyeramkan.
Aku berlari keluar dari toilet dengan perasaan takut. Papa yang melihat ekspresiku merasa khawatir.
“Kamu kenapa nak?”tanya papaku sambil memegang kedua pundakku
“Nggak apa-apa papa”jawabku mencoba menghilangkan rasa yang tidak nyaman itu.
Tiba-tiba seseorang muncul dari arah toilet tempatku buang air kecil tadi. Sosok tersebut merupakan seorang pria yang bertubuh tinggi dan berkulit pucat memakai seragam SMA.
Tubuhku seketika menegang. Kulirik papaku seolah tidak melihat sosok yang sedang berdiri diambang pintu toilet itu.
Aku yang sadar dengan sosok itu adalah hantu segera menarik tangan papaku dan berlari meninggalkan tempat itu dengan keadaan panik.
“Kenapa kamu berlari nak?”tanya papaku yang sedang kebingungan saat kami berlari jauh dan berhenti sampai ngos-ngosan.
“Pa. Papa nggak lihat hantu pria yang keluar dari toilet tadi?”tanyaku dengan ketakutan.
“Hantu? Papa nggak melihatnya. Mungkin kamu hanya berhalusinasi sayang” jawab papaku mengira yang aku lihat itu tidak nyata adanya.
Aku terdiam dan mengingat sosok hantu tadi benar-benar nyata di mataku. Aku tidak berhalusinasi.
“Sudahlah. Ayo kita ke kamar. Mungkin kamu mengantuk dan kecapean”ujar papaku kemudian menggandeng tanganku.
Aku melihat sekeliling koridor penginapan yang terdapat di lantai dua itu. Tiba-tiba jiwaku tertarik ke suatu tempat yang sangat mencekam namun tempat itu sangat asing dimataku. Mungkin itu sebuah rumah yang tak berpenghuni. Aku mencari keberadaan papaku tetapi tidak kutemukan. Suasananya sangat sunyi dan menyeramkan hingga aku tiba di depan sebuah tangga menuju ruang bawah tanah.
Penglihatanku tiba-tiba berubah. Aku melihat banyak bercak darah di sepanjang tangga itu padahal sebelumnya tidak ada. Aku berdiri mematung dan tubuhku benar-benar kaku. Aku diperlihatkan kejadian yang pernah terjadi sebelumnya di rumah itu.
Di penglihatanku, aku melihat 3 orang siswa yang memakai seragam SMA swasta. Salah satu dari mereka adalah remaja pria dan yang lainnya remaja perempuan. Mereka terlihat sangat dekat. Remaja pria itu memiliki hubungan yang spesial dengan salah satu remaja perempuan yang kita sebut saja namanya Alisha. Remaja perempuan lainnya bernama Selena sedangkan remaja pria itu bernama Aiden.
Alisha dan Aiden adalah sepasang kekasih tetapi tanpa sepengetahuan mereka, Selena juga mencintai Aiden.
Hingga pada suatu hari, Selena mendorong Alisha di tangga yang sama tepat di depanku hingga Alisha merenggangkan nyawanya di tangga itu. Tak cukup disitu, setelah memb*nuh Alisha. Selena memanggil Aiden ke rumahnya dengan alasan Alisha sedang sakit dan sedang berada di rumahnya.
Pada saat Aiden tiba di rumah milik Selena. Selena membawa Aiden ke kamarnya dan mengutarakan perasaannya. Tentu saja Aiden berpikir jika Selena hanya bercanda. Aiden tidak menggubris pernyataan Selena dan bertanya tentang kekasihnya yang sedang sakit. Tetapi Selena bukannya menjawab pertanyaan dari Aiden tetapi dia memeluk Aiden dengan sangat erat. Aiden berdiri dengan kaku kemudian mendorong tubuh Selena kebelakang hingga kepalanya terbentur di dinding. Aiden merasa bersalah dan menghampiri Selena yang sedang mengerang kesakitan. Untung saja Selena tidak apa-apa.
Saat Aiden membantu Selena berdiri. Selena mengambil sebuah pisau dari dalam roknya kemudian me*usuk perut Aiden sangat dalam hingga membuat tubuh Aiden jatuh dilantai dan bersimbah darah. Aiden yang masih setengah sadar menatap Selena dengan nanar sedangkan Selena hanya berdiri dengan kaku dan merasa sedikit menyesali perbuatannya tetapi sifat iblis yang ada dalam dirinya membuat rasa penyesalannya hilang seketika.
Setelah kesadaran Aiden benar-benar hilang dan meninggal dunia. Selena menyeringai lebar yang terlihat menyeramkan. Dia membuka semua pakaian yang dipakai oleh Aiden kemudian Selena mem*tong sesuatu yang terdapat di bagian inti tubuh Aiden. Setelah itu, Selena mem*til*si beberapa anggota tubuh Aiden.
Setelah puas. Selena menarik tubuh Aiden yang sudah tak utuh lagi kemudian mendorongnya ke tangga yang sama dia memb*nuh Alisha. Tangga menuju basemen itu berubah menjadi tangga berdarah karena darah Alisha dan Aiden bercampur.
Selena berlari menuju kamarnya kembali dan mengambil pisau yang dia pakai untuk membu*uh Aiden sebelumnya. Kemudian dia kembali berdiri di depan tangga itu dan menatap kedua mayat sahabatnya yang penuh darah itu.
“Sampai bertemu lagi sahabat-sahabatku”. Itulah ucapan terakhir Selena sebelum dia menancapkan pisau ke lehernya hingga dia tidak bisa menahan beban tubuhnya dan terjatuh ke tangga bersama kedua sahabatnya yang dia bunuh.
Aku benar-benar tak tahu harus apa setelah melihat kejadian itu. Aku bahkan melihat kejadian ketika keluarga Selena, Aiden dan Alisha menemukan mayat mereka. Mamanya Aiden menangis histeris setelah mengetahui inti tubuh sang putra dipotong dengan sadis.
Setelah itu. Aku tertidur di kasur. Kedua orangtuaku menatapku dengan cemas. Kata mamaku, aku pingsan saat berjalan bersama dengan papaku menuju kamar penginapan.
Aku segera bangun dan dengan panik aku menyuruh kedua orang tuaku untuk meninggalkan penginapan itu. Tetapi orang tuaku hanya diam dan menatapku dengan aneh. Aku menceritakan semua yang ku alami tadi tetapi mama dan papaku tidak mempercayaiku dan berpikir jika itu hanya mimpi belaka.
Jam sudah menunjukkan pukul 05:40 pagi. Hujan juga sudah berhenti dari beberapa jam yang lalu. Ban mobil papaku yang bocor juga sudah diganti atas bantuan teman papaku.
Suasana tiba-tiba menjadi dingin dan mencekam saat kami berjalan di koridor lantai 2 menuju lantai 1. Dari arah belakang aku melihat sosok yang mirip dengan korban pembunuhan sadis itu dengan wajah yang pucat dan menatapku dengan tajam dan hantu Selena tersenyum menyeramkan. Aku segera menarik tangan orang tuaku dan bukan hanya aku yang melihat mereka tetapi kedua orangtuaku juga melihatnya. Kami berlari dengan cepat hingga tiba di parkiran yang terdapat di penginapan itu. Sang resepsionis pun sudah tidak ada di tempatnya entah kemana.
Hantu Alisha, Aiden dan Selena masih mengejar kami dan berhenti tepat di ambang pintu utama penginapan itu.
Aku dan orangtuaku berlari lagi dan masuk ke dalam mobil. Papaku segera menancapkan pedal gas mobilnya dan meninggalkan penginapan itu dengan rasa ketakutan.
Akhir cerita. Penginapan Merah adalah bekas rumah Selena. Setelah kejadian itu, keluarga Selena menjual rumahnya dan pemilik terakhir merombak rumah tersebut kemudian dijadikan penginapan.
End