Lembaran-lembaran kertas folio dihadapannya masih tetap kosong. Belum ada sepatah kata yang tertulis diatasnya. Otaknya benar-benar buntu tak satupun ide yang terlintas. Untuk menjadi penulis terkenal tidak semudah membalikan telapak tangannya. Seperti yang dia bayangkan, apalagi dia hanyalah penulis pemula masih harus banyak-banyak belajar.
Terbesit sebuah ide di otaknya, kembali dia menuangkan di lembaran folio di hadapannya. Kata demi kata terangkai menjadi sebuah kalimat tersusun dan ujung-ujungnya dia remas-remas dan berakhir ke tempat sampah. Entah sudah berapa kertas yang melayang sia-sia masuk keranjang sampah si bawah meja tulisnya.
"Tok....tok....tok"
Terdengar ketukan pintu kamarnya, buyar sudah ide di kepalanya ambyar,pecah tanpa sisa.
"Huh...!" keluhnya kesal. Dia berdiri dengan mengepalkan kedua tangannya.
Di bukanya daun pintu kepalanya melongok keluar mengintip siapa yang berkunjung. Seorang pemuda yang dia kenal betul telah berdiri di depan pintu kamar kostnya, dengan posisi membelakangi pintu kamarnya. Cepat-cepat dia menarik kepalanya dan menutup pintu kembali.
"Tok....tok...tok"
Kembali terdengar ketukan pintu kedua kalinya.
"Iseng amat tuh cowok !" omelnya.
"Iya, tunggu sebentar ganti baju !" katanya sambil membungkam mulutnya menahan tawa.
"Memang enak gue kerjain, pagi-pagi susah nongol di pintu orang sih"
Dia bukanya membuka pintu, malah membereskan kamarnya yang berantakan, memunguti kertas-kertas yang berserakan dan di masukannya ke dalam keranjang sampah.
"Ras, lama amat sih !"kata pemuda yang ada si balik pintu kamarnya.
"Iya, tinggal dikit lagi" jawabnya memungut kertas terakhir.
Beres sudah, dia melangkah menuju pintu dadan membuka daun pintu. Pintu terbuka dan sebuah ketukan tangan tepat mengenai keningnya.
"Woi cari masalah aja lu !" katanya hendak melakukan perbuatan yang sama dengan pemuda itu.
Spontan pemuda itu mundur menghindar, mendongakkan kelapanya, tangan dia melayang di udara luput tidak mengenai sasaran.
"Eit, tidak kena !"katanya.
Dia mencoba lagi mengangkat tangannya hendak menjitak kepala pemuda itu, tapi tangan kekar milik pemuda itu mencekal pergelangan tangannya.
"Ngak sopan cewek, njitak kepala cowok itu"
"Habis lu yang mulai duluan, lepaskan tangan gue !" katanya pada pemuda itu.
Capek juga dia meladeni ulah pemuda itu. Setelah pergelangan tangannya di lepaskan dia menyerah kalah dengan memandangi pemuda di hadapannya. Dia tersenyum licik, nanti pasti dia akan membalas kelakuannya.
"Ngapain senyum-senyum ? Gue tahu pasti lu punya rencana sesuatu kan ?"tanya pemuda itu.
"Santai aja, gue ngak punya rencana apa-apa buat lu. Terus pagi-pagi udah nongol mau apa?"
"Ya mastiin elu lah, elu sakit atau gimana, tadi malam ngak datang ke kafe?"
"Elu gimana sih, gue kan enggak kerja sama lu. Gue mau ke kafe atau kagak, bukan urusan lu !" jawabnya tanpa merasa bersalah.
"Ya memang bukan urusan gue. Jangan geer dulu, siapa yang juga perduli sama lu kalau bukan bokap yang maksa gue, nggak bakalan gue pagi-pagi mau berurusan sama cewek macam lu !"
"Gue capek mau tidur !"kata pemuda itu nyelonong masuk kamar Rasti.
