"Hiks.. hiks... Ayah... Aku janji aku gak bakal ngulangin kesalahan itu lagi ayah, aku janji yah, sakit yah... Sakit..."
"Sakit kamu bilang? Hah?
SIAPA SURUH KAMU BOLOS SEKOLAH? Rasain ini, makanya jadi anak itu jangan bandel"
"Udah ayah, sakit... L-lia janji, Li-lia gak akan bolos sekolah lagi ayah, Lia janji..."
"Awas aja sampe kamu berani bohong, saya akan ngehukum kamu lebih berat dari ini."
"Ampun ayah, Lia janji, Lia gak akan bandel lagi..."
"Yaudah hari ini saya ampuni, awas saja kamu kalau sampai saya denger dari gurumu kamu bolos, saya gak akan segan-segan untuk menghukum mu!"
Laki-laki itu membuang ikat pinggang yang tadi ia gunakan untuk melukai gadis di depannya. Dengan tatapan yang sulit di artikan, laki-laki yang di panggil ayah oleh gadis tersebut segera meninggalkan pekarangan rumah, meninggalkan gadis itu dengan memar dimana-mana.
"Apakah ayah se-benci itu denganku?" Monolognya.
Gadis itu bernama Lia Hameeza Arghantara, ibunya meninggal tepat setelah melahirkannya. Sejak saat itu ayahnya sangat membencinya, dan beralasan karna dialah istrinya meninggal.
Gadis itu_Lia bangkit, ia merasakan punggungnya sakit, begitu pula dengan kakinya. Gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk bangkit dan masuk ke dalam rumah.
•́ ‿ ,•̀
Lia menutup pintunya rapat, tak lupa menguncinya. Takut kalau seandainya kakaknya masuk ke dalam kamarnya dan mengganggunya seperti sebelumnya.
Yups, tak hanya ayahnya yang menyelakainya, Zaznan bahkan tak segan-segan menggunakan cutter untuk melukainya. Dia bersyukur kakaknya Vero hanya bersikap acuh saja, tak main tangan kepadanya.
"Shhh... Luka kemarin aja belum sembuh." Gerutunya saat mengobati luka sabetan di betisnya.
"Bunda, Lia pengen ikut bunda aja. Lia cape bund, Lia dah ga sanggup." Lirihnya sembari memeluk foto bundanya.
Lia pun tertidur karna terlalu lelah dan lama menangis, dengan masih memeluk foto bundanya.
・ั﹏・ั
Keesokan harinya Lia terbangun, dia baru sadar bahwa dirinya masih menggenakan seragam sekolah. Karna luka, ia memutuskan untuk tidak mandi, kalau mandi lukanya akan basah, memperlambat kesembuhan.
Lia mencuci muka dan menggosok giginya. Setelah itu dia mengenakan seragamnya, tak lupa sweater polos warna biru kesukaannya. Dengan ini dia dapat menyembunyikan luka-luka di tangannya. Selain itu rok yang di gunakan nya cukup panjang, jadi luka yang kemarin tidak terlihat.
Lia keluar dari kamarnya pukul 06.00. Dia akan berangkat ke sekolah, sebelum sampai di depan pintu ia mendengar suara dari belakangnya.
"KENAPA KAMU BELUM MEMBERSIHKAN RUMAH HAH?!"
"M-maaf ayah.... Lia bangun kesiangan. Nanti pulang sekolah Lia bersihin rumah."
"TIDAK MAU TAU, SEKARANG JUGA HARUS BERSIH!"
"Tapi nanti Lia terlambat..." Lirihnya
"GA ADA TAPI - TAPIAN. SEKARANG YA SEKARANG!!"
mau tidak Lia harus membersihkan rumahnya. Perkara sekolah, yang penting ia boleh berangkat saja sudah Alhamdulillah.
"WOI, BISA MINGGIR GAK? GANGGU PEMANDANGAN TAU!"
Lia menoleh, di sana ia melihat Zaznan yang sedang berdiri, di sebelahnya ada Vero yang tampak biasa-biasa saja dengan wajah acuhnya.
"Maaf kak, Lia di suruh bersihin rumah sama ayah." Ucapnya seraya bergeser memberikan jalan untuk kedua kakaknya.
"Cih, siapa yang nanyain lo goblok!!" Bentak Zaznan.
Vero langsung meninggal tempat itu tanpa sepatah katapun, lalu di ikuti Zaznan yang terus-menerus berkata kasar.
"Aku ingin memiliki kakak yang baik, ga yang seperti ini." Lirihnya, tak terasa air matanya mengalir begitu saja.
Setelah ia membersihkan semua pekerjaan rumah, ia segera berangkat. Lia berhenti di pinggir jalan menunggu angkot yang biasanya.
