"Apakah perutmu mulai terasa melilit?" Suara seorang gadis memecah lamunan panjangku.
Angin gemulai berembus kala tatapku melirik hadirnya yang berdiri sedikit menunduk di depanku. Rambut ikal sebahu miliknya menari-nari anggun sebab ajakan sang angin. Bersanding senyum merekah berhias lesung pipi. Matanya nampak jernih. Aura yang sangat positif. Namun, aku tak mengerti apa maksud dan tujuannya.
"Kamu lapar?" Tanyanya dengan pertanyaan berbeda.
"Untuk apa kamu menanyakan itu?" Ucap pertamaku dengan kembali bertanya.
Sekali lagi angin berembus lebih kencang. Kini membuat rambut ikal itu menutupi mata kanannya. Dengan segera ia rapikan untuk berbicara denganku dengan kedua matanya. Angin memang tak pernah luput berhari-hari belakangan ini. Kali ini termasuk angin anggun jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya.
"Warung seberang sana milik ibuku," ucapnya sembari menunjuk sebuah warung di seberang jalan taman, tanpa menjawab pertanyaanku.
"Tidak, kamu bisa promosi ke orang lain saja. Di taman ini bukan hanya aku," ujarku menerka maksud dari gadis itu dengan menunjuk warung ibunya.
"Ah, tidak. Bukan begitu. Kamu belum makan dari pagi, bukan?"
"Bukan berarti aku harus mau menerima promosi jualan ibumu," ketusku.
Gadis itu menepuk dahinya, "Ayolah, aku bukan ingin memaksamu membeli makanan di warung ibuku. Aku hanya ingin mengajakmu makan di sana. Gratis," terangnya setelah dari tadi abu-abu.
"Lihatlah di trotoar sebelah sana ada banyak pengemis. Apakah raut wajah tanpa gairah hidup dariku ini membuatku terlihat seperti pengemis?" Ketusku lagi dengan penuh rasa jengkel.
"Kamu sudah melamun di bangku taman ini sejak tadi pagi. Aku berpikir kamu belum sarapan. Apa lagi sekarang sudah siang. Artinya kamu juga belum makan siang."
"Kalau itu benar, apa urusanmu?"
"Tidak ada. Apa pun yang kamu alami aku tidak akan merasakan telepati karena dari awal kita memang belum pernah saling mengenal. Tapi, seberat apa pun masalah yang sedang kamu hadapi, jangan tambah masalahmu sendiri dengan rasa sakit. Jika pikiran yang lelah, cukup itu saja. Jangan buat kesehatan juga lelah."
Nasihat terlontar begitu saja tanpa tema apa pun. Hei, kami tidak saling mengenal. Aku hanya duduk menyendiri tanpa mengharapkan hal semacam ini. Tapi kenapa seolah dia adalah seorang keluarga atau teman.
"Pergilah. Aku tidak butuh telinga untuk mendengar setiap lika-liku yang aku alami."
"Benarkah? Lantas, kenapa kamu mengisyaratkan bahwa kamu memang sedang mengalami lika-liku kehidupan? Artinya, masalah itu bukan ingin kau tutupi secara rapat-rapat."
Aku terdiam sejenak. Sekilas melihat wajahnya yang tak kunjung berpaling. Sial, apa-apaan gadis ini. Apakah dia tidak mengerti jika menatap lelaki seperti itu bisa membuatnya grogi atau salah tingkah. Namun, dia justru bersikeras menungguku luluh seperti seorang sahabat dekat.
"Menyingkirlah! Tidakkah kamu berpikir bahwa aku bisa saja mendorongmu kapan saja?"
"Tak apa. Kurasa kamu tidak akan melakukan itu."
"Jangan meremehkanku gadis jelek."
"Jika aku cantik apakah kamu akan mendengarku?"
Aku diam. Tak memenjawab. Tentu saja. Karena dia tidaklah jelek. Justru sebaliknya.
"Kamu tidak ingin menjadi dokter?" Terka gadis itu dengan membuang wajahnya ke arah jalan raya.
Wajah datar berusaha aku tahan untuk menutup ekspresi terkejut. Bagaimana dia bisa tahu?
"Dari dulu aku sudah bercita-cita ingin menjadi seorang dokter. Sejak kecil, aku selalu belajar sekuat tenaga. Bahkan aku tak pernah luput dari rangking satu. Walau pun dari awal orang tuaku tidak setuju dengan cita-cita yang aku perjuangan. Ah, tidak. Bukan karena tidak menyukai, tapi kami hanyalah keluarga kecil dengan ekonomi kecil pula. Dua tahun lalu mimpiku kandas. Perjuanganku pupus. Cita-cita yang aku damba sejak kecil harus terbang selamanya. Tanpa bisa kuraih. Ya, semuanya hanya karena ketidakmampuan keluargaku. Bahkan dengan nilai sempurna itu tak mampu membantu. Tentu saja ditenggelamkan kaum atas. Kaum elit. Kaum berlimpah materi. Gagal menjadi seorang dokter tidak membuatku turun setingkat menjadi seorang perawat atau bidan. Tidak sebaik itu. Kini aku hanya penjawa warung kecil. Tidak ada cita-cita yang tersisa bagi kaum kecil. Padahal guruku selalu meyakinkanku bahwa tak ada yang mustahil selama kita berusaha semaksimal mungkin. Tak peduli kita terlahir anak petani, buruh atau pemulung sekali pun. Selagi berusaha pasti akan dapat juga. Tapi apa? Motivasi tanpa ragu itu tidak membuahkan keajaiban. Lenyap. Tak ada lagi yang tersisa bahkan pemerintah pun tak melirik sedikit pun pada rakyat kecil berprestasi," tuturnya panjang lebar menyampaikan pengalaman pahit.
