Ketika Melita sedang berbelanja di pasar ia mendapati sebuah kerumunan yang sangat ricuh di sebabkan adanya pertengkaran antara preman yang paling di takutin dan pedangan biasa karena ia tidak tahan melihat pedangan tersebut Teranianya ia reflek melempar sandal kepada pereman tersebut
"Woy siapa yang berani ngelempar sandal ke kepala gua?" tanya sang pereman dengan lantang.
"Gua kenapa?" Jawab Melita dengan berani.
Wajah preman itu memerah kemudian ia langsung berjalan ke arah Melita untuk mendekatinya.
"Oo jadi elu yang ngelempar sandal ke gua hah?! lu gak tau siapa gua?" Jawab preman tersebut.
"Emang elu siapa? sampai sampai gua harus takut sama elu? orang sama sama makan sama sama hidup sama sama manusia harusnya elu itu sadar diri dong jadi orang masa iya elu beraninya sama yang lemah?
Wajah preman tersebut semakin merah karena menahan marah ketika ia hendak menampar tiba tiba kerumunan yang tadi nya hanya melihat berusaha melerai Melita dengan preman tersebut.
salah satu dari para pembeli ada yang berani mengacam menelepon polisi
"Kalian berdua hentikan bila tidak maka saya akan melaporkan kalian berdua kepada polisi"
Preman dan para bawahannya yang sadar dirinya akan bahaya langsung mengambil tindakan untuk segera pergi dari tempat tersebut, sebelum ia pergi ia berucap kepada Melita
"Kali ini selamet lu ya tapi jangan harap kalo kita ketemu lagi lu bakal seberuntung ini kecamkam itu!" ancam preman tersebut.
"Lo pikir gua akan takut? silakan lu cari gua kapan aja gua ladenin berani nya cuman sama cewek" Jawab Melita
Setelah gerombolan Preman itu pergi Melita menghampiri pedagang yang sempat di ganggu oleh preman tadi.
"Permisi pak bapak gak apa apa?" Tanya Melita pada pedagang tersebut.
"Gak apa apa mbak makasih sudah membantu saya" Ujar pedangan tersebut.
"Sama sama, kita sesama umat Islam harus saling di apa ya apa pak ada Allah yang akan selalu melindungi saya, saya cukup berserah diri kepadanya, berhubung bapak baik baik saja saya izin pamit dulu ya pak" ujar Melita berpamitan
"Mari mari silahkan"
kemudian Melita pun kembali kerumahnya.