Patah hati yang parah telah dialami seorang pria bernama Adietya. Laki-laki itu memang ganteng hanya saja tidak ada perempuan yang mau mencintai dirinya dengan tulus.
"Wanita mana yang mau pria miskin seperti ku, seekor burung pun sudah memiliki pasangan. Tinggal aku sendirian dan sebatang kara di dunia ini," keluh Adietya sambil melempar batu ke sungai.
Plug.
Batu itu mengenai air sungai sampai airnya beriak-riak membentuk gelombang-gelombang yang kecil. Adietya terus melempar batu ke air sambil terus bersungut-sungut. Tiba-tiba saja gelombang air semakin naik dan terus naik hingga membuat pria itu tersadar ada yang aneh dengan riakan airnya.
Adietya bangun beranjak dari duduknya.
Mundur sedikit dengan wajah cemas.
Apa yang terjadi?
Air bergelombang naik dan menghempaskan dengan kuat ke tubuhnya. Sesuatu yang besar muncul di atas air yang beriak itu, mahkluk itu duduk di satu bongkahan batu sungai. Sesuatu bersirip dan berekor yang menyerupai ikan dan manusia. Setengah tubuh ke atas adalah tubuh manusia, sedangkan setengahnya lagi adalah seekor ikan. Badannya penuh sisik putih berkilau dan sepasang lengan yang ditumbuhi sisik-sisik kebiruan bercahaya terpapar sinar matahari sore hari. Wajahnya juga ditumbuhi sisik-sisik halus putih, jemari tangannya berselaput, ada sirip kecil di bagian telinganya. Matanya menatap tajam, kemudian ia menyeringai. Tampak sepasang gigi taring mencuat dari sudut bibirnya.
"Ma-makhluk apa itu?" gugup Adietya ketakutan. ia hendak melarikan diri, tetapi kakinya tidak bisa bergerak sama sekali, dan tubuhnya menjadi mati lemas tak bertenaga.
"Ada apa dengan tubuhku kok gak bisa gerak?" batinnya. Adietya juga tidak dapat berbicara. Ia hanya terus bergumam di dalam hatinya.
"Tolong! Tolong!" teriaknya panik. Namun Adietya sama sekali tidak bisa bersuara. Meskipun ia sudah berusaha. Dia berkeringat ketakutan sekali.
Mahkluk itu tersenyum sinis padanya Kemudian ia mengangkat tubuhnya, tangan kanan menunjuk ke wajah Adietya dengan seringainya yang licik. Selarik sinar putih keluar dari jari telunjuk berselaput itu.
Crassshhh!!
Adietya tidak dapat menghindari serangan yang tiba-tiba dari makhluk bersisik itu.
"Aaaaghhhhh!"
Seketika tubuhnya terjatuh ke sungai.
Mahkluk itu ikut menceburkan diri ke sungai mengikuti Adietya.
....
Malam harinya ketika sang rembulan muncul malu-malu menggantikan matahari yang sudah kembali ke peraduan. Nampak sesosok pria dan sosok nenek-nenek yang termangu sambil menatap lurus ke wajah Adietya.
"Anak muda yang sungguh tampan!" puji nenek-nenek itu.
Adietya yang tenggelam di sungai ini ditemukan oleh seorang perempuan tua, lalu perempuan itu membawanya ke rumahnya. Di dalam gubuk reyot yang sudah miring itu, Adietya dibaringkan di atas dipan kayu.
"Ugh, berat juga tubuhmu, Nak..." gumam sang nenek. Kemudian setelah berkata, nenek itu segera membuat ramuan khusus untuk menyembuhkan Adietya. Wanita tua itu menaruh ramuannya di dalam mangkuk kayu kemudian memapah Adietya, dan memaksanya minum.
Glup glup! Adietya terkejut langsung menyemburkan ramuan dalam mangkuk itu begitu lidahnya merasakan pahit yang luar biasa, ke muka si nenek.
"Argh pahit sekali minuman apaan sih ini?" keluhnya terheran-heran.
Wajah nenek tua merah padam, dia tersinggung. Ramuannya malah terbuang sia-sia.
"Beraninya kamu buang ramuan berharga ku!" bentak nenek sambil terbatuk-batuk.
"Di mana aku dan siapa kamu?" tanya Adietya pada si nenek tanpa peduli dengan Omelannya.
Nenek itu terkekeh...
"Anak muda yang ganteng, kamu ku temukan tenggelam di sungai sekarang ada di rumah ku, kamu sudah membuang ramuan berharga ku, ini pemborosan!" keluh nenek itu marah-marah sambil memungut gelasnya di lantai kayu.
Adietya meminta maaf. Lalu ia bangun tetapi kakinya yang mendadak lumpuh itu belum pulih seluruhnya, ia kembali terjatuh.