Akhirnya aku tak memalingkan wajah lagi. Tetap menatap wajahnya yang menyimpan sendu. Tentu saja tertopengi senyuman. Namun, mata tak dapat berbohong.
"Kenapa kamu bisa senyum setulus itu setelah semua takdir kejam itu menerjangmu?" Tanyaku mulai luluh karena ucapan panjang lebarnya.
Ia kembali tersenyum seraya menyerahkan tangan kanannya untuk berjabat denganku. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menerima jabatan tangannya.
"Humaira," ucapnya.
"Saros," balasku singkat.
"Baik, Saros. Sekarang kita sudah saling mengenal. Apakah kamu masih mau mengusirku?"
Sejenak aku melirik kiri dan kanan, lalu menggeleng.
"Terima kasih. Akhirnya kamu luluh juga."
"Kamu tidak jelek," ungkapku kaku.
"Hah?"
"Kamu tidak jelek, Humaira. Bagaimana mungkin seorang gadis dengan mata jernih, hidung kecil dan bibir mungil sepertimu jelek," ungkapku semakin kaku tanpa melihat ke arahnya.
"Aduh, ternyata kamu pandai merayu juga."
"Tidak. Aku hanya merasa bersalah sudah bertutur buruk padamu. Maafkan aku, Humaira."
Humaira menepuk bahuku seraya mendekatkan mulutnya ke telingaku untuk berbisik, "Kamu tidak akan kumaafkan!"
"Eh? Lalu apa yang harus aku lakukan?"
Ia sedikit mundur untuk menjawab dengan tanpa berbisik lagi, "Kecuali kamu mau makan di warung ibuku."
"Tapi, apa tidak apa-apa?"
"Tentu saja, tidak. Kamu tidak boleh berlarut dalam kepasrahan seperti tadi. Semua pasti dapat dilalui. Semangat!"
Bukan hidupku yang sengsara. Namun pilihanku yang terlalu sempit. Ada banyak cita-cita di depan sana. Namun, ayahku menginginkan yang terbaik. Setelah perdebatan panjang tentang perbedaan keinginanku dan ayah. Sekarang aku menemukan alasan untuk bersyukur dan berjuang.
"Humaira," panggilku lirih.
"Iya?"
"Aku akan menjadi dokter. Memang bukan cita-cita yang aku inginkan. Namun, anggap saja jika sudah lulus nantinya, berarti aku sudah mewujudkan cita-citamu."
Humaira mengernyitkan dari. Setelah itu ia berkaca-kaca.
"Apakah kau anakku?" Ujar Humaira sambil cekikikan di sela matanya yang berkaca-kaca.
"Mana mungkin. Usia kita saja hanya terpaut sedikit."
"Tidak. Maksudku, bukankah anak adalah seseorang yang akan mewujudkan cita-cita ibunya yang tidak tercapai!?"
Ungkapan Humaira membuat tergelitik hingga tertawa lepas untuk pertama kalinya sejak kami berbicara.
"Kalau begitu aku akan memanggilmu Mama Huma," ujarku dengan semringah.
"Baiklah, Nak Saros. Mama akan mendukungmu sampai cita-citamu terwujud. Berjuanglah demi Mama ya, Nak!" Ucap Humaira melanjutkan drama ibu dan anak yang aku mulai.
Kami tertawa.
Jika dia bisa sangat bahagia setelah kepahitan yang dihadapi, maka aku juga harus berjuang dengan segala kenikmatan yang aku miliki. Yakni orang tua yang lengkap, materi berkecukupan, pendidikan tinggi serta orang asing pembangkit motivasi yang sedang tertawa bersamaku ini.
"Humaira, jangan menyerah dengan keajaiban. Perjuangan sekuat tenaga tak pernah menutup keajaiban. Beberapa saat setelah ini, semua impianmu akan terwujud. Janji Tuhan tak pernah ingkar. Kamu hanya perlu menunggu lebih sabar lagi," ucapku kini berbalik menyemangatinya.
Humaira tersenyum, lalu mencubit pipiku. Dia keibuan sekali. Apakah dia benar-benar memperlakukanku sebagai anaknya? Padahal usia kami paling hanya terpaut dua atau tiga tahun saja. Atau, andai sikapku lebih dewasa ia akan terlihat seperti seorang kekasihku. Aduh.
"Bernapas sampai detik ini adalah salah satu keajaiban yang tak pernah hengkang. Artinya, setiap hari adalah keajaiban."