Malam itu sungguh definisi sempurna dari kesunyian. Semua lampu telah mati, hanya ada satu-dua kendaraan yang melintas, itu juga tidak sampai satu jam sebelum jalanan sepenuhnya kosong. Setiap manusia yang hidup disana telah memasuki alam mimpi, tertidur pulas di kasur tercinta mereka masing-masing. Tidak ada satupun tanda-tanda kehidupan yang terlihat di jam lewat pukul 12 malam ini.
Kecuali sebuah minimarket 24 jam yang masih buka di pinggir jalan.
Papan neon yang bertuliskan '7-Eleven' bersinar redup, pendar hijau dan putihnya menjadi satu-satunya penerangan di jalanan itu. Satu-satunya tanda kehidupan yang tersisa, meskipun tiada seorangpun yang mendatangi tempat itu. Di dalam sana, di balik meja kasir, seorang wanita muda dengan jenuh mengunyah permen karet, menggulir halaman Instagram yang isinya sama sekali tidak ada yang menarik perhatiannya.
Tersemat di dada kirinya, sebuah tanda pengenal bertuliskan 'Amy - CASHIER STAFF', yang menunjukkan bahwa malam ini dirinya tengah menjalani waktu sif paling melelahkan dalam jam kerja manapun di dunia, yakni sif tengah malam. Ya, walau gajinya lumayan meningkat dengan sif ini dan dia tidak perlu memikirkan harus makan apa lagi besok—rasa jenuh tetap tidak terelakkan. Ia sengaja mengambil sif ini karena benar-benar sedang butuh uang tambahan, untuk kebutuhan sehari-harinya di apartemen usang yang biaya sewanya telah ia tunggak 3 bulan.
Amy menghela nafas, meniup permen karet di mulutnya hingga menjadi balon besar. Setelah meledak, ia mengeluh, "Lama-lama aku bisa gila semalaman disini. Toko ini tidak menjual miras, ya? Andaikan ada satu botol saja..."
Ia menoleh ke kanannya, lalu menangkap sebuah mesin Slushii dalam berbagai varian rasa menatapnya balik. Segera terlintas sesuatu di pikirannya, yang membuat ia berdiri dari kursinya, melangkah ke mesin tersebut seraya mengambil sebuah gelas kertas untuk minuman itu. "Aku penasaran jika semua rasanya dikombinasikan menjadi satu." Ujarnya.
Namun baru saja ia menyodorkan gelasnya ke bawah mesin, bel pintu masuk bergemerincing, tanda ada pelanggan yang datang.
Reflek Amy buru-buru menaruh gelasnya, berbalik ke arah pintu dan menyapa, "Selamat datang! Apa yang bisa saya bantu malam ini?"
Pelanggan pertamanya malam ini adalah seorang pria berewokan, berpostur tinggi dan bidang, memakai jas kantoran lengkap dan membawa sebuah koper hitam yang kelihatannya mahal. Rambutnya disisir klimis ke belakang, menambah kesan formal pada sosoknya. Di dada kirinya tersemat sebuah kartu nama, tapi jarak Amy dengan pria itu terlalu jauh sehingga ia tidak bisa melihatnya dengan jelas.
"Uhm... oke... apa yang aku lakukan disini?" Heran pria itu tiba-tiba.
Amy dengan tetap menjaga kesan sopannya, menjawab, "Permisi?"
"Aku..." Pria itu tampak bingung setengah mati, melongok ke sekeliling toko dengan wajah menyelidik, dahi mengernyit penasaran. Kemudian ia menatap Amy dan berkata, "Ini seharusnya adalah kantorku."
"Maaf... kantormu?"
"Ya, aku menuju kesini untuk sif malamku. Apa mungkin aku salah jalan? Tapi aku yakin sekali tempatnya disini..."
"Umm, mungkin karena sudah malam, dan sudah gelap... Anda jadi kebingungan dan salah lihat? Bisa saja kantor anda ada di sisi lain jalan..."
