Suatu hari menjelang Malam, Miya tertidur pulas setelah seharian beraktivitas. Tiba-tiba, ia terbangun di sebuah tempat yang asing. Sekelilingnya dipenuhi padang rumput hijau yang luas, dengan bukit-bukit kecil di kejauhan. Langit berwarna biru cerah, dihiasi awan-awan putih yang berarak perlahan.
"Di mana aku?" Gumam Miya kebingungan.
Ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum ia tertidur, tapi tidak ada yang ia ingat. Tiba-tiba, terdengar suara gemerisik dari balik semak-semak. Miya waspada, namun rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya.
Perlahan, seekor kelinci putih muncul dari balik semak-semak. Kelinci itu menatap Miya dengan mata besarnya yang jernih, seolah mengajaknya untuk mengikuti. Tanpa ragu, Miya mengikuti kelinci itu. Mereka berjalan melewati padang rumput, lalu melewati bunga bunga yang indah bermekaran, menuju sebuah gua kecil di kaki bukit.
"Bunganya cantik sekali, sangat indah," Gumam Miya terpesona.
Di dalam gua, Miya terkejut melihat pemandangan yang ada. Dinding-dinding gua dihiasi oleh lukisan-lukisan indah, menggambarkan berbagai macam binatang dan tumbuhan. Cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah gua membuat lukisan-lukisan itu seolah hidup.
"Ini tempat yang luar biasa," Gumam Miya
takjub.
Kelinci putih itu kembali menatapnya, seolah mengisyaratkan agar Miya mengikutinya lebih dalam. Miya pun menuruti ajakan kelinci itu.
Mereka berjalan menyusuri lorong gua yang semakin sempit. Miya merasa seperti sedang berada di dalam sebuah labirin. Namun, kelinci itu terus memimpin jalan, seolah tahu persis ke mana mereka akan pergi.
Akhirnya, mereka sampai di sebuah ruangan yang luas. Di tengah ruangan itu, terdapat sebuah pedestal yang menyangga sebuah bola kristal besar. Bola kristal itu bersinar terang, seolah menarik Miya untuk mendekat.
Tanpa sadar, Miya melangkah mendekati bola kristal itu. Saat ia menyentuhnya, tiba-tiba saja ia merasa terhisap ke dalam bola kristal itu. Miya terkejut, tapi ia tidak merasakan sakit atau ketakutan. Justru ia merasa tenang dan damai.
Miya pun terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan matanya, berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.
"Apakah itu hanya mimpi? Atau sesuatu yang lebih dari itu?," Gumam Miya lalu berpikir.
Miya tersenyum, merasa bahwa mimpinya barusan adalah sesuatu yang istimewa. Mungkin saja, mimpi itu adalah jendela ke dunia lain, tempat di mana keajaiban dan keindahan abadi. Dan Miya berharap, suatu hari nanti ia bisa kembali ke sana. Lantas Miya kembali tidur namun tak bermimpi tempat yang indah itu lagi setelahnya.
Malam berganti pagi, matahari menyapa bumi. Mimpi kala malam itu, terasa nyata. Miya masih penasaran tentang mimpinya.
"Rasanya tenang sekali berada di mimpi itu, beban hidupku seperti hilang begitu saja. Aku ingin kembali pulang ke mimpi itu. Semoga saja malam ini aku bermimpi tempat yang indah itu lagi," Gumam Miya sembari melamun.
Miya bersiap siap untuk pergi ke sekolah. Tiba di sekolah Miya duduk di kursi paling depan. Kursi paling depan biasanya termasuk orang yang pintar, Miya juga memang pintar.
Bel sekolah berbunyi, pertanda kelas akan dimulai. Pagi ini suasananya sangat damai. Guru melangkah pada mejanya bersiap untuk mengajar. Pendidikan yang diajarkan oleh guru penting untuk pelajar.
Barisan siswa siswi di kelas cukup ribut, karena diberikan tugas oleh Bu Wira guru Bahasa Indonesia.
"Anak anak sekarang tugas kalian membuat karya fiksi berupa cerpen, setelah itu kumpulkan pada Ibu untuk dinilai, lalu maju ke depan untuk mempresentasikan hasil cerpen kalian. Hari ini sudah harus selesai! " Tegas Bu Wira menaungi seluruh kelas.
Tugas yang diberikan Bu Wira cukup sulit bagi mereka yang tidak bisa berimajinasi.
Lalu Miya teringat tentang mimpinya semalam. Fantasi semata yang terjadi kala malam itu, sontak Miya pun menuliskannya pada buku tugasnya, agar bisa menyelesaikan tugas membuat cerpen yang diberikan oleh Bu Wira.
Setelah selesai menulis cerpen, Miya pun menggumpulkan tugasnya kepada Bu Wira untuk dinilai. Setelah itu Miya mempresentasikan hasil cerpennya di depan semua teman sekelasnya.
Semua isi kelas bertepuk tangan, karena hasil cerpen Miya adalah yang terbaik dari setiap teman sekelasnya.
Miya sangat senang sekali mendapat pujian dari teman sekelasnya. Semua berkat mimpi indah semalam yang dialaminya. Miya beruntung bermimpi keajaiban fantasi semata itu.
TAMAT