Setiap manusia pernah merasakan jatuh, tapi tak semua dapat menghadapinya dengan tangguh. Jatuh tak selalu menghantammu ke dasar. Justru jatuh cinta akan membawamu semakin kuat, tinggi, dan dapat belajar.
Itu adalah sepenggal kalimat yang pernah ku untaikan di masa remaja. Ketika aku masih percaya cinta akan membawa bahagia. Cinta akan membuatku digdaya, mengantarkanku pada nyaman paling istimewa. Sebelum akhirnya, kehilangan membimbingku pada hakekat cinta yang sesungguhnya.
Aku pernah menapaki manis cinta, saat aku dan seorang gadis saling mematrikan rasa. Ketika senyumku dan senyumnya menggelorakan gemuruh dalam dada. Saling bertatap muka, meski malu dan dengan sedikit lirikan mata. Hahaha. Hingga ku temukan dia dan hatinya dalam cinta yang sama.
Tatkala kuputuskan menyapu kunang di malam itu, mengajaknya ke Gazebo Rindu, ditemani petikan gitar nan syahdu, dan disitulah. Ku ungkapkan rasaku. Saat dua insan yang masih belum genap tujuhbelas. Saling bersua dan memuji paras.
Tiba – tiba mulutku bergumam, dan melontarkan rasa yang sedang meranggas. Detik itu juga, dia terhentak, terkejut mendapati aku nan penuh gugup menyatakan rasa. Lantas, rautnya tersipu. Bibir manisnya berkerut malu. Lentik matanya memaku. Tembam pipinya kemerah – merahan jambu.
"apa kau takut menolakku?,tidak usah takut, aku takkan marah”
“Siapa yang takut?, hanya saja aku ragu?”
“Mengapa ragu?, bukankah aku telah memberimu kepastian?”
“Apakah ragu melulu tentang kepastian?, hehehe”
“Itu adalah sepenggal kalimat yang pernah ku untaikan di masa remaja. Ketika aku masih percaya cinta akan membawa bahagia. Cinta akan membuatku digdaya, mengantarkanku pada nyaman paling istimewa. Sebelum akhirnya, kehilangan membimbingku pada hakekat cinta yang sesungguhnya.
Hingga aku lupa pada jati diriku. Aku yang dikenal tangguh menghadapi masalah, nyatanya kini diselimuti raut gelisah. Bukankah jarak itu hanya angka. Yang bisa kutambah, kurangi dan kubagi?.
Lantas, mengapa aku sibuk menghiperbolakan jarak yang seakan-akan membuatku mati. Aku begitu intens menafsirkan cinta, hingga ku lupa ada janji yang harus kujaga. Seberkian waktu sebelum perpisahan itu, dia pernah bilang padaku. Untuk tetap menjadi diriku. Tetaplah jadi aku yang tegar, karena ku punya banyak mimpi untuk dikejar.