"Tidak, tidak. Aku yakin sekali tempatnya disini. Aku sudah bekerja di kantor itu selama 4 tahun. Tidak mungkin aku lupa jalannya." Pria itu pun menaruh kopernya dan mengeluarkan ponselnya, buru-buru mengecek aplikasi pencari lokasi untuk memastikan. "Aku... apa? Apa aplikasi ini rusak? Apa-apaan ini?"
Amy menelan ludah, tidak yakin apa yang sebaiknya ia lakukan. Dengan kikuk ia melangkah pelan ke arah pria itu, berkata, "Pak, apa ada sesuatu yang salah?"
Pria itu langsung menunjukkan layar ponselnya ke wajah Amy, mengeluh frustasi, "Apa maksudnya lokasi kantorku tidak tersedia? Itu adalah kantor akuntansi paling terkenal di kota ini... apa sinyalku buruk? Atau aplikasinya yang rusak?"
Amy mengerutkan dahi, ikut bingung dengan apa yang ditampilkan layar ponsel pria itu. Pria itu mencari 'Shieldmail Corp.' di aplikasi pencari lokasi, yang katanya adalah kantor akuntansi paling terkenal di kota ini, namun jangankan aplikasi itu, Amy saja tidak pernah mendengar ada yang namanya kantor dengan nama itu selama 5 tahun ia tinggal di kota ini.
Apa pria ini mabuk? Apa pria ini hanya orang iseng yang sedang membuat konten prank? Apa pria ini mengalami amnesia jangka panjang atau semacamnya? Amy tidak tahu pasti.
Yang pasti, Amy merasakan ada sesuatu yang aneh dengan pria ini, dan ia tidak terlalu menyukai firasat itu.
"Bagaimana? Apa pendapatmu?" Tanya pria itu.
"Kurasa..." Amy menggaruk kepalanya heran, "Anda harus—"
Bel di pintu masuk kembali bergemerincing.
Ada pengunjung lain.
Amy dan pria misterius itu sontak menoleh.
"すみません...." (Permisi...)
Seorang gadis remaja berpakaian sekolah dengan wajah Asia yang kental memasuki toko. Dan benar saja, gadis itu pun terkejut melihat dua orang yang ada di hadapannya. Melihat... semuanya. Interior toko. Konter kasir. Rak-rak penuh makanan dan minuman ringan. Mesin minuman berwarna-warni. Kulkas es berisi minuman dingin dan es krim.
"Ada... yang bisa saya bantu?" Amy, selaku staf toko, di tengah badai kebingungan dan keheranan yang melanda, tetap harus menyapa pelanggan dengan sopan.
"あの……どうやら入り道を間違えたみたいですね?" (Umm... sepertinya aku salah masuk, ya?) Gadis itu mengernyit kebingungan. Menatap Amy dan pria berewokan itu bergantian.
"Dia bicara apa?" Pria berewokan bertanya. "Bahasa Jepang?"
Amy tidak menghiraukan si pria berewokan dan bertanya balik kepada si gadis Jepang, "Bisa bicara bahasa Inggris?"
Gadis itu sontak memelotot kaget. "英語?" (Inggris?) Kemudian ia menggeleng-geleng dengan wajah resah, berkata pelan, "ここは日本じゃないの?あなたは観光客ですか?" (Bukannya ini di Jepang? Apakah kalian turis?)
Amy mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi penerjemah otomatis, mendekati si gadis Jepang, sementara si pria berewokan masih menunggu dengan tidak nyaman seraya berpikir keras akan apa yang sedang terjadi. "Bisakah kau ulangi perkataanmu tadi?"
Aplikasi itu langsung menerjemahkan perkataan Amy ke bahasa Jepang, dan gadis tersebut mengangguk seraya membalas, "Aku sedang dalam perjalanan ke perpustakaan langgananku disini, lalu ketika sudah sampai, aku bingung sekali karena aku ternyata malah mengarah ke minimarket ini. Padahal aku sudah hafal jalannya walaupun sudah gelap gulita begini, dan aku memang sudah biasa ke perpustakaan itu setiap tengah malam untuk belajar... apa mungkin kalian tahu sesuatu?"
Amy dan si pria berewokan langsung bersitatap tegang. Pernyataan gadis Jepang satu ini persis sama dengan apa yang dialami si pria berewokan. Mereka berdua tengah menuju lokasi mereka masing-masing dibawah malam gelap gulita, satu tujuan, namun ketika mereka sampai ke tempat yang dimaksud, mereka tidak tahu berada dimana.