Pemuda itu berdecak kagum melihat tempat tidur tertata rapi. Seprai yang membungkus kasur masih licin tanpa kusut sedikitpun. Dan pemuda itu melotot, tanpa sengaja matanya menangkap keranjang sampah penuh dengan buntalan kertas.
"Hei....enak aja masuk kamar orang, kebiasaan ya !" kata Rasti geram.
"Ngomong apa barusan ?" tanyanya kemudian.
"Sorry salah ngomong ! Maksud gue bikinkan kopi atau apalah, nggak peka banget lu jadi cewek"
"Hallo Raka, emangnya lu siapa gue, nyuruh buatkan kopi segala !"
"Jangan ribut ya gue mau nulis !"
Pemuda yang bernama Raka itu berdiri di samping Rasti yang tengah duduk menghadapi kertas kosong di depannya.
"Elu masih katrok, masa nulis cerpen pakai tulisan tangan. Leptop lu itu di pakai apa ?"
"Ya nulis cerpen lah kalau sudah jadi !" Raka tersenyum mendengar penuturan Rasti.
"Semalam lu ngak tidur, cari ide untuk naskah lu !"
"Udah tahu pakai nanya !"
"Dari mana sih lu tahu semuannya ?"tanya Rasti menatap Raka yang berdiri di sampingnya.
"Rasti-Rasti lu itu mudah di tebak ! Tempat tidur lu aja masih licin. Dan lihat keranjang sampah lu penuh sampah"
Mendengar penuturan dari Raka, dia masih tertawa renyah.
"Hei...sempet-sempetnya ketawa lu !"katanya dengan meletakakn telunjuknya ke kening Rasti dan mendorongnya.
"Ish...sakit tau !" kata Rasti.
Pemuda itu tersenyum puas. Seberat apapun masalah yang tengah dia hadapi, bila berhadapan dengan Rasti mampu melupakan beban yang menghimpitnya.
"Ka !"
"Hemm!"
"Elu tahu gue punya cita-cita jadi penulis terkenal seperti chairil Anwar dengan puisinya, atau seperti Djoko Damono !"
"Jangan kepedeen, ngak mungkinlah lu seperti mereka !"kata Raka menjatuhkan mental Rasti.
"Jangan jatuhkan mental gue dong, kasih seport gitu !"
Melihat wajah Rasti yang berubah muram, timbul rasa kasihan juga di hatinya.
"Jangan bersedih, suatu saat lu bisa juga seperti mereka kok !"
"Kenapa nada bicaramu sedih Ka ?" tanya Rasti merasakan perubahan pada diri Raka.
"Ini terakhir kita bertemu Ris !"
Di tatapnya wajah pemuda yang masih berdiri di sampingnya. Mendadak kesedihan meliputi mereka berdua.
"Memangnya lu mau kemana ?"
"Di suruh bokap ngurus kafe yang di Bandung !"
"Alasannya apa ?"
"Karena gue nolak di jodohkan pilihan bokap !"
"Kenapa lu tolak, gue perhatikan ya selama ini lu jumblo !"
"Karena itu Ras, bokap jodohin gue dengan anak temannya !"
"Bagi gue ya Ras, pernikahan untuk seumur hidup. Bagaimana gue harus jalani kalau sebelumnya ngak saling kenal, tidak saling mencintai"
"Iya juga ya ! Tapi cinta itu bisa tumbuh dengan seiringnya waktu kebersamaan lu dengannya nanti lo Ka"
"Ngomong-ngomong lu sudah dipertemukan dengan calon bini lu ?" tanya Rasti.
Pemuda di hadapannya itu hanya menggeleng.
"Aneh !" gumam Rasti.
Lama mereka saling diam. Raka hanya berdiri mematung di samping Rasti. Sementara Rasti menekuni kertas kosong di hadapannya.
"Hem....!"
Mereka berdua akan mulai bicara. Raka tersenyum memberi kesempatan Rasti bicara.
"Aku akan buatkan kopi untukmu !"
"Di tunggu sebentar, aku ke dapur !"kata Rasti.