"Hati-hati anak muda!" Nenek kembali memapah Adietya lalu membaringkan kembali ke dipan kayunya. Adietya merasa seluruh tubuhnya tidak bertenaga. Dia sangat lemas.
"Nek, apa yang terjadi padaku kenapa aku merasa sangat lelah?" tanya Adietya bingung.
"Kamu terkena sihir kuat dari seorang wanita cantik setengah ikan. Wanita duyung!"
Mata Adietya terbelalak. "Wanita duyung?" gumamnya mengulangi kata-kata nenek itu.
Adietya tidak percaya dengan ucapan nenek itu. Memangnya ini zaman apa karena makhluk duyung hanya ada di dalam legenda atau mitos saja. Adietya tertawa.
"Jangan bercanda, ya Nek. Mana ada makhluk duyung di zaman serba internet ini. Nenek cuma menghibur saya supaya lekas sembuh, 'kan?" Adietya menertawai nenek itu.
"Anak bodoh. Belum pernah ku jumpai orang sebodoh kamu. Duyung wanita tentu masih ada di zaman sekarang walaupun ini zaman moderen. Makhluk itu muncul sekali seabad!" tutur nenek misterius.
Adietya melongo. Sekali seabad!? Berarti mahkluk yang dia lihat tadi itu adalah nenek moyangnya duyung alias duyung tua! Adietya terbahak-bahak.
"Kenapa kamu tertawa, hai anak muda?" Nenek tersinggung.
"Nggak Nek. Heheheh, lucu sekali. Jadi aku bertemu dengan nenek moyang duyung wanita, ya. Sial sekali!" gerutu Adietya.
Nenek itu menatap Adietya tanpa kedip.
"Ada apa Nek? Apa ada yang salah dengan ucapan ku?" tanya Adietya sedikit canggung. Nenek itu berbicara pelan. Sangat pelan.
"Jangan lagi kembali ke sungai Orien ya Nak! Sungai itu ditinggal sesosok mahkluk pemakan manusia. Duyung perak!" kata si nenek dengan wajah serius.
Kali ini Adietya harus mendengarkan ocehan nenek misterius ini. "Kalau masih sayang nyawa..." Sambung nenek itu.
Adietya melihat nenek itu tiba-tiba menghilang.
"Hah? Nenek itu hantu!" seru Adietya yang tiba-tiba saja tubuhnya bisa digerakkan. Adietya langsung kabur dari gubuk miring itu dengan lari ketakutan.
"Tolong! Ada hantu nenek-nenek!" teriaknya.
Rupanya teriakan Adietya membangunkan orang-orang di desa itu.
"Ada apa kamu teriak-teriak, nak Adie?" tanya seorang petugas malam.
Sekuriti yang memegang pentungan menunjuk Adietya. "Tunggu! Kamu jangan lari-lari seperti itu, kamu sudah membuat keributan tengah malam begini!" serunya sambil menahan Adietya.
Adietya tidak bisa lagi berlari. Ia kemudian menceritakan segalanya. Apa yang dia alami, termasuk bertemu dengan duyung wanita.
"Saya lupa dia makhluk apaan, tapi saya jelas melihat makhluk itu. Dia seperti ikan setengahnya lagi manusia. Manusia ikan, ya pasti itu!" kata Adietya menjelaskan panjang lebar.
Sekuriti yang menjaga losmen di desa mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kamu jangan bercanda. Jangan ngarang kamu!" katanya sambil memukul kepala Adietya.
"Aw! Sialan sakit sekali!" keluh Adietya.
"Eh!?" Adietya merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah benda dari saku. Benda pipih berkilau keperakan.
"Apa ini? Kok ada di saku celanaku?" gumamnya takjub dengan benda pipih bulat itu. Sekuriti Han melihatnya juga.
"Apaan tuh? Kamu nyuri ya, awas kamu ya saya bawa ke kantor polisi!" Katanya dengan cepat.
"Tunggu ini kan sisik ikan. Kok ada di kantong celana ku?" gumamnya pada diri sendiri.
Kemudian ia teringat kalau sedang kesal beberapa waktu yang lalu. Sore itu dia menembak Chelsea, gadis populer di kampusnya, tapi gadis itu dengan songong menolaknya. Dia juga menembak Hani gadis manis temannya Chelsea dan Hani pun menolak dengan halus. Semua gadis menolaknya. Sampai sekarang dia tidak laku dan masih jomblo. Dia juga ingat sedang bersungut-sungut merenungkan nasibnya di tepi sungai Orien.