Apa yang sebenarnya terjadi...?
"Umm..." Si pria berewokan yang bingung harus memanggil Amy dengan apa, pun menatap tanda pengenal yang tersemat di dada kiri wanita itu. "Amy, tetap nyalakan aplikasi penerjemahnya. Aku mau bertanya. Bisakah kau cari lokasi yang kau maksud di internet? Siapa tahu kau salah jalan."
"Baiklah..." Si gadis Jepang pun segera membuka ponsel, mengetik, mengetuk dan menggulir layar, dan sesuai dugaan Amy maupun si pria berewokan, terbit ekspresi tidak percaya di wajahnya. "Tunggu... lokasi tidak tersedia? Apa maksudnya?"
Si pria berewokan langsung menjentikkan jari, memasang wajah yang seolah berkata 'Sudah kuduga!', dan berkata, "Oke, jelas ada sesuatu yang tidak beres disini. Aku menyerah! Aku menyerah! Tunjukkan kamera tersembunyinya! Kalian berhasil menakutiku, oke?! Amy, kumohon, aku hanya ingin segera pergi ke kantorku, jadi tolong hentikan semua omong kosong ini—"
"Apa maksudmu? Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi disini! Aku sama bingungnya denganmu!" Diam-diam Amy melirik ke arah tanda pengenal si pria berewokan entah karena intuisi nya merasakan sesuatu, dan benar saja... "Tunggu, namamu Justin Saunders?"
"Ya, lantas kenapa?"
"Saunders juga nama belakangku."
"Lalu apa itu seharusnya menjawab sesuatu?"
"Kau, gadis Jepang." Amy menatap lurus-lurus mata sipit gadis itu yang berkedut tidak nyaman. "Siapa namamu?"
"Aku? Namaku Nami. Nami Isaka."
"Nama keluargamu? Marga?"
"Aku terlahir blasteran, jadi nama margaku... Saunders..."
Amy membelalakkan mata. Berniat memastikan satu hal lagi, walaupun kemungkinannya kecil ia akan menemukan benang merah dengan menanyakan hal ini, dan sangat tidak masuk akal jika mengharapkan jawaban yang cocok, "Siapa nama ayah—"
"Tunggu, tunggu, tunggu! Memangnya kenapa kalau kita semua memiliki nama belakang yang sama?! Itu tidak aneh! Yang aneh sekarang adalah kita berdua hendak pergi ke tempat tujuan kita masing-masing, tapi ternyata tempat itu tidak ada sama sekali di permukaan bumi ini! Lenyap tak bersisa!" Justin memprotes. "Apa jawaban yang mau coba kau dapat dengan menanyakan hal itu?!"
Tapi Nami tetap menjawab pertanyaan Amy, dengan satu jawaban yang mengejutkan, sekaligus aneh... "Nama ayah kandungku Alfred. Alfred Saunders."
Jawaban itu mampu membungkam mulut Amy dan Justin serapat-rapatnya. Karena...
Nama ayah mereka berdua juga Alfred Saunders.
Amy pun menanyakan berbagai detail kecil lagi kepada Nami. Nama ibu kandung mereka? Sama. Nama kakek dan nenek kandung mereka? Sama. Makanan kesukaan mereka? Sama. Film favorit mereka? Sama. Genre musik favorit, rasa minuman favorit, warna kesukaan, semuanya sama persis.
Seolah-olah mereka bertiga adalah orang yang sama.
Yang membedakan hanya nama, usia, tempat lahir, tempat tinggal, pekerjaan, dan jenis kelamin (Amy dan Justin).
Dan yang lebih aneh, Justin dan Nami seperti berasal dari dunia yang sama sekali berbeda dengan Amy. Amy memberitahu nama tempat-tempat terkenal seperti mal, pusat perbelanjaan, sekolah, kantor dan lain-lain yang ada di kota, tapi tidak Justin maupun Nami mengenali tempat-tempat tersebut. Begitupun mereka berdua ketika menyebutkan nama-nama tempat terkenal yang mereka tahu, tidak ada satupun yang Amy kenali pernah ada di dunia ini, bahkan setelah mengecek internet.