Sepeninggal Rasti yang pergi ke dapur umum yang letaknya di bagunan paling pojok, Raka termenung dalam kesendirian. Rasa kantuk menyerangnya, dia pergi ke kamar mandi membasuh mukanya serta mengguyur Kepalanya dengan air. Di raihnya handuk milik Rasti dan dia keluar kamar mengeringkan kepalanya di depan kamar Rista. Tanpa dia sadari seseorang merekam di ponselnya dan orang itu keburu pergi sebelum Rasti datang membawa secangkir kopi.
"Ngapain elu basah-basah kayak gitu ?"
"Ngilangin kantuk, elu sih telat bikinkan kopi !"
"Eh...kita ngobrol di sini aja ya"
Berdua mereka duduk di depan kamar Rasti yang tersedia dua kursi dan sebuah meja. Rasti meletakkan kopinya di atas meja.
Raka menyerahkan handuk yang di pakai mengeringkan rambutnya ke pemiliknya.
"Sorry, pakainya tanpa permisi, thanks ya !"
Rasti meletakkan handuk di atas pangkuannya.
Raka menyeruput kopi bikinan Rasti dan menghabiskannya. Baru kali ini dia merasa istimewa di hadapan Rasti, untuk pertama kalinya Rasti menuruti kemauannya.
Ai....tanpa sengaja Raka menangkap basah Rasti mengelap sudut matanya dengan punggung tangannya. Raka diam tanpa kata-kata, bersedihkan dia dengan kepergiannya. Selama ini Raka memang dekat dengan dia sebatas teman biasa. Gadis itu selalu meladeni kekonyolannya dengan kebawelannya, dan ini haru terakhir bersamanya. Dan Raka merasa bahagia di dekatnya.
"Kok diam, lu sedih ya ?"
"Apaan sih Ka, lu aja yang sedih !"kata Rasti.
"Ya gue sedih, dalam 1 minggu ke depan, gue di kenalin sama calon tunangan gue !"
"Kenapa ya Ras ?"
"Apanya ?"
"Saat ini gue merasa tambah bersedih di dekat lu.Lu sendiri merasakannya ngak ?"
"Enggak biasa aja !"
Sorry Raka, gue bohong ke lu, gue sedih banget bahkan ingin menangis, tapi gue ngak ingin menambah beban lu. Apalagi 1 minggu kedepan jarak kita berjauhan dan kita tidak bisa mengulang kekonyolan kita kembali, lu akan menjadi milik orang lain
Berdua mereka terdiam.
"Ras, bokap gue nyuruh gue cepat pulang, katanya ada hal yang penting !"kata Raka tiba-tiba, setelah melihat pesan di ponselnya.
"Gue balik dulu ya !"katanya dengan menyentuh pundak Rasti.
"Hati-hati di sana ya !"kata Rasti memegang tangan Raka yang berada di pundaknya.
Perasaan sedih menguasai mereka.
****
"Maksud kamu itu sebenarnya apa sih Ka ?"tanya bokap Raka.
"Pertanyaan papa itu mengarah kemana sih ?"
"Ya hubungan kamu sama Rasti !"
"Berkali-kali Raka jelaskan, kalau Raka sama Rasti itu sekedar teman, tidak lebih !"
"Maunya papa gimana sih, jelas-jelas papa sudah jodohkan Raka dengan gadis teman anak papa. Sekarang malah nanya hubungan Raka dengan Rasti !"
"Terus apa yang kamu lakukan di tempat kost Rasti barusan ?"
"Raka tidak melakukan apa-apa!"
Bokap Raka membuka ponselnya dan menunjukkan sesuatu kepadanya.
"Ini jelaskan, kenapa kamu sampai mandi bash di tempat Rasti !"
"Ini....ini salah paham pa ! Dari mana papa mendapatkan vidio ini ?"
"Salah paham gimana, ini nyata lho !"
"Iya itu memang Raka, Raka cuma basahi rambut sama cuci muka ngilangin rasa kantuk, tidak lebih dan itu. Apa perlu Rasti, Raka jemput sekarang ?"
"Tidak usah, sekarang kamu bereskan barangmu dan pergi ke Bandung !"
