Judul : MATA PELAKU
Oleh : Alvi Amalia Nur Zanah
Penerbit: Cv Lingkar penulis
..........................................................................................
Mentari pagi menjemput anak-anak angkat kaki menuju sekolah. Alvi namanya, murid Sekolah Dasar Negeri Kedung Rejo, Kecamatan Muncar kota Banyuwangi. Rambut pendek sebahu yang nampak cekung keluar sehingga seperti perahu layar yang terhempas oleh angin pukul 06:30 WIB. Secorak merah putih di langit telah nampak, bendera sekolah telah berkibar. Hari Selasa bel berbunyi tepat pukul 07 : 00 WIB, menandakan untuk melaksanakan senam pagi sebelum memasuki kelas.
Lantunan musik yang bersemangat semakin membuat sorak sorai di sana, aku adalah murid kelas 2 sekolah dasar itu dengan kecenderungan lebih banyak diam, tak hanya di sekolah dasar namun sedari Taman Kanak-kanak. Tubuhku tinggi, juga nampak berisi namun tak gendut juga. Mataku sipit, bibirku kecil mungil, hidungku juga kecil, alisku tipis dan melengkung indah seperti sudah tergambar dengan baik. Tangan dan kaki ku kecil gigiku putih namun besar khususnya dua gigi depanku. Mereka memanggil ku Alvi, di sana aku tak memiliki teman kecuali teman sekampungku yang bernama Binti. Awalnya kami tak memiliki kedekatan layaknya teman. Aku bersekolah di sana pun karena teman-teman sekampungku yang lebih tua bersekolah di sana apalagi sekolah itu termasuk yang terdekat sehingga, aku terbiasa dengan jalan kaki.
Sekonyong-konyong terik menyapaku di lapangan saat senam yang mana jam masih menunjukan pukul 07:00 WIB. Kepala anak seusiaku pasti sakit jika berlama-lama di lapangan pafing itu. Namun tak berselang lama, kami pun masuk dengan keringat yang cukup membasahi tubuh. Aku duduk di bangku nomor 3 di bagian baris tengah dari sisi Timur. Tahun itu 22 Januari 2005 semester ganjil, saat kelas satu di tahun 2004 semester genap dan ganjil aku baik-baik saja layaknya kanak-kanak, namun aku telah di lepas karena Ibuku adalah seorang pekerja atau karyawati di sebuah pabrik. Sosok tante Meriyana lah yang menemani ku sedari di taman kanak-kanak, menggunakan sepeda unta saat bepergian bersamaku.
Seorang wanita berpakaian dinas guru rapi memasuki ruang kelas membawa tas coklat tua dan beberapa buku mapel di kelas 2. Lastri namanya, wanita itu tak berhijab dengan rambut sebahu. Di tahun itu jarang sekali di temukan guru dengan berhijab syar’i apalagi anak sekolah.
“Puput ...”
Ibu guru memberikan tebakan kepada teman sekelasku yang bernama Puput. Status keluargaku kurang mampu dan aku bukan anak pintar. Puput selain pintar, dia baik juga mau menerimaku di kelompok berdiskusi. Di jaman itu status keluarga juga akademik menentukan sebuah pertemanan. Aku tetap bermain dengan Binti bahkan saat bel berbunyi menandakan jam pulang kami tetap bermain bersama. Aku sangat bahagia karena bisa memiliki teman. Sore hari tiba, aku akan segera belajar mengaji di sebuah rumah yang berprofesi sebagai guru mengaji. Beliau memiliki seorang anak juga beberapa keponakan wanita, usia mereka dua orang lebih tua dariku dan dua diantara lebih muda dari usiaku. Tutus namanya, anak dari sang ustadz, lalu Yeni seorang sepupu dari sang ustadz, kemudian Halimah dan Sintia juga sepupu dari sang ustadz yang usianya lebih muda dariku.