"Duh kok lama sih..." Gerutunya.
Lia bolak-balik melihat jam di hpnya, sekarang menunjukkan pukul 06.50.
"Aduh, apa Lia jalan kaki aja ya?" Monolognya.
Lia pun berjalan secepat mungkin menuju ke sekolah, padahal sekolahnya lumayan jauh, namun mau gimana lagi? Kalau ia tak berangkat pasti ayahnya lebih marah dari yang kemarin.
Lia berjalan tergopoh-gopoh, kakinya sekarang terasa sakit lagi, ia merasakan ada yang mengalir di kakinya. Lia duduk, melihat kakinya.
Luka yang kemarin ternyata terbuka lagi, dan mengeluarkan darah yang cukup banyak. Lia tidak membawa obat maupun kasa, ia memegangi luka di kakinya.
Brummm.... Brummm...... brummm....
Terdengar deru motor yang mendekat. Motor itu berhenti di depan Lia yang sedang duduk di batu pinggir jalan.
"Lo gapapa?" Tanya laki-laki itu.
"Gapapa." Ucapnya sambil menundukkan kepala.
Laki laki itu mendekat, "kaki Lo berdarah, harus segera di obati." Ucapnya kemudian.
"A-aku gapapa" ucap Lia
"Lo sekolahan ma gue kan? Bareng gue aja."
Lia membelalakkan matanya, ia tadi tak sempat memperhatikan seragam yang di gunakan laki-laki di depannya itu.
Laki-laki itu melepas dasinya, "maaf lancang, tapi kalau ga di giniin darah Lo bisa habis." Ucap laki-laki itu lalu melilitkan dasinya di kaki Lia.
"Em, mmakasih." Ucapnya gugup
"Lo bisa jalan ga?"
"B-bisa kok" liat berusaha untuk bangkit, dan berjalan tergopoh-gopoh ke motor sport laki-laki itu.
"Sini gue bantuin."
Laki-laki itu mengangkat tubuh Lia supaya bisa duduk di jok motor laki-laki itu.
"Dah siap? Pegangan, ntar jatoh." Ucap laki-laki itu sebelum menyalakan motornya.
Lia berpegangan ke belakang motor, namun laki-laki itu tak kunjung menjalankan motornya. Laki-laki itu menarik lembut tangan Lia, lalu melingkarkan tangannya ke pinggangnya.
"Pegangan, gue mau ngebut, nanti kalau jatuh gue yang ada kena masalah lagi." Ucapnya lalu menjalankan motornya.
Sesampainya di sekolah.
"Mau gue turunin?" Ucap laki-laki itu setelah berhenti di parkiran.
"A-aku bisa sendiri." Ujar Lia gugup.
Lia turun dari motor dengan sedikit kesusahan, dengan hati-hati dia menjaga jarak dari laki-laki itu.
"Mau gue antar sampe UKS?" Tawar laki-laki itu.
Lia menggeleng, "aku bisa sendiri, emm.. makasih..." Ujar Lia.
"Oh iya gue Kenzie, lo?" Laki-laki itu memperkenalkan dirinya.
"Aku Lia. Aku duluan ya, nanti dasinya ku ganti." Ucap Lia.
"Ga perlu, gue masi punya dasi yang lain." Jawab-nya.
"Oh, kalo gitu aku duluan ya, sekali lagi terima kasih."
Lia berjalan menuju ke kelasnya. Sedangkan laki-laki itu_Kenzie, dia masih berdiri di depan sepeda motornya, entah apa yang ia tunggu.
Di kelas
Lia masuk ke kelas, luka tadi udah di obati di UKS oleh seorang guru penjaga UKS.
"Li, itu kakimu kenapa?"
Pertanyaan dari Riska_satu-satunya sahabat Lia membuat atensi seisi kelas tertuju padanya. Apalagi rok yang di gunakannya terkena bercak darah yang cukup terlihat jelas.
"Ehh, enggak apa-apa. Ini tadi aku jatuh waktu di jalan, udah di obati kok." Ucapnya sembari tersenyum manis.
"Beneran gapapa Li? Nggak pulang aja Li?" Tawar Dipta_ketua kelas.
"Beneran gapapa ya. Aku ga mau ketinggalan pelajaran." Jawabnya sambil tersenyum.
"Ya sudah kalau kamu maunya gitu. Ris, bantuin ngapa, kasian sama temen lo." Ucap Dipta melotot ke arah Riska.
Riska langsung membantu Lia untuk duduk di bangkunya. Sedangkan yang lainnya kembali ke tempatnya masing-masing.
Bel tanda istirahat telah berbunyi, siswa-siswi segera meninggalkan ruang kelas untuk mengisi perut kosong mereka.