"Bukannya besok pa ?"
"Sekarang !"
Keputusan bokap Raka tidak bisa di ganggu gugat. Hari ini juga Raka harus pergi ke Bandung.
Raka menghabiskan waktunya di Bandung hanya untuk mengurusi kafe waktu demi waktu dia habiskan dalam kesendirian, hidupnya terasa sepi dan hampa, tidak ada keceriaan sedikitpun di hatinya.
Biarpun dia memiliki karyawan gadis Bandung yang cantik tidak satupun dari mereka yang semenarik Rasti. Rupanya selama ini dia belum menyadari di balik keakraban mereka ada jalinan dua hati saling bertautan. Dia sendirikah yang merasakan, bagaimana dengan Rasti ?
Berkali-kali dia menghubungi ponsel Rasti tidak aktif. Sesibuk itukah Rasti selama tidak ada dirinya. Atau dia sengaja menghindar darinya karena pada akhirnya dia akan mempunyai ikatan dengan gadis itu. Memikirkan kemungkinan itu membuat kepalanya pusing.
Pertunangannya tinggal dua hari lagi, tekadnya sudah bulat dia akan menolak perjodohan yang di rencanakan bokapnya.
Di kemasi semua barang-barangnya dan kepengurusan kafe kembali di serahkan ke pengurus yang lama. Kepulangannya untuk menyelesaikan cintanya yang tertunda, tujuan pertama adalah tempat kost Rasti.
Pintu kamar kost Rasti tertutup rapat. Pemilik kost menghampiri dan mengatakan hari ini Rasti pulang ke rumah pamannya. Raka menanyakan alamat rumah paman Rasti dan pemilik kost tidak mengetahuinya. Sama halnya dengan dirinya yang tidak tahu menahu keberadaan paman Rasti. Akhirnya dia pulang ke rumah bokapnya dengan tampang lesu.
"Lho kamu kok sudah pulang ?"tanya bokapnya heran.
"Bukannya acara tunangannya tinggal dua hari lagi, jangan-jangan kamu sudah kebelet ketemu calon istrimu ya ?"
"Pa....Raka tekankan sekali lagi ya, Raka menolak perjodohannya !"
"Kamu ngomong apa, kamu mau bikin papa malu sama kolega papa ! Kamu tidak boleh semudah itu ngomong nolak, harus ketemu dulu sama calon istrimu, baru bisa nolak secara baik-baik !"
"Gara-gara papa, sekarang Raka kehilangan Rasti !"
"Lho kok papa yang di salahin ?"
"Kalau kamu merasa kehilangan telpon dia dong !"
"Itu masalahnya telponnya tidak aktif pa !"
"Raka kamu itu laki-laki, kalau kamu merasa kehilangan perjuangkan dong, jangan menyerah !"nasehat papanya.
Apa yang dikatakan bokapnya memang benar. Raka segera menghubungi teman-teman terdekat Rasti tak satu pun dari meraka yang tahu alamat Rasti selain alamat kostnya. Sekali lagi di cobanya menghubungi ponsel Rasti tetap tidak ada nada sambung.
Hari di tunggu pun tiba, keluarga Aryo Syarifudin bokap Raka sudah bersiap-siap datang ke rumah calon mempelai. Keluarga calon mempelai putri juga menyambut kedatangan keluarga Pak Aryo dengan segala keramah tamahannya.
Raka merasa tersiksa, acara ramah tamah seakan di buat sedemikian lama. Raka berdiri dan agak menjauh berjalan mondar-mandir mengatasi kejenuhannya.
"Calon mantu sudah tidak sabar ya ingin bertemu calon tunangannya !" tanya Pak Surya orang tua si gadis mendekatinya.
Mendapat pertanyaan yang bertolak belakang dengan suasana hatinya membuat Raka semakin geram. Untuk mencegah sesuatu yang tidak dininginkan segera Pak Aryo mendekati anaknya.
"Iya Pak Surya sepertinya Raka sudah tidak sabar !"Pak Aryo menepuk-nepuk pundak anaknya menenangkan perasaan Raka.
