Di sudut sebuah kota kecil yang tenang, berdirilah sebuah rumah tua dengan jendela-jendela besar yang menghadap ke jalan utama. Rumah itu, meski tampak lusuh dengan cat yang mulai mengelupas, selalu tampak hidup dengan kehangatan yang memancar dari dalamnya. Penghuninya adalah seorang wanita tua bernama Ny. Martha, seorang guru pensiunan yang dihormati oleh semua orang di kota itu.
Ny. Martha tinggal sendirian setelah suaminya meninggal beberapa tahun yang lalu. Anak-anak mereka telah lama merantau, mengejar karier dan kehidupan di kota-kota besar yang jauh. Meski demikian, Ny. Martha tidak pernah merasa kesepian. Ia menghabiskan hari-harinya dengan membaca buku, menulis surat untuk cucu-cucunya, dan yang paling penting, merawat kebun bunga di halaman belakang rumahnya.
Setiap pagi, Ny. Martha akan membuka jendela besar di ruang tamunya, membiarkan sinar matahari masuk dan menghangatkan ruangan. Di meja di dekat jendela itu, ia sering duduk, menulis atau sekadar menikmati secangkir teh hangat sambil melihat anak-anak bermain di luar.
Suatu pagi, ketika Ny. Martha sedang duduk di dekat jendela dengan secangkir teh di tangannya, ia melihat seorang anak laki-laki duduk di trotoar di seberang jalan. Anak itu, yang tampaknya berusia sekitar sepuluh tahun, tampak lusuh dengan pakaian yang sudah usang. Ny. Martha merasa iba melihat anak itu, yang tampak sendirian dan terlupakan.
Keesokan harinya, Ny. Martha melihat anak yang sama duduk di tempat yang sama. Kali ini, ia membawa sebuah buku tua yang tampak robek di beberapa bagian. Ny. Martha memperhatikan anak itu berusaha membaca buku tersebut dengan susah payah. Ia merasa ada sesuatu yang istimewa pada anak itu, sesuatu yang menarik perhatiannya.
Dengan hati-hati, Ny. Martha menyiapkan sebuah tas kecil berisi makanan ringan dan sebotol air. Ia keluar rumah dan berjalan menuju anak tersebut. "Halo, Nak," sapanya lembut. "Kamu suka membaca?"
Anak itu terkejut melihat Ny. Martha, tetapi ia mengangguk pelan. "Iya, Bu. Saya suka membaca, tapi buku ini sulit dibaca karena banyak yang rusak," jawabnya sambil menunjukkan buku tua di tangannya.
Ny. Martha tersenyum. "Namaku Martha. Kamu bisa memanggilku Ny. Martha. Kalau kamu mau, kamu bisa datang ke rumahku dan membaca buku-buku di perpustakaan kecilku. Aku punya banyak buku yang mungkin kamu suka."
Anak itu tampak ragu sejenak, tetapi akhirnya mengangguk. "Namaku Dani, Bu. Terima kasih banyak."
Sejak hari itu, Dani sering datang ke rumah Ny. Martha. Setiap sore, setelah sekolah, ia akan duduk di ruang tamu yang hangat itu, membaca buku-buku dari perpustakaan Ny. Martha. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, berbicara tentang berbagai hal. Ny. Martha mengajarkan banyak hal kepada Dani, dari sejarah hingga cara menulis cerita.
Kehadiran Dani membawa kebahagiaan baru dalam hidup Ny. Martha. Ia merasa seolah-olah memiliki cucu lagi di rumahnya. Dani pun merasa bahagia karena akhirnya ia menemukan seseorang yang peduli padanya. Meskipun hidupnya tidak mudah, dengan orang tua yang sering bertengkar dan kondisi ekonomi yang sulit, Dani merasa memiliki tempat pelarian yang aman dan penuh kasih.
Suatu hari, ketika mereka sedang duduk di ruang tamu, Dani bertanya, "Ny. Martha, apakah Ny. Martha pernah menulis cerita?"
Ny. Martha tersenyum dan mengangguk. "Ya, Dani. Aku pernah menulis banyak cerita. Beberapa di antaranya sudah lama tidak kubaca. Mengapa kamu bertanya?"
Dani tampak bersemangat. "Aku ingin sekali membaca cerita-cerita Ny. Martha. Aku suka membaca cerita dan mungkin suatu hari aku ingin menulis ceritaku sendiri."
Ny. Martha merasa tersentuh. Ia mengambil beberapa buku catatan tua dari rak dan menyerahkannya kepada Dani. "Ini adalah beberapa ceritaku. Kamu boleh membacanya. Dan jika kamu ingin menulis ceritamu sendiri, aku akan dengan senang hati membantumu."
Dani mulai membaca cerita-cerita Ny. Martha dengan antusias. Ia terpesona oleh cara Ny. Martha menulis dan bagaimana setiap kata yang dipilih memiliki makna yang dalam. Dari situ, Dani mulai belajar menulis ceritanya sendiri. Setiap sore, mereka akan duduk bersama, Dani menulis dan Ny. Martha memberikan bimbingan serta saran.
Minggu demi minggu berlalu, Dani semakin mahir dalam menulis. Ia bahkan berhasil menyelesaikan cerita pertamanya, sebuah kisah tentang seorang anak yang menemukan keberanian untuk mengejar mimpinya meskipun menghadapi banyak rintangan. Ny. Martha merasa bangga melihat perkembangan Dani.
Namun, kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Suatu hari, Dani tidak datang ke rumah Ny. Martha. Keesokan harinya pun demikian. Ny. Martha mulai merasa khawatir. Ia pergi ke tempat biasa Dani duduk di trotoar, tetapi tidak menemukannya di sana.
Beberapa hari kemudian, Ny. Martha mendengar kabar dari tetangga bahwa Dani dan keluarganya telah pindah ke kota lain. Ia merasa sedih karena tidak sempat mengucapkan selamat tinggal kepada Dani. Meskipun demikian, ia berdoa agar Dani baik-baik saja dan terus mengejar mimpinya.
Waktu berlalu, dan Ny. Martha tetap mengenang Dani sebagai bagian penting dalam hidupnya. Setiap kali ia melihat anak-anak bermain di luar, ia teringat pada Dani dan bagaimana anak itu membawa kebahagiaan dalam hidupnya.
Lima tahun kemudian, pada suatu sore yang cerah, Ny. Martha menerima sebuah surat yang tidak terduga. Surat itu berasal dari Dani. Ia merasa terharu saat membacanya.
"Ny. Martha yang terhormat,
Aku harap Ny. Martha dalam keadaan sehat dan bahagia. Aku ingin mengucapkan terima kasih atas semua yang telah Ny. Martha ajarkan kepadaku. Aku tidak akan pernah melupakan hari-hari indah yang kita habiskan bersama.
Saat ini, aku sudah bersekolah di SMA dan aku terus menulis. Cerita pertamaku yang Ny. Martha bantu selesaikan telah memenangkan penghargaan di sekolahku. Aku sangat bahagia dan bangga.
Aku berjanji akan terus menulis dan mengejar mimpiku. Terima kasih telah menjadi guru, teman, dan nenek bagiku. Ny. Martha adalah inspirasiku.
Salam hangat,
Dani"
Ny. Martha menitikkan air mata kebahagiaan. Ia merasa bersyukur karena pernah menjadi bagian dari hidup Dani dan dapat memberikan pengaruh positif padanya. Ia berdoa agar Dani selalu sukses dan bahagia.
Ny. Martha merasakan bahwa hidupnya kembali penuh dengan cahaya, sama seperti saat ia membuka jendela besar di rumahnya setiap pagi. Cahaya harapan dan kasih sayang yang ia bagikan dengan Dani kini kembali padanya dalam bentuk kebahagiaan yang abadi.
Dan begitulah, di sebuah rumah tua dengan jendela-jendela besar yang menghadap ke jalan utama, cerita tentang Ny. Martha dan Dani menjadi bagian dari kisah kota kecil itu. Kisah tentang kasih sayang, pengajaran, dan cahaya yang selalu menyinari, meskipun dari balik jendela.