Judul : Lily Of The Valley
Oleh : Alvi Amalia Nur Zanah
Penerbit: Cv. Lingkar Penulis
.......................................................................................
Berawal saat si kecil Lily mempersilahkan siapapun untuk menyakitinya. Hari itu terjadi perang Dunia, Lily yang hidup dengan keluarga kecilnya mendapatkan perlakuan tak adil dan semena-mena. Lily tak mengerti, Lily hanya mengikuti yang orang dewasa ucapkan padanya. Mulut orang-orang dewasa menurut Lily sangatlah benar dan menuntun. Lily hanya mengangguk saja dan diam mendengarkan. Lily tak tahu pembahasan mereka, ada yang membahas terkait agama, terkait horor, terkait kekuatan gaib, terkait prestasi mereka, terkait ujian hidup dan bahkan terkait masa yang akan datang. Yang datang pada Lily pun bermacam-macam dengan bermacam problematika. Kasihan Lily yang lugu harus mendengar keluh kesah orang dewasa tanpa mereka memandang keluh kesah Lily.
‘Apakah kau mengerti bahwa, seseorang yang telah menikah pun datang padanya meminta pertolongan pada Lily kecil.’
Semua orang ingin di dukung oleh Lily tapi mereka tak mendukung Lily, sebaliknya perbuatan orang-orang tersebut menyakiti hati Lily. Yang seolah mereka jauh lebih hebat dari Lily dan lebih mengerti terkait ilmu pengetahuan apapun melebihi Lily. Mereka pikir dengan melakukan sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh Lily, itu akan membuat Lily bahagia? Tidak, jawabanya.
“Lily, kemarilah…Kau jangan hidup di alam itu?”
Sebuah panggilan sampai hati menyapa Lily yang berduka sepanjang tahun. Panggilan tanpa wujud. Mereka juga menunjukan betapa kejamnya dunia yang Lily singgahi. Lily goyah, Lily bingung, dunia mana yang benar-benar tulus padanya, dunianya atau dunia mereka. Bahkan di antara para makhluk itu ada yang berusaha menggantikan posisi sebagai orang tua Lily, yang mana Lily tidak mendapatkan cinta dari orang tua aslinya. Semalam Lily terbangun karena belaian lembut di kepalanya.
Siapa yang membangunkan ku? Monolog Lily. Lily terbangun untuk bersiap untuk sahur puasa dawud.
Lily kini tumbuh dengan cantik dan sempurna bagai bintang di malam hari. Saat di siang hari cahaya Lily meredup karena keramaian menginjak injak Lily. Terkadang ada yang memandang Lily sebagai bunga yang indah dan mungil, ada yang memandangnya sebagai racun, ada juga yang memandangnya sebagai bunga yang anggun dan tawadu. Namun, Lily masih menyimpan rasa sakitnya di masa lalu.
“Besok jangan percaya dengan siapapun,” seorang ulama berkata tepat di hadapan Lily dengan saksi Ayah Lily.
Selang beberapa bulan selanjutnya.
“Suara batin Lily menggema,” kata seorang nenek pijat di depan Lily dengan saksi Ibu Lily. Lily mencoba terus tersenyum tapi hatinya menjerit kesakitan.
Mau sampai kau mendengarkan ucapan manusia? Dan sampai kapan kau mendengarkan suara gaib yang kotor itu? batin Lily.
Mereka pikir Lily akan mendengarkan mereka? Oh, tentu tidak, karena suara aspirasi Lily tak pernah dipercaya oleh mereka apalagi di dengar. Lalu mengapa Lily harus mendengarkan mereka? Logika yang tak masuk akal jika Lily harus terus berada dalam genggaman manusia. Sebaliknya jika Lily terjun ke dunia sihir dan ilmu gelap langkahnya direstui, saat Lily merasa didukung orang lain di luar keluarga Lily meremehkan Lily hanya karena mimpi-mimpinya.
It;s ok, Lily.
Lily yakin, dia mampu merubah dunianya sebelum manusia merubah Lily. Dan sebelum Lily gugur ke tanah, dia harus tetap seperti lonceng yang kokoh dan indah namun tak bisa digoyahkan juga disakiti kembali. Lily memiliki kekuatan untuk tetap indah di mata penikmatnya, juga perlawanan di mata yang memandang racunya, serta Lily mampu memberikan pengetahuan yang luas pada mereka yang memandang Lily dengan sopan dan anggun. Lily tak mempersilahkan siapapun lagi menyakitinya bahkan dari belahan dunia manapun yang mencoba berbisik padanya. Lily hanya mengikuti yang menciptakan dia hadir didunia ini dan percaya dengan tujuanya. Lily berdiri dengan kokoh yang memiliki prinsip serta batasan untuk para penikmatnya. Lily tak perduli jika ada yang bersuara lagi padanya, Lily pikir bahwa semua itu akan lenyap seiring berjalanya waktu bahkan mereka juga akan ikut berubah. Daripada asik mendengarkan Lily lebih baik fokus pada tujuanya. Karena jika Lily asik mendengarkan bisa jadi pemikiran Lily tentang mereka salah dan Lily memang dibuat bertengkar dengan pemikiran yang salah itu. Lily akan terus sendiri dan semakin susah bagi Lily untuk berkembang jika tetap melakukan hal yang sama.
Kau lihat Lily mekar dengan sendirinya tanpa bantuan manusia, sebaliknya manusia yang membutuhkan bantuan Lily untuk banyak hal. Namun jika manusia itu tak pandai mengolahnya, maka dia akan terkena racun bunganya.
Cerpen ini diikutsertakan dalam event di nulisbareng kuy oleh Cv lingkar penulis dan masuk dalam kategori penulis terbaik. Telah di bukukan!