"Li, ke kantin yuk." Ajak Riska.
"Kamu duluan aja Ris, nanti aku nyusul." Ucap Lia.
"Beneran loh yaa... Gue tungguin di sana, awas aja nanti kalo ga Dateng gue jewer." Ucap Riska menggoda.
"Iya iyaa... Kamu pesen aja dulu nanti aku ke sana." Jawabnya.
Riska mengangguk lalu meninggalkan Lia yang masih setia duduk di kursinya.
Lia ternyata masih mengerjakan PR nya, karna kemarin ia ketiduran jadi dirinya tidak sempat mengerjakan PR dari gurunya.
Beberapa menit kemudian, Lia telah menyelesaikan PR bahasa Indonesia nya. Lalu ia bergegas menuju ke kantin.
Saat di jalan karna kakinya masih sakit, ia berjalan sedikit lebih lambat. Tiba-tiba dari arah yang berlawanan ada seorang gadis yang sedang berlari kencang. Gadis itu menabrak Lia.
"WOI KALO JALAN TUH YANG BENER !! KALO LIAT ORANG LARI TUH HARUSNYA MINGGIR, MALAH MAPAN!!" teriak gadis yang menabrak Lia tadi.
Gadis itu segera berdiri, dan langsung marah-marah kepada Lia.
Lia merasakan sakit yang luat biasa, darahnya merembes dari perban, namun tak ada yang menyadarinya. Ia berusaha menahan rasa sakitnya.
"NGAPAIN DIEM AJA HAH? SOK - SOK AN ? GUE JUGA JATOH TAPI GUE GAPAPA KOK BUKTINYA."
"WOI LO DENGER GAK SIH? BUDEG YAA?"
siswa-siswi yang melihat itu hanya berbisik-bisik di sekitar mereka tanpa ada niatan untuk membantu Lia.
Gadis itu mendekat lalu berjongkok di depan Lia.
"LO DENGERIN GUE GAK SIH?" ucapnya sembari mengangkat dagu Lia kasar.
"M-maaf..." Lirih Lia.
"Cihhh... Sok lemah." Sarkas gadis itu.
"BERLYN!!!" teriak seorang laki-laki dari arah yang berlawanan.
Gadis itu langsung menatap lekat wajah laki-laki yang memanggilnya. Laki-laki itu berlari menerobos masuk mendekati mereka berdua.
"Li, kamu gapapa? Coba liat kakimu." Ucap laki-laki itu cemas.
"Kenzie..." Lirik Lia
Berlyn tercekat, "Zie... Kenapa?"
"Li, lukanya berdarah lagi. Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang." Ucap laki-laki itu_Kenzie tanpa memperdulikan gadis di belakangnya yang menatapnya nanar.
Kenzie membopong tubuh Lia ala bridal style. "Permisi, Beri jalan." Ucapnya berusaha keluar dari gerombolan siswa-siswi yang tengah memperhatikan mereka.
"KENZIE!!!"
Kenzie menoleh, lalu menaikkan sebelah alisnya "APAA? BURU INI KEADAAN SERIUS." Ucapnya ketus.
Berlyn menatap tak percaya, dia diam saja tak menjawab. Kenzie lalu bergegas ke UKS terlebih dahulu, lalu meminta izin untuk mengantarkan Lia ke rumah sakit.
ಠ﹏ಠ
"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Kenzie cemas.
"Lukanya cukup besar, jadi harus di jahit. Selain itu tak ada masalah yang serius." Jelas dokter itu.
"Saya boleh masuk?"
"Silakan, lukanya juga sudah di jahit. Setelah melunasi pembayaran, dia sudah boleh pulang."
"Baik dok, saya akan urus pembayarannya dulu saja."
"Baiklah, silakan menuju resepsionis."
"Makasih dok."
"Sama-sama."
Kenzie segera melunasi biaya pengobatan Lia. Setelah selesai ia menemui Lia di ruang perawatan.
"Gimana kondisi Lo?"
"Aku baik baik saja. Tapi gimana dengan biaya rumah sakit nya?"
"Sudah lunas. Lo udah boleh pulang."
"Hah? Beneran?"
"Iyaa. Lo mau pulang sekarang apa kapan?"
"Jangan pulang, ke sekolah aja." Lia menawar.
"Kenapa? Harusnya istirahat biar cepet sembuh."
"Nanti ayah marah kalau Lia pulang sebelum waktu selesai." Jawabnya lirih.
"Tenang, nanti gue bantu ngomong sama bokap Lo biar Lo ga di marahin." Kenzie mencoba menenangkan Lia.
"E-enggak usah. Kita ke sekolah aja." Ucap Lia takut.
