Nama ku Sari, di sini aku ingin menceritakan pengalaman ku ketika aku berada di rumah quarantine di saat terjadinya penyebaran virus Corona. Saat lagi marak-maraknya penyebaran virus Corona. Aku yang saat itu bekerja di sebuah pabrik roti, aku adalah seorang perantauan yang bekerja di luar kota dari tempat ku berasal.
Saat itu teman satu bagian produksi di nyatakan positif Corona dan mau tidak mau aku dan beberapa orang lain nya harus tinggal di rumah quarantine untuk memastikan kami tidak ikut terjangkiti virus tersebut dari tubuh kami. Awalnya rumah yang kami tempati tidak mencurigakan sama sekali. Rumah itu sama seperti rumah lain nya. Dan tidak begitu menyeramkan, dan aku juga bukan tipe orang penakut dengan hal-hal mistis seperti itu.
Di rumah berlantai dua itu terdapat lima kamar. 4 kamar di lantai atas dan 1 kamar di lantai bawah. Aku dan kedua teman ku menempati kamar yang paling besar dengan kamar mandi di dalam. Sedangkan kamar 3 kamar yang lebih kecil di isi dengan 2 orang setiap kamarnya. Begitu pula dengan satu kamar di bawah.
Awalnya tidak ada yang aneh dengan kamar yang aku tempati ini. Aku mengambil tempat tidur yang berada di dekat jendela sedangkan kedua teman ku menempati tempat tidur di dekat pintu masuk dan satunya lagi di sebelah tempat tidur ku.
Kami membereskan barang-barang yang kami bawa untuk tinggal di sini selama 2 Minggu. Dan salah satu kawan ku yang bernama Ririn menjerit ketika membuka pintu lemari milik nya. Aku dan Evi segera melihat apa penyebab Ririn terkejut dan menjerit. Dan betapa terkejutnya kami di dalam lemari itu terdapat segumpal rambut.
"Kau berlebihan sekali Rin. Ini hanyalah rambut" Evi kemudian mengambil rambut itu dengan selembar tisu dan kemudian membuang nya. Evi adalah jenis wanita yang sedikit pemberani. Sementara Ririn kebalikan nya.
"Aku tau itu rambut Vi. Tapi itu rambut siapa! Aku tidak ingin lemari yang ini Vi. Mau kah kau tukar dengan ku?" Mendengar ucapan Ririn, Evi hanya menanggapi nya dengan malas. "Terserah kau saja Rin".
Setelah kami membereskan seluruh barang bawaan kami aku dan Evi turun ke bawah untuk berkumpul dengan teman-teman yang lain sementara Ririn masih sibuk dengan barang-barang nya. Hari pun sudah sore karena kami tidak di boleh kan keluar dari rumah dan juga tidak ada kegiatan lain, jadi beberapa dari kami berkumpul di ruang tv.
"Kalian tau di mana kita sekarang?" Tanya Vanny memulai sebuah cerita.
Aku tau wanita 25 tahun itu pasti akan menceritakan hal-hal yang seram. dan ku lihat teman-teman yang lain memfokuskan diri pada Vanny.
"Katanya dulu di rumah ini pernah terjadi pembantaian. Seorang yang menjadi pembantu mereka, membunuh seluruh keluarga majikan nya dengan sadis. Dan setelah wanita itu membunuh dia di tangkap polisi dan kau tau apa yang di katakan nya kepada polisi. Bahwa dia di rasuki oleh makhluk halus yang begitu mengerikan. Para polisi tidak ada yang percaya pada nya hingga dia bunuh diri saat satu hari setelah dia masuk penjara. Dan kalian tau. Arwah keluarga yang tinggal di sini masih gentayangan setiap malam nya"
Ketika Vanny menceritakan hal itu tiba-tiba bulu kuduk ku berdiri. Seperti ada angin dingin yang berhembus di leher ku. Kemudian Vanny melanjutkan cerita nya.
"Dan kalian tau setiap orang yang akan menempati rumah ini, mereka akan di ganggu hingga mereka pergi angkat kaki dari rumah ini. Dan ada sepasang suami istri dan juga kedua anak nya pindah ke rumah ini. Mereka tidak percaya dengan hal-hal seperti itu. Dan kau tau apa yang terjadi. Mereka mati gantung diri di kamar besar yang sekarang di tempati Evi dan Sari.!"
Apa-apaan Vanny ini, untung saja Ririn tidak berada di sini, jika dia berada di sini sudah di pastikan wanita 22 tahun itu akan ketakutan setengah mati dan meminta pindah kamar. Dasar Vanny selalu semuanya di sangkut kan dengan hal mistis.
"Oh Vanny berhenti bercerita hal konyol seperti itu! Hantu itu cuma imajinasi orang-orang penakut saja!" Kini Evi menatap malas ke arah Vanny.
"Ah bercerita pada mu tidak seru Vi. Kau tidak bisa..."
"AAAAAAAA!!!!!!! PERGI!!!!!!" tiba-tiba suara teriakan Ririn terdengar begitu keras dari dalam kamar yang di maksud oleh Vanny. Hingga yang mendengar kan cerita Vanny sebagai terkejut aku dan Evi segera berlari ke lantai atas untuk melihat apa yang terjadi.
