Judul : Mengejar Body Goals
(Handaru)
Oleh : Alvi Amalia Nur Zanah
Penerbit: Binar Publisher
.............................................................................................
Tuk..tuk..tuk.
Suara high heels melangkah ke arah lift. Aku melihat bosku yang tinggi semampai, putih, dan cantik. Dia adalah direktur perusahaan tempat aku bekerja sebagai anggota tim marketing.
"Yaaah... berlemak, tembam." Aku melihat diriku di cermin toilet kantor. Meski aku memiliki tinggi 168 cm, tubuhku jauh dari kata ideal. Aku ingin memiliki tubuh indah seperti bosku.
Bosku sering menyarankanku untuk diet, jika tidak, aku bisa kehilangan pekerjaanku. Aku sudah mencoba berbagai program diet, tapi aku selalu gagal menahan godaan makanan cepat saji dan boba.
"Handaru, besok kamu ikut aku bertemu Pak Dave. Dia ingin menandatangani kontrak sponsor untuk kosmetik kita," ajak teman sekerjaku.
"Oh, iya. Aku besok kebetulan luang, tidak ada janji dengan klien," balasku.
"Ok. Ingat, dandan yang cantik dan rapi. Jangan sampai gara-gara kamu, Pak Dave kabur. Tutup itu jerawat di wajahmu, sangat mengganggu."
Kalimat itu sudah sering aku dengar dari teman kantorku. Tapi aku tak peduli, karena ada pacarku yang tak memandang fisikku dan tak pernah mempermasalahkan hal itu.
Hari esok pun tiba. Seperti biasa, sebelum berangkat ke kantor, aku mengantar adikku ke sekolah. Setibanya di kantor, aku berlari menuju lift.
"Huhf... huhf... huffh. Masih kurang satu menit kan?" tanyaku pada teman sekerjaku.
"Hmm... Ratu bola," ejeknya.
Aku hanya tersenyum. Mereka tak tahu usaha diet yang selalu gagal itu. Saat sampai di cafe tempat janji temu, kami langsung menyerahkan surat kontrak untuk ditandatangani Pak Dave.
"Te—" Aku terhenti bicara karena temanku menginjak kakiku.
"Terimakasih atas kerjasamanya, Pak," potong temanku.
***
Setelah bertemu dengan Pak Dave, Handaru merasa bersyukur memiliki pacar yang menerima dirinya apa adanya. Namun, dia terkejut menemukan pacarnya sedang berselingkuh. Dia mencoba membujuk pacarnya untuk pulang bersamanya, tetapi malah mendapatkan hinaan dan penolakan. Kejadian tersebut membuat Handaru sangat sedih dan dia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.
Di hari yang sama, Handaru juga mendapatkan kabar bahwa dia dipecat dari pekerjaannya karena terlambat. Dia merasa sangat tertekan dan memutuskan untuk melakukan perubahan dalam hidupnya. Dia memulai dengan berolahraga di gym dan memperbaiki pola makannya. Setelah dua minggu berolahraga di gym, Handaru berbagi pengalamannya dengan instruktur Alan. Dia mengungkapkan keinginannya untuk belajar lebih banyak tentang kosmetik dan parfum, karena dia merasa sudah memiliki pengalaman di bidang tersebut dan hanya perlu mengasah dan mengembangkan keterampilannya. Alan merespons dengan pertanyaan, "Lalu kedepannya bagaimana?" yang membuat Handaru berpikir tentang rencana masa depannya.
***
"Aku punya teman yang bisa membantu kamu membuat parfum. Besok aku akan antarkan kamu ke sana," kata Alan dengan nada penuh harapan.
"Terima kasih," balasku dengan senyum lebar.
Dalam enam bulan berikutnya, aku melakukan berbagai upaya, mulai dari diet ketat, lari setiap hari, konsultasi ke dokter kulit, hingga belajar membuat kosmetik dengan bantuan Alan dan temannya. Aku bahkan sampai jatuh sakit karena terlalu lelah. Namun, beruntung aku masih memiliki tabungan dan adikku yang selalu membantu. Setelah berjuang keras, aku berhasil menurunkan berat badan dari 80 kg menjadi 59 kg. Bisnis kecilku yang dimulai empat bulan lalu juga berjalan lancar. Aku mulai dari menjual skincare wajah, lalu skincare badan, dan sekarang aku menambahkan parfum ke dalam produk ku.
Alan menyatakan ungkapan hatinya, aku berbunga. Aku juga memberikanya sebuah kode perasaan suka padanya.
Hingga tiba-tiba, Alan menghilang saat semua sedang berjalan. Aku mengirimkan buket tapi melihatnya bersama wanita lain.
Mengapa sesakit ini?
***
Setelah 1,5 tahun, aku dan adikku merayakan kesuksesan kami. "Kita berhasil," kataku sambil tersenyum bangga.
Suatu malam, ponselku berdering. Itu Alan. Dia mengajakku keluar padahal sudah jam 9 malam.
"Kita mau kemana malam-malam begini?" tanyaku penasaran.
Alan hanya tersenyum dan mengajakku masuk ke mobilnya. Dia membawaku ke tempat yang tenang di pinggir jalan raya. Suara ombak dan angin membuat suasana semakin damai.
Ternyata, Alan mengajakku ke pantai. Dia tampak tampan dengan kemeja putihnya dan aku mengenakan dress ungu dengan motif mawar emas di pundak kiriku.
"Aku sudah lama menyukaimu, Handaru. Maukah kamu menjadi istriku?" tanya Alan tiba-tiba.
Aku terdiam, tak tahu harus menjawab apa. "Aku tidak akan memaksa mu, aku akan memberi mu waktu untuk menjawabnya," tambahnya.
"Apakah kamu tidak merasa kedinginan? Ataukah kamu sedang berusaha menggodaku dengan kancing bajumu yang terbuka, memperlihatkan bentuk tubuhmu di depan mataku?" Tanya ku, memotong kalimatnya.
"Aku tidak bermaksud seperti itu," jawabnya.
"Berdirilah dan benarkan bajumu. Kamu bisa kedinginan dan masuk angin. Tidak perlu menunggu, aku akan menjawabnya sekarang," ungkapku padanya.
"Baik, aku siap mendengarkan jawabanmu," katanya.
Alan menatapku dengan wajah penuh harapan. Dia memang pandai memilih waktu yang tepat. Di malam yang penuh bintang dan tepat di tepi pantai.
"Maaf, aku tidak bisa menerima cintamu. Semoga kamu mendapatkan yang lebih baik di masa depan dan berbahagia. Karena cinta adalah tentang menerima dan memberi dengan keseriusan."
Memori itu mengingatkan bagaimana aku melihat Alan meninggalkan kami saat di pertengahan jalan, dan aku hanya berjuang dengan adik ku saja.
Kini, apa mungkin aku dapat menerima mu? Alan. Kau menghilang sejenak lalu mendatangi ku setelah aku berhasil lepas dari segala yang menyakiti ku. Terimakasih atas bantuan mu karena membuat ku body goals.
Telah di terbitkan Oleh Binar Publisher, oleh penulis Alvi Amalia Nur Zanah atau Djaduk sebagai Juara Harapan II