Nama sebenarnya adalah Faisal Ahmadi. Tapi dia lebih dikenal dengan nama Ujung Malam. Ujung Malam, itu adalah nama pena-nya. Benar, dia adalah seorang penulis. Yang katanya, penulis serba bisa. Bisa apa!? Iya, bisa nulis, begitu dia bercanda. Sesungguhnya tidak banyak orang yang mengetahui perihal tersebut. Cuma satu-dua orang, bahkan ibu dan bapaknya pun tidak tahu. Ketidaktahuan tersebut memang dia sengaja-- cari aman begitu ia beralasan.
Kenapa cari aman!? Iya, karena menjadi seorang penulis bukanlah hal yang diinginkan kedua orangtuanya, terutama sekali ibunya. Sang ibu memiliki cita-cita yang mulia buat sang anak, jamak memang, tapi ini adalah keinginan terbesar dari seseorang yang telah berjerih lelah dari mengandung, melahirkan hingga membesarkan, dia berkeinginan kelak si anak menjadi seorang dokter. Hebat-hebatnya dokter spesialis. Terserah mau spesialis apa. Yang penting ada kata ' spesialis' dibelakang gelar dokternya. Kata si ibu, biar bisa menolong orang banyak. Sungguh muliakan cita-cita si ibu. Sayangnya, melihat jarum suntik saja si anak langsung jatuh pingsan. Sementara si bapak, meski agak ogah-ogahan dan juga meski tidak turut mengandung dan melahirkan tapi ia setidak-tidaknya punya andil juga selain turut menghadirkan si anak ke muka bumi ini rupa-rupanya punya keringat juga dalam membesarkan si anak-- ternyata eh ternyata punya cita-cita juga, yang mana cita-cita itu tak kalah hebat bahkan jauh lebih hebat malah, berkeinginan kelak si anak menjadi seorang perwira tinggi, syukur-syukur bisa jadi presiden. Dan sayang seribu kali sayang diajak baris berbaris saja ogahnya minta ampun, seribu satu alasan, lebih memilih melipir di bawah pohon rindang lalu berimajinasi liar tentang daun-daun yang jatuh berseliweran di hadapannya.
Aku adalah aku, bukan ibuku, bukan bapakku. Aku punya impianku sendiri. Persetan orang setuju atau tidak setuju. Persetan orang suka tidak suka-- memang perlawanan itu tidak ia ucapkan lewat kata-kata tapi setidaknya perlawanan tersebut ia sampaikan lewat puisi-puisi dan cerita-cerita pendeknya yang kerap muncul di beberapa surat kabar. Dan itu bukan sekali dua kali.