“Hahahahah,” tawaan dari mereka kepadaku yang kini tengah berada di ruang lain dengan baju yang terlepas. Terkadang aku juga di cubit oleh mereka namun aku tak mampu melawan. Rasanya dunia mengaji untuk mempelajari Al-Qur'an sangat aku benci di dunia ini karena, tingkah seorang anak ustadz yang notabenenya harus memberikan contoh serta berperilaku baik malah berbanding terbalik. Hal itu sering aku keluhkan kepada Ibuku namun tak ada jawaban darinya. Di usiaku sekecil itu aku dapat berpikiran sedemikian itulah sebabnya aku tak pernah melawan, Ibu pun tak menggubris keluh kesah dari anaknya lalu aku memilih diam.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Kini aku telah menginjak di kelas 3 sekolah dasar. Kala itu masuklah murid pindahan dari Kota Banda Aceh yang mana Ayahnya adalah seorang tentara. Murid itu bernama Ari, seorang wanita berambut coklat tua dan keriting dengan kulit putihnya. Kini temanku Binti ikut mendekat ke arahnya. Awalnya aku biasa-biasa saja namun setelah aku mengalami sebuah momen di mana aku tak dianggap lagi, aku pun menjauh dan sadar diri dengan statusku sebagai orang tak mampu juga bodoh. Rumahku hanya terbuat dari anyaman bambu, jujur saja hal itu memanglah aktualnya. Tak ada satu teman sedari kecil yang mau bersilaturahmi di gubuk tempat singgah ku. Di tempat mengaji pun aku juga masih di perlakukan hal yang sama hingga akhirnya terjadilah sebuah momen di adakanya pengajian Ibu-Ibu dan mbah utiku mengahdirinya. Aku pun hadir dan merasa tak takut karena ada beliau; pikir ku dapat membantu. Anehnya para pembuli itu seolah-olah bersikap baik di hadapan keluargaku, aku hanya bersembunyi di balik lengan bajunya. Tak hanya sekali aku mengikuti pengajian Ibu-Ibu, melainkan berkali-kali aku bergabung termasuk pengajian besar.
“Tes... tes.”
Hanya sebuah air mata yang keluar dalam keadaan diam itu. Di rumah anyaman bambu aku berkeluh kesah kepada wanita yang melahirkanku tentang apa yang terjadi kepadaku namun lahi-lagi tak di gubris. Aku hanya bisa bertahan di tempat sekolah dan tempat ku belajar mengaji.
“Yeee...yaaahhh...”
“Hahahaha...”
Tahun ajaran baru menunjukan kelas 4, aku merasa sangat jauh dari pertemanan tak sedikit yang mau berteman dengan ku bahkan Binti. Ajaibnya saat di rumah kita memanjat pohon buah yang kami sebut sebagai buah tismis bersama-sama. Pohonya medium dan cukup tinggi serta daun yang kecil, dan buahnya manis seperti ciplukan. Kami akbrab, dan aku menerimanya meskipun kemudian di sekolah berbeda kembali.
“Perkenalkan namaku Sinta,” ujar seorang murid pindahan lagi dengan tanda lahir atau toh di wajah sebelah kiri. Wanita itu yang pertama kali menyapaku dan melindungiku dari mereka yang menindasku seperti, membuka rok, menjauhi anak bodoh tanpa prestasi, mengataiku anak genderuwo karena berita buruk di keluargaku, mengatai aku kakak dari seorang banci. Selain Sinta masih ada Nira. Dua wanita ini cukup di segani di sekolah dasar berbeda denganku yang dianggap lemah dan tak berprestasi juga tidak mampu. Sayangnya bullian bertahun-tahun itu tak hanya aku alami di sekolah namun juga di tempat mengaji bahkan dirumah sendiri yang di lakukan oleh Ibuku dan keluarganya.
“Wes pasti gak ringkeng...”
(Sudah pasti tidak peringkat)
“Seng peringkat musti Fani. Ringken siji terus...”
(Yang peringkat sudah pasti Fani. Peringkat satu terus.)
Seringan itu yang terlontar dari mulut Ibu dan saudaranya, namun anak kecil ini masih sanggup tersenyum seolah sudah terbiasa. Sayangnya pertemananku dengan Sinta di rumah tak di restui oleh Ibuku sehingg,a aku berteman dengan diam-diam saja tanpa sepengetahuanya. Dia pun selalu di olok-olok miskin juga tompel, namun kami tak saling peduli dengan nilai orang lain terhadap kami; Alvi, Nira dan Sinta. Aku merasa di lindungi dan bangkit kembali dari kelemahanku sebelumnya karena support mereka. Para pelaku bulli itu masih teringat jelas di kepalaku hanya sedikit lupa tentang tahun serta namanya, akan tetapi saat kedua indra ini melihat tak ada kebohongan di baliknya.
CERPEN INI TELAH DI BUKUKAN DALAM EVENT CIPTA CERPEN NASIONAL DENGAN TEMA "TERIMAKASIH SAHABAT. OLEH CV LINGKAR PENULIS PUBLISHER SEBAGAI CERPEN TERBAIK.