Tiba-tiba saja dia melihat mahkluk cantik setengah ikan yang duduk di atas gelombang air sungai. Lalu air itu menghempaskan tubuhnya hingga dia jatuh ke sungai dan tenggelam. Selebihnya dia lupa apa yang sudah terjadi.
"Kamu ini sedang ngapain, ha? Pulang sana mandi kek, badan kamu bau amis ikan!" tukas sekuriti Han menyuruhnya pulang.
"Tapi beneran! Aku bertemu makhluk aneh badannya tertutup dengan sisik ikan, dia setengah manusia sangat cantik. Tubuhnya bersinar keperakan," seru Adietya dengan meyakinkan sekuriti Han agar pria itu percaya padanya. Sekuriti Han garuk-garuk kepalanya.
"Hahahaha ngimpi cewek ya boleh-boleh aja brur, tapi jangan keterlaluan! Sudah, sudah, nanti kamu lanjutin mimipimu di rumah saja saya mau bertugas. Minggir!" seru Han dengan wajah masam.
" Halah kamu, pak Han. Saya ini bicara jujur!"
Adietya ditertawakan tidak dipercaya oleh Han sang sekuriti itu. Kemudian dengan gontai Adietya pun melangkah pulang ke rumahnya yang ada di gang kumuh.
------------
Adietya masuk ke sebuah apartemen kecil di gang Sakura, sebuah gang kumuh. Rumah-rumah klasik kuno dan apartemen kecil di sana saling berhimpitan. Aditya tinggal di kamar nomor 40 di lantai empat belas. Jadi, karena elevator apartemen ini sering bermasalah, Adietya harus naik tangga darurat sampai ke lantai delapan, kemudian ia naik elevator yang masih bagus digunakan di lantai itu. Betapa capeknya dia. Anehnya ia merasa kakinya bertenaga dan tubuhnya sangat ringan setelah meminum sedikit ramuan yang dibuat nenek-nenek yang sudah menolongnya itu.
"Wah, manjur sekali ramuan pahit dari nenek misterius itu, ya tubuh ku sangat ringan. Aku bisa melompat dua anak tangga sekaligus tanpa merasa lelah sama sekali!" seru Adietya senang sekali.
Ia berjalan sambil bersiul. Tiba di elevator lantai delapan. Adietya berhenti di depan pintu elevator lalu menekan tombol empat belas.
Kling!
Pintu lift yang terbuka, nampak di depan Adietya seorang wanita yang sangat cantik. Wanita itu menatapnya tanpa kedip. Dan Adietya juga menatap perempuan itu.
"Kamu mau masuk nggak?" tanya wanita itu sekian lama saling bersitatap dengan Adietya.
Adietya terkejut. Ia tersenyum kikuk sambil garuk-garuk lengannya.
"Hehehe maaf, mbak saya melamun," ucap Adietya.
Dia bertekad di dalam hatinya, "ini saatnya aku melepaskan kejombloan akut! Apa aku langsung menembak wanita cantik ini, ya?"
Adietya tidak lagi berpikir. Dengan kasar segera dia tarik lengan wanita itu masuk ke dalam lift bersamanya membuat wanita itu terbelalak. Ia menjadi marah.
"Apa yang kamu lakukan, kenapa kamu tarik aku!" bentak perempuan itu dengan mata bulat melototi Adietya. Ia bertolak pinggang, mulutnya sedikit manyun.
"Makin cantik aja kalau marah, Mbak hehehe. Maaf deh, nggak sengaja," godanya dengan wajah tanpa dosa.
Adietya oh Adietya. Biar pun kamu jomblo tapi bukan begitu caranya.
Wanita itu menjadi kesal sekali. "Heh pemuda aneh, kenapa kamu narik aku ke dalam lagi cari mati kamu ya!" gertak wanita itu dengan wajah masam. Adietya terkekeh geli. Melihat Adietya tertawa, wanita itu menggerakkan tangannya. Tiba-tiba selarik sinar putih melingkar di leher Adietya sampai ia merasa tercekik.
"Aasrgh, apa-apa yang kau lakukan! Tot-tolong!" Adietya tercekat berbicara terbata-bata. Ia memegang lehernya yang seolah ada ribuan tangan tak kasat mata mencekiknya.
"Makanya kamu jangan lancang!" kesal wanita itu dengan seringai aneh. Nampak gigi taring yang mungil mencuat dari bibirnya.
Melihat itu Adietya langsung ingat sesuatu. "Ka-kamu makhluk itu. Makhluk di sungai!" tebak Adietya menunjuk wanita cantik itu. Ia sadar, wanita ini adalah hantu air! Jadi ia harus waspada karena hantu air itu konon memiliki kekuatan sihir yang luar biasa kuat.
"Hum ... Kamu pinter juga ya. Kalau kamu lapor, akan ku buat putus lehermu!" cecar si wanita dengan mata melotot.
