_____ ............................ _____
★★★
Sekitar 53 tahun yang lalu, saat aku berusia 15 tahun aku memiliki sebuah cerita pengalaman yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku, walaupun dia sudah tiada.
Dia adalah perempuan saleh yang cantik dan anggun. dia sangat cantik bagaikan bunga di tengah padang pasir.
Aku sendiri memang tidak akrab dengannya, namun aku sangat tau jelas tentang cerita ini. jelas aku mengetahui cerita ini, karena aku menyaksikan kejadian itu di depan mataku sendiri.
____53 tahun yang lalu____
Hari ini seperti biasanya aku berangkat sekolah jalan kaki. aku tidak berjalan sendiri, aku berjalan dengan Aisyah. oh iya namaku adalah Fatimah.
Hari ini tidak ada yang istimewa, kami berangkat dan duduk di bangku kami masing masing. pelajaran di mulai semua murid mulai fokus belajar, karena sekitar 2 minggu lagi kami akan menghadapi ujian nasional untuk menentukan kelulusan kami. tentu saja sebelum pembelajaran kami akan di absen terlebih dahulu.
" baik anak anak saya akan mulai
absennya,Ahmad Khalid hasan " ucap Bu
Khadijah.
" hadir " ucap Khalid.
" Aisyah Az'zahra " ucap Bu Khadijah.
" hadirah " ucap Aisyah.
" Dalilah Faridha " ucap Bu Khadijah.
" hadirah " ucap dalilah.
" Fatimah Rasyiah Mazaya " ucap Bu
khadijah.
" hadirah " ucapku.
Absen pun dilanjutkan sampai absen terakhir, yaitu nama sahabatku " Yumna Maulida ". setelah absen selesai kami melanjutkan pembelajaran hingga bel istirahat berbunyi.
Setelah bel berbunyi seluruh siswa siswi pergi istirahat. sebelum aku pergi istirahhat dengan yumna aku sempat melihat Aisyah dan Dalilah pergi ke kantin padahal Aisyah jarang pergi ke kantin bahkan tidak pernah pergi ke kantin.
Dikantin aku melihat seluruh siswa melihat Aisyah seperti sebuah bunga cantik di tengah gurun pasir. aku sedikit geli melihat dan mendengar mereka membicarakan siswi saleh itu dengan perkataan perkataan yang hina dan kotor. aku cukup heran bagaimana bisa mereka melihat Aisyah dengan pandangan kotor, bahkan ketika Aisyah memakai pakaian yang tertutup memenuhi anjuran agama.
Setelah istirahat selesai kami melanjutkan pelajaran kami sampai bel pulang berbunyi. aku tidak pulang bersama Aisyah hari ini karena aku harus mengumpulkan tugas teman-temanku ke meja pak Ali.
Setelah aku selesai mengantarkan tugas itu aku berjalan pulang. jarak antara aku dan Aisyah tidak lah jauh hanya sekitar 50m. namun yang membuatku gelisah adalah Aisyah di buntuti 3 siswa yang membicarakannya dengan kata-kata keji di kantin. aku semakin gelisah karena rumah mereka tidaklah searah dengan kami.
Rumah kami terpencil dari penduduk dan harus melewati daerah perkebunan dan sawah sawah. daerah itu sangat sepi namun sesekali tetap lah ada yang lewat untuk pergi ke sawah. saat berada di belokan pertigaan aku terkejut mengapa Aisyah menghilang padahal jarak di antara kami tidaklah jauh. aku panik dan mulai mencari Aisyah dimana-mana. lalu aku mendengar Aisyah berteriak di dangau dekat sungai (dangau : rumah kecil di sawah).
" tolongggggg!!!!! seseorang tolong
saya, saya hendak diperkosa
tolonggggg!!!!" teriak Aisyah sambil
menangis.
" diammmm!!! percuma kamu berteriak
tidak akan ada yang mendengarmu " ucap
salah satu siswa sambil memegang tangan
Aisyah dengan kuat.
" ingat Allah dan lepaskan saya ini
adalah perbuatan yang sangat hina!!!"
ucap Aisyah tegas sambil meronta dan
menangis.
Tampa fikir panjang setelah tau keadaaan Aisyah aku berlari mencari para petani yang bertani di sawah untuk menyelamatkan Aisyah. tak lama aku menemukan 3 orang petani .aku berteriak meminta tolong pada mereka tentang kondisi Aisyah. setelah menjelaskan kondisi Aisyah kami bergegas berlari menuju dangau itu.
Betapa terkejutnya aku melihat kondisi Aisyah yang sudah telanjang. tubuhku kaku dan dingin melihat kondisi Aisyah. aku membantu Aisyah memakai kembali bajunya sambil menenangkannya.
Petani itupun menangkap 3 siswa itu dan memanggil pak rt dan warga. aku dan Aisyah diperintahkan untuk tetap duduk di dangau itu untuk di introgasi.
Setelah di introgasi aku dan Aisyah di antar warga pulang ke rumah. pak Rt dan warga juga menjelaskan kondisi kami kepada orang tua kami.
Aku melihat dan mendengar dari jendela orang tua Aisyah menangis dan menyumpahi 3 siswa tersebut dan keluarganya.
"bagaimana kalian mendidik putra
kalian, kami sudah susah payah mendidik
putri kami menjadi orang yang saleh
namun lihatlah kelakuan putra kalian
yang merusak masa depan putri kami!!!!''
ucap ibu Aisyah.
" kami minta maaf bu, kami tidak pernah
mengajari putra kami seperti itu,sekali
lagi kami minta maaf " ucap salah satu
dari 3 orang tua siswa itu.
" apakah ucapan maaf kalian dapat
mengembalikan semuanya!!!! tidak
kann!!! kami tau semua yang terjadi
tidak bisa kembali seperti semula lagi
namun ingatlah Allah tidak tidur,
semoga Allah membalas perbuatan anak
kalian dengan adil " ucap ibu Aisyah
lalu pergi ke dalam rumah sambil
menenangkan Aisyah.
...... ......
Setelah kejadian itu Aisyah tidak pernah berangkat sekolah lagi, dan aku sekarang pindah ke tempat yang lebih ramai penduduk karena kekhawatiran orang tuaku. aku tetap menjalani keseharianku seperti biasanya. aku juga menutup mulut tentang kejadian itu, walaupun banyak yang bertanya padaku.
" apakah Aisyah masih belum berangkat??
ini sudah hampir 1 minggu, ujian 1
minggu lagi " ucap Bu Khadijah.
" belum bu mungkin Aisyah masih
terkejut dan sedih tentang kejadian itu
" ucap ku.
...... ......
Hari ujian telah tiba dan Aisyah belum berangkat juga. bahkan setelah 1 bulan Aisyah masih belum berangkat. tinggal 2 minggu lagi kami kelulusan sekolah. 5 hari sebelum kelulusan kami satu sekolah di kejutkan dengan berita meninggalnya Aisyah yang bunuh diri di dangau tempat kejadian.
Esoknya kami pergi takziah ke pesantren rumah tempat Aisyah tinggal. kami mengucapkan bela sungkawa kepada kedua orang tua Aisyah.
...... ......
Aku sendiri masih tidak percaya seorang perempuan saleh sepertinya yang berpakaian tertutup dapat memancing sahwat dan mendapatkan musibah seperti itu. bagaimana dengan kami yang berpakaian terbuka??.
Dari musibah almarhumah Aisyah aku mulai belajar menggunakan pakaian yang sesuai anjuran agama. aku juga mulai membatasi kegiatan dan pergaulanku.
Dan dari musibah almarhumah Aisyah semua warga mulai menjaga dan mengawasi anak mereka begitu pula anak perempuan yang mulai menjaga penampilan, kegiatan, dan pergaulannya.
____Masa sekarang____
Walaupun dangau ini di rumorkan angker tapi warga tidak membongkar dangau ini. sesuai kesepakatan warga dan orang tua Aisyah dulu dangau ini tidak akan di bongkar dan akan tetap di jaga sebagai pembelajaran.
setiap tanggal kematian almarhumah Aisyah, santriwan dan satriwati pesantren milik almarhum ayah Aisyah dan warga akan melakukan renovasi untuk bagian dangau yang rusak termakan waktu. mereka juga akan melakukan kenduri arwah untuk mengenang almarhumah Aisyah.
...... ......
" ayo pulang nek " ucap Azizah cucuku.
" baiklah sayang ayo " ucapku.
Aku berjalan pulang bersama cucuku, Aisyah melihat kami pulang dan tersenyum manis seperti biasanya sampai kami tidak terlihat.
...... ......
Selain rumor dungau yang angker aku juga selalu mendengar rumor penampakan seram almarhumah Aisyah. dia selalu di gambarkan dengan wajah buruk rupa dan pakaian putih yang berlumuran darah.
Aku tau rumor itu tidak benar karena Aisyah dari dulu hingga sekarang tetaplah cantik dan anggun. dia tetaplah bagaikan bunga di tengah padang pasir.
Disaat aku mulai termakan usia Aisyah tetaplah sama seperti masa gadisnya.
Disaat aku mulai keriput dan memiliki rambut putih, Aisyah tetap cantik tampa keriput dengan kulit putih dan hijabnya.
Kisah almarhumah Aisyah memang di selimuti dengan berbagai rumor buruk. namun walaupun begitu kisah almarhumah Aisyah akan tetap abadi selamanya di dangau itu dan Desa watuali....
★★★
_____ ............................ _____
...from...
Fatimah Rasyiah Mazaya