"Pa....!"
"Seet...!" kata Pak Aryo membuat Raka tutup mulut.
"Kalau begitu bapak bawa calon tunanganmu kemari !"kata Pak Surya.
Raak tersenyum di samping bokapnya yang juga tersenyum bahagia. Beda dengan sneyum Raka yang sebantar lagi akan mengakhiri masalahnya.
Pak Surya kembali menemui tamunya dengan menggandeng calon mempelai putri. Raka bungkam tak berkutik menatap gadis yang berada di sebelah Pak Surya. Begitu pula dengan ekspresi gadis itu. Berdua mereka sama-sama terpana, tidak percaya dengan penglihatannya.
"Rasti !"seru Raka tertahan.
"Pa dia calon tunangan Raka !"katanya berbisik ke telinga bokapnya.
"Kalau dia saat ini juga Raka siap pa, untuk di nikahkan !"
"Lho, siapa yang ngotot mau nolak perjodohan ini ?"
"Kalau jodohnya Rasti, Raka ngak nolak pa, ini malah istimewa, saat ini juga Raka siap jika di nikahkan !"
"Ya harus ngurus surat-suratnya dulu to nak Raka !"kata Pak Surya. Raka tersenyum malu-malu.
Pak Aryo menatap ke arah Rasti yang malu-malu.
"Bagaimana nak Rasti mau menerima perjodohan ini ?"
Rasti diam tersipu mamainkan ujung kain kebayanya.
"Kalau diam itu tandanya tidak menolak !"kata Pak Surya.
"Ah, Pak dhe Rasti malu !"jawabnya malu-malu.
"Bapak mertua sebelum tukar cincin boleh bicara sama Rasti sebentar ?"
"Iya, boleh-boleh !"
Tanpa merasa sungkan Raka menggandeng tangan Rasti menjauhi para tamu.
"Kok bisa lu blokir nomer gue ?"
"Ta untuk apa, gue kiralu ngak butuh gue lagi, kan lu bakal tunangan, nikah !"
"Ras lu tahu ngak, setelah kita berpisah beberapa hari yang lalu, gue baru sadar kalau elu itu sumber kebahagiaan gue. Gue mencintaimu Ras !"
"Bagaimana dengan mu Ras ?"
"Sama gue juga merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidup gue. Gue juga cinta sama lu ka !"
Mereka berdua saling menatap. Mencari kebenaran dari ucapannya lewat sorot mata mereka. Raka meraih tubuh Rasti dan membawa dalam pelukannya.
"Stop.....stop kalian ini apa-apaan !"terdengar suara heboh Pak Aryo menghampiri mereka.
Buru-buru Raka melepas pelukannya. Rasti kian tersipu dikelilingi orang-orang yang menyanyanginya.
"Kalian menikah dulu, baru bebas berbuat sesuka kalian !" kata Pak Surya.
"Jadi di lanjutkan acara tunangannya !"kata Pak Aryo.
"Iya dong pa, siapa yang nolak jodoh pikihan istimewa papa !"
"Pa, Raka kan ngak punya cincin tunangan !"kata Raka pelan ke telinga bokapnya.
"Papa sudah siapkan semuanya !"Kata Pak Aryo merogoh saku jasnya dan mengulurkan Kotak perhiasan ke tangan anaknya.
"Terima kasih pa, papa is the best !"
"Simpan dulu pujianmu, cepat sematkan cincinya !"
Raka membuka kotak perhiasan, sepasang cincin ada di sana.
"Maukah Rasti, bertunangan dan menikah denganku !"kata Raka formal.
Rasti mengangguk mengembangkan senyuman. "Iya aku mau !"
Raka menyematkan cincin di jari manis Rasti dan sebaliknya Rasti memasang cincin di jari manis Raka. Mereka resmi bertunangan dan sebentar lagi mereka akan menuju ke pernikahan. Raka meletakkan telunjuknya di kening Rasti dan menarik telunjuknya kembali. Sebagai ganti sebuah kecupan mendarat di keningnya. Rasti tersipu. Keduanya merasa bahagia.