Hari ini adalah hari yang sangat berat untuk Adam karena dia harus menyaksikan pernikahan gadis yang sangat di cintainya.sebelum akat nikah di laksanakan,Adam sengaja menemui salsa untuk menyakinkan kalau salsa bahagia menikah dengan arsaka sahabat sekaligus sepupunya.
Adam hanya berdiri di depan pintu kamar, begitu salsa menyadari keberadaan Adam.salsa langsung menghampiri dan mengajaknya masuk.di dalam masih ada orang MUA yang mendampingi salsa.
Adam dan salsa duduk di tepi ranjang.keduanya hanya diam tak ada yang ingin memulai percakapan.
"Apa kamu bahagia sa"
Pertanyaan Adam langsung membuat salsa menoleh kepadanya tapi pandangan Adam justru fokus ke foto mereka saat masih kuliah.saat berlibur di salah satu pantai di Tulungagung di kampung halaman salsa.
"Aku kira,aku gak perlu jawab pertanyaan konyol seperti ini kak"
"Aku hanya ingin memastikan kalau kedepannya hidup mu akan baik-baik saja sa."
"Ya.aku baik baik saja seperti yang kakak lihat.kedepanya aku akan hidup dengan baik"
"Ok, kakak cek kedepan dulu."Adam berdiri hendak keluar belum sampai melewati pintu salsa berucap lirih yang membuat Adam menghentikan langkahnya.
"Kita terlalu terbelenggu oleh cinta, untuk lepas butuh pengorbanan.ikhlas kan kak aku juga akan mencoba mengikhlaskan kak"
Adam hanya menoleh ke salsa sebentar lalu berjalan melewati pintu tanpa di sadari ada setitik embun di mata Adam.bohong kalo hati Adam baik baik saja.andai saja bisa inginku bawa pergi jauh, sampai orang tidak tau siap aku dan dia.tapi,semua tidaklah mungkin karena kita tak mungkin bersatu.
Mempelai pria sudah datang dan di arahkan duduk di tempat yang akan dilakukan akat nikah.
Tak berapa lama pengantin wanita di dampingi ibu dan sahabatnya menuju tempat duduk di samping Saka.yang menjadi saksi Adam dan mas bagus.
Tiba tiba tubuh pak Gatot kaku dan sulit berbicara.semua keluarga panik terutama salsa.
"Ayah, ayah kenapa?.kak Adam ayo kak bawa ayah ke rumah sakit"salsa panik dan histeris.akat nikah batal di lakukan.
Setelah sampai rumah sakit,Adam langsung mengangkat tubuh pak Gatot menuju UGD.setelah di periksa,pak Gatot terkena kejala stroke ringan.
Setelah menyelesaikan administrasi pak Gatot di pindahkan ke ruang rawat inap.
Semua keluarga berkumpul.bulik Sarah menanyakan kelanjutannya acara pernikahan kedepannya gimana.
"Apa gak sebaiknya acara pernikahan di tunda sampai ayahnya salsa sembuh dulu Bu Sarah"ucap ibunya salsa yang tangannya tak pernah lepas dari genggaman anaknya.
"Bukanya salsa mempunyai kakak laki-laki yang sudah dewasa baligh,itu sudah cukup sah untuk menjadi wali nikah"
Bu asih hanya diam,tidak menolak dan juga tidak meng-iya-kan.
Di saat semua diam dengan asumsi masing-masing,Adam berdiri yang membuat semua orang menoleh kepadanya.
"Baik,aku akan menjadi wali nikah bagi adikku Salsabila putri Stania."
Tapi Bu asih justru menolak tegas akan keputusan Adam.
"Kamu gak bisa melakukan itu Adam,itu tugas ayahmu."
"Kenapa gak bisa Bu, bukankah saya sudah dewasa,baligh dan kakak laki-laki salsa.itu sudah sah untuk menjadi wali nikah."
Bu asih hanya bisa menangis dan terus menangis.adam di buat semakin frustasi hinga di raupnya muka dengan kasar.di tengah tengah kekalutan itu Bu asih bersuara.
"Kamu anak sulung ku Adam, kakak laki-laki bagi salsa.tapi sampai kapanpun kamu tidak bisa menjadi wali nikah bagi salsa.karna kamu dan salsa tidak ada hubungan darah."ucap Bu asih sambil menangis.hatinya sakit karena sudah membuka rahasia besar padahal seharusnya rahasia itu di tutup rapat-rapat.
Yang pasti ini kejutan buat Adam, apakah dia sedih atau malah bahagia karena masih ada jalan untuk bersama dengan salsa.yang jelas jalannya pasti terjal,akan banyak orang yang menentang meski bisa saja mereka untuk bersama.
Hati salsa semakin gundah, ternyata masih ada jalan untuk cintanya tapi pernikahannya dengan arsaka sudah di depan mata.apakah harus seperti ini.saling merelakan meski hati ini masih berharap untuk bersama.apakah nanti kita bisa bahagia dengan pasangan kita masing masing.haruskah kita egois dengan pergi jauh bersamamu.hidup bahagia sampai tua dengan anak cucu kita.