Satu tahun sudah berlalu sejak kamu meninggalkan aku, Na.
Yahh, kamu bersekolah di kota karena kata teman-teman kelas kita yang ku dengar dari mereka, kamu harus pindah karena orangtuamu pindah tugas kerja. jadi, kita pasti tidak bisa bertemu lagi, ya, Na...
Aku di sini, kamu di sana dan kita sama sekali tidak ada kontak setahun ini. kita mana bisa coba? Aku memiliki uang tabungan yang cukup. Apa aku mencarimu saja di sana, ya?
Ah, gimana dengan keluargaku. Kita memang memiliki urusan masing-masing sampai tujuan kita juga berbeda. Aku harap kamu sehat dan baik-baik di kota. Jaga dirimu, ya, Na!
Sekarang bunga sakura di kebun belakang sekolah taman tempat kita duduk terakhir kali ini sudah gugur. Sudah musim gugur rupanya, tapi aku sama sekali belum mendapat kabar darimu Aku lupa menanyakan nomor telepon rumah atau nomer gawaimu. WA juga lupa. Semua itu karena aku ceroboh, terlalu gemetaran saking senangnya duduk berduaan sama kamu, Na.
-------------------
Rrrrrrrgggggghhht!!
Handphone aku bunyi, siapa sih yang nelpon tengah malam buta gini. Dengan malas aku bangun melirik arloji di nakas. Astaga, jam satu malam!
"Ya, haloo? Siapa, nih? Gak tau waktu, ya!" makiku karena kesal sekali. ini kan jam aku tidur sambil bermimpi tentang kisah kita. Tapi malah diganggu oleh penelepon iseng, huh!
"Halo, Ben... ini aku, Nana!"
Mataku langsung terbuka, aku bangun hampir saja aku lompat dari ranjang saking senangnya! Itu suara kamu, kan Nana! Iya, ini kamu, oh Tuhan! Sudah lama sekali setelah satu tahun aku baru mendengar suaramu. Aku kangen banget padamu, Na!
"Halo, Ben, kamu masih di sana, kan?" tanya kamu padaku dengan gugup dan kikuk. Ya, suara khasmu yang ku rindu itu sama seperti itu, waktu kita duduk berdua di taman sekolah. Saat terakhir itu...
"Ah, eh, iya ini aku, Nana. Ruben! Apa kabarmu?" Aku sangat gugup, sangat senang!
"Baik, kalau kamu, 'pa kabarmu Ben?"
Ku tak tahu mau gimana saat ini saat mendengar suaramu yang merdu dan ku rindu setiap hari. Aku terdiam cukup lama sampai lupa mau bilang apa padamu saking aku tidak percaya kamu menghubungi ku duluan setelah kita berpisah satu tahun lamanya. Satu tahun kamu gak ada kabar, Na. Gimana keadaan kamu, sehatkah, kamu udah tambah cantik, kan udah punya pacar belum, kalau belum, hatimu masih lowong aku ingin mengisi lowongan hatimu itu.hehehehe. Aku berhalusinasi sendiri tanpa sadar kamu terus bicara.
"Ruben, kamu baik-baik aja kan di sana? Halo?"
"Ah, eh iya, aku sehat baik-baik aja. Kamu gimana, aku harap sama. Ahahahaha, oh iya kamu sudah makan, kan?"
Lah Goblok! Kok nanya sudah makan sih! Ruben... Ruben, tolol kamu!
"Ehem, ini tengah malam loh, masa mau makan lagi. Udah, aku dah makan kok. Kamu jaga kesehatan, ya. Besok kita ketemuan, kamu masih mau ketemu sama aku, kan?" tanya Nana padaku.
Aku terdiam. Dalam hati, Yesss! Horeee Nana mau bertemu denganku!
"ehem, iya. Kita ketemuan besok, ya. Jam berapa ketemu kamu di mana, Na?"
"Senang nggak sih, aku telepon gini gak ganggu kan? Kamu kan sedang tidur?"
Loh? Dia tahu dari mana aku sedang tidur?? Aneh!
"Ah, aku gak apa-apa. Sudah bangun kok!" Dustaku sambil garuk kepala yang gatal.
Aku masih berbaring di kasur yang empuk sambil memegang ponsel di telinga.
"Emm aku ada di kota B. Kita ketemuan ya, sudah lama sekali sejak itu... Okey sudah dulu ya, nanti aku chat kamu! Bye bye, Ruben...."
Hah? Segitu aja ? Sudah? Kok kamu tegaan sih, Na. Gak mau ya dengerin suara aku? Aduuuh, kesal banget! Dia sudahi teleponan dan yang terdengar hanya denging tuuut tuuuut ....
Tapi hatiku sangat senang dan bersemangat. Aku bersyukur masih hidup karena Tuhan akan mempertemukan aku dengan cinta pertamaku, kisah lamaku, yaitu Nana!
Asiik, ketemuan dengan dirinya, sudah tinggi dan makin cantik tentunya. Aku gak bisa bayangin secantik apa Nana sekarang. Heheheh pakai baju apa ya?? Dengan bersemangat aku bangkit lalu membuka lemari pakaian sambil memilah baju yang akan ku pakai bertemu dengan Nana.
........
Kisah Kita Belum Usai, Na!
Tunggu kisah menarik mereka, ya...