"Mungkin semua ini hanya kebetulan, pasti hanya kebetulan. Jalanan sedang gelap gulita, aku kelelahan, dan akhirnya berhalusinasi..." Justin mencengkeram kepalanya kuat-kuat, kemudian bergegas berdiri sambil mengeluarkan kunci mobil. "Nami, ikut aku. Kita akan mencarinya sendiri. Bisa saja internet sedang mengalami masalah atau apa, atau ada yang meretasnya sehingga lokasi itu malah tidak tersedia padahal ada di sekitar sini. Aku tidak akan ikut campur ke dalam omong kosong doppelganger ini. Itu pasti cuma kebetulan."
"Ini bukan masalah doppelganger! Apa kau tidak sadar? Latar belakang kita semua nyaris sama! Dan kita dipertemukan di tempat ini tanpa sengaja? Pasti ada alasannya!" Amy ikut berdiri, protes.
"Lalu apa jawabanmu, tolol? Apa kau akan mengira bahwa kita semua sebenarnya sedang mabuk kepayang sehingga tidak bisa membedakan mana realitas asli dan mana yang bukan, atau mengira kita sedang diculik alien dan kepala kita sebenarnya sedang dioperasi sehingga kita mengalami realitas bohongan?"
"Kau seorang penyuka Sci-fi. Sama denganku. Kau... kau merasakannya, kan? Aku juga sempat memikirkan hal yang sama denganmu, tapi kupikir kesamaan kita tidak sampai sana. Ternyata... kau mengutarakannya." Amy menoleh kepada Nami, "Kutebak, kau pasti suka membaca buku-bukunya Carl Sagan, apa aku benar?"
Nami mengangguk takut-takut, takut karena fakta itu sepenuhnya benar.
"Dan kau juga pasti suka, kan, Justin?"
Justin menggeleng tidak terima. "Tidak... jangan membuatku menjawab 'iya'... tolonglah..."
Gemerincing bel pintu masuk berbunyi lagi. Dan kini ketiganya tak lagi menganggap suara bel tersebut biasa saja.
"Aku... dimana?"
Seorang bocah lelaki kecil berumur 5 tahun, memeluk sebuah boneka Teddy Bear, menatap keseluruhan toko dengan kebingungan.
"Berengsek..." Justin meringis. "Ya Tuhan..."
Amy dan Nami hanya terdiam syok.
"Kalian... siapa?" Bocah itu menatap Justin, Amy dan Nami dengan ekspresi tak terbaca, mengeratkan pelukan pada boneka beruang miliknya. "Kenapa aku ada di sini?"
"Saunders?" Amy langsung menyebut nama itu, dan bocah tersebut bereaksi sesuai dugaan.
"Ya, itu namaku... kenapa kau bisa tahu? Kau teman ibuku?"
Amy tidak langsung menjawab, dan mengamati lekat-lekat keseluruhan tubuh bocah itu. Sekali lagi, ada satu kesamaan yang luput pengawasannya.
Ada bekas luka yang masih basah di alis kanan anak itu. Berbentuk sayatan kecil. Seperti terantuk sesuatu yang berujung lancip. Dan membuat alisnya seolah-olah terbelah.
Di alis kanan Amy juga terdapat bekas luka itu, begitupun Nami dan Justin. Bedanya, bekas luka tersebut sudah menyatu dengan kulit dan nyaris tak kasat mata, sementara bekas luka milik bocah itu masih basah.
Ya, karena mereka semua, di usia 5 tahun, sama-sama mengalami satu kejadian. Sebuah pertengkaran kecil yang menyulut api perceraian di antara kedua orangtua mereka, dan sang ibu melibatkan anaknya sebagai pelampiasan marah. Gampangnya begitu. Amy bisa menebak, sebelum bocah ini datang, ia pasti mengalami hal yang sama.
"Siapa namamu...?" Tanya Justin dengan ramah seraya mendekat.
"Wi-William."
"Oke, William, apa kau ingat bagaimana kau bisa kesini?" Justin berjongkok untuk menyamai tinggi William. "Apa kau ingat sesuatu sebelum datang ke toko ini?"
