Judul: Pesan dari Sepeda Mini
Oleh : Djaduk/Alvi Amalia Nur Zanah
Penerbit: Cv Lingkar Penulis
..........................................................................................
“Kring...Kring...Kring.”
Suara bel sepeda yang sedang dikayuh oleh seorang wanita.
Aku berusia 23 tahun, mengayuh sepeda mini milik ibuku di sekitar area persawahan yang
tidak terlalu jauh dari rumah. Aku terus mengayuh sepedanya sambil menatap mentari pagi
dan merasakan kehangatannya. Sepeda mini yang kugunakan berwarna hitam dengan
keranjang di sisi depan. Aku selalu mengayuh sepeda ini setiap hari.
Bagaimana seorang siswa pecinta alam bisa melewatkan keindahan seperti ini?
“Cip, cip...Cip.”
Burung-burung juga turut menyambut kehadiran mereka, mentari dan Amalia. Salah satu
burung mendekat ke arahku, bernyanyi menyapa. Mata kecilku menyipit ketika mentari
tersenyum padaku dengan cahaya yang menyilaukan. Kedua mata kecilku melihat warna aura
ungu, biru, dan hijau dari alam sekitar.
“Bahagiaku adalah melihatmu,” kataku pada mentari yang menghangatkan tubuhku pagi ini.
“Wuuushhhh....drash!”
Angin semakin kencang, dan tak terasa aku telah sampai di sebuah dermaga yang tidak jauh
dari lingkungan rumah dan persawahan sebelumnya. Aku mengelilingi area itu dengan rileks
dan menciptakan kenyamanan bagi diriku sendiri.
Sungguh kenikmatan yang tak bisa kulupakan. Meskipun aku harus menahan bau ikan yang
menyengat karena banyaknya nelayan ikan dan pabrik ikan yang membuang limbahnya.
Namun, kebahagiaanku itu sekejap sirna. Kebahagiaan sementara yang tak akan bisa
kutinggalkan sampai hari ini.
Keesokan harinya, aku berjalan kaki tanpa menggunakan sepeda lagi. Aku menyusuri area
persawahan dan mengabadikan seluruh kebesaran Tuhan yang ditunjukkan padaku.
Manusia mana yang bisa melewatkan momen indah itu?
Aku membagikan semua keindahan yang aku temui di media sosialku. Aku memiliki banyak
pengikut, ribuan orang yang mengikuti aku. Sebagai seorang wanita yang suka memposting
kutipan serta tips,dan trik tentang fashion.
“Mahasiswa jurusan sastra mau bekerja apa?”
Ingatan ku tentang suara seorang ibu dalam kereta malam saat aku pergi ke kota Madiun,
Jawa Timur.
Hatiku terluka mendengarnya.
Apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang belajar sastra?
“Hahaha...”
“Iya ya, apa yang bisa dilakukan oleh seorang penulis...?” Pikiranku menjawab.
Aku teringat dengan perkataan orang tua ku.
“Jadi penulis bisa mendapatkan apa?”
“Hahahah...”
“Iya ya, apa yang bisa dilakukan oleh seorang penulis?” Pikirku sambil mengingat memori
itu.
“Kalau dari awal hanya bisa menjadi SPG, pasti akan tetap menjadi SPG sampai akhir,”
begitulah pendapat temanku saat aku masih menjadi seorang SPG di kota Surabaya.
“Hahahah...”
“Iya ya. Hanya mantan SPG, bukan seorang sarjana.” Pikiranku menjawab yang terpicu oleh
hal-hal sebelumnya.
Bagaimana perasaan orang yang terpicu oleh kata-kata tajam seperti pedang. Tidak hanya
dalam hal-hal kecil yang dianggap sepele oleh mereka. Sekarang kita hidup di zaman di mana
bercandaan menjadi hal yang biasa, tanpa mereka tahu proses apa yang telah dilalui oleh
orang lain.
Aku semakin tenggelam dalam cacian, tuduhan, bahkan fitnah dari keluarga sendiri yang
semakin membuatku tidak mampu menanggungnya. Aku hanya seorang wanita biasa yang
mencari kebahagiaan. Mereka mengatakan bersyukurlah, maka kamu akan bahagia...
“Le, (sebutan untuk anak laki-laki di Jawa), besok saat sekolah, tolong jangan terlalu
ambisius ya. Jangan seperti Mbak Amalia, sekolah tinggi-tinggi tapi tidak mendapatkan
apa-apa,” sindiran salah satu anggota keluargaku. Ucapan itu teringat dengan jelas dalam
ingatanku. Aku ingat betul, bagaimana saat aku direndahkan dan hanya bisa diam dan merasa
bodoh!
“Apa kakak ingin merendahkan Ayah dan Ibu? Apakah kamu ikut pesugihan?” ujar wanita
yang melahirkan dan mengandungku selama 9 bulan, menuduhku ikut pesugihan di Tn. Alas
Purwo.
“Hahahaha...”
Orang tua mana yang lebih mempercayai ucapan orang lain daripada darah dagingnya
sendiri. Bahkan sekarang mereka masih berteman baik, tapi aku dijauhi. Aku tidak memaksa
untuk mengenal mereka.
Hari-hari berlalu begitu saja sampai aku menulis kisah ini, aku teringat pada sosok lelaki dari
masa kecilku sebelum dia pergi meninggalkan dunia ini.
Namanya Asrory, lelaki yang menjalin hubungan denganku sejak SMP, SMA, hingga menjadi
mahasiswa dan saat aku bekerja di kota Surabaya. Hubungan kami begitu langgeng...ya.
“Kembalilah ke dunia penerbangan,” adalah ucapan terakhirnya padaku saat itu.
“Aku tidak bisa kembali ke dunia itu, Rory...”
“Kring... Kring...”
Suara bel sepeda membangunkanku dari lamunan panjang masa lalu. Meninggalkan deburan
laut lepas itu dan kembali mengayuh sepeda. Aku menyembuhkan luka-lukaku sendiri.
Nyatanya, itu benar...
Di usia 26 tahun ini, aku memulai kembali dengan bekerja sebagai SPG di sebuah toko kecil
di desaku. Namun, setidaknya aku berani keluar dari zona nyamanku dan mulai menulis lagi.
Aku menyembuhkan luka-lukaku sendiri dan kembali mengejar impian dalam genggaman
sang rembulan. Kekuatanku adalah bentuk perlindungan dari hangatnya mentari, dan
semangatku sama seperti saat aku mengayuh sepeda mini hitam Ibuku. Aku mengganti semua
hal yang menyebabkan distraksi dalam pikiran dan hatiku, termasuk menghapus semua akun media sosialku, dan sekarang aku telah menggantinya dengan yang baru. Aku cukup bahagia
meski hanya dengan hal-hal kecil.
Original karya: Alvi Amalia atau penulis buku Djaduk author celestialinsight_noveltoon.
CERPEN INI TERBIT DAN DI BUKUKAN DALAM PARTISIPASI "LOMBA MENULIS CERPEN ISLAMI" DENGAN TEMA AKU DAN SEJUTA IMPIAN KU. Dengan Juara terbaik cerpen nasional OLEH CV. LINGKARAN PENULIS PUBLISHER. 🙏