Giginya yang mencuat itu semakin panjang. Nampak persis seperti vampir. Adietya lemas, pingsan di lantai lift.
"Pemuda lemah gini apa bagusnya! Tapi lumayan akan ku buat dia mengingat terus siapa aku!"
Wanita itu tersenyum manis. Kemudian melepaskan Adietya. Ia mengubah wujudnya menjadi nenek-nenek lalu memapah Adietya.
"Dasar! Kamu pemuda pertama yang membuat aku tidak bisa melupakanmu! Aku sangat menyukaimu, wuah darah mu sangat wangi menggoda!" bisik nenek berwajah buruk itu. Lalu ia terkekeh-kekeh.
-----------
Sepanjang hari Adietya tertidur. Terus tidur hingga akhirnya dia ditendang dua pemuda yang berdiri di depan kamarnya.
"Woi kamu menghalangi kami! Cepat bangun!"
Adietya mengerjap berkali-kali mengucek matanya. Ia terbelalak terheran-heran karena merasa ada yang aneh. Dirinya tahu-tahu sudah berada di depan pintu nomor 40, yaitu kamarnya.
"Wah, kok aku ada di sini, kenapa, ya?" gumam Adietya sambil garuk-garuk pantat.
"Dih, jorok banget sih laki-laki ini. Hei cepat minggir kami mau lewat!" perintah seorang pria kemayu yang sedang bergelayut manja di leher pasangannya. Matanya terus menatap hina Adietya.
"Eh banci pelan-pelan berengsek!" maki Adietya karena si banci menendang pantat Adietya menyuruhnya minggir. Banci itu hanya tertawa meledek.
"Ah bego lu!" Kemudian banci dan pasangannya pun masuk ke kamar sebelah. Adietya mengepal tinju. "Banci oon!" Adietya balas meledek banci itu dengan pelan.
Kemudian ia bangun. Dirasakan seluruh tubuhnya hancur remuk. "Aasrgh, kok kakiku kesemutan?" Adietya lagi terheran-heran. "Badannya kayak habis digigit semut, pegel, ngilu!" keluhnya sambil merogoh saku celananya.
"Aish mana kunci kamarku sih?" Adietya meraba-raba saku di celananya tapi dia tidak menemukan kunci kamarnya.
"Apa ini kunci kamarmu?" tanya seorang wanita cantik. Perempuan itu mengenakan rok sangat pendek. Pahanya yang mulus terekspos membuat Adietya terbelalak dengan hidung mengeluarkan darah. Dia mimisan!
"Wow. Kamu sangat seksi. Makasih ya tapi kok kunciku ada di kamu?" tanya Adietya dengan mata tanpa kedip menatap lurus belahan dada yang terekspos itu. Baju tidur yang dikenakan cewek itu benar-benar tipis, membuat dua gumpalan daging lunak di dalamnya terlihat dengan jelas.
"Ehem! Matamu lagi lihat ke mana!" Wanita itu bersuara tajam.
Adietya terhenyak sambil senyum-senyum.
"Ahahaha maaf deh mbak cantik saya khilaf lihat isinya yang gede," tukas Adietya blak-blakan.
Wanita itu tersenyum manis. Dia tidak marah sama sekali. "Oh, ya kamu ... mau ini ya?" rayu si wanita sambil menggamit lengannya. Adietya menelan ludah susah payah.
"Aaih jangan godain aku, mbak. Aku gak bisa menahan nafsu!" bisik Adietya sambil menunduk malu-malu. Telinganya merona.
"Ih lucu banget sih kamu cowok! Kamu masuk lah mandi kamu udah bau bangke!" Bisik si wanita dengan nada dibuat-buat manja.
"Ehem, habis mandi baru kita main... Itu, ya ..." Sambung wanita seksi itu sambil cekikikan. Adietya melihat dengan jelas lidah ular menjulur mengusap pipinya dengan lembut dan basah.
Membuat Adietya terhenyak dengan ketakutan. "Kamu!? Kamu ini siluman, ya kok lidahnya bercabang,panjang kayak ular?"
Wanita itu tertawa kecil. Dia hanya menjawab Adietya dengan kerlingan nakal saja. Lalu dia menunjuk kamarnya. "Aku di kamar 62, kita tetanggaan, loh ya. Dadah, sampai ketemu lagi pemuda naifku..." tukasnya sambil membalik badan berjalan lenggak-lenggok meninggal Adietya yang sedang terkesima.
"Wuah luar biasa cantik sekali. Seksi juga tapi sayang dia wanita jadi-jadian! Hiyyy sebaiknya aku nggak dekat-dekat dengan dia!" gumam Adietya setelah sadar. Kemudian masuk mengunci pintunya.