"Aku habis dimarahi oleh ibu di kamarnya... lalu setelah itu, aku disuruh pergi ke kamarku, padahal aku takut sekali karena seisi rumah sudah gelap gulita, ayah juga sedang pergi entah kemana. Aku tidak punya senter atau ponsel, jadi aku meraba-raba sepanjang jalan untuk menuju ke kamarku... dan ketika aku merasa sudah menemukan pintu kamarku, kuputar kenopnya, aku sudah ada.... disini."
Justin, Amy dan Nami sontak menoleh. Tatapan mereka bertiga beradu intens.
"Tapi aku menyadari satu hal..." Ternyata cerita bocah itu belum selesai. "Ketika aku membuka pintu kamarku dan memasukinya, aku tidak langsung... berada di sini. Aku melewati seperti sebuah koridor yang pendek, atau semacam lorong... tapi aku sama sekali tidak bisa melihat kedua sisinya, ataupun bawah dan atasnya, hanya... hitam. Gelap. Namun apa yang diinjak kakiku masih terasa seperti lantai rumahku. Kukira saat itu hanya karena kamarku sangat gelap sampai aku tidak bisa melihat apapun. Barulah ketika aku sampai ke ujung lorong.... permukaan lantainya berubah."
"Apa-apaan...?" Justin perlahan berdiri seraya meringis frustasi, "Ini...ini semua tidak masuk akal! Kenapa kau— dia— URGHHH!"
"Jadi... ada semacam lorong berpindah tak terlihat ketika kalian menuju kesini? Kalian merasakannya juga, bukan?" Amy menoleh kepada Justin dan Nami.
"Tapi kukira itu hanya karena semuanya gelap gulita... memang saat itu aku sama sekali tidak bisa melihat apapun di kiri dan kananku, tapi..." Air muka Nami berubah gelisah. "Apa maksud semua ini? Apa tidak ada... penjelasan logis?" Dan tak butuh waktu lama sebelum ia mulai terisak. "Aku... aku mau pulang... hiks..."
"PEDULI SETAN! AKU SUDAH MUAK MENDENGAR SEMUA OMOMG KOSONG INI! AKU AKAN KELUAR DARI TOKO BRENGSEK INI, MENCARI KANTORKU DAN MEMBUKTIKAN KEPADA KALIAN SEMUA BAHWA INI SEMUA HANYA TAHI KUCING—"
Justin membeku ketika menghadap ke pintu masuk yang tembus pandang. Ia langsung menarik William ke dekapannya, beringsut mundur, sementara Amy dan Nami bergegas bangkit berdiri, mengambil posisi waspada.
"Apa orang itu salah satu dari kita juga?" Tanya Justin ragu-ragu.
"Sepertinya... ya." Amy menelan ludah.
Yang berdiri di depan pintu kaca itu sekarang adalah sosok yang paling tidak mereka harapkan untuk datang. Seseorang yang mengenakan mantel hitam tebal, bercelana hitam ketat, mengenakan topeng, dan menenteng sebuah kapak bermata dua yang berlumuran bercak darah.
"Apakah dia sadar bahwa kita adalah dia, dan dia adalah kita?" Kali ini Nami yang bertanya.
"Kurasa kita harus menunggu saja." Jawab Justin, tetap seratus persen waspada dengan William di dekapannya.
Sosok hitam tersebut hanya diam berdiri di depan pintu, menatap lurus-lurus, kepala meneleng ke kiri dan ke kanan, seolah sedang memindai seisi toko.
"Amy, cari senjata. Ambil pisau dapur atau apalah. Cepat! Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku akan menjaga William." Titah Justin dengan berbisik.
"Tapi disini tidak ada peralatan dapur—"
PRAAANGGGG!!!
Sosok hitam itu menghantamkan kapaknya ke arah kaca, menghancurkannya hingga berkeping-keping. Kemudian ketika ia mendapati empat orang yang ada di dalam toko di hadapannya, dengan beringas ia melangkah cepat menuju ke arah mereka, mengangkat kapaknya tinggi-tinggi.
