Pria berusia 27 tahun itu duduk termenung di singgasananya dengan tatapan penuh kesedihan, seakan tidak percaya dengan apa yang ia alami sampai saat ini. Michael Ludwig adalah seorang pewaris sekaligus Direktur dari sebuah perusahaan yang bernama Ludwig Corporation. Michael yang sejak dini ditinggal oleh kedua orang tuanya itu tidak pernah merasakan kasih sayang yang begitu mendalam.
“ Nenek sudah di Norwegia. Jaga perusahaan baik-baik,Mengerti?“ Nenek Michael berpesan.
“ Ya, Baiklah. Bye.“ Dengan wajah masam Michael menutup telepon.
Meskipun masih memiliki seorang nenek, tidak membuat kehidupan Michael dipenuhi dengan perasaan kasih sayang. Neneknya bahkan hampir tidak memiliki waktu untuknya. Dan membesarkan dirinya hanya dengan materi. Hal itu membuat Michael tampak menyedihkan dan kesepian.
Di tengah lamunannya,
“ Tok … Tok … “ Suara ketukan pintu terdengar.
“ Masuk.“ Teriak Michael dengan nada tegas.
Seorang wanita dengan tubuh yang gemulai serta rambut yang terurai berlenggang memasuki ruangan dengan setumpuk dokumen di kedua tangannya. Ya, dia adalah Theresia. Michael mulai tersenyum karena wanita yang ia sukai diam-diam selama ini datang menghampirinya.
“ Ini dokumen yang Tuan minta.“
“ Bukan ini yang saya mau!“
“ Ta-Tapi Tuan … Kata Yasmin …“
“ Kembali dan bawakan dokumen yang saya minta sebelumnya, Sekarang!“ Pinta Michael sambil berpura-pura menatap penuh amarah kepada Theresia.
“ Baik Tuan.“
Theresia keluar ruangan dengan rasa kesal. Keningnya mengerut seraya menambahkan kekesalan di wajahnya. Ia kembali bekerja sesuai dengan perintah Michael sebelumnya. Sebenarnya ini semua ulah Yasmin. Ia dengan sengaja memberikan informasi palsu kepada
Theresia untuk membuat Theresia akhirnya dimarahi dan dibenci oleh Michael. Hal ini sebenarnya sudah seringkali terjadi. Akan tetapi ia belum menyadari bahwa semua ini adalah ulah temannya sendiri.
Yasmin selalu berpura-pura menyemangatinya agar terlihat bahwa dirinya sangat baik. Yasmin segera memasuki ruangan Michael. Ia mendapati Michael sedang tersenyum-senyum sendiri. Yasmin tampak cemburu karena Ia menyadari bahwa Michael memiliki perasaan kepada Theresia.
“ Sepertinya ada yang membuatmu bahagia.“ Ucap Yasmin.
“ Bisakah kau mengetuk terlebih dahulu sebelum masuk?“ Michael terlihat kesal.
“ Maaf, aku hanya berpikir bahwa ada dokumen penting yang harus segera ditandatangani oleh mu.“
“ Baiklah, cepat berikan! Dan setelah itu kau boleh keluar. “
Yasmin begitu kesal. Ia tidak menyangka bahwa apa yang dia lakukan selama ini hanyalah sia-sia. Bahkan ia melihat bahwa Michael semakin jatuh cinta kepada Theresia. Yasmin pun mulai memikirkan akal liciknya untuk menjebak Theresia.
Jam kantor telah usai, karyawan yang lain bersiap untuk pulang. Sementara Theresia masih sibuk mencari dokumen untuk diserahkan kepada atasannya. Michael hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Ia berpikir semenjak bertemu dengan Theresia kehidupannya begitu berwarna, bahkan Ia sangat terkesan dengan perhatian kecil yang diberikan kepadanya. Michael sudah mulai berpikir bahwa ia akan menyatakan perasaannya segera. Michael pun dengan percaya diri berpikir bahwa Theresia pasti akan menerima cintanya. Malam itu, sebelum pergi, Ia meninggalkan kudapan untuk Theresia, dan Theresia sangat senang dan tersenyum kepadanya.
Wajah kesal dan marah sama sekali tidak terlihat di wajahnya. Michael sampai terpaku cukup lama hanya untuk menatap wajahnya.
“ Jangan terlalu malam, Aku akan berikan waktu sampai jam 8 malam. Mengerti?“
“ Baik Tuan. Dan terimakasih untuk makan malamnya.“ Theresia berkata sambil menunjukkan bungkusan makanan yang Ia terima.
“ Ya. Aku pergi.“ Pamit Michael.
Nahasnya, Malam itu adalah malam terakhir dimana Michael melihat senyum manis yang terpancar di wajah Theresia. Belum sampai di rumah, Michael mendapatkan sebuah panggilan masuk dari rumah sakit yang mengatakan bahwa Theresia telah tiada. Rasa sesak yang sudah lama hilang, Kini timbul kembali. Michael terdiam setelah ia menepi di bahu jalan. Ia seakan tidak mempercayai apa yang baru saja ia dengar beberapa detik yang lalu. Setelah ia kehilangan kedua orang tuanya, Kini Ia juga harus kehilangan orang yang dicintainya sebelum menyatakan perasaannya.
Wajah manisnya, celotehan jenakanya, cara berjalannya, bahkan cara Theresia memandang dirinya pun masih terekam jelas dalam benak Michael. Tanpa Dia sadari, Air mata berlinang di wajahnya. Rasa sesal mencabik-cabik perasaannya. Kini, Theresia hanya sebuah memori indah bagi dirinya. Kesepian kembali mengusik kehidupannya lagi, seolah enggan untuk pergi dan melekat sampai ke darah daging.