Katanya jika kita punya pendidikan yang tinggi akan mudah mendapatkan pekerjaan kenyataan nya pendidikan tidak bisa menjadi tolak ukur keberhasilan mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan.
Nyatanya pendidikan dan skill yang kita punyai tidak akan menjadi tolak ukur di dunia pekerjaan karena jujur saja ternyata dunia pekerjaan sekejam itu.
Pendidikan dan skill yang kita punya tidak akan berguna jika kita tidak memiliki orang yang berpengaruh di belakang kita. Karena percuma saja kita memenuhi semua persyaratan dari perusahaan atau tempat kerja yang kita inginkan jika yang berhasil lolos yaitu orang memiliki akses di belakangnya.
Persyaratan dan ketentuan yang berlaku sangatlah sulit bahkan banyak sekali orang yang mengantri untuk mengikuti seleksi yang sangat ketat namun lagi dan lagi banyak orang yang gagal bahkan yang sekali jenius pun perusahaan itu tolak karena banyaknya suapan yang perusahaan itu terima sehingga menjadikan perluasaan lowongan pekerjaan semakin kecil.
Dan itu salah satunya diriku begitu banyak sekali perusahaan yang aku ikuti seleksinya tak sekalipun aku berhasil lolos bahkan perusahaan kecil pun menolak padahal jika di telaah kembali sangat minim sekali kesalahan ku dalam berbagai seleksi yang mereka tentukan.
Jujur diriku sangat capek bahkan sudah di titik menyerah akhirnya aku menerima saja apapun itu pekerjaan nya asal aku mendapatkan uang. Berpikirlah secara realitis kita hidup butuh uang mati pun butuh uang banyak sekali hal-hal yang harus kita penuhi untuk hidup ini.
Tidak sampai seminggu diriku mendapatkan pekerjaan walau hanya menjadi karyawan toko biasa setidaknya aku memiliki pekerjaan yang akan menunjang kehidupanku dan disini aku paham bahwa dunia pekerjaan tidak seindah yang kita bayangkan bagaimana kita menyikapi perilaku dan sifat bos kita bahkan lebih kejam nya lagi sesama rekan saling menjatuhkan satu sama lain agar terlihat unggul di mata bos bahkan tidak jarang diriku disalahkan atas perbuatan yang tidak aku lakukan,jadi diriku hanya bisa bersabar dan aku menganggap ini pengalaman pertama bekerjaku ternyata seperti ini dunia kerja tidak seindah yang kita impikan.
Nasib sial aku dapatkan di awal pertama aku mendapatkan gaji niat gaji ingin ku kirim ke orang tua namun hanyalah angin lalu karena jujur itu adalah pengalaman yang menyedihkan bagiku.
Pertama aku di tipu oleh rekan kerja ku yang meminjam uang untuk balik kampung katanya orang tuanya sakit salahkan hati ku yang tidak bisa melihat orang bersedih jadi dengan bod*hnya aku meminjamkan rekan kerja ku uang sebesar 300 ribu rupiah dan menjanjikan akan di pulangman 3 hari setelah dia pulang dari kampungnya namun ternyata itu hanyalah omong belaka dirinya hilang bagai di telan bumi ternyata bukan diriku saja yang di bohong bos tempat ku bekerjapun di bohongi olehnya.
Kedua masih soal pinjam meminjam ada temanku dari jaman SD sampai SMP meminjam uang sebesar 200 ribu rupiah alasannya yaitu ia kelilit hutang karena ulah orang tuanya yang tidak bertanggung jawab menimpali semua hutang-hutangnya ke anaknya setelah aku meminjamkannya uang dirinya berjanji akan menggantinya setelah ia mendapatkan pekerjaan lagi dan lagi ucapan manusia memang tidak bisa di pegang setelah ia mendapatkan pekerjaan bahkan sudah lebih dari 3 bulan ia bekerja tidak ada niatan untuk membalikkan uang yang telah ia pinjam akhirnya aku hanya bisa mengikhlaskan.
Ketiga dan terakhir karena jarak tempat kerja ku yang jauh dari tempat tinggal kost ku akhirnya aku mengambil jasa abudemen dan itu aku bayar sebulan nya 800 ribu sudah 1.300 ribu rupiah aku habiskan uang dalam sehari aku menerima gaji belum lagi uang token listrik di kost-ku di tambah lagi kebutuhan pokok makanan ku.
Itu adalah ujian pertamaku dan pengalaman pertamaku setelah aku mendapatkan pekerjaan.
Bagaimana dengan orang tua ku? Ia beliau bertanya namun dengan banyak alasan aku menjawab bahwa aku tidak bisa mengirim uang di awal bulan pertama kerjaku sebab aku memiliki banyak pengeluaran untuk diriku awalnya aku takut jika beliau tidak percaya namun aku meyakinkan bahwa memang uang gajiku habis untuk kebutuhanku.
Sungguh di ruangan yang tidak luas itu aku menangis sendirian dengan kepala aku tadahkan keatas untuk sekedar bersuarapun sudah tidak sanggup lagi hanya ada air mata yang mengalir membasahi pipiku.