"AMY, LARI! BAWA WILLIAM BERSAMAMU! PERGI!" Teriak Justin panik, mendorong William ke arah Amy dengan paksa.
Amy segera merebut lengan William dan membawanya ke sisi lain toko bersama Nami, sementara Justin segera berbalik badan untuk menghadapi penjahat tadi—
JLEB! Salah satu sisi kapak itu berhasil menancap di bahu kiri Justin. Justin meraung kesakitan, tapi ia masih bisa sekuat tenaga mendorong penjahat itu ke belakang, walaupun tidak berlangsung lama.
Penjahat itu mencabut kapaknya dari bahu Justin, hendak mengayunkannya ke arah batok kepala Justin, tapi Justin berhasil menahan serangan tersebut dan berteriak penuh amarah, seraya menyeruduk penjahat itu hingga keduanya menghantam rak makanan ringan. BRAAKK!
Nami dan Amy yang berada di sisi lain toko bersama William, kepanikan mencari alat yang bisa mereka jadikan senjata untuk membela diri dan melindungi William. Bocah itu menangis histeris, tidak tahu harus berbuat apa. Amy pun mau tidak mau menggunakan sebuah pulpen yang ia dapat dari bagian alat tulis, apapun itu selama ujungnya tajam.
Di rak sebelah, Justin masih bergelut dengan si penjahat, sangat sengit karena mereka berdua seolah tahu siapa akan menyerang dimana. Seolah berbagi pikiran yang sama, tapi tujuannya berbeda. Sampai akhirnya Justin berhasil merebut kapak itu dari tangan di penjahat, menendang ulu hati si penjahat hingga punggungnya menghantam lantai dan membuntungi pergelangan kaki kiri si penjahat dengan kapak, barulah sosok misterius itu melambaikan tangan.
"TUNGGU! TUNGGU! TOLONG, HENTIKAN!" Suaranya teredam oleh topeng, tapi masih bisa terdengar jelas. Suara seorang wanita. "JANGAN BUNUH AKU! AKU TIDAK MAU MATI! TOLONG, AKU BISA JELASKAN—"
Justin tidak menghiraukan, mengangkat kapaknya tinggi-tinggi dan berkata, "LALU APA YANG HENDAK KAU LAKUKAN KEPADA KAMI BARUSAN—"
Sosok itu membuka topengnya. Menyingkap identitas aslinya.
Dan gerakan orang itu sukses membuat kapak di tangan Justin tidak jadi meluncur ke wajahnya.
"Amy..." Nada bicara Justin mendatar. Kedengarannya ia syok berat.
"Y-ya...? Apakah dia mati?" Amy merespon dengan gugup.
"Kau harus melihat ini. Wajahnya."
Amy melirik Nami. Nami mengangguk. Nami melirik William. William mengangguk takut-takut. Ketiganya melangkah pelan menuju rak sebelah, untuk melihat apa yang dilihat Justin.
Dan ketiganya seketika merasa kejutan yang terjadi beberapa jam terakhir sama sekali bukan apa-apa.
Karena masih ada yang lebih mengejutkan lagi.
"Wajahnya... persis seperti wajahmu, Amy. Dia orang yang sama."
Dua menit kemudian, kelimanya duduk melingkar di lantai, dengan keadaan Amy-2—mereka memutuskan memanggilnya begitu untuk sementara, karena nama Amy dan sosok itu juga sama—tangannya diikat erat-erat menggunakan sabuk milik Justin, sementara mereka tidak perlu khawatir dengan kakinya karena salah satunya sudah buntung. Kapak tetap tergenggam erat di tangan Justin, jaga-jaga jika ternyata bajingan ini tidak bisa diajak bicara baik-baik.
"Jadi, apa kau akan bicara?" bentak Justin.
"Kalian semua seharusnya mati. Aku adalah Saunders yang asli. Amy Saunders yang asli. Kau... kau... kau palsu. Kalian semua... Saunders yang palsu. Hanya boleh ada satu Saunders di dunia ini. Tidak lebih dan tidak kurang. Aku—"
"JANGAN MALAH NGOCEH NGGAK JELAS, BEGO!"