Aku membuka mata dan ku lihat Ririn sudah memegang sapu. "Apa yang terjadi?" Tanya Evi penasaran dengan Ririn yang saat ini sudah berdiri di atas tempat tidur single milik nya.
"Ada tikus besar yang lewat tadi.. menggelikan sekali..!"
"Astaga Rin bikin kaget aja kamu!" Evi menghela nafas mendengar alasan Ririn berteriak.
Dan aku menawarkan diri untuk mengecek kemana perginya tikus yang di maksud Ririn. Aku mengambil hp ku dan menyalakan senter nya. Kemudian aku menyenteri bawah tempat tidur Ririn dan tidak ada apa-apa. Kemudian aku menyenteri tempat tidur Evi. Di sini pun tidak ada apapun. Dan yang terakhir aku menyenteri bawah tempat tidur ku dan aku terkejut melihat gumpalan rambut lagi, aku segera menarik rambut tersebut, rambut ini begitu panjang hingga ada sesuatu yang membuat nya tidak dapat di tarik. Rambut siapa ini? Dan bagaimana bisa ada di bawah tempat tidur ku, kembali aku perhatikan lagi. Seperti kepala? Tidak mungkin.
"Woy Sar.. ada nggak tikus nya di bawah kok lama banget!" Aku terkejut mendengar ucapan Evi sehingga aku menoleh ke arah Evi. "Ada rambut Vi di bawah tempat tidur ku." Tanpa menunggu Evi segera melihat apa yang aku katakan. Begitu pula dengan aku. Dan aneh nya tidak ada apapun di bawah sana. Padahal tadi aku jelas melihat rambut dan sebuah kepala di ujung nya.
"Nggak ada apapun Sar.!" Evi menatap ku dengan tatapan tidak percaya.
Aku menghela nafas. Mungkin itu hanya ilusi ku saja karena mendengar kan cerita Vanny dan tubuh ku yang mungkin sedikit lelah.
Hari sudah malam setelah kami makan malam aku dan kedua teman ku terus masuk menuju kamar jam pun sudah menunjukkan pukul 10 malam. Kami masih sibuk dengan hp masing-masing. Suara lolongan anjing terdengar sahut menyahut begitu panjang.
Hingga saat ku lihat jam di hp ku sudah menunjukkan pukul 23.45. namun mata ku masih tetap segar. Ku lihat Ririn dan Evi sudah tertidur dengan pulas.
Samar-samar ku dengar langkah kaki di atas bumbung rumah ini. Tapi aku masih mengabaikan nya. Kemudian setelah langkah kaki. Aku mendengar suara air keran di kamar mandi yang berbunyi. Karena rasa penasaran aku berjalan menuju kamar mandi untuk melihat apa yang terjadi.
Ketika aku membuka kamar mandi aku tak melihat apapun dan siapapun. Namun keran air tidak di tutup. Aku masuk dan menutup keran tersebut. Mungkin Ririn atau Evi lupa untuk menutup keran itu.
Aku kembali ke tempat tidur ku. Kedua teman ku masih tidur dengan nyenyak. Aku melihat hp ku lagi dan ku lihat jam nya sudah menunjukkan pukul 12 malam.
Aku rasa aku harus tidur. Saat aku memejamkan mata aku mendengar suara tangisan. Seketika aku membuka mata ku. Dan ku lihat Ririn sedang duduk menundukkan kepala nya dengan tubuh yang bergetar.
Apa Ririn yang menangis? Padahal tadi dia tidur dengan nyenyak.
"Rin?" Panggil ku namun dia tetap menundukkan kepala nya. Aku bangkit dari tempat tidur ku. Dan aneh nya Evi masih tertidur tanpa rasa terganggu.
"Rin?" Aku berjalan mendekat ke arah Ririn. Dan suara tangisan itu berubah menjadi suara tawa.
Seketika Ririn mendongakkan kepala dan aku begitu terkejut melihat wajah mengerikan menatap ku sambil tertawa. Aku terkejut, dan aku bukan lah orang yang penakut.
"Siapa kau!" Tanya ku namun makhluk ini terus tertawa dengan wajah setengah hancur dan mulut yang begitu lebar serta rambut yang begitu panjang.
"Aku katakan pada mu jangan menggangguku!, kau mengganggu orang yang salah brengsek!" Aku marah dengan makhluk ini. Aku tanpa gentar terus melangkah ke arah makhluk ini. Dan ku lihat wajah nya yang jelek itu menatap ku ketakutan. Aku sudah terbiasa dengan makhluk-makhluk halus ini. Yang ku lihat ini tidak lah menyeramkan. Lebih menyeramkan penghuni kamar kos ku.
Saat aku berjalan mendekat makhluk ini malah terbang entah kemana dan ku lihat lagi Ririn ternyata masih tertidur pulas.
Aku kembali ke tempat tidur ku dan ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Makhluk ini menggangu ku selama 2 jam. Wah sungguh mengesalkan.
Namun selama 2 Minggu kami berada di rumah ini banyak dari teman ku yang ketakutan. Namun tidak dengan teman satu kamar ku.
Dan selama 2 Minggu pula makhluk itu mengganggu ku setiap pukul 12 hingga pukul 2 pagi. Dan hal itu membuat ku terbiasa dengan gangguan nya.