"Pokoknya harus pulang. Lo ga liat waktu tadi Lo malah jadi tambah luka kek gini? Kalo gini caranya percuma gue bantuin Lo." Ucap Kenzie menahan emosi.
"B-baiklah..."
Kenzie membantu memapah Lia sampe parkiran. "Tunggu sini dulu, gue ambil motor." Ucapnya menyuruh Lia untuk duduk di kursi di dekatnya.
Beberapa saat kemudian Kenzie kembali sembari menaiki motor sport berwarna hitam-biru.
Kenzie lalu turun, memapah Lia lagi, lalu mengangkat tubuh Lia untuk membantunya naik ke jok motor.
Kenzie lalu menyalakan motornya, "pegangan!!"
Lia langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Kenzie. Kenzie tersenyum singkat, lalu melakukan motornya sesuai instruksi dari Lia.
"Itu rumahku." Ucap Lia menunjuk sebuah bangunan 2 lantai yang tampak megah dengan sebuah taman di depan rumahnya.
Kenzie berhenti di depan gerbang rumah milik Lia.
"Sini gue bantu." Lia mengulurkan tangannya, Kenzie membantunya untuk turun dari motor milik Kenzie.
"Permisi!!" Ucap Kenzie lalu muncul seorang bapak-bapak berkisar usia 40 tahunan.
Saat membukakan gerbang laki-laki itu tampak terkejut, lalu dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya dengan datar.
"Kenapa?" Tanya nya sinis.
"Maaf om, saya tidak bermaksud lancang. Saya di sini nganterin Lia pulang. Tadi di sekolah luka di kakinya berdarah lagi, lalu saya bawa ke rumah sakit. Lalu sekalian saya antar pulang." Ucap Kenzie sopan.
Laki-laki itu menatap Kenzie sinis, lalu beralih menatap Lia yang sekarang tertunduk lesu.
"Baiklah, silakan kembali ke sekolah. Terima kasih telah mengantarkan dia." Ucap laki-laki itu.
"Ya sudah om, saya pamit dulu." Ucap Kenzie lalu di balas anggukan oleh Mahes_ayah Lia.
Kenzie menaiki motornya, lalu pergi meninggalkan pekarangan rumah elit itu.
"MASUK KAMU!!" ucap Ayahnya saat Kenzie telah benar-benar menghilang dari pandangan.
Lia segera berjalan dengan menahan rasa sakit yang masih terasa di kakinya.
"Lelet banget." Ucap ayahnya lalu menarik paksa Lia menuju pintu rumah.
"Arghh... Sakit yah..." Teriak Lia menahan tangisnya.
"MAKANYA CEPETAN!!"
"Lepasin yah, kaki Lia masih sakit yah."
Laki-laki itu langsung melepaskan cengkraman tangannya, Lia yang tak siap langsung terjatuh di rerumputan.
"Sshhh...."
"KALO KAMU TIDAK BERGEGAS SAYA AKAN MENARIKMU LAGI!!"
Lia langsung berusaha bangkit. Dia tidak ingin di seret seperti tadi lagi, kakinya sangat sakit.
Setelah memasuki rumah ayahnya membanting sebuah vas bunga dengan sangat kencang.
Pyarrrr.....
"KAMU MEMBUAT SAYA MALU. KALO TAU LUKA ITU SEGERA DI OBATI, SENGAJA YA BIAR ORANG-ORANG PADA TAHU KALAU SAYA NYAKITIN KAMU HAH?" Teriak ayahnya dengan mata melotot.
"Enggak ayah, tadi itu udah ga berdarah. terus tadi jatuh, makanya darahnya keluar lagi."
"ALAH ALASAN. NGOMONG AJA KAMU GITU BIAR ORANG-ORANG PRIHATIN SAMA KAMU KAN? NGAKU AJA KAMU!!"
"Enggak ayah, Lia ngak gitu." Lia mulai meneteskan air mata nya.
"ALASAN!!! HARI INI KAMU GAK DAPAT JATAH MAKAN."
"tapi ayah....."
"GAK ADA TAPI TAPIAN." sela ayahnya.
Lia mengangguk, lalu ia bergegas kembali ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar Lia langsung menangis.
"Bunda, bunda liat kan perlakuan ayah ke Lia? Lia ikut bunda aja yaa..." Lirih gadis itu.
Ia tadi sempat mengambil pecahan vas kaca saat di bawah. Lia menggoreskan pecahan vas itu di nadinya sembari terus menangis.
"Bunda.... Tungguin Lia ya Bun, bentar lagi Lia ikut bunda."
Ucapnya seraya tersenyum.
Darah menetes sangat banyak, Lia melihatnya langsung tersenyum senang. "Bunda, Lia datang." Lirihnya lalu matanya terpejam.