"KAU TAHU SUDAH BERAPA KALI AKU MELAKUKAN INI?! KAU KIRA AKU MAU MELAKUKAN INI, HAH?! Kau tahu, apa yang terjadi jika kita, para Saunders dari realitas masing-masing berbeda, ditempatkan di satu realitas yang sama? APA KAU BAHKAN TAHU ITU, HAH?!"
"Kau... apa katamu? Dari realitas yang berbeda? Omong kosong macam apa..."
"Shh, Justin, dengarkan dia dulu." tegur Amy.
"Apa yang kalian sedang alami saat ini, sudah kualami terlebih dahulu. Jauh sebelum ini, dan sudah berkali-kali. Dan semua akhir yang kudapatkan sangat buruk. Sangat... sangat buruk. Sehingga aku terjebak dalam paradoks yang sama karenanya, terus terjebak di situasi yang sama, memperebutkan eksistensi kita masing-masing di realitas ini. Ini sudah skenario ke-67. Aku sudah tidak kuat lagi. Pada skenario ke-1 ketika aku pertama kali mengalami tabrakan realitas seperti ini... aku sama sepertimu, Amy, hanya kasir minimarket yang tidak tahu apa-apa, lalu terjebak di dalam situasi yang aneh dimana orang-orang datang ke minimarket ini karena mereka mendadak 'dipindahkan' ke realitas paralel yang berbeda. Sama persis sepertimu, Amy, sama persis...
"Dan di akhir skenario ke-1, dengan bodohnya aku membiarkan semua Saunders dari realitas paralel lain berkumpul di minimarket ini... dan ketika jumlahnya sudah mencapai titik tertentu, aku menyadari satu hal. Dunia yang dijadikan checkpoint oleh para Saunders lain tersebut.... perlahan-lahan akan mengikis kepada kegelapan abadi. Aku menyebutnya 'The Abyss'. Karena untuk menjaga kestabilan dunia paralel, segala sesuatu harus tepat pada tempatnya... dan saat aku sadar akan hal itu, aku menjelma menjadi sosok yang ingin mempertahankan dunia tempatku tinggal. Aku membunuh semua Saunders yang ada disana pada skenario ke-1. Ya, aku membantai mereka semua, tidak ada yang menduganya datang karena mereka kira aku hanya seorang gadis kasir yang polos.
"Sesudahnya, ketika aku keluar dari minimarket, dan menyusuri jalan dingin yang gelap di hadapanku, bersimbah darah dan memegang kapak darurat, aku sadar bahwa aku terjebak di sebuah lingkaran waktu tak berujung. Aku selalu kembali ke minimarket yang sama, menjadi staf kasir yang sama, sendirian menunggu kalian semua, para Saunders dari realitas paralel lain, datang mengunjungi toko ini, dan disaat itulah aku akan membantai kalian semua. Sampai habis tak bersisa. Kuulangi terus hal itu sampai skenario ke-67 yang kudatangi ini.
"Alasan kenapa tadi aku sempat bingung di depan pintu adalah karena aku mendapati bahwa skenario ini sudah berpenghuni... seharusnya akulah orang pertama yang datang kesini. Seharusnya aku yang menjelma menjadi staf kasir yang bosan dengan sif malam, lalu berpura-pura menjadi gadis polos yang tidak tahu apa-apa, kemudian berakhir membunuh kalian semua—"
"Oke, waktu habis." Amy menyela.
"Tunggu, itu artinya—" Justin menoleh ke arah Amy—
—namun wajahnya langsung menghadap sebuah Revolver berukuran besar.
"TIDAK, JANGAN—"
JDAR! Wajah Justin meledak seketika. Membuat lubang merah besar di tengah-tengah kepalanya. Darah memuncrat kemana-mana, bersamaan dengan isi otak dan serpihan tengkorak di kepala.
"HYAAAAAAA—"
JDAR! Kepala Nami juga diledakkan dengan brutal, memotong jeritannya.
JDAR! Tidak luput dengan William, tubuh kecil itu langsung nyaris kepala buntung, hanya tersisa seperdelapan saja.
Tiga mayat sudah teronggok bisu di lantai. Menyisakan Amy-2 yang syok, tidak bisa mencerna apa yang baru saja ia saksikan.
