Saat usiaku 17 tahun, aku mengagumi seorang pria, dia bernama imrann.
Setiap sore, dia akan datang bersama teman temannya bertemu dengan sepupuku
Untuk nongkrong, sesekali mereka minum alkohol bersama,
Aku tahu, dia selalu menatapku diam diam, Imran pernah mengirim salam padaku melalui sepupu Perempuanku. Dia juga mengatakan bahwa dia menyukaiku.
Saat itu, aku berpikir dia hanya bermain main,dan tidak serius dengan ucapannya itu.
Tapi lama kelamaan dia semakin menjadi,
Saat perjalan pulang, aku sedang membawa motor sepulang kerja, Imran mencegatku di tengah jalan, di jalan yang sepi dan di kelilingi pohon besar dan juga bambu.
Dia menarik tanganku mendekat ke arahnya. Dan mencium ku dengan kasar.
Tentu saja aku terkejut, aku menarik diri dan refleks menamparnya.
Kak Imran memegang pipinya yang aku tampar tadi.
Dia kembali mendekat ke arahku, sontak aku mundur seiring ia melangkah ke arah ku.
"Dek, aku menyukaimu, kenapa kamu tidak membalas perasaanku hah?"
Aku ketakutan melihat tatapannya itu, matanya memerah, samar samar aku merasakan alkohol tertinggal di lidahku.
"apa yang kakak lakukan?"
Kak Imran mendekat ke arahku dan memegang kedua bahuku, aku menepis tangannya dan berlari, Namun dia memelukku dari belakang.
"Dek, aku mencintaimu, balas perasaanku dek!"
"Kak, tolong lepaskan aku! Jangan seperti ini!"
Perlahan pelukan Imran mengendur, dan dia mebalikkan tubuhku, memegang ke dua wajahku dan kembali mencium ku.
Aku menangis ketakutan di sela sela ciuman kami. Dia menyeka bibirku dan berkata.
"Dek kita pacaran yah?"
Meski aku mengagumi nya , namun aku tidak suka caranya menyatakan perasaannya dan cintanya padaku.
Dan juga dia mengancamku yang membuat jantungku rasanya ingin melompat keluar.
"Kalau tidak, kakak perkosa kamu di sini, mau?"
Jangan tanya setakut apa aku saat ini. Sangat sangat ketakutan.
Hingga aku hanya mengangguk dan mengikuti keinginannya.
Setelah aku menerima cintanya yang terpaksa ini, dia mencium kepalaku.
"Kakak antar kamu pulang yah?"
Aku hanya mengangguk dengan tubuh bergetar sebagai jawaban.
Aku kembali menjalankan motorku dan dia ikut di belakang membawa motornya juga.
Imran adalah anak orang kaya, sedangkan aku hanyalah Gadis yang hidup sederhana.
Aku bertanya tanya, apa yang dia sukai dariku?
Cantik tidak, kaya juga tidak.
Setelah aku sampai di rumah, dia memutar balik motornya dan pulang entah kemana.
Aku masuk kedalam rumah. Dan di sambut oleh mamaku,
"Sudah pulang nak?"
"Iya mah"
"Ya sudah istirahat, pasti kamu capek"
Ucap mama mengelus kepalaku.
Setelah aku membersihkan diri dan menggosok gigi. Aku langsung ke kamar.
Aku merebahkan tubuhku dia kasur yang empuk sambil meraba raba telpon gengamku di atas meja belajarku saat masih sekolah.
Terihat panggilan dari nomor asing, dan itu adalah nomor Imran setelah aku membuka pesan darinya.
Aku menjawab panggilannya.
Dan terdengar suara di seberang sana.
"Sayang, kenapa lama menjawab teleponnya HM?"
Mendengar suaranya saja aku takut.
Apalagi sampai bertemu dengannya.
"Kak, aku sedang mandi tadi"
"Kenapa tidak ajak kakak HM?"
Aku terkejut mendengar perkataannya.
Menelan ludah kasar, dan kembali bertanya.
"Apa maksud kakak bilang begitu?"
"Bercanda sayang, kenapa dianggap serius?"
Kami berbicara di telepon hingga larut malam, dia tidak mengizinkan aku mengakhiri panggilan sebelum ia pus berbicara.
Waktu berlalu hingga hubungan ku dengannya sudah setahun.
Dan aku sudah menyimpan rasa dan membalas cintanya.
Namun beberapa hari terkahir dia tidak lagi menghubungi ku entah apa sebabnya.
Aku merasa ada yang kurang setelah tidak ada lagi kabar darinya,
Aku gelisah.
Menantikan kedatangannya di saat sore hari, dimana dia biasanya berkumpul dengan teman-teman nya.
Namaun sejak tadi aku menunggu tidak ada tanda tanda dia akan datang.
Hingga akhirnya aku memberanikan diri bertanya pada salah satu temannya.
Apa yang mereka katakan adalah, dia pergi keluar kota tanpa memberitahuku dan sepengetahuan ku.
Hatiku sakit sangat sakit.
Seperti ditusuk ribuan jarum.
Kenapa dia meninggalkan ku saat aku sudah mencintainya?
Kenapa dia pergi setelah aku mulai berharap padanya?
Kenapa ?
Kenapa?
Dia adalah cinta pertamaku namun dia juga yang juga yang memberiku luka.
Dia adalah lelaki yang membuatku jatuh cinta.
Namun dia juga yang menghancurkan hatiku tanpa sisa.
Aku mulai merindukannya, suaranya , wajahnya, semuanya tentang dirinya.
Kak, kamu sampai hati meninggalkan aku di sini.
Hinga waktu berlalu, bulan telah berganti tahun,
Sepulang kerja di toko baju,
Aku terkejut mendapati begitu banyaknya orang di dalam rumahku,
Tau apa yang terjadi?
Aku dilamar orang yang tidak ku kenal. Dan orang tuaku menerimanya begitu saja.
Dan kulihat pria yang akan menjadi calon suamiku tersenyum ke arahku.
Hatiku terenyuh, dia sangat mirip dengan pria yang kucintai. Dan orang yang ku rindukan selama ini.
Namun aku sadar dia bukanlah kekasih ku.
Aku ingin sekali memeluk nya namun aku. malu.
Hatiku kembali sakit.
Aku menengadah mencegah air mataku jatuh.
Ya aku akan menerimanya, dan menganggap dirinya itu kamu kak.
Setelah satu bulan berlalu, pernikahan ku tinggal menghitung hari.
Calon suamiku menelpon ku hampir setiap hari.
Seperti saat ini, dia bercerita banyak tentangnya. Kulihat wajah calon suamiku di layar yang sedang duduk dan tidak mengenakan baju.
Dan dia juga mengatakan bahwa adiknya baru saja datang dari luar kota.
Dia mengarahkan kamera pada wajah adiknya.
Dia ingin mengenalkan aku pada adiknya,
Deg
Tahu wajah siapa yang aku lihat?
Itu adalah wajah kekasihku yang sangat aku rindukan, kami saling menatap tanpa adanya suara.
Jadi mereka adalah saudara?
Batinku
Kulihat wajah kekasih ku memerah matanya pun sama.
Dia berpamitan pada kakaknya. Entah kemana.
"Sayang, kamu tahu? dia itu sangat cerewet, namun entah kenapa setelah melihatmu, dia terlihat malu, hahaha"
Aku tersenyum atas peryataannya.
Kami masih berbicara melalu panggilan video, namun aku melihat pesan yang baru saja masuk dari kekasih ku.
"Kak, sudah dulu yah, aku merasa mangantuk"
"Baiklah tidur yang nyenyak sayang"
(Ayo bertemu, aku di depan)
Isi pesan itu.
Aku tidak mengganti baju tidurku dan refleks meninggalkan kamar,
Aku sangat menantikan pertemuan ini, bukan maksud apa-apa, hanya ingin mendengar apa alasannya dia pergi meninggalkan ku.
Kulihat mobil putih yang beberapa bulan terparkir di rumahku saat acara lamaran itu.
Aku mendekat dan masuk kedalam mobil
Entah dari mana keberanian ku.
Mobil itu meninggalkan halaman rumahku.
Sebelumnya aku meminta izin pada mamaku ingin keluar, dan mama memberi izin. Mungkin dia pikir itu adalah calon menantunya hingga memeberi kami waktu bertemu.
Di dalam mobil, ku tatap wajah pria yang sangat aku rindukan. Air mataku jatuh begitu saja.
Lidah ku kelu tidak tahu ingin berkata apa.
Hingga mobil itu berhenti di tengah hutan dan kak Imran keluar dari mobil dan berdiri di depan sana memunggungi ku.
Aku turun dan menyusulnya. Berhenti tepat di belakang beberapa meter dari jaraknya.
Aku ingin sekali memeluk tubuh kekarnya itu , sangat ingin. Namun aku punya batasan sekarang. Aku calon istri orang.
Dia terdiam dan menatap langit malam dan bulan, Tangannya terkepal.
"Kak, kenapa membawaku kesini? di sini sepi dan dingin"
Namun dia malah bertanya balik.
"Apa kabar mu dek?"
Aku menggigit bibirku,
Suara kak Imran sangat lirih di telinga ku.
Apakah dia terluka?
"Aku baik kak, kak Imran sendiri bagaimana?"
Suaraku tercekat, aku menahan tangis.
Tolong kak peluk aku, untuk mengobati rasa rinduku.
Batinku menangis.
Kak Imran mendekat dan memeluk tubuh kecil ku,
Apakah dia mendengar suara hatiku?
"Dek, aku pergi keluar kota untuk bekerja, kamu tahu kenapa? Begitu aku pulang aku akan melamarmu dek, aku ingin menikahimu"
"Aku bekerja, meski tidak kekurangan uang"
"Aku ingin mendapatkan mu dengan cara dan usahaku dek, dengan hasil kerja kerasku, dengan uangku. Tanpa bantuan dan campur tangan keluarga ku"
"Aku ingin memberi kejutan orang yang kucintai ini"
"Namun begitu aku kembali, malah aku yang terkejut, hahaha"
"Dek, adakah sakit di atas ini?"
Kak Imran menjelaskan dengan tangis. Dia menagis sambil memelukku, ternyata bukan hanya aku yang sakit di sini, ternyata yang sakit tidak aku saja, melainkan di juga.
Kak Imran memegang ke dua wajahku, dan menciumku. Hingga rasanya ingin melahap habis bibirku. Dan berbisik
"Sayang, aku sangat merindukanmu"
Seakan teringat sesuatu aku melepaskan diri dan mundur menjauhi nya. Kutatap wajah tampannya.
Tatapan terlihat teduh dan rapuh. Hatiku terenyuh ketika menyaksikan ini.
Aku salut dengan perjuangan nya.
Sungguh mulia rencananya.
Namun itu tidak lah sesuai kenyataannya
"Kak Imran kamu pergi tanpa sepengetahuan ku, kamu meninggalkan ku tanpa kata, kamu salah kak, aku putus asa menunggumu"
"Tahu apa yang kupikirkan kak?
Kamu Sudah menemukan penggantiku jauh lebih baik dariku"
"Kak, aku calon kakak iparmu sekarang. Tolong hargai aku, jangan berlaku semena-mena"
Kak Imran semakin mendekat ke arahku. Membuatku takut.
"Persetan dengan kakak ipar"
"Kalau aku tidak bisa miliki kamu, orang lain pun tidak akan, termasuk Abang ku sekalipun"
Raungan kak Imran.
Tahu apa yang dia lakukan padaku malam itu?
Dia memaksakan kehendaknya padaku, di dalam mobil itu.
Bulan purnama menyaksikan semuanya.
Raungan kesakitan ku, rasa rinduku Isak tangis ku. Dia menyaksikan semuanya.
Kak Imran membawa ku pergi jauh dari desa itu keluar kota.
Dan mengatakan pada orang tuanya, membawa kabur calon istri abangnya,
Dan tanggapan orang tuanya adalah,
Nikahi dia nak.
Jangan bersama tanpa adanya status pernikahan.
Kak Imran menikahiku tanpa adanya siapa siapa. Tanpa keluarga atau kerabat sekalipun.
Setelah pernikahan, dia menggaggahiku setiap malam,,
Awalnya aku terpaksa
namun keenakan pada akhirnya.
Aku bersama orang yang sangat aku cintai.
Yang seharusnya menjadi adik ipar ku
malah menjadi suamiku.
Aku hamil anak kak Imran hasil hubungan kami.
Kami sangat bahagia dan menantikan kelahiran buah hati kami.
Kak Imran menghujaniku dengan cinta setiap saat.
Aku sangat mencintainya diapun begitu.
Tamat.