Amy yang ini... mendahuluinya? Itu artinya dia bukan tokoh utamanya di skenario ini? Berapa banyak skenario yang sudah ia lewati? Bagaimana bisa ada Amy selain dirinya di skenario ini?
"Kau mau tahu... ini skenario keberapaku?" Amy menyeringai, percikan darah segar mewarnai wajahnya.
Amy-2 hanya menggeleng gemetar, dikuasai kengerian dan ketakutan.
"Skenario ke-2638."
Amy mengangkat pistolnya, membidik kepala Amy-2, dan menjadikannya sama seperti yang lain.
JDAAARRRRR!!!!!!! JDAAARR! JDAARRRR!!!!!
----------------------------------------------
"Jadi bagaimana, Prof. Theodore? Apa kita harus mengumumkan kepada dunia bahwa kita berhasil membuka portal menuju dunia paralel?"
Ruangan rapat intens yang dihadiri 8 ilmuwan terkemuka di seluruh dunia itu lengang. Rapat yang super rahasia, super tertutup, yang bahkan mereka harus ditutup matanya untuk sampai ke lokasi rapat, yang hanya Tuhan dan orang-orang yang berwenang yang tahu mereka ada dimana. Mereka semua menduduki sebuah meja berbentuk oval, melingkar menghadap satu titik yang sama. Sang pimpinan rapat.
Pimpinan rapat tersebut bernama Prof. Theodore Burns, seorang fisikawan dan astronom terkemuka yang sudah 30 tahun meneliti tentang keberadaan dunia paralel, dan telah menemukan titik di antara galaksi-galaksi di alam semesta yang membuka gerbang ke sana. 10 tahun setelah Theodore berhasil membuktikan bahwa gerbang dunia paralel bisa dibuka dimana saja dengan cara dan dengan kombinasi-kombinasi energi alam semesta tertentu, ia mengundang 7 ilmuwan pilihannya untuk mengawasi sebuah projek bernama "Project Saunders", yang merupakan eksperimen untuk menyatukan dunia paralel satu dengan yang lain, menggunakan realitas seseorang bernama Amy Saunders, seorang wanita staf kasir biasa yang tinggal di sebuah kota kecil, kedua orangtuanya bercerai, nyaris tidak punya kerabat, sehingga tidak akan ada yang peduli jika dia diculik dan dicuci otaknya ke suatu tempat antah berantah.
Dengan diam-diam menggunakan uang pemerintah untuk kesuksesan berjalannya projek ini, sebuah tempat seperti bunker raksasa dibuat di bawah tanah. Bunker yang kemudian disulap isinya menjadi sebuah kota kecil yang sama persis dengan tempat tinggal Amy Saunders, lalu dibuat seluruhnya gelap gulita dan menyisakan satu minimarket yang menyala. Tempat itulah yang akan menjadi checkpoint bagi para penghuni realitas lain Saunders dari semua dunia paralel.
10 tahun berikutnya, Project Saunders telah mencapai skenario ke-2638, dan ketika diteliti hasil akhir dari setiap skenario, semuanya akan memperebutkan eksistensi mereka masing-masing demi satu realitas untuk bertahan. Karena jika realitas satu orang dipenuhi para penghuni dari realitas lain, maka perlahan-lahan realitas satu orang tersebut akan terkikis, memasuki sebuah ruang hampa dimana tidak ada apapun selain kegelapan kosong bernama 'The Abyss'.
Hari ini, semua itu pun sampai pada konklusi bahwa—
"Project Saunders akan diakhiri mulai hari ini. Jangan sampai dunia tahu bahwa kita berhasil mengakses dunia paralel. Karena bahkan tanpa adanya para penghuni realitas lain, alam semesta kita sudah perlahan menuju kegelapan. Aku takut jika portal ke dunia paralel diketahui oleh dunia dan mereka mencoba-coba untuk memasukinya, proses itu akan semakin cepat. Proses menuju kegelapan itu. Maka karenanya...
"Seluruh dunia harus yakin bahwa tidak ada yang namanya dunia paralel di galaksi ini.
"Tidak satupun